
Aurora berjalan dengan pandangan lurus tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang baru mengagumi wajah Aurora yang kini tanpa tertutup masker.
"Akhirnya bidadari gua kembali sekolah lagi" Gumam Alex yang tak lepas memandang Aurora.
Mendengar ucapan Alex, Ares langsung mendongkakkan kepalanya lalu melihat ke arah pandangan Alex.
Ares baru menyadari jika Aurora hari ini kembali sekolah, Dia langsung beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Aurora.
"Mau kemana lo?" Tanya Alex yang melihat Ares akan pergi.
Ares rak menjawab ia malah berlalu pergi begitu saja, Dan benar saja dugaan Alex. Jika Ares akan pergi menghampiri Aurora, Membuat Alex berdecak kesal melihat tingkah Ares.
"Ck, Udah gua duga. Gua heran deh sama tuh anak, Berasa jadi playboy banget deh. Kemarin nempel sama si Livy, Sekarang lihat putri salju gua sekolah. Langsung dia deket-deket" Ucap Alex, Yang langsung mendapat kekehan dari Alkan.
"Lo gak tahu aja sikap dia yang plin plan. Gua juga waktu itu lihat dia lagi pelukan sama Livy, Dan pas dia nyadar ada Aurora di belakangnya. Dia langsung lepasin Livy gitu aja, Dan ngejar Aurora" Ucap Alkan, Mengingat kejadian waktu Livy menangis dan di peluk oleh Ares.
"Gila tuh anak" Seru Leo, Dengan menggelengkan kepalanya.
***
Ares berlari untuk menghampiri Aurora sampai tepat di tengah-tengah lapangan, Sedangkan Aurora juga harus menghentikan langkahnya. Karena Ares tepat menghalangi jalan Aurora.
Ares mengatur nafasnya dengan tersengal- senggal. Pandangannya tidak beralih dari wajah Aurora, Seakan jika Ares mengalihkan pandangannya sedikitpun. sosok di depannya akan langsung menghilang.
Aurora yang kini menatap datar Ares, Pandangan yang datar, Namun terkesan tajam.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua, Yang di lantai atas sampai rooftof pun sekarang sedang memperhatikan interaksi mereka berdua.
Sedangkan Livy yang berada di tepat belakang Ares pun, Juga ikut memperhatikan mereka berdua. Sampai buku yang di pegang Livy pun terpegang dengan eratnya, Karna melihat Ares yang begitu antusias melihat Aurora kembali sekolah.
"Hay Aurora" Sapa Ares dengan senyuman.
Aurora masih diam dengan menampilkan wajah datarnya, Lalu ekor matanya melihat ke arah Livy yang ternyata sedang meradang melihat sosok yang di cintainya mengejar kembali Aurora.
Sudut bibir Aurora terangkat, Inilah yang Aurora suka. Ketika melihat Livy yang merasa tersakiti dengan sikap Ares yang terus mengejarnya.
"Apa kabar kamu Ra?" Tanya Ares dengan mengembangkan senyumnya di hadapan Aurora.
Melihat itu bukannya senang, Aurora malah semakin muak dengan semua tingkah Ares.
"Bagaimana kabar saya, Itu bukan urusan kamu. Saya permisi" Ucap Aurora yang dari tadi diam.
Aurora kembali melangkahkan kakinya melewati Ares, Baru beberapa langkah lengan Aurora langsung di cekal oleh Ares. Membuat tubuh Aurora kembali berbalik menghadap Ares.
"Lepas!" Berontak Aurora.
__ADS_1
Bukannya di lepas, Ares malah semakin erat mencekal lengan Aurora.
"Ra aku minta maaf, Aku udah nyakitin kamu. Jujur waktu itu aku salah sama kamu, Tapi aku mohon Ra jangan jauhi aku. Aku suka sama kamu Aurora" Ucap Ares.
Mendengar itu, Aurora semakin marah tatapan tajamnya seolah ingin membidik Ares.
"Saya gak peduli, Saya tidak suka cowok plin plan seperti kamu. Urus saja sahabat mu yang paling berharga itu, Oh ya. Bukannya kalian akan bertunangan kan?" Tanya Aurora yang langsung membuat Ares bingung.
"Tunangan?" Gumam Ares dengan wajah bingungnya.
"Yah, Waktu itu ada seseorang yang meminta saya untuk tidak dekat dengan kamu. Karna dia bilang kalian akan bertunangan"
"Siapa yang kamu maksud Ra" Tanya Ares yang masih tidak paham.
"Livy" Jawab Aurora dingin, Membuat Ares diam membeku.
"Kenapa?, Kaget?"
"Sekarang lepasin tangan saya!"
Ares langsung melepaskan tangan Aurora, Dengan perasaan yang kembali berkecamuk mengingat ucapan Livy pada Aurora.
"Ra jangan jauhi aku" Ucap Ares yang kembali mencekal lengan Aurora.
Plak
Ares memegang pipinya yang terasa panas dan perih, Karena tamparan yang kuat dari Aurora.
"Ra, Kamu sadar?. Kamu udah nyakitin aku!" Ucap Ares.
"Saya tidak pernah dan tidak ingin untuk menyakiti siapapun!. Apa kamu sadar hah, Kalau kita sudah saling menyakiti. Kamu mendekati saya, Karena ingin saya mengikuti lomba bodoh itu, Sampai saya harus kehilangan orang yang saya cintai. Dan asal kamu tahu, Saya menerima kamu dekat dengan saya itu hanya untuk menyakiti perasaan sahabat kamu, LIVY!, Ingat itu" Ucap Aurora datar.
Aurora maju, Dengan mendekati Ares. Tanpa di duga Aurora menginjak kaki Ares dengan kuat.
"Awwsshh" Ringis Ares.
"Itu untuk genggaman tadi" Ucap Aurora.
BUGH
Aurora memukul perut Ares dengan kuat, Sampai semua orang yang melihat mereka berdua pun ikut meringis.
"Dan itu untuk ciuman, Brengsek!, Bangsat!" Ucap Aurora dengan melangkah mundur lalu pergi.
Ares masih diam, Dengan melihat kepergian Aurora. Sekarang dia juga baru menyadari kesalahannya pada Aurora dan Ares juga baru tahu, Kalau Aurora juga sama memanfaatkannya.
__ADS_1
***
Aurora berjalan dengan tatapan lurus dan tajamnya, Sampai Aurora berpapasan dengan Livy.
Baru saja Livy membuka mulutnya untuk berbicara dengan Aurora. Tapi Aurora sudah pergi menghindar dari Livy.
Livy kembali menghadap ke depan, Dimana Ares yang masih memegang perutnya karena sakit dari pukulan Aurora.
Livy langsung berlari menghampiri Ares.
"Are you okey, Res?" Tanya Livy dengan begitu khawatir.
"Sakit" Ucap Ares dengan memegang perutnya.
"Ayok, Aku bantu kamu ke UKS. kamu istirahat dulu dan kita kompres muka kamu yang memerah" Ucap Livy dengan membantu memapah Ares.
Alkan yang berada tepat di lantai 2 pun, Langsung mengepalkan tangannya melihat Livy yang begitu khawatir dengan Ares.
"Ck, kalian pecundang. Dasar manusia egois" Ucap Alkan, Dengan berlalu pergi karena tidak ingin melihat kebersamaan Livy dan Ares.
***
Baru saja Aurora akan masuk ke dalam kelas, Tapi sudah ada yang memanggilnya.
"Aurora tunggu!" Ucap Pak Seno dengan setengah berlari.
Aurora langsung berbalik menghadap pak Seno.
"Kamu sehat kan?" Tanya Pak Seno yang berbasa-basi, Membuat Aurora malas.
"Ada apa?" Tanya Aurora yang langsung membuat Pak Seno canggung.
"Begini, Kamu kan masuk ke Gran Final lomba piano. Dan besok akan di selenggarakan lombanya" Jawab Pak Seno.
Aurora hanya diam dengan menatap datar pak Seno tanpa menjawab ataupun menganggukkan kepalanya.
"Jadi?" Tanya Aurora.
"Kamu bisa ikut kan?"
"Hm" Ucap Aurora yang langsung membuat senyuman pak Seno mengembang.
"Kita lihat besok saja" Lanjut Aurora yang langsung membuat senyuman Pak Seno luntur seketika.
Aurora langsung masuk ke dalam kelasnya dan meninggalkan pak Seno begitu saja.
__ADS_1
"Huh, Gini amat punya murid mirip putri salju" Gumam Pak Seno dengan langkah gontai nya pergi dari kelas Aurora.