Dear AURORA

Dear AURORA
Keluarga Baru?


__ADS_3

Di pemakaman Lina, Semua orang sudah pergi. Yang kini hanya menyisakan Aurora, Daren, Hana dan Livy. Aurora masih memandangi batu nisan yang tertulis nama orang yang sangat dia cintai, Tanah kuburan masih basah dengan di taburi bunga-bunga yang begitu segar.


Aurora masih diam terduduk, memandangi foto yang di sebelah batu nisan Lina dengan tatapan kosong. Dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, Tapi hatinya masih merasakan sakit, Karena telah di tinggalkan orang yang di cintainya.


"Ra, Pulang yuk" Ajak Livy, Dengan memegang bahu Aurora.


Aurora hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, Membuat Livy menghembuskan nafas kasar. Lalu Livy menoleh ke arah Daren dan Hana, Dengan menggelengkan kepalanya seolah memberitahu, Bahwa Aurora tidak mau di ajak pulang.


Daren langsung duduk di samping Aurora, Dengan menatap mata Aurora yang masih menatap foto Lina.


"Aurora, Papah tunggu kamu di rumah. Kamu akan ikut ke rumah tante Hana kan?" Tanya Daren.


Mendengar pertanyaan dari Daren, Aurora langsung mengalihkan tatapannya pada Daren dan Hana dengan tatapan yang begitu tajam membuat Hana takut.


"Sebelum mamah kamu kritis dan koma, Mamah kamu berpesan sama papah untuk jaga kamu. Gantiin posisi dia, Dan bawa kamu ke keluarga baru kita" Jawab Daren, Yang paham dengan tatapan tajam Aurora.


Mendengar jawaban dari Daren, Aurora langsung menarik sudut bibirnya. Lalu tertawa dengan sangat kencang, Tawa yang begitu menakutkan dan menyedihkan. Livy dan Hana sampai terperanjat kaget, Dengan ketakutan melihat Aurora yang tiba-tiba tertawa kencang.


"Apa anda bilang?, Menjaga saya?, Keluarga baru?, Kita?, Hahaha. Itu tidak mungkin" Teriak Aurora.


"Apa anda lupa bagaimana saya tumbuh di dunia ini?, Saya tumbuh sendiri tanpa tahu apa itu masa anak-anak. Dan anda lupa, Jika peran anda adalah sebagai ayah saya?, Bagaimana bisa setelah ini anda menjaga saya, Jika anda adalah luka terbesar bagi saya!. Jika anak perempuan lain menjadikan ayahnya sebagai cinta pertamanya. Tapi saya?, Saya berbeda!. Bagi saya papah saya adalah luka yang paling berkesan untuk saya, Yang tidak akan saya lupakan"


"Satu lagi, Tadi anda bilang apa?, Keluarga baru?, Kita?. Asal kalian semua tahu..." Aurora menjeda ucapannya dengan berdiri menghadap Daren, Hana dan Livy lalu menatap mereka satu persatu.


"Gak akan ada keluarga baru bagi saya!, Karena keluarga saya sudah hancur, Mereka sudah pergi meninggalkan saya seorang diri. Dan kalian, KALIAN ADALAH SALAH SATU PENYEBABNYA!" Teriak Aurora dengan menangis tersedu-sedu.


"Pergi!, Cepat kalian pergi dari sini. Saya mohon" Ucap Aurora dengan melemahkan nada bicaranya. Karna sudah tak tahan lagi merasakan sakit di hatinya.

__ADS_1


Melihat Aurora yang begitu terluka, Hana sangat merasa bersalah akan dirinya. Sejujurnya dia ingin sekali memeluk Aurora untuk menenangkannya, Tapi dia tidak berani untuk menghadap Aurora. Sedangkan Livy sudah menangis sedari awal Aurora meraung mengungkapkan semua isi hatinya, Begitupun Daren hanya mampu diam membisu, Mendengar semua ucapan anaknya.


Dia malah menyalahkan Lina yang sudah tidak benar mendidik Aurora, Lalu apa peran dia sebagai ayah?, Yang selama ini telah menelantarkan Aurora.


Hana langsung mengajak Daren dan Livy untuk pergi meninggalkan Aurora seorang diri, Sebenarnya sangat berat bagi mereka meninggalkan Aurora, Tapi apa boleh buat ini sudah keinginan Aurora, Dan mereka juga tidak ingin menambah lagi luka untuk Aurora.


Setelah mereka semua pergi, Aurora menelungkupkan wajahnya di antara lipatan tangan dengan menangis begitu keras dan menyesakkan.


Semesta memihak padanya dengan mengeluarkan air hujan, Aurora langsung mendongkakkan kepalanya. Membiarkan air hujan bercampur dengan air matanya.


"Mamah...?!" Lirih Aurora dengan suara bergetar.


"Kenapa mah?, Kenapa mamah suruh mereka untuk jaga Ara?. Ara gak mau mah, Mereka jahat!,"


"Kenapa mamah pergi tinggalin Ara mah, Kenapa mamah tega biarin Ara hidup di dunia ini sendirian. Kenapa mamah lebih milih Mira, Kenapa mamah ikut Mira, Kenapa tidak saya saja yang engkau ambil tuhan" Jerit Aurora.


"Mamah pasti lebih menyayangi Mira di banding Ara kan?, Apa Karna Ara ini anak yang sangat mengesalkan bagi mamah?, Kalau itu alasannya, Harusnya mamah bilang mah, Jangan pergi tinggalin Ara!"


Aurora terus meracau seorang diri, Tanpa ada jawaban sama sekali dari ucapannya.


Tanpa Aurora tahu, Ares sudah dari tadi memperhatikan Aurora dan mendengar semua pembicaraan Aurora dengan keluarga Livy, Yang membuatnya sangat terkejut mendengar semua fakta yang baru ia ketahui.


Ares jadi menyesal karna telah memilih Livy, Dan meninggalkan Aurora. Ia juga merasa telah memberi luka pada Aurora karna, Ia mendekati Aurora hanya untuk memanfaatkannya untuk mengikuti lomba piano.


Ares langsung menghampiri Aurora, Untuk mendekatinya.


Merasa ada yang menghampirinya Aurora langsung mengangkat wajahnya menatap siapa yang berani mendekati Aurora. Melihat Ares yang datang Aurora langsung menangis tersedu.

__ADS_1


Ares langsung tidak tega melihat Aurora yang begitu terluka, Lalu ia pun memberanikan diri untuk memeluk Aurora.


Rasanya sangat sakit dan pedih yang di rasakan Aurora, Sampai Ares tak tahan untuk tak ikut menangis, Melihat penderitaan Aurora yang baru ia ketahui selama ini yang selalu Aurora tutupi.


"Kamu kuat Ra, Kamu wanita terhebat yang pernah aku kenal. Maafkan semua kesalahanku sama kamu Ra" Lirih Ares dalam pelukannya pada Aurora.


***


Setelah sekian lama Ares berhasil membujuk Aurora untuk pulang ke rumah, Tanpa Aurora tahu. Ternyata Ares membawa pulang Aurora ke rumah Livy, Wajah Aurora yang sudah begitu pucat dan bibir yang sudah membiru karena dinginnya suhu di luar yang ia rasakan.


"Kamu bisa jalan kan Ra?" Tanya Ares begitu lembut.


Aurora hanya menganggukkan kepalanya yang sangat terasa pusing dan berat, Sampai Aurora tak menyadari jika dirinya sudah sampai di depan rumah Hana bukan rumah miliknya.


Baru beberapa langkah Aurora langsung jatuh pingsan, Karena sudah tak sanggup menahan bobot badannya.


Untungnya Ares dengan sigap menangkap pinggang Aurora, Dan berhasil tidak membuat Aurora ambruk ke lantai.


"Aurora!" Teriak Hana kaget, Melihat Aurora jatuh pingsan di pelukan Ares, Hana langsung menghampiri mereka berdua.


"Ares cepat bawa Aurora ke kamar tamu, Biar bajunya tante yang ganti. Gak mungkin Aurora terus memakai baju yang basah" Ucap Hana dengan menghampiri Aurora dan Ares.


Ares langsung menganggukkan kepalanya dengan membawa Aurora ke kamar yang sudah Hana suruh.


"Mas cepat telpon dokter, Untuk periksa keadaan Aurora" Ucap Hana dengan penuh kekhawatiran.


Daren langsung menganggukkan kepalanya dengan berlalu pergi megambil ponselnya yang berada di kamar.

__ADS_1


__ADS_2