
Bu Mirna berinisiatif mengantar Aurora dan Reiga hingga ke depan gerbang. Sekalian membantu membawa barang-barang dan agar terlihat seperti ibu idaman karena melepas anaknya pergi dengan senyuman dan perhatian. Aurora mengiyakan saja daripada berdebat panjang. Reiga juga hanya memberi senyuman, menerima sepenuh hati.
"Beneran gak usah mama anterin makanan besok pagi?"
"Aduh Ma, Ara, bukan anak SD lagi. Bisa cari makan sendiri kalau laper."
Bu Mirna mengangguk, lalu beralih menatap Reiga. "Kamu jagain Ara ya, Ga. Dia ini anaknya ceroboh banget."
Aurora mendelik, hendak melayangkan protes pada Bu Mirna. Namun, dengan cepat telunjuk wanita paruh baya itu berhenti di depan mulutnya, membuat perkataannya seketika berhenti.
"Kamu meleng dikit aja udah hilang."
"Mama ih, gak-"
"Dikit-dikit bisa jatuh," lanjut Bu Mirna memotong kalimat putrinya. "Kamu jagain yang bener ya," pesannya lagi.
Reiga memgangguk. Mendekati Bu Mirna dan mencium tangan wanita paruh baya itu. "Aku bakal jaga Ara, Tante. Tenang aja."
"Cih, caper," sinis Aurora dengan tangan bersedekap. Jika di hadapan mamanya saja Reiga bersikap manis seperti pemuda bertanggungjawab. Aslinya justru berbanding terbalik dan membuat dirinya muak.
"Kamu ini, gak boleh gitu." Bu Mirna menepuk bahu anaknya. Menatap dengan tatapan tajam menyuruh Aurora untuk diam.
"Iya-iya, Ara berangkat dulu, Ma. Mama hati-hati di rumah ya," pamit Aurora sambil mencium tangan mamanya. Lantas berjalan memasuki mobil Reiga lebih dulu.
"Reiga pamit ya, Tante," ucap Reiga menyusul Aurora yang sudah masuk lebih dulu.
Bu Mirna mengangguk. Melambaikan tangan saat mobil Reiga mulai melaju. Lantas segera masuk ke dalam rumah saat mobil itu hilang di kelokan. Setidaknya sudah memastikan anaknya aman meski hanya beberapa meter dari rumah.
---πππππ---
Tahu apa yang terjadi saat dua orang yang saling bermusuhan disatukan di tempat yang sama, berdua saja. Maka jawabannya dalah suasana dalam mobil Reiga saat ini. Tak ada suara selain bisingnya jalan. Helaan napas pun tak terdengar, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Aurora yang terus menatap ke samping sementara Reiga terlihat fokus pada jalan.
"Jalanan gak setampan wajah gue sampai lo terus-terus liat ke luar," kata Reiga penuh percaya diri. Tapi kenyataannya memang begitu, dari sorot matanya yang sesekali melirik ke samping, ia tak menemukan satu pun pemuda yang bisa masuk kategori tampan. Jalanan hanya dipenuhi penjual bakso, abang-abang atau bapak-bapak yang nongkrong di warteg, orang dengan jaket hijau dan helm hijau, bahkan Reiga sempat menemukan ada yang memakai helm berbentuk tabung gas LPG. Aneh-aneh saja penghuni negara plus enam dua ini.
Aurora melirik sinis. "Banyak cogan di jalan," ketusnya.
"Gantengan gue kali." Reiga melirik sekilas. Terkekeh pelan karena jawaban Aurora.
"Halu."
Sunyi. Jawaban pendek Aurora membungkam Reiga seketika, bukan karena sakit hati. Reiga itu laki-laki berhati baja setebal lima belas sentimeter dengan lapisan platinum yang tebal. Kata-kata dingin Aurora tidak mempan padanya. Hanya saja, kucing yang terkenal dengan kesembilan nyawanya itu melintas begitu saja membuat Reiga kembali awas. Tidak lagi melempar candaan karena fokusnya tertuju pada jalan.
"Ra, jaket gue lo bawakan?" Reiga bertanya tanpa mengalihkan pandangan. Memutar kemudi ke kanan untuk menghindari penjual bakso keliling yang sedang melayani pembelinya.
"Enggaklah, lo gak ngingetin, gue-nya juga lupa." Aurora menjawab santai. Matanya masih tertuju ke luar, hanya saja sekarang kepalanya ikut bersandar pada kaca mobil. Lelah dan mengantuk. Ingin segera sampai dan tidur sebentar di tenda panitia.
"Yang bener?!" Reiga menghentikan laju mobilnya tiba-tiba. Tidak peduli dengan pengendara motor di belakang yang membunyikan klakson keras dan mengumpat di sebelah jendela mobilnya.
"Lo bisa nyetir gak sih? Jantung gue hampir pindah tempat tau gak!" Aurora menyentak, menatap sengit pada Reiga sambil menahan tubuh menggunakan tangan di dashboard. Gila, jantungnya berdetak cepat sekali. Lebih cepat dari kejadian hampir tertabraknya kucing tadi.
"Lo beneran gak bawa jaket gue?"
Persetan dengan teriakan Aurora yang membuat gendang telinganya berdengung hebat atau pukulan yang mungkin akan dilayangkan gadis di sebelahnya ini. Kepastian tentang jaketnya jauh lebih penting. Pasalnya Reiga memang berencana tidak membawa jaket karena kejadian tempo hari mengharuskan jeket merah miliknya menginap di rumah Aurora. Itu jaket kesayangannya omong-omong.
"Enggak!" jerit Aurora sambil mengatur posisi duduknya.
"Gue gak bawa jaket, Ra. Lo jangan bercanda. Di sana dingin banget kalau malem."
__ADS_1
"Gak penting buat gue."
Reiga mendengus menanggapi. Sepersekian detik berikutnya, mesin mobil kembali menyala. Reiga melanjutkan perjalanan dengan perasaan kesal.
Sampai saatnya mereka melewati salah satu pom bensin, Reiga cepat-cepat mengubah haluan. Aurora tidak banyak tanya, mungkin bensin Reiga habis jadi pemuda itu mampir sebentar. Namun, menyadari bahwa Reiga tak memberhentikan mobil di sana, raut wajah Aurora berubah panik.
"Mau kemana?"Aurora bingung melihat mobil Reiga justru kembali ke arah di mana mereka datang. Jangan bilang jika Reiga nekat kembali ke rumahnya dan mengambil jaket?
"Ambil jaket."
Aurora mengutuk pikirannya. Apa sekarang peribahasa berubah menjadi pikiran adalah doa? Kalau iya, Aurora ingin menarik pikirannya yang tadi. Sungguh, ia lelah dan masih mengantuk. Kembali ke rumah padahal sudah menempuh jarak setengah lebih jelas opsi yang menjengkelkan.
"Balik ke rumah?" tanya Aurora was-was. Bisa saja Reiga hanya mengerjainya. Dan saat seratus meter dari sekarang pemuda itu memutar arah lagi.
Reiga mengangguk.
"Gila lo?! Ini udah setengah jalan ****! Kenapa gak bilang semalem, sih?! Kan, bisa gue siapin!"
"Lo juga kalau minjem tau diri dikitlah, selesai kembaliin. Bukannya di simpen di rumah."
"Siapa yang minjem?!" Aurora mengelak. "Lo sendiri yang minjemin ke gue!"
"Lo mau nangung malu emangnya?" Reiga bertanya sinis. "Masih untung gue pinjemin."
"Tapi ini udah setegah jalan, Ga! Ya kali mau balik!" kesal Aurora. Wajahnya memerah karena amarah. Napasnya terengah setelah berteriak pada Reiga. Bersama dengan Reiga memang menguji kesabaran. Apalagi jika hanya berdua, Aurora bisa mati karena tekanan darah tinggi.
"Mobil, mobil gue. Bensinnya juga gue yang beli, kenapa lo yang sewot?" sengit Reiga. "Kalau gak mau ikut, lo turun ajan di sini. Nunggu gue ambil jaket."
Aurora membuang muka. Kesal tentunya, tapi apa boleh buat? Jika saja ini mobilnya, ia pasti sudah menendang Reiga sejak tadi. Biarkan saja pemuda itu berguling di jalanan yang panas. Toh, ia tak peduli.
"Reiga gak usah ngerdus ke gue!" hardik Aurora.
Reiga terbahak.
Sungguh, menggangu Aurora menjadi hobi baru yang menyenangkan untuknya. Melihat gadis itu marah seperti melihat kembang api di malam tahun baru. Tentu saat umurnya masih lima atau enam tahun, karena saat itu semua terasa menyengakan. Kalau sekarang, Reiga justru memilih tidur ketimbang ikut menghitung mundur seperti yang dilakukan keluarganya.
Prinsip baru yang ia dapatkan saat SMA, rebahan adalah jalan ninjaku.
---πππππ---
Bu Mirna dikagetkan dengab Aurora dan Reiga yang kembali setelah hampir empat puluh menit pergi. Wajahnya bertanya-tanya bingung sambil melihat ke arah Aurora dan Reiga bergantian. Namun, saat melihat wajah masam Aurora, ia lebih memilih memendam pertanyaan. Bisa ditanyakan nanti pada Reiga.
"Maaf Tante ganggu lagi. Aku mau ambil jaket, kemarin dipinjem sama Aurora tapi Aurora-nya lupa bawa."
Bu Mirna menggeleng-geleng tak percaya pada Aurora, menatap tajam putri semata wayangnnya itu. "Ra, mama, kan, udah bilang kalau minjem itu harus dikembaliin."
Aurora menginjak ujung kaki Reiga, membuat pemuda itu memekik tertahan dengan mata mendelik tajam ke arahnya. Sementara yang ditatap tidak peduli, menampilkan ekspresi kelewat datar yang membuat Reiga ingin menjitak kepala gadis itu.
"Bukan Ara yang minjem, itu inisiatifnya Reiga sendiri, Ma." Aurora masuk ke rumah. Meninggalkan Bu Mirna yang masih sedikit bingung dan Reiga dengan rasa sakit di jari manis dan kelingking kakinya. Percaya atau tidak, jarinya terasa membesar lalu mengecil dengan cara menyakitkan.
"Maafin Ara ya, dia emang gitu anaknya. Udah lama sih tante gak liat dia bareng anak cowok setelah putus sama Varo." Tatapan Bu Mirna berubah sendu saat menggumamkan nama itu. Seolah ada kenangan pahit di dalamnya.
Reiga mengangguk dan tersenyum. "Udah bisa digalakin sama Aurora, Tan," adunya.
Sepersekian detik berikutnya, alis Reiga terangkat. Berbagai pertanyaan mucul di otaknya menyadari arti kalimat kedua Bu Mirna. Aurora gak pernah bareng cowok? Lantas Bintang itu apa? Laki-laki jadi-jadian? Makhluk semacam Lucinta Luna?
"Bukannya Aurora sering diantar pulang sama kak Bintang ya, Tan?" tanya Reiga memastikan.
__ADS_1
Kini giliran alis Bu Mirna yang terangkat mendapati nama asing itu masuk ke indra penΔengarannya. "Bintang siapa? Anak komplek sebelah?"
"Tante gak tahu?"
"Enggak. Ara gak pernah cerita."
Senyum kemenangan terbit di bibir Reiha begitu lebar. Kesempatannya mendekati Aurora lebih besar. Setidaknya untuk memenuhi rekor berpacaran dengan seratus murid angkatan kelas sebelas.
"Oh ya, Tan, Varo itu siapa ya?" Reiga mencoba mengulik informasi masa lalu Aurora. Tidak menyangka jika gadis setengah preman itu pernah memiliki kekasih hingga gagal move on seperti sekarang.
Bu Mirna hendak menjawab, tapi sudah Aurora kembali dengan kresek hitam di tangan. Dengan mata yang memincing tajam, Aurora menatap intens kepada dua orang yang masih setia di tempat seperti sedang membicarakan hal serius.
"Mama jangan ngomong aneh-aneh tentang Ara. Masa aib anak sendiri diumbar," peringat Aurora. Bukannya menuduh atau bermaksud lain, Aurora ini sudah sering mendengar ibu-ibu yang membicarakan anak mereka saat membeli sayur. Ada yang bilang anaknya susah bangun, susah mandi, nge-game terus dan keluhan lain. Apakah berita zaman sekarang kekurangan gosip panas hingga anaknya dijadikan bahan gosip?
Bu Mirna menggeleng, menepuk puncak kepala Aurora dan segera kembali masuk. "Enggak, PD banget. Cepet berangkat, keburu malem."
Aurora mencium kedua pipi Bu Mirna sebelum wanita paru baya itu masuk sambil menggumankan kata sayang.
Lanntas beralih pada Reiga. Menyerahkan kresek tepat di dada pemuda itu dan berlalu begitu saja.
Reiga masih termenung. Pertanyaan tentqng Varo membuatnya diam tak berkutik hingga teriakan Aurora menyadarkannya.
"Cowok kok kayak putri solo, jalan yang bener!"
Sedikit berlari menyusul Aurora yang sudah setengah badan masuk ke mobil, Reiga menggerutu pelan. "Mulut pedes banget kayak sambel bakso Mang Ujang. Dulu Tante Mirna ngidam makan cabe sekebon ya waktu hamil?"
---πππππ---
Mobil Reiga sampai di lokasi lima belas menit sebelum jadwal. Membuat pemuda itu sedikit santai bahkan tidak membangunkan Aurora yang masih tertidur dengan posisi kepala miring ke kanan. Jika ia perhatikan lebih teliti, Aurora itu gadis yang cantik. Cukup cantik untuk membuat beberapa orang rela menjatuhkan hati padanya. Namun terlepas dari itu semua, kegalakan Aurora menjadi permasalahan tersendiri bagi yang ingin mendekatinya. Perumpamaannya, mendekati Aurora sama saja dengan mendekati singa betina yang kelaparan. Reiga masih ingat betul deklar yang dikeluarkan Aurora saat ada kakak kelas yang terang-terangan menyatakan perasaannya.
"Jatuhin gue di arena taekwondo dan gue jadi pacar lo atau relain aja beberapa tulang lo patah."
Reiga terkekeh sendiri. Siapa juga yang akan merelakan tulang mereka patah demi mendapat cinta. Apalagi saat masih SMA, belum bertemu perempuan yang lebih bening dan menggoda saat kuliah. Jadi, mundur adalah pilihan teraman, pengecualian bagi pemilik cilnta sejati. Disuruh jungkir balik di trotoar atau mati seperti juliet yang meminum racun pun akan rela dilakukan.
"Eungh ...." Aurora melenguh dalam tidurnya, mengerjapkan mata guna menyesuaikan intensitas cahaya dan mulut yang menguap kecil, ia sempurna terjaga. Merenggangkan tangan dan kaki lalu menoleh ke arah Reiga.
"Matanya dijaga! Dasar mata keranjang!" Aurora berseru kaget saat mendapati wajah Reiga hanya berjarak dua puluh sentimeter dari wajahnya. Belum lagi tatapan intens dan senyum yang mirip seringaian itu. Aurora bahkan hampir terjungkal jika saja tidak ada pintu mobil yang menjaganya.
"Udah gue bilang, orang gila aja bakal mikir beribu kali buat ngapa-ngapai lo."
"Muna!"
Aurora membuka pintu mobil, ingin segera keluar karena hawa dalam mobil mulai membuat suasana hatinya tidak enak. Panas dan degup jantung tak beraturan. Mungkin karena kaget, simpulnya dalam hati.
"Tunggu." Reiga mencekal tangan Aurora, mencegah tubuh gadis itu yang sudah setengah keluar.
Aurora kembali terduduk. Beberapa saat diam tak berkutik sebelum akhirnya menatap jengah pada Reiga. "Apa lagi? Gue mau ngeberesin barang-barang."
"Siapa Varo?" Setelah pertanyaan singkat itu tersampaikan, Reiga bisa merasakan tangan Aurora yang menegang. Wajah gadis itu juga berubah kaku dan matanya menyotot tajam.
"Hilangin rasa penasaran lo. Karena sampai kapanpun gue gak bakal jawab!" Aurora menjawab penuh penekanan pada kalimatnya. Seolah itu informasi sangat rahasia milik negara. Lantas segera menghempaskan tangan Reiga dan berlari menuju bagasi mobil.
Reiga tertegun, menoleh kebelakang dan mendapati separuh tubuh Aurora masuk ke bagasi mobil. Mengambil beberapa barangnya dan menutup pintu bagasi keras. Berhasil membuat Reiga yang melamun memperhatikan Aurora terperanjat kaget.
Sialan, desisnya dalam hati.
"Kenapa gue bisa sepenasaran ini sama Varo itu?" gumam Reiga frustasi.
__ADS_1