
Setelah pulang dari rumah Livy, Aurora kembali ke rumahnya dimana rumah peninggalan alm Lina.
Sesampainya di rumah, Aurora langsung pergi ke kamar Lina. Untuk berdiam diri, Tapi saat Aurora sudah sampai di kamar Lina. Aurora di buat bingung dengan adanya kamera yang sengaja tersimpan di atas nakas samping tempat tidur. Dengan kertas kecil yang bertuliskan.
* Dear, Aurora *
Aurora langsung membuka video yang berisi dalam kamera itu, Saat video di putar ternyata opening dalam video itu adalah video saat dirinya berusia 3 sampai 5 tahun. Bahkan video Aurora saat berulang tahun di usia ke 5, Yaitu ulang tahun terakhirnya bersama Lina dan Daren.
Sampai beberapa saat di putar, Video tersebut berubah menjadi gelap, Hanya ada warna hitam sebelum wajah Lina muncul dan mengatakan kata-kata yang membuat Aurora sangat merindukan sosok di dalam video itu.
"Aduh, Belum juga mulai udah keluar aja nih air mata. Mamah cengeng banget kan Ra?" Ucap Lina di dalam video itu, Membuat Aurora tersenyum tipis melihatnya.
Aurora sengaja menyambungkan video yang ada di kamera tersebut ke televisi besar yang ada di kamar Lina, Sampai lampu kamar pun Aurora matikan. Hanya untuk melihat sosok yang sangat ia rindukan sekarang.
"Oke, Mulai huft" Ucap Lina dengan menghembuskan nafas terlebih dahulu sebelum berbicara.
"Mungkin kamu akan menolak permintaan maaf mamah Ra, Tapi mamah akan merasa bersalah sampai akhir hayat mamah. Mamah udah nyakitin kamu, Bukan hanya fisik kamu, Tapi hati dan mental kamu juga tersiksa karena mamah"
"Bagaimana pun, Mamah adalah sumber luka yang ada di hidup kamu kan?" Ucap Lina.
Aurora hanya diam dengan menatap nanar layar televisi yang masih menampilkan wajah Lina yang sedang berbicara.
"Maafin mamah yah Ra, Udah abaikan kamu selama ini. Mamah ibu yang buruk sampai tidak bisa membagi rata kasih sayang untuk ke dua putri mamah. Sehingga sebelum semuanya berantakan, Mamah hanya memusatkan kasih sayang mamah ke Mira. Mamah mengira kamu sudah lebih besar dari Mira, Jadi kamu selalu mengerti dan mengalah"
"Ternyata mamah salah, Bagaimana bisa kamu tumbuh sendiri tanpa kasih sayang dari mamah"
"Seharusnya mamah juga perhatian kamu, Tapi mamah malah sibuk mengurus Mira. Sampai kamu harus tumbuh dewasa sebelum waktunya"
__ADS_1
"Untuk yang terakhir, Mamah minta maaf Ra. Karena sudah menyembunyikan penyakit ini dari kamu, Mamah menganggap penyakit yang sudah di beri tuhan untuk mamah ini, Yaitu sebuah hukuman dari tuhan. Karena sudah terlalu banyak melukai kamu"
"Mamah ada permintaan sama kamu Ra, Boleh kabulkan permintaan mamah?"
Aurora masih diam, Tanpa mengangguk ataupun menggelengkan kepalanya.
"Mamah mohon, Tinggalah bersama Papah kamu Ra. Jangan sendirian, Karena mereka tidak sepenuhnya bersalah. Jujur dari dulu juga mamah yang udah mengijinkan mereka untuk menikah" Ucap Lina, Yang langsung membuat Aurora terkejut.
"Sebulan setelah kepergian Mira, Mamah sudah mengidap penyakit tumor yang berkembang menjadi kangker. Dan sudah memasuki stadium 2, Waktu itu mamah down Ra. Karena penyakit ini tidak bisa di sembuhkan"
"Mamah sengaja membuat papah kamu marah, Dengan berpura-pura mamah selingkuh dengan sahabat mamah"
"Dan di saat itulah, Papah menceraikan mamah. Yang membuat mamah semakin merasakan sakit Ra, Melihat 2 orang yang mamah cintai meninggalkan mamah. Sehingga kamu harus menjadi korban terlukanya akibat ulah mamah"
"Mamah mohon, Tinggalah kamu bersama papah dan tante Hana. Tapi, Itu semua pilihan kamu Ra. Mamah gak akan maksa kamu untuk mengikuti pilihan mamah"
"Mamah pamit"
Setelah ucapan terakhir Lina, Video langsung berubah menjadi hitam Dan membuat tangisan Aurora kembali pecah, Mengingat sebuah fakta yang baru ia ketahui dari ibunya.
***
Setelah satu minggu kepergian Lina, Aurora kembali pada aktifitas semulanya. Ia hanya akan berdiam diri di kamarnya, Sampai Hana selalu datang setiap harinya. Untuk menjenguk dan memasak untuk Aurora.
Hari pertama Hana datang ke rumah Aurora, Aurora langsung mengusir wanita itu. Hari kedua pun sama, Sampai pada hari ke tiga, Aurora tidak akan lagi keluar dari kamarnya sebelum Hana pergi dari rumahnya.
Setiap hari, Hana selalu menanyakan pada Mbok Mina. Apakah Aurora akan memakan masakannya?, Tapi hanya di jawab dengan gelengan saja oleh Mbok Mina. Alhasil masakan Hana hanya di makan oleh Mbok Mina dan Pak Jako, Dan jika masih sisa makanan tersebut akan di bawa pulang Mbok Mina untuk keluarganya.
__ADS_1
***
Aurora sekarang sudah bersiap di depan cermin besar di kamarnya, Biasanya ia akan pergi ke sekolah dengan menggunakan foundation ataupun conceler untuk menutupi luka yang ada di wajahnya. Tapi sekarang Aurora tidak memakai apa-apa. Wajahnya yang putih bersih sekarang sudah memancarkan kecantikan Aurora, Yang selama ini selalu tertutupi masker.
"Mamah bilang, Semua keputusan ada di Ara kan mah?. Maka Ara akan memilihnya mah" Gumam Ara yang mengingat perkataan Lina padanya.
Saat Aurora menuruni tangga, Aurora melihat Hana yang sedang menyiapkan makanan untuk Aurora di meja makan. Aurora hanya melewati Hana tanpa menyapa ataupun menghampirinya.
"Aurora, Kamu mau ke sekolah?" Seru Hana yang berlari mengejar Aurora.
"Hm"
"Makan dulu yuk, Tante udah siapin makanannya untuk kamu?" Tawar Hana, Yang tidak di tanggapi Aurora.
Mbok Mina yang sedang mengelap barang-barang pun kebetulan lewat di depan Aurora dan hana.
"Mbok Mina, Makanlah semua makanan yang ada di meja makan. Jika ada sisa, Mbok bawa pulang saja" Ucap Aurora dengan berlalu pergi dari hadapan Hana dan Mbok Mina.
"Ba-ik non" Jawab Mbok Mina dengan takut-takut.
Hati Hana mencelos, Melihat Aurora yang begitu susah untuk di dekati. Tapi Hana juga cukup sadar jika dirinya yang selama ini telah memberi luka yang cukup dalam pada Aurora.
"Tante, Udah janji sama diri tante sendiri untuk mengembalikan semua kebahagiaan kamu Ra. Meskipun kamu tetap menolak kehadiran tante, Karena sampai kapanpun tante gak akan bisa menggantikan sosok ibu kamu" Lirih Hana, Dengan mengusap air matanya melihat kepergian Aurora.
Aurora menaiki mobilnya sendiri, Meskipun tadi pak Jako menawarkan diri untuk mengantarkan Aurora. Tapi Aurora menolaknya.
Setelah beberapa menit perjalanan, Aurora pun sampai di sekolahnya. Saat sudah memarkirkan mobil, Aurora berjalan menuju kelasnya dengan tatapan lurus dan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku jaketnya.
__ADS_1
Semua siswa dan siswi terkejut melihat kedatangan Aurora yang telah lama tidak bersekolah, Sampai mereka terpesona melihat penampilan Aurora yang kali ini tidak menggunakan masker dengan memancarkan wajah yang selama ini selalu Aurora tutupi.