Dear AURORA

Dear AURORA
Ending


__ADS_3

Sudah satu bulan perubahan Daren pada Hana dan Livy yang membuat hubungan rumah tangganya bersama Hana menjadi renggang, Apalagi sekarang Daren sudah tidak memperdulikan Livy, Karena ia sudah bertekad untuk menyayangi Aurora.


"Semuanya jahat, Dunia ini gak adil. Kenapa orang yang aku sayang sudah gak peduli lagi..." Teriak Livy di dalam kamarnya.


Mengingat Daren yang sudah jarang pulang ke rumah, Hana yang sibuk dengan toko butiknya. meskipun sebenarnya Hana juga merasakan apa yang Livy rasakan dengan sikap Daren yang sudah berubah, Tapi ia mencoba kuat untuk menghadapinya dengan menyibukkan diri untuk bekerja seorang diri.


"Aku harus apa ya tuhan.. Semua orang sudah mengacuhkan ku, Aku kesepian..." Lirih Livy dengan terduduk lesu di lantai.


"Aku harus merebut semuanya kembali, Aku tidak boleh kalah dengan Aurora" Gumam Livy dengan berdiri untuk bersiap pergi.


Setelah beberapa menit bersiap, Livy pun keluar. Dia sudah bertekad akan melakukan apapun untuk menarik perhatian orang-orang yang ia sayangi kembali.


"Semoga kamu ada di rumah Res" Gumam Livy yang berjalan menuju rumah Ares.


Setelah sampai di halaman rumah Ares, Livy terdiam untuk beberapa saat memandangi pintu rumah Ares yang sedang tertutup.


Tok


Tok


Tok


"Ares..." Panggil Livy yang mencoba memberanikan dirinya.


Ceklek


pintu terbuka yang ternyata di buka oleh Danu, Ayah Ares.


"Siang om Danu, Ares nya ada?" Sapa Livy pada Danu.


"Dia lagi belajar di kamarnya" Jawab Danu seadanya.


"Kalau mau ketemu dia, Kamu samperin aja dia di ruang belajarnya" Jawab Danu dengan berlalu pergi dari hadapan Livy.


Livy sudah biasa melihat sikap Danu yang terkesan cuek, Jadi dia tidak merasa canggung ataupun sakit hati melihat sikap Danu yang begitu acuh padanya.


"Res..?" Panggil Livy pada Ares yang sedang Sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.


Ares langsung mendongkakkan kepalanya ke arah Livy, Dengan tatapan mata yang begitu malas.


"Hm.." Jawab Ares


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu" Ucap Livy dengan hati-hati.


"Gua lagi belajar, Lo gak liat?"Jawab Ares dengan nada bicara yang ketus.


"Gapapa, Aku tungguin kamu sampai selesai belajar" Jawab Livy dengan duduk, Di samping meja belajar Ares.


Ares hanya diam, Dengan sesekali melirik Livy dengan ekor matanya.


"Terserah lo" Jawab Ares dengan melanjutkan kembali belajarnya.


***


Setelah satu jam menunggu, Akhirnya Ares pun selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Ia melirik ke arah samping dimana Livy duduk, Yang ternyata Livy sudah tertidur.


"Katanya mau nungguin gua, Lah ini malah tidur" Ucap Ares dengan membereskan buku-bukunya.


Mendengar ucapan Ares Livy pun terbangun dengan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya.


"Hoamm,, Ini udah jam berapa?" Ucap Livy dengan menguap.


"Jam 2" Jawab Ares yang langsung membuat mata Livy melotot kaget.


"Ya ampun!, Aku harus pulang, Mamah pasti udah di rumah" Ucap Livy dengan berdiri.


"Etss, Tunggu!. Lo lupa?, Kalau lo kesini itu mau ngomong sama gua kan?" Tanya Ares.

__ADS_1


Livy langsung menatap Ares bingung dengan kening berkerut, Setelah beberapa saat berpikir. Livy pun langsung menepuk jidatnya sendiri.


"Oh iya, Gimana kalau kita bicaranya di rumah aku aja Res?" Ajak Livy.


Ares hanya diam, Tidak menjawab ajakan dari Livy.


"Gak mau yah?"


"Yaudah" Jawab Ares pasrah.


"Kenapa yah, Gua udah tekad buat jauhi lo demi Aurora. Tapi, Kenapa lo malah terus ngejar gua sih Livy, Lo gak tahu kan?, Kalau selama ini tuh gua kasihan sama lo, Tapi gua harus egois demi memperjuangkan cinta gua" Batin Ares.


Setelah sampai di depan rumah Livy yang sudah terbuka pintu, Livy dan Ares di kejutkan dengan suara Hana yang berteriak seperti sedang bertengkar.


"NGGAK MAS!, AKU GAK MAU" Teriak Hana di dalam rumah.


Livy dan Ares pun sontak saling pandang, Lalu Livy berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat Hana.


"Keputusan ku sudah bulat Hana, Aku sudah membuat surat ini. Datang nanti hari rabu, Untuk sidang perceraian pertama kita" Jawab Daren dengan berlalu pergi dari hadapan Hana.


"NGGAK!, MAS. JANGAN!, AKU GAK MAU!" Teriak Hana dengan menangis.


Livy yang mendengar ucapan Daren pun langsung terkejut dengan menutup mulutnya tak percaya.


"Mamah.." Ucap Livy dengan menangis mendengar Hana yang akan bercerai dengan Daren.


Saat Daren akan keluar, Langkahnya langsung terhenti karena melihat keberadaan Livy dan Ares. Tanpa mengucapkan apapun Daren langsung berlalu dari hadapan mereka berdua.


"Papah jahat!" Ucap Livy dengan meninggikan suaranya pada Daren.


Langkah Daren langsung terhenti, Ia langsung menatap Livy tajam.


"Kenapa papah tega ceraikan mamah demi Aurora?" Tanya Livy.


"Karena saya lebih menyayangi anak saya" Jawab Daren datar.


"Anak yang sudah kurang ajar terhadap orang tua, Hah!" Teriak Livy yang langsung mengundang kemarahan Daren.


"Mamah gak.."


"PERUSAK AKAN TETAP MERUSAK KEBAHAGIAAN ORANG LAIN, BUKAN HANYA PERUSAK KAMU DAN IBU MU ADALAH PEREBUT KEBAHAGIAAN SAYA!" Teriak Aurora yang tiba-tiba datang bersama Arka, Dan anggota polisi.


Ares, Livy dan Hana langsung diam mematung melihat kedatangan Aurora bersama Arka, Terlebih melihat anggota polisi yang sudah seperti mengepung mereka.


"Kenapa diam?, Kaget?" Tanya Aurora dengan menaikkan satu alisnya menatap Livy.


"KAMU JAHAT AURORA!" Teriak Livy dengan nafas yang memburu emosi pada Aurora.


Arka langsung menarik Aurora untuk berada dekat dengannya, Karena takut jika Livy akan melakukan sesuatu yang dapat melukai Aurora.


"Kak Arka.." Lirih Livy melihat Arka yang dengan sigapnya melindungi Aurora.


"Sudah cukup Livy, Apa kamu selama ini tidak merasa bersalah. Kalau kamu sudah melukai dan menghancurkan keluarga orang lain?" Ucap Arka dengan tatapan yang dingin pada Livy.


Livy langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya pada Arka yang telah membela Aurora, Padahal selama ini Livy sudah menganggap Arka sebagai kakaknya sendiri.


"Arka.." Lirih Hana dengan berderai air mata.


"Tante juga sama, Kenapa kalian berdua menutupi kejahatan kalian pada Aurora selama ini. Termasuk pada Arka tante" Ucap Arka yang langsung membuat Hana dan Livy menundukkan kepalanya.


Ares yang bingung mendengar percakapan mereka pun hanya diam, Dengan pandangan yang tak lepas dari Aurora yang sekarang dekat dengan Arka.


"Maafin tante Arka.." Ucap Hana dengan merendahkan suaranya.


"Tante salah, Tante harusnya minta maaf ke Aurora sama om Daren. Bukan pada Arka" Jawab Arka.


Hana dan Livy hanya diam, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata-kata minta maaf pada Aurora.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Bang ini Sebenarnya ada apa?, Maksud dari kejahatan tante Hana sama Livy apa?. Mereka kan selama ini selalu baik sama Aurora" Ucap Ares yang mencoba membela Livy dan Hana dengan memegang pundak Livy.


Melihat sikap Ares yang lagi-lagi membela Livy, Aurora langsung menarik sudut bibirnya.


"Akan saya jelaskan, Pada kalian semua. Termasuk sama kamu Ares" Ucap Aurora dengan melangkahkan kakinya mendekati Ares, Livy dan Hana.


Arka pun ikut melangkahkan kakinya untuk terus berada di samping Aurora.


"waktu mamah saya masih hidup, Kamu sudah menyaksikan kan. Kalau saya suka di siksa dan di pukul oleh ibu saya sendiri?" Tanya Aurora yang langsung di angguki Ares.


"Dan kamu tahu kebenaran.." Ucapan Aurora terpotong karena Hana berteriak pada Aurora.


"CUKUP!, KAMU DIAM!" Teriak Hana.


"Kenapa?"


"Apa anda takut jika perbuatan busuk yang sudah anda lakukan terbongkar?" Tanya Aurora pada Hana.


Hana langsung memalingkan wajahnya kesamping, Karena tidak berani untuk menatap Aurora.


"Mereka sudah menghancurkan hidup saya, Keluarga saya, Kebahagiaan saya, Masa kecil saya!" Ucap Aurora dengan menunjuk wajah Hana dan Livy.


"Sebenarnya ibu saya tidak sakit ataupun depresi, Ibu saya normal. Hanya karena ulah mereka berdua yang sudah meneror ibu saya, Sehingga membuat ibu saya ketakutan sampai stress. Ibu saya jadi melampiaskan rasa takut dan marahnya pada saya dengan menyiksa saya!" Ucap Aurora yang langsung membuat Ares terkejut dan melepaskan tangannya dari bahu Livy.


"Apa kamu tahu?, Jika dia adalah pembunuh. Dia sudah membunuh suaminya sendiri dengan embel-embel kecelakaan, Padahal dialah dalang di balik semua ini. Dia terobsesi pada papah saya, Dan dia juga iri melihat keluarga ibu saya!. Satu lagi, Orang yang sudah menabrak adik saya yaitu dia, DIA PEMBUNUH!" Teriak Aurora pada Hana dan Livy.


Hana dan Livy hanya menangis dengan menundukkan kepalanya, Menyesal pun sudah terlambat.


Ares langsung memundurkan langkahnya untuk menjauhi Livy. Melihat reaksi Ares yang begitu terkejut pun Aurora langsung tersenyum smirk.


"Dan Untuk kamu Ares, Satu hal yang kamu harus tahu. Saya tidak pernah suka dengan kamu, Saya mengizinkan kamu untuk mendekati saya yaitu untuk membuat wanita sialan itu merasakan sakit hati. Ah tapi mungkin, Rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan apa yang saya dan keluarga saya rasakan" Ucap Aurora.


Setelah perdebatan hebat terjadi pun, Hana dan Livy langsung di bawa oleh polisi bersama Daren untuk menindaklanjuti pemeriksaan kejahatan yang telah ibu dan anak itu lakukan.


"Ra.." Ucap Ares yang menghampiri Aurora yang sedang duduk bersama Arka.


"Maafin aku" Ucap Ares dengan raut wajah yang begitu menyesal.


Aurora hanya menganggukkan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun.


"Tapi, Kita masih bisa berteman kan Ra?" Tanya Ares yang langsung membuat Aurora dan Arka mendongkakkan kepalanya bersamaan menatap Ares.


"Kenapa?, Gak mau?" Tanya Ares.


"Aurora sekarang udah jadi tunangan gua, Jadi lo gak usah deketin putri salju gua" Jawab Arka dengan entengnya yang langsung membuat Ares tersentak kaget.


"A-pa..?" Tanya Ares yang masih tak percaya.


Aurora hanya tersenyum kecil, Melihat ekspresi Ares. Lalu Aurora pun langsung menganggukkan kepalanya. Seolah membenarkan ucapan Arka pada Ares.


"Kita berteman" Ucap Aurora dengan tersenyum menatap Ares.


Ares masih diam dengan memandangi wajah Aurora, Lalu setelahnya ia membalas senyuman Aurora dengan tersenyum miris.


"Sesakit ini yah cinta gua bang, Gua gak pernah nyangka. Kalau cewek yang udah gua kejar-kejar ternyata bakalan jadi milik lo" Ucap Ares dengan tersenyum kecut pada Arka.


Arka langsung berdiri lalu merangkul Ares.


"Gak usah lebay, Lo kan ganteng. Meskipun gantengan gua sih, Lo harus semangat Res, Ingat bokap lo gak bakalan ngizinin lo buat pacaran. Yang ada lo di tuntut belajar dan belajar, Jadi lo masih punya waktu panjang buat cari cewek lagi. Yang cantiknya di bawah putri salju gua" Ucap Arka dengan menepuk-nepuk pundak Ares.


"Sialan lo bang" Jawab Ares dengan melepaskan tangan Arka dari pundaknya.


Aurora pun tersenyum melihat tingkah Arka dan Ares yang seperti tikus dan kucing, Kadang akur kadang juga ribut.



__ADS_1


Hai semua, Terimakasih yah udah baca kisah Dear Aurora. Terimakasih juga untuk kalian yang sudah mendukung novel ini, Dan maaf jika ada kesalahan dalam kata ataupun kalimat.


Semoga kalian suka😊


__ADS_2