Dear AURORA

Dear AURORA
Perbedaan Kasih Sayang


__ADS_3

Sepulang sekolah, Aurora langsung buru-buru pulang ke rumah, Karna ingin memastikan keadaan Lina. Meskipun Mbok Mina tidak memberi kabar apapun tentang ibunya.


"Ara Pulang" Ucap Aurora dengan langsung masuk menuju ruang tv, Dimana Lina biasa menunggu Aurora pulang sekolah dengan menonton tv.


Setelah di ruang tv, Senyuman Aurora langsung luntur ketika melihat keadaan rumah yang sunyi dan sepi.


Aurora langsung berlari menuju kamar Lina, Yang ternyata sama kosong juga.


"Mamah kemana?" Gumam Aurora dengan bertanya pada diri sendiri.


Aurora pun kembali berlari ke ruang bawah untuk menemui Mbok Mina yang ternyata tidak ada juga.


Tanpa menunggu lama Aurora berlari ke dalam mobilnya, Dengan menelpon Lina yang masih tidak ada jawaban.


Lalu Aurora menelpon pak Jako, Supir pribadi di rumah Lina. Setelah di beritahu pak Jako, Ternyata Lina sedang di bawa di rumah sakit untuk check up.


Aurora langsung menancap gas mobilnya, Karna khawatir pada Lina, Setelah beberapa menit perjalanan Aurora pun sampai dan langsung berlari menuju meja resepsionis.


"Atas nama Lina Albania" Ucap Aurora mendesak.


"Mohon tenang sebentar yah mbak" Ucap salah satu resepsionis pada Aurora.


"Kalau boleh tahu, Mbak siapanya bu Lina?" Tanya resepsionis.


"Anaknya"


"Baik, Atas nama bu Lina Albania. Berada di lorong melati 2, Tepatnya lurus lalu belok kiri. Di ruang VVIP" Ucap resepsionis tersebut, Tanpa menjawab Aurora langsung berlari menuju ke ruangan Lina di rawat.


Sesampainya di depan ruangan Lina di rawat, Aurora melihat Mbok Mina yang sedang duduk dengan kepala menunduk.


"Mbok Mina" Seru Aurora, Dengan menghampirinya.


Mbok Mina langsung mendongak melihat Aurora yang baru saja datang.


"Gimana keadaan mamah?" Tanya Aurora yang langsung membuat Mbok Mina, Menghela nafas kasarnya.


"Ibu baru selesai kemoterapi, Karna tubuhnya yang sangat lemah. Jadi ibu harus di rawat dulu non" Jawab Mbok Mina.

__ADS_1


Raut wajah Aurora tiba-tiba langsung murung mendengar keadaan ibunya, Yang semakin hari semakin memburuk.


Aurora melihat ibunya yang sedang terbaring di brangkar, Dengan wajah yang sangat pucat.


Walaupun Lina dan Daren sudah bercerai, Tetapi kehidupan Lina tidak jatuh miskin begitu saja. Karna Lina adalah anak tunggal kaya raya, Dari kakek nenek Aurora. Yang lebih dulu meninggal, Jadi Lina lah yang memperoleh semua harta peninggalan orang tuanya, Sedangkan perusahaan Lina percayakan pada adik dari orang tuanya untuk di kelola.


Jadi tak heran, Mereka memiliki fasilitas yang lengkap tanpa takut kehabisan harta. Bahkan rumah sakit, Yang menjadi tempat Lina di rawat sekarang, Lina adalah salah satu donatur terbesar di rumah sakit itu. Tak ayal, Jika dia mendapatkan fasilitas ruang VVIP untuk perawatan.


"Mama akan baik-baik aja kan Mbok?" Tanya Aurora dengan penuh ke khawatiran.


"Mbok juga berharap seperti itu non, Kita serahkan semuanya pada tuhan yah. Dia lebih tahu yang terbaik untuk kita semua" Jawab Mbok Mina, Dengan mengusap pundak Aurora.


"Kenapa gak di operasi aja?" Tanya Aurora yang kini menghadap menatap Mbok Mina.


"Kata dokter Ferdi, Akan sangat berbahaya kalau kita melakukan operasi. Untuk sekarang Dokter Ferdi mengusulkan untuk kemoterapi saja" Jawab Mbok Mina.


"Ara mau masuk"


"Silahkan non"


Aurora pun langsung masuk, Setelah Aurora masuk. Mbok Mina pun menangis dengan menutup mulutnya, Menahan isakan tangisnya yang sudah ia tahan dari tadi.


Terkadang Mbok Mina menyesali perbuatannya yang selalu menurut pada Aurora, Untuk meninggalkan nya ketika Lina mengamuk. Mbok Mina hanya bisa melihat di luar pintu kamar dan mendengar semua siksaan dan pukulan yang Lina lakukan pada Aurora.


"Seandainya ibu kamu tidak melarang Mbok, Untuk tidak memberitahukan kebenaran yang sebenarnya non. Pasti kamu akan melakukan apapun itu demi ibumu sembuh, Tapi sayang ibu kamu lebih memilih pergi karna sudah merindukan putri kecilnya, Mira. Dia tidak mau kamu tahu itu, Karena takut kamu cemburu non Ara" Batin Mbok Mina, Dengan menangis tersedu mengingat kehidupan Aurora yang sangat menyedihkan.


***


Karna kelelahan Aurora sampai tertidur di dekat lengan Lina yang bebas dari infus.


Lina terus menatap wajah Aurora yang sedang tertidur dengan begitu tenangnya. Wajah cantik yang kehilangan keceriaannya seperti dulu lagi. Kini berubah menjadi wajah dengan ekspresi datar, Dan sorot mata yang tajam.


Lina mengelus lembut kepala Aurora, Ia sadar akan perlakuannya selama ini pada Aurora yang begitu buruk, Tidak memberikan kasih sayang dan perhatian layaknya seorang ibu di luaran sana.


Merasa sedikit terganggu Aurora pun, Mengerjapkan matanya dan membuka lebar matanya saat melihat Lina yang sedang membelai rambutnya, Lina pun segera menghapus air matanya yang sempat mengalir di pipinya.


"Mamah?" Sapa Aurora, Dengan suara parau yang khas bangun tidur.

__ADS_1


"Hay sayang" Jawab Lina, Dengan tersenyum manis pada Aurora.


"Are you okey mom?"


"No!, Tapi sekarang sudah merasa jauh lebih baik kok, Cuman ngerasa sedikit pusing aja"


"Ara panggil dokter yah mah" Ucap Aurora dengan beranjak dari duduknya. Untuk memencet tombol nurse call, Tombol yang biasa untuk memanggil perawat atau dokter.


Tak membutuhkan waktu lama, Akhirnya dokter Ferdi masuk, Dan memeriksa keadaan Lina.


"Kondisi bu Lina sudah stabil, Tapi tetap saja. Bu Lina harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak fikiran" Ucap dokter Ferdi.


"Baik dok" Jawab Aurora.


"Untuk resep obat, Saya sudah sediakan di rumah sakit ini, Jadi nanti seperti biasa yah, Ambil obatnya, Kalau begitu saya permisi dulu, Karna masih ada pasien lain yang mau saya periksa. Selamat malam" Pamit dokter Ferdi.


"Malam dok" Jawab Lina dan Aurora bersamaan.


"Denger kan nyonya" Sindir Aurora pada Lina, Dengan memasang wajah tengilnya.


"Iya deh iya"


"Sekarang jam.. Ya ampun mah, Aku ketiduran sampai 2 jam lamanya?" Ucap Aurora, Dengan wajah paniknya.


Melihat jam yang melingkar di tangannya, Menunjukkan pukul 9 malam.


"Kenapa?, Kamu pasti belum makan kan?" Tanya Lina.


Aurora hanya nyengir dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu ini, Makan dulu sayang jangan di biasakan perut kamu kosong oke" Ucap Lina.


Aurora hanya tersenyum dan mengangguk, rasanya ingin merasakan momen seperti ini lebih lama lagi bersama Lina.


"Kalau gitu, Ara pamit keluar dulu yah mah. Mau beli makanan" Ucap Aurora dengan mengecup singkat kening Lina.


Lina hanya mengangguk dengan tersenyum tulus pada Aurora.

__ADS_1


Setelah Aurora pergi keluar, Lina langsung termenung, Dengan menatap langit-langit rumah sakit.


"Maafin mamah ra, Mamah egois. Mamah membedakan kasih sayang antara kamu dan Mira, Maafin mamah yang lebih memilih pergi. Karna mamah sudah merindukan Mira" Lirih Lina, Dengan menangis.


__ADS_2