
Kejadian antara Reiga dan Aurora di kantin tadi menyebar cepat ke segala penjuru sekolah. Beberapa memuji keberanian gadis itu dan bersorak terima kasih telah membalas dendam pada Reiga yang selalu tebar pesona, jelas saja hal itu dilakukan oleh kaum adam. Sementara kaum hawaβpara pecinta rayuan dan ketampanan Reigaβjustru mengolok Aurora. Meski sebagianβmantan pacar Reigaβjustru berterima kasih.
Kabar baiknya, seluruh penghuni sekolah yang tahu kejadian itu tampak bungkam-bungkam saja. Tak ada yang melaporkan ke guru atau pihak lain, benar-benar bersih tanpa gosip. Sehingga, Aurora dan Reiga haruslah berterimakasih pada mereka yang mau bekerjasama menutupi kejadian ini. Mereka tidak harus menghadap guru dan menjelaskan apa yang terjadi. Akan konyol jika alasannya hanya karena soto yang tumpah dan dendam kesumat dalam diri masing-masing.
"Ra, kepala lo sakit gak?" Sellena bertanya khawatir. Pasalnya sebelum ia menyusul Aurora kembali ke kelas, gadis itu melihat sedikit banyak helai rambut Aurora tergeletak di lantai dan sebagian lagi masih tersangkut di tangan Reiga.
"Gue jadi makin gak suka sama curut sekolah yang satu itu. Cowok mainnya jambak-jambakan, gak sekalian pakai rok aja?" Sellena bersungut.
"Dikit sih," jawab Aurora sambil memijat kepala bagian kirinya. Sedikit rasa perih terasa di sana, juga panas dan sakit.
"Ke UKS?"
Aurora tertawa. "Ngapain? Ini mah kecil, kemarin gue ngalahin kak Bintang aja sampai lebam-lebam."
Sellena mendengus mendengar penuturan Sellena. "Lo tuh cewek tapi kayak cowok. Curiga jiwa lo sama Reiga ketuker waktu bayi."
"Sembarangan."
---πππππ---
Bel pelajaran kesepuluh berbunyi beberapa menit lalu. Tapi seperti jam pertama tadi, guru pengajar tak kunjung datang ke kelas, menjadikan kelas seperti hutan rimba penuh monyet berlarian.
"Bu Saidah dateng habis kita semua." Hajar selaku ketua kelas memperingatkan, tak ingin kejadian tahun lalu terulang lagi. Kalau boleh memberitahu, Bu Saidah itu tidak jauh berbeda dengan Bu Fitri. Justu jauh lebih menyeramkan seperti Pak Sugeng.
"Gue diem!" Udin berteriak menyahuti. Lalu anggukan sekelas mengikuti sahutan Udin, seolah mengatakan jika mereka juga diam. Nyatanya, tak lama kemudian bunyi senar gitar di petik serta nyayian tak tentu nada memenuhi kelas.
"Gue pengen jam kosong, Ra." Sellena bergumam. Wajahnya tampak lesu.
"Gue juga. Tapi Bu Saidah itu semodelan sama pak Sugeng. Mau dikata jam pelajarannya habis juga tetep lanjut, malah kita yang kena semprot gara-gara motong penjelasan."
Ting
Keributan kecil itu perlahan menghilang karena suara yang dihasilkan oleh speaker di atas papan tulis-pengumuman.
"Assalamu'alaikum Warrrahmatullahi Wabarakatuh, Perhatian buat seluruh siswa SMA Putra Bangsa, harap segera ke aula karena ada arahan tentang acara HUT sekolah. Sekali lagi, bagi seluruh siswa SMA Putra Bangsa harap segera ke aula karena akan ada arahan tentang acara HUT sekolah ke empat puluh tiga. Terima kasih."
Keributan lain muncul seketika. Tidak hanya dari XI-5, tapi juga kelas lainnya. Bersorak-sorai karena tidak harus mengikuti jam pelajaran yang membosankan. Segera keluar kelas sambil sedikit berlari, ingin mendapat tempat paling depan atau justru melipir ke kantin.
"Nah Sel, doa kita dikabulin." Aurora bekata sambil berdiri dari duduknya. Menyuruh Sellena minggir dan bergegas mengikuti yang lain.
---πππππ---
Sampai di aula, Aurora dan Sellena kebingungan mencari tempat. Pasalnya gedung itu sudah penuh siswa dari deretan depan ke belakang, sulit menemukan tempat kosong diantara seribu siswa yang sebagian malah seenaknya sendiri-duduk selonjor sambil bersandar pada bahu temannya tau tembok.
"Aurora!"
Aurora dan Sellena kompak menpleh ke sumber suara. Di gedung sebelah kanan, Bintang dan temannya yang tidak Aurora kenal berdiri, melambai ke arah mereka. Dua gadis itu berjalan mendekat sambil mengucapkan permisi pada orang yang duduk di tempat yang mereka lalui.
"Kenapa, Kak?" Aurora bertanya pada Bintang.
Bintang segera menarik pundak Aurora untuk duduk di tempatnya tadi, begitu juga Sellena. "Gue udah duga lo bakal terlambat. Gue mau ke depan, bantu Fajar. Lo duduk manis dan dengerin dengan baik." Bintang balik kanan sambil merangkul pundak temannya, pergi.
Sejenak Aurora masih mencerna apa yang baru saja dilakukan oleh Bintang. Meski bukan hal yang romantis, tapi Bintang seolah menunjukkan perhatian lebih untuknya.
"Ekhem, ada yang kasamaran nih." Sellena meledek. Menyikut lengan Aurora pelan dan mencubit pipi tembam gadis itu.
"Apaan sih, orang biasa aja. Mungkin kebetulan." Aurora mencoba mengelak.
"Apanya yang kebetulan? Kak Bintang kayaknya sengaja nunggu lo di sini," timpal Sellena. "Kak Bintang suka sama lo kayaknya, Ra," tebaknya.
Wajah Arora menghangat. Ada gemuruh perasaan aneh di rongga hatinya. "Sembarangan. Mungkin gue dianggep adek sendiri. Kan gue junior-nya di ekskul taekwondo."
"Yakin?" Sellena meledek lagi. Tersenyum senang saat melihat Aurpora bertambah gugup. "Ini pipi merah kenapa?"
"Sellena!"
"Iya-iya, Kak Fajar udah mau jelasin tuh. Inget kata Kak Bintang 'Lo duduk manis dan dengerin dengan baik'." Selena meniru suara Bintang, meski jelas jauh berbeda. Lantas tertawa karena berhasil membuat Aurpira bersungut marah.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarrokatuh. Maaf ya semua, ganggu pelajaran jam terakhir kalian." Fajar berucap dengan nada bersalah. Sedangkan seluruh murid balas menggeleng, malah senang bisa tidak ada pelajaran.
Fajar tertawa menanggapi lalu melanjutkan. "Di sini kami anggota OSIS akan menyampaikan tentang kegiatan-kegiatan sepanjang pre-acara HUT. Jadi, HUT tahun ini bakal beda dengan HUT tahun sebelumnya, ada beberapa kegiatan tambahan. Yang pasti bakal lebih meriah dari tahun sebelumnya." Fajar memulai penjelasan. "Jadi kegiatannya ada perkemahan buat ngebuka acara. Khusus buat acara ini, kelas sepuluh cuma ikut sampai sore, semenyara kelas sebelas dan kelas dan kelas dua belas sampai pagi. Pulang sekitar jam setengah enam sebelum akhirnya nanti balik lagi jam delapan. Kegiatan lain akan terlampir dalam dokumen yang kami kirim ke ketua kelas. Dan terakhir ada kegiatan pensi untuk penutupnya. Yang berbeda, tiap kegiatan tadi, selain panitianya dari OSIS setiap kelas juga diwajibkan mengirim satu perwakilan. Selanjutnya biar Kak Bintang yang jelasin." Fajar menutup penjelasannya.
Bintang maju, menerima mic dari Fajar dan mulai berbicara, "Nah, gak semua kelas ngirim perwakilan buat satu kategori lomba. Tapi kami sudah membaginya dengan menimbang beberapa kelebihan dan kekurangan yang ada. Hasilnya akan di sampai pada dokumen yang sudah kami kirim ke ketua kelas masing-masing. Tiap kategori kegiatan akan dibawahi oleh empat atau lima anggota dari OSIS hal ini juga terlampir dalam dokumen itu."
Bintang berhenti sejenak. Berbisik pada salah satu rekan OSIS-nya sambil menunjukkan lembaran yang ia bawa. "Tambahan, buat acara bantuan sosial dan pensi akan kami lampirkan di dokumen yang berbeda. Dikirimmenyusul setelah perwakilan tiap kelas selesai dikonfirmasi. Ada pertanyaan?"
Gelengan serempak dari seluruh murid menutup acara itu. Fajar selaku ketua OSIS segera membubarkan, menyuruh seluruh siswa yang hadir kembali ke kelas karena masih ada dua pulu lima menit sebelum pelajaran berakhir, meski kebayakan dari mereka justru melipir ke kantin.
---πππππ---
Jam sepuluh malam, Aurora hampir jatuh tertidur. Tapi demi melihat obrolan yang dilakukan yeman-temannya di grup chat membuat gadis itu kembali terbangun.
XI-5 | LIBUR H-126π₯π₯(360)
Muhammadin Udin sedang meng...
21.53
Muhammadin Udin (4)
Ra, pap tugas. Besok gue trak...
20.17
Sellena(8)
Woi, jangan lupa pap tugas b ...
18.45
Happy Family 2k20 (2)
Papa : Mama udah belanja be...
15.16
Kak Bintang (2)
Ra, aula sebelah kanan cepet ...
15.10
Aurora membuka percakapan di grup kelasnya. Tidak mengira bahwa mereka akan menjadi sangat rajin hanya untuk membahas masalah HUT. Seingatnya dulu, saat HUT tahun lalu, mereka benar-benar malas. Mengikuti kegiatan dengan berbekal nekad, tanpa latihan ataupun persiapan lainnya.
XI-5 | LIBUR H-126π₯π₯
__ADS_1
Muhammadin Udin sedang menget ...
-361 pesan belum dibaca-
Hajar Firdaus
|ini filenya, kalian baca dulu deh. Gue bingung mau diisi apa formulirnya
|π(JUKNISL HUT SMA PU) β¬
|π (FORMULIR PANITIA K) β¬
|π (ID CARD PANITIA KEL) β¬
|π (TERLAMPIR-KEPANI) β¬
Muhammadin Udin
|Apa isinya gaes?
|Kalau gak penting gak gue donlot
Harris J
β‘ Muhammadin Udin
[Kalau gak penting gak gue donlot]
|Lebih gak penting idup lo din
Muhammadin Udin
β‘ Harris J
[Lebih gak penting idup lo din]
|Kakanda tega mengatakan hal itu pada adinda? Kakanda jahat, adinda benci kakanda π₯Ίππ
Sellena
|Sumpah gue jijik sama ketikan lo din π
Lubenci Luna
|^2
Kharis
|^3
Setelah mengunduh dokumen yang dikirim Hajar dan membaca beberapa pesan yang malah membuatnya terpingkal sekaligus bingung pada sifat teman sekelasnya, Aurora menggeser cepat ke bawah, mulai mengikuti percakapan terbaru.
XI-5 | LIBUR H-126π₯π₯
Muhammadin Udin sedang menget...
Hajar Firdaus
|jadi fix ya Aurpra yang jadi panitia kemah
Sellena
|Gue setuju aja sih
|Asal bukan gue, gak masalah
Rivana Ang
|Setuju Jar
Marcella
|^2
Doni
|^3
Edo Embul
|^4567
Doni
|Lah, si gentong gak bisa ngitung
Muhammadin Udin
|891011121314151617181920
Doni wakanda
|Atas gue tambah ngaco
Muhammadin Udin
|serah gue. Dasar tiang @Doni wakanda
Doni wakanda
|DASAR CEBOL @Muhammadin Udin
Sellena
|DASAR BOGEL @Muhammadin Udin
Edo Embul
|DASAR BONCEL @Muhammadin Udin
Harris J
|DASAR PENDEK @Muhammadin Udin
Hajar Firdaus****
__ADS_1
|KURCACI @Muhammadin Udin
|Bhaks
Muhammadin Udin
| π‘π‘π‘ @Hajar Firdaus @Sellena @Harris J @Doni wakanda @Edo embul
Anda
β‘ Hajar Firdaus
[setuju gak @Auror Rona]
|Enak aja, ganti-ganti. Ogah gue, sibuk pasti
Muhammadin Udin
|Udah setuju aja Ra
|Temen sekelas udah setuju semua
Anda
|gue yang gak setuju Malih
|lo semua mah enak tinggal nyuruh
Hajar Firdaus
|iya setuju aja, temen sekelas udah setuju nih
|Entar ditraktir Udin jajan di kantin Bu Ijah sepuasanya
Muhammadin Udin
@Hajar Firdaus kenapa gue yang kena ****!
Anda
β‘Hajar Firdaus
[Entar ditraktir Udin jajan di kantin Bu Ijah sepuasanya]
|lo pikir harga diri gue seharga es hijaunya Bu Ijah?
Hajar Firdaus
β‘Muhammadin Udin
[@Hajar Firdaus kenapa gue yang kena ****!]
|Duit lo yang paling banyak din
Hajar Firdaus
β‘Anda
[ lo pikir harga diri guw seharga es hijaunya Bu Ijah?]
|Ya gak gitu Ra
|mau gak?
Anda
|Hmm ... asal traktir gue sampai bulan depan mah deal aja
Hajar Firdaus
|sip
Anda
|@Muhammadin Udin jangan lupa siapin duit ya sampai bulan depan
Muhammdin Udin
|Dasar Maemunah @Aurora Rona
|Woy, yang bener aja sampai bulan depan
|Gue gak setuju
Sellena
|sorry din, suara lo gak dibutuhin wkwk
Muhammadin Udin
| ππ
|π€π€
|ditendang emak gue nanti
|gaes
|WOY
|Keluar lo semua
|Kacang naik harga
Aurora terbahak saat melihat deretan pesan terakhir yang dikirim Udin. Pemuda itu memang selalu menjadi sasaran empuk untuk masalah bayar-membayar, maklum keluarganya adalah keluarga terpandang dengan status sosial yang sangat tinggi. Jadi masalah traktir sebulan juga tidak masalah bagi pemuda kurus itu.
Pukul setengah sebelas, setelah menyimak pesan di grup. Aurora beralih pada pesan-pesan lain, menjawab singkat, mengirm foto hingga berucap terima kasih. Semua sudah terjawab dan terbaca. Sekarang waktunya Aurora menjelajah alam mimpi. Tak lagi menghiraukan ponsel yang berbunyi ting sekali lagi.
PANITIA PENSI HUT 43
Kak Bintang added you to the group
Kak Bintang added +625850718818 to ...
---πππππ---
__ADS_1