Dear AURORA

Dear AURORA
6 : Makan Malam di Rumah Aurora


__ADS_3

Aurora tidak pernah menyangka jika bergabung dengan kepanitiaan persiapan HUT berarti berada satu grup dengan Reiga.  Dan harus ia akui jika ini memang salahnya karena tidak membaca lebih lanjut dokumen yang dikirim oleh Hajar setelah berdebat tentang siapa yang menjadi perwakilan.


Yang ia tahu, dokumen itu hanya berisi deret nama perwakilan setiap kelas yang tidak dipedulikannya. Namun, saat ia memeriksa dokumen itu setelah marah-marah tadi pagi, Aurora menyesal karena tidak membacanya lebih teliti. Nama Reiga memang ada di sana, berjarak sepuluh nama di bawahnya.


"Ara, turun sayang. Kita makan malam!"


Demi mendengar panggilan Bu Mirna—mamanya—Aurora segera bangkit dari posisi berbaringnya.


"Iya Ma, bentar!" Aurora balas berteriak. Lantas keluar dari kamar dan pergi menghampiri Bu Mirna di  dapur.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


"Mau Ara bantu?" Aurora menawarkan diri saat melihat Bu Mirna sedikit kesusahan menata makanan di meja.


"Gak usah, kamu duduk aja di sini." Bu Mirna menolak.


Aurora mengangguk.


Mamanya  memang tidak bisa dikalahkan dalam urusan dapur seperti ini. Tangan wanita paruh baya  itu cekatan mengambil sayur di dalam panci dan memindahkannya dalam mangkuk besar, menata piring, nasi dan lauk lainnya tanpa kesulitan berarti.


"Mama masak banyak banget," ucap Aurora saat melihat lebih dari lima macam lauk tersaji di meja makan. Padahal biasanya cukup sayur dan ayam atau tempe.


Bu Mirna berhenti sejenak, kemudian lanjut menata ayam goreng di piring saji. "Kamu belum tau ya, Ra? Temen SMA mama mau main ke sini, sekalian makan malem."


Aurora bergumam O tanpa suara dan mengangguk paham.


Tak lama setelah kalimat Bu Mirna selesai, suara pintu diketuk mengalihkan perhatian mereka. Membuat Bu Mirna segera melepas celemek dan menyerahkannya pada Aurora, bergegas menuju pintu.


"Kamu tata sendoknya ya, Ra. Mama mau buka pintu dulu."


Aurora mengangguk, melaksanakan perintah Bu Mirna, menata sendok dan garpu berdampingan dengan piring. Tapi, baru saja sampai pada baris kelima, suara Bu Mirna mengalihkan atensinya.


"Ara ini temen Mama, Tante Ira dan Om Budi." Mirna memperkenalkan.


Aurora balas tersenyum, menyalami mereka.


"Anak kamu cantik ya, Mir. Persis kamu waktu muda," puji Bu Ira sambil mengelus kepala Aurora saat gadis itu mencium tangannya.


Selang beberapa menit, seorang pemuda tinggi datang menyeruak di antara mereka. Menghentikan sejenak acara sapa-menyapa kedua keluarga itu.


"Ini kunci mobilnya, Pa," ujar pemuda itu sambil menyerahkan kunci mobil bergantungan kelinci merah muda lucu kepada Pak Budi.


"Oh ya, Ra. Ini anak temen Mama. Namanya Reiga." Bu Mirna menarik pelan lengan pemuda itu.


Aurora yang masih menunduk menyalami Bu Ira sedikit tersentak mendengar nama itu, namun segera  meyakinkan diri bahwa ada jutaan manusia yang bernama  Reiga. Jadi, Reiga yang dimaksud mamanya jelas bukan orang yang sedang ia bayangkan, bukan?


Aurora menegakkan badan, berniat menyapa pemuda bernama Reiga itu dengan senyum manisnya. Tapi saat perawakan tinggi dan wajah menyebalkan pemuda itu tertangkap netranya, Aurora justru menampakan ekspresi tak suka.


"LO!" teriak keduanya bersamaan, terkejut.


"NGAPAIN LO DI SINI?" Reiga menyela lebih dulu.


"INI RUMAH GUE, TERSERAH GUE MAU NGAPAIN AJA DI SINI!" Aurora membalas sengit. "SEHARUSNYA GUE YANG TANYA, LO NGAPAIN DI SINI?"


"GUE DIUNDANG, MAU APA LO?"

__ADS_1


"MA!" Aurora beralih pada sang mama yang menatap mereka bingung pun dengan kedua orang tua Reiga. Tidak mengerti masalah yang terjadi antara Aurora dan Reiga.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


"Jadi kalian udah kenal?" Herman—ayah Aurora—bertanya di tengah acara makan malam yang sempat diwarnai aksi pertengkaran antara Reiga dan Aurora.


"ENGGAK!" Mereka menjawab bersamaan.


Sementara di sisi lain meja, Bu Mirna dan Bu Ira menggigit jari gemas karena tingkah anak-anaknya.


"Aduh, gemes deh Jeng liat mereka kompakan gitu jawabnya." Bu Mirna menyenggol lengan Bu Ira.


"Iya, Jeng. Jadi pengen nikahin mereka. Pasti lucu banget," setujunya.


"MAMA!" Keduanya  memprotes rencana Bu Ira dan Bu Mirna  bersamaan. Membuat dua pasang orang tua di sana tergelak.


"Kan, udah cocok mereka itu. Telepatinya  kuat." Bu Ira berujar lagi.


"Ara gak akan mau Ma. Cowok modelan Reiga gini bukan tipe Ara." Aurora menolak cepat. Melirik ke arah Reiga yang juga meliriknya  sinis. Siap melempar sumpah serapah jika saja kedua orang tuanya  tidak  di sini.


"Siapa juga yang mau sama cewek bar-bar kayak lo!"


"Apa lo bilang!"


"Cewek bar-bar." Reiga mengulang. Lebih tegas dan penuh penekanan di setiap katanya.


"Kalian ini ada masalah apa sih sebenarnya?" Pak Herman bertanya penasaran.


"GAK ADA." Lagi-lagi keduanya  menjawab kompak. Lantas saling pandang.


Aurora mendelik ke arah Reiga. "Lo tuh,  gak usah ngikutin gak bisa?!"


"Enak aja!" Aurora berseru tidak terima.


Melihat perdebatan Reiga dan Aurora yang tak kunjung berhenti, Bu Ira berinisiatif menegahi dengan pertanyaan. "Aurora udah kenal sama Reiga?"


"Udah Tan." Aurora berat mengakui setelah tadi sempat menolak fakta jika dirinya memang mengenal Reiga. "Satu sekolah juga tahu Reiga Si playboy  kelas  kakap yang suka gonta-ganti cewek kayak ganti baju."


"Kamu masih suka mainin cewek, Ga?" Pak Budi bertanya dengan tatapan menyelidik.


Reiga menggeleng cepat. "Enggak Pa. Papa kan tau sendiri aku masih single. Mereka aja  yang suka deketin aku dan aku cuma berlaku sebagai temen yang baik. Hitung-hitung nambah temen Pa, apalagi temen cewek."


Aurora mendecih mendengar penjelasan Reiga. Apa yang baru saja pemuda itu bilang? Berlaku sebagai teman yang baik? Memperbanyak teman perempuan? Omong kosong.


"Jangan percaya Om, mana ada temen sampai pegangan tangan, kecup sana kecup sini, pelukan lagi."


"Ngadu terus! Heran gue, mereka biasa aja, kenapa lo yang repot? Atau jangan-jangan lo suka sama gue?"


Aurora menunjuk dirinya sendiri. "Gue?" Lalu  menunujuk Reiga. "Suka sama lo? Idih, najis  mughaladzah."


"Oh, lo punya kenangan buruk sama playboy?" tebak Reiga lagi.


Aurora mendesah pelan. "Kalau iya, emang kenapa?" katanya dingin lalu pergi. Berjalan ke arah taman samping rumah, berniat menenangkan diri.


"Aahh, Reiga ... pakai diungkit lagi. Anak tante  jadi sedih, kan." Bu Mirna menatap sendu kepergian Aurora.

__ADS_1


Di tempatnya, Reiga merasa bingung dan ... bersalah? Tapi, memang ada yang salah dengan ucapannya?


"Kamu susul gih, minta  maaf," perintah Pak Budi tak enak.


Reiga melotot dan menggeleng. Menolak. "Gak mau, Pa. Lagian—"


"Susul Aurora, Reiga Putra Abimayu!" Kali ini Bu Ira  berujar tegas, membuat Reiga kembali menelan bulat-bulat kalimat penolakan yang akan ia layangkan. Sungguh menakutkan melihat sang mama dengan tatapan tajam, apalagi sampai memanggil nama lengkapnya. Bisa terbunuh di tempat jika ia memprotes lagi.


"Hn, aku susul." Reiga bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Aurora pergi tadi.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Reiga sedikit kesulitan mencari Aurora di taman samping. Bukan karena  ukuran taman yang luas, justru karena memang pemuda  itu tidak menemukan Aurora di manapun. Gadis itu  seolah hilang ditelan bumi setelah sampai tempat ini. Reiga jadi berpikir, apakah di sekitar sini ada semacam pintu rahasia yang terhubung dengan suatu tempat? Tapi setelah memeriksa, mengetuknya  berharap mendapat suara berbeda, menginjaknya bahkan sampai berteriak 'ada orang di sana?'. Reiga tak kunjung menemukan sisik Aurora.


Secara keseluruhan taman ini berisi empat pohon mangga, satu pohon sawo besar yang sempat dikiranya berhantu dan penghuninya menculik Aurora, bak pasir ukuran empat kali tiga meter di bawah pohon sawo, satu bangku taman, satu rumah pohon yang berada di pohon sawo, dan satu papan tulis besar yang tertempel di dinding. Tapi bahkan di tempat selenggang ini Reiga tetap tak kunjung menemukan Aurora.


Sesaat sebelum berbalik, Reiga memeperhatikan rumah pohon lebih dekat. Tempat pohon itu berada di luar jangkauan lampu taman yang membuatnya  mejadi sedikit ... menyeramkan. Gelap dan samar terlihat.


"Apaan tuh yang gantung-gantung, kayak kaki." Reiga memincingkan mata, melihat lebih teliti. "Eh, beneran kaki. Kaki siapa tapi? Penghuni pohon? Mbak kunti?! Astagfirullah, Mama!" Reiga berteriak, berniat pergi tapi tubuhnya membeku saat mendengar suara cekikikan berasal dari rumah pohon.


Reiga  panik di tempat, keringat mengucur deras di pelipis dan punggung. Jantungnya berdebar kencang dan kakinya gemetaran.  Apalagi saat melilhat siluet seseorang terjun dari rumah pohon. Ia semakin gemetaran.


"Ya Allah! Ampuni hambamu yang tampan ini, Ya Allah! Salallahu 'ala Syaidinna Muhammad! Allahu Akbar! Astagfirullah kok tambah kenceng suaranya!"


Semakin Reiga berteriak panik, sosok itu justru semakin dekat. Membuat pemuda itu kalang kabut dalam kediamannya. Membaca ayat kursi pun dirasa tak berguna, setan yang berhadapan dengannya ini mungkin sangat kuat.


"Astagfirullah, Mama! Tolong Reiga, Ma!" Reiga memejamkan mata, tak berani melihat sosok yang jalan terseok ke arahnya dengan ramhut tergerai di depan wajah. "Aduh! Pergi! Gue takut nih, kaki gue lemes banget! Pergi! Jangan ganggu gue! Gue anak baik-baik!  Rajin menabung dan ibadah! Sumpah napa makin deket!"


"HAHAHAH! SUMPAH MUKA LO KOMUK ABIS! HAHAHA!"


Aurora,gadis itu terpingkal melihat wajah Reiga yang  sudah tidak  beraruran. Wajahnya  pias, takut  dan bulir  peluh sebesar jagung menambah kemelasannya. Padahal ia hanya berniat menjahili Reiga, tidak  menyangka jika  reaksi  pemuda itu sampai seperti ini.


"Sebarin ke penggemar lo bagus nih! Gak sabar liat reaksi mereka ... hahaha!"


Reiga menggeram. Hampir  berseru marah tapi kakinya terburu luruh ke tanah. Pemuda  itu kehilangan seluruh  tenanga hanya dalam waktu beberapa menit saja.


"Siniin HP lo! Reiga berteriak, suara bergetar menahan sisa ketakutan.


"Idih, lo siapa?" Aurora balas tak peduli. Meninggalkan Reiga yang masih terduduk lemas.


"Dasar cewek—"


"Gue belum ngefoto apa-apa," sergahnya. "HP-nya gue matiin." Aurora menunjukkan ponselnya  yang tetap mati meski tombol dayanya ditekan. Lantas mengulurkan tangan. "Bangun gih, kayak gembel aja lesehan di tanah."


Reiga sempat tertegun melihat sisi baik yang Aurora  tunjukkan padanya. Meraih uluran tangan gadis itu lalu menepuk-nepuk celananya  yang sedikit kotor.


"Thanks," ucap Reiga kaku.


Aurora melambaikan tangan kananya. Lantas berjalan lebih dulu.


Sejenak terus  menatap  punggung Aurora yang berjalan menjauh darinya. Tersenyum simpul mengingat kejadian beberapa menit lalu. Entah kenapa, Aurora tampak  cantik saat menunjukkan sisi  kepeduliannya.


"Lah, gue mikir apa sih? Baru juga sekali ditolong." Reiga  bergumam  tak mengerti.


"Cepet masuk! Jadi cowok jalannya jangan letoy."  Aurora berteriak sebelum masuk ke rumah.

__ADS_1


Reiga mengembuskan napas penuh penyesalan karena memuji Aurora. "Sekali singa ya tetep singa. Mau jadi kucingsemanis apapun bakal tetep galak," gerutu Reiga. Berjalan cepat menyusul Aurora dan melanjutkan acara makan malam yang sempat tertunda.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


__ADS_2