
Setelah selesai membeli makanan Aurora pun datang kembali ke ruang rawat ibunya.
"Mamah" Sapa Aurora, Saat masuk ke dalam ruang kamar rawat Lina.
"Udah beli makanan nya?" Tanya Lina.
"Udah, Mamah udah makan belum?, Kalau belum sama Aurora aja yuk, Kita makan bareng" Ajak Aurora, Dengan mengangkat sekantong makanan yang ia beli.
Lina hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum ke arah Aurora.
"Kamu makan saja, Mamah udah kenyang. Tadi kan makan" Jawab Lina.
Aurora hanya menganggukkan kepalanya, Lalu ia makan, Setelah selesai makan Aurora Langsung di tanya oleh Lina tentang perlombaan yang akan Aurora hadapi.
"Oh iya, Mamah mau tanya. Kapan lomba piano kamu di gelarnya sayang?"
"2 hari lagi mah, Makanya Aurora tadi pulang telat karna latihan dulu. Eh pas pulang, Ternyata mamah udah di rumah sakit, Ara langsung ke sini deh karna khawatir sama mamah" Jawab Aurora.
"Maafin mamah yah sayang, Tadi gak ngabarin kamu. Mamah takut ganggu kamu belajar"
"Iya mah gapapa, Awalnya sih. Ara pengen mundur dari lomba mah, Karna Aurora ingin mendampingi mamah berobat sampai mamah sembuh" Ucap Aurora yang langsung mendapat gelengan dari Lina.
"Gak sayang, Kamu gak boleh mundur. Kamu harus semangat untuk menang pokoknya, Mamah gak izinin kalo kamu mau undur diri dari lomba"
"Iya mamah ku yang bawel, Tapi mamah harus janji. Mamah harus sembuh, Biar mamah bisa nonton Ara pas lomba, Trus mamah duduk di kursi paling depan" Ucap Aurora dengan antusiasnya.
"Mamah akan bertahan sampai kamu selesai lomba sayang, Mamah janji" Jawab Lina dengan mengusap lembut kepala Aurora.
Aurora yang awalnya antusias dengan tersenyum pun, Kini langsung terdiam dengan menatap sendu ibunya. Aurora paham dengan ucapan Lina, Tapi Aurora tetap meyakinkan dirinya, Bahwa Lina akan menunggunya sampai Aurora selesai lomba.
***
Daren kini sedang duduk termenung di meja kerjanya, Dengan tatapan yang kosong menatap layar laptop yang di hadapannya.
Daren terus mengingat pertemuan dan ucapan dari Lina tadi di rumah sakit, Ia bertemu dengan Lina di rumah sakit, Tanpa ada yang tahu siapapun.
__ADS_1
FLASBACK ON
Saat Daren sedang istirahat jam makan siang, Tak sengaja ponselnya berbunyi. Menandakan ada pesan masuk, Ternyata dari Lina.
Lina mengajak bertemu Daren di rumah sakit, Dan sudah mengirimkan lokasinya. Daren langsung pergi menemui Lina, Ke alamat yang sudah di berikan mantan istrinya itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Daren langsung menuju ruangan Lina yang sudah Lina katakan, Saat masuk ke ruangan Lina. Daren melihat Lina yang sedang duduk di kursi roda dengan menghadap ke jendela luar rumah sakit, Yang menampilkan pemandangan kota.
"Hai mas" Sapa Lina, Dengan membalikkan kursi rodanya menghadap Daren
"Saya tidak punya waktu untuk mendengarkan basa basi kamu, Langsung saja ke intinya" Jawab Daren, Dengan ketusnya lalu duduk di kursi yanga da di ruangan Lina.
"Seperti yang kamu lihat sekarang mas, Aku sedang sakit dan sangat parah. Mengingatnya saja membuatku semakin takut"
"Aku juga gak tahu mas, Sampai kapan aku akan bertahan hidup. Karna kangker yang ada di otak aku semakin hari semakin ganas dan sangat sakit yang aku rasakan" Ucap Lina dengan tersenyum ke arah Daren.
Mendengar itu, Daren langsung tersentak kaget. Menatap ke arah Lina yang sedang tersenyum padanya, Daren hanya mampu diam dengan mata yang tak lepas menatap ke arah Lina.
"Aku sudah jujur padamu tentang keadaan ku yang saat ini mas, Kamu boleh percaya atau tidak. Itu terserah kamu, Karna itu pilihan kamu, Yang terpenting aku cuma mau, Kamu untuk menjaga Aurora kita mas, Aku tidak tahu umurku disini kapan akan berakhir. Tapi aku sangat meminta padamu, Jaga Aurora kita. Dia anak yang baik, Anak yang tangguh, Dan kuat mas" Ucap Lina, Dengan tersenyum dan air mata yang mengalir begitu derasnya.
"Bisa tolong kabulkan permintaan ku yang terakhir ini mas?, Aku akan memberi apapun yang kamu mau, Asal kamu selalu ada untuk Aurora saat aku sudah pergi"
Air mata Lina mengalir begitu derasnya, mengungkapkan semua kemauan terakhirnya pada Daren, Walaupun Sebenarnya Lina sangat mencintai Daren. Tapi Lina sudah cukup tahu diri, Tidak bisa kembali dalam pelukan mantan suaminya.
"Baiklah akan aku pikirkan..." Ucapan Daren terpotong karna Lina lebih dulu menjawabnya.
"Gak ada yang perlu di pikirkan lagi mas, Kamu ayahnya. Kamu adalah satu-satunya yang Aurora punya, Saat aku sudah tiada. Dia anak kandung kamu mas" Jawab Lina, Yang langsung membuat Daren bungkam.
"Kenapa kamu selalu berfikiran seperti itu, Apa tidak ada lagi harapan untukmu bertahan?" Tanya Daren pada Lina.
Lina hanya menggelengkan kepalanya dengan menunduk.
"Asal kamu tahu mas, Selama ini Aurora hanya butuh, Kekuatan, Kasih sayang, Dan perhatian dari kita. Terlebih dekapan dari seorang ayah untuk putrinya" Lirih Lina, Yang masih menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Lina, Daren tidak menjawab. Ia malah pergi dari ruangan Lina menuju mobilnya.
__ADS_1
Setelah sampai di mobil, Tangisan Daren langsung pecah mengingat ucapan Lina yang memintanya untuk menjaga Aurora.
Bukan Daren tidak mau untuk mendekati Aurora, Tapi Aurora lah yang akan menolak Daren, Karna Daren cukup tahu diri untuk kesalahannya selama ini pada Aurora.
FLASBACK OF
Daren pun langsung menghidupkan mesin mobilnya, Dan berlalu pergi untuk pulang kerumahnya.
Setelah sampai di rumah, Ternyata kepulangan Daren sudah di tunggu Livy di ruang tamu.
"Papah" Sapa Livy, Dengan beranjak dari duduknya.
"Iya" Jawab Daren, Dengan tersenyum ke arah Livy.
"Papah udah tahukan, Sebentar lagi Livy akan ikut lomba piano, Dan papah tahu. Orang yang lulus dan akan mewakili sekolah kita itu, Aurora bukan Livy" Ucap Livy, Yang langsung membuat senyuman Daren luntur.
Daren hanya diam, Bingung untuk menjawab apa ucapan Livy.
"Papah, Biarpun livy gak lulus lomba. Tapi Livy boleh minta sesuatu sama papah gak?" Tanya Livy, Yang langsung membuat Daren bingung.
"Boleh, Kamu mau minta apa" Jawab Daren.
"Livy minta, Pas nanti Aurora lomba. Mau menang ataupun tidak, Tapi Livy berharap Aurora akan menang. Livy cuman mau papah peluk Aurora setelah Aurora selesai lomba" Pinta Livy, Yang langsung membuat Daren diam membisu.
"Papah bisa kabulin permintaan Livy?" Tanya Livy, Untuk memastikan Daren setuju atau tidak.
"Baiklah sayang" Jawab Daren, Dengan mengusap lembut kepala Livy.
"Makasih pah, Pokoknya nanti kita support Aurora yah pah" Ucap Livy, Dengan tersenyum manis.
Daren hanya menganggukkan kepalanya, Dan berlalu pergi meninggalkan Livy, Menuju ruang kerjanya. Setelah di ruang kerja Daren, Langsung menghempaskan tubuhnya untuk duduk di kursi.
Lagi dan lagi air mata Daren luruh, mengingat permintaan Lina dan Livy. Yang sama-sama meminta untuk memberi pelukan pada Aurora.
"Maafin papah Aurora, Papah jahat. Papah bingung harus dengan apa papah dekat dengan kamu, Karna papah tahu seberapa besarnya kesalahan yang papah buat untuk dekat dengan kamu, Kamu pasti akan menjauh dari papah" Lirih Daren.
__ADS_1