Dear AURORA

Dear AURORA
Hari Perlombaan Aurora


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, Dimana perlombaan musik yang akan Aurora hadapi dan sebagai perwakilan sekolahnya, Di SMA AKSARA. Dan di temani para guru-guru di sekolahnya.


Ares dan Livy pun ikut hadir, Meskipun tak lolos untuk mewakili sekolahnya. Tapi mereka ikut datang untuk mendukung Aurora dan seluruh siswa pun ikut yang sama-sama akan mendukung Aurora.


Walaupun terlihat tenang, Aurora menyimpan begitu banyak kegelisahan dalam hatinya. Karena mengingat kondisi Lina yang down saat Aurora tadi akan berangkat.


Aurora melihat kondisi ibunya yang begitu lemah, Dengan wajah yang sangat pucat, Mata sayu, Dan Lina pun sempat muntah darah dengan hidung yang sama mengeluarkan darah.


Lina memang tidak pulang ke rumah, Setelah kemoterapi kemarin. Karna usulan dari dokter Ferdi untuk tetap di rumah sakit, Mengingat kondisi Lina yang semakin hari semakin memburuk.


Jika bukan karena janji kemarin Aurora pada ibunya, Mungkin sekarang ia sudah undur diri dari perlombaan. Dan menemani ibunya yang berada di rumah sakit, Tapi tidak mungkin baginya untuk mengingkari janjinya pada Lina. Melihat kondisi ibunya yang memprihatinkan, Terpaksa Aurora dengan berat hati meninggalkan ibunya demi mengikuti lomba musik.


"Aurora, Are you okey?" Tanya Ares, Yang dari tadi melihat gelagat Aurora yang nampak gelisah.


Aurora hanya menatap Ares sekilas, Lalu memalingkan pandangan ke arah lain.


"Hem" Jawab Aurora.


"Saya pamit ke toilet dulu" Ucap Aurora dengan beranjak dari duduknya.


Melihat Aurora pergi ke toilet pun, Livy ikut beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Aurora dari belakang.


"Livy, Lo mau kemana?" Tanya Ares, Melihat Livy ikut pergi.


"Ke toilet" Jawab Livy, Dengan langkah tergesa-gesa mengejar langkah Aurora.


Sesampainya di toilet, Livy melihat Aurora yang sedang melamun di depan cermin. Lalu Livy menyodorkan minuman yang ia bawa untuk Aurora.


"Nih, Aku bawa minuman untuk kamu" Ucap Livy, Dengan menyodorkan minuman itu ke Aurora.


Aurora hanya menatap datar minuman yang Livy beri, Tanpa menerimanya. Livy yang paham Aurora kebingungan pun langsung menjawab.


"Ini vitamin kok, Bukan racun" Ucap Livy, Aurora pun langsung menerimanya karna merasa haus.


Setelah Aurora minum sampai tandas minuman dari Livy, Ia langsung membuang botol minuman tersebut ke tempat sampah.

__ADS_1


"Aku lihat kamu kayak lagi ada masalah?" Tanya Livy yang langsung di tatap Aurora.


Tatapan Aurora yang kini berbeda, Biasa akan memancarkan ketajaman pada siapa yang menatapnya. Kini Tatapan Aurora nampak sayu, Seperti mengistirahatkan pasrah.


"Gak" Jawab Aurora ketus.


"Aurora maafin aku yah, Aku udah rebut sumber kebahagiaan kamu. Kalau aja waktu dulu aku gak minta papah Daren, Untuk menjadi pengganti almarhum papah ku. Mungkin keluarga kamu.." Belum sempat Livy meneruskan ucapannya, Tapi Aurora lebih dulu memotong ucapan Livy membuat Livy langsung terdiam.


"Gak usah di bahas lagi" Jawab Aurora datar.


Setelah mengucapkan itu, Aurora langsung berbalik untuk pergi. Tapi, Lengannya lebih dulu di cekal oleh Livy, Membuat tubuh Aurora berbalik ke hadapan Livy kembali.


Tanpa persetujuan Aurora, Livy langsung memeluk tubuh Aurora.


"Ra, Aku mohon maafkan aku yah. Aku mau jadi sahabat yang baik lagi untuk kamu kayak dulu lagi, Seperti saudara" Ucap Livy.


Aurora hanya diam, Dengan tangan mengepal erat. Ia mencoba untuk menahan emosinya yang kini, Merasakan sakit hati yang dulu telah Livy lakukan padanya.


Aurora melepaskan Livy dari pelukannya, Lalu menatap Livy datar.


"Tapi, Aku mau jadi sahabat yang dekat lagi sama kamu ra, Kayak kita waktu kecil dulu" Jawab Livy dengan tatapan memohonnya.


"Saya tidak bisa, Saya sudah menyepakati diri saya sendiri. Untuk menjauhi orang-orang yang telah membuat diri saya sakit, Termasuk keluarga saya" Jawab Aurora datar, Dan berlalu pergi meninggalkan Livy.


Livy hanya bisa menangis melihat kepergian Aurora, Rasa bersalahnya pada Aurora kini semakin besar, Membuat Livy ingin sekali menebus rasa bersalahnya pada Aurora.


"Aku gak akan menyerah buat meluluhkan hati kamu kembali Ra, Aku mau menebus semua kesalahanku pada kamu Aurora" Batin Livy, Dengan menatap punggung Aurora yang telah pergi.


***


Di rumah sakit, Kini tubuh Lina terkulai lemas. Sampai suapan demi suapan yang suster beri pun ia hanya mampu menelannya sangat sedikit.


"Suster.. Saya mau ke toilet" Lirih Lina.


"Baik bu, Mari saya antar" Jawab suster tersebut, Dengan mencoba membopong tubuh Lina agar tidak jatuh.

__ADS_1


Lina pun melangkahkan kakinya perlahan di atas lantai, Yang kini menurutnya sangat dingin. Setelah selesai membuang air kecil, Lina langsung keluar dari toiletnya menuju brangkar tidurnya.


Baru saja dua langkah, Tubuh Lina langsung tumbang dan tidak sadarkan diri. Membuat suster yang membantunya pun langsung panik.


"Bu, Bu sadar bu.." Ucap Suster tersebut, Dengan Menepuk-nepuk pipi Lina.


Melihat tidak ada respon dari Lina, Suster tersebut langsung panik, Dan berteriak memanggil rekannya yang sama-sama suster.


"Suster... tolong suster" Teriak suster tersebut pada rekanya.


Kedua suster yang berada di luar ruangan Lina pun, Langsung masuk setelah mendengar teriakan dari suster tersebut.


Mereka langsung membopong tubuh Lina untuk di bawa ke brangkar nya.


Tak berselang lama, Dokter Ferdi pun datang menghampiri Lina yang sudah tak sadarkan diri.


"Segera siapkan alatnya" Perintah dokter Ferdi, Yang langsung disiapkan oleh para suster.


"Kondisi pasien semakin memburuk, Detak jantungnya...." Gumam Dokter Ferdi yang semakin panik.


"Segera siapkan alat defiblirator ( Stimulator detak jantung, Yang menggunakan listrik dengan tegangan yang tinggi ). Dan siapkan alat yang lainya" Ucap Dokter Ferdi, Yang semakin khawatir dan tegang.


Setelah defiblirator telah di tangan dokter Ferdi, Dokter Ferdi langsung mengambil paddles dan memberikan krim pada permukaannya. Setelahnya, Ia langsung menempelkannya di posisi APEKS dan STERNUM pasien.


Dan saat dokter Ferdi, menekan tombol energi. pasien langsung bergerak karena efek setrum dari alat tersebut.


Setelah beberapa kali percobaan, Akhirnya layar monitor menampilkan garis bergelombang. Menandakan detak jantung Lina kembali normal, Membuat dokter Ferdi dan para suster bernafas lega.


"Keadaan pasien sangat kritis, Tetap jaga pasien dan jangan meninggalkannya" Ucap Dokter Ferdi.


Suster Dita, Yang dari tadi menjaga dan membantu Lina saat ke kamar mandi pun. Langsung menangis, Mengingat ucapan Aurora yang menitipkan ibunya pada Suster Dita.


Mendengar ucapan dokter Ferdi, Semua suster pun mengangguk paham. Dan membereskan semua alat yang telah mereka keluarkan karena kejadian barusan yang membuat mereka panik.


"Hampir saja buk. Saya tidak bisa membayangkan reaksi Aurora, Saat hal yang tidak di inginkannya terjadi. Saya mohon, Bertahan lah bu. Bersemangat lah untuk sembuh, Meskipun itu hanya 1%. Saya akan selalu mendoakan ibu" Ucap suster Dita, Yang tidak berhenti menangis mengingat pesan dari Aurora dan kondisi Lina.

__ADS_1


__ADS_2