
Pukul setengah empat.
Setengah jam sebelum bel pulang dan Bintang memutuskan untuk menghentikan kegiatan. Teman-temannya di ujung sana sudah kelelahan. Peluh mengalir deras di pelipis hingga turun ke leher, anak rambut di pinggiran dan dahi juga basah oleh keringat. Maklum, mereka bekerja selama delapan jam dipotong waktu makan siang dan istirahat sholat sukses membuat Agam, Diego, Angga dan Surya terkapar dengan napas satu dua di atas rumput. Sementara yang lain lebih memilih duduk selonjor di bawah pohon dan menggunakan daun jati kering sebagai kipas dadakan.
Bintang dari jarak delapan puluh meter bertepuk tangan keras. Lantas meletakan kedua telak tangan secara terbuka di pipi kanan dan kiri. "Pulang yuk, udah sore!"
Bak anak kecil mendapat maianan baru, mereka semua segera bangkit dan berlari ke arah pick up. Naik dengan teratur—sesuai tempat duduk saat berangkat.
Persiapan hari itu, berjalan lancar tanpa kendala berarti. Lima rintangan telah selesai dibuat. Artinya, hanya harus menyelesaikan rintangan kolam lumpur, flying fox dan jembatan kecil menuju garis finish. Setelah itu, maka cara pembukaan siap dimulai.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
"Pengumuman bagi seluruh siswa kelas sepuluh, sebelas, duabelas diharap segera menuju ruang serbaguna karena akan ada arahan mengenai acara HUT yang akan dimulai lusa. Barang pribadi yang dianggap berharga harap dibawa atau diamankan mengingat kejadian akhir-akhir ini yang membhat was-was. Sekali lagi ..."
Sellena memberengut kesal saat suara Mbak Novi—petugas resepsionis—terdengar di seluruh penjuru sekolah.
"Kebiasaan, kalau ngasih pengumuan gak tepat waktunya." Sellena menggerutu sepanjang jalan, kakinya menghentak dengan wajah tertekuk. "Padahal udah berharap arahannya waktu UH kimia."
Aurora merangkul bahu Sellena sambil tertawa. "Ya udah lah, Sel, yang penting gak ada pelajarannya pak Nirsun."
Sellena menoleh, kepalanya menggeleng tegas. "No, no, mending pelajaran pak Nirsun lah, Ra. Gue bisa bocan sepuasnya tanpa takut ketahuan."
Aurora memukul bahu Sellena hingga sang empunya mendecak sebal. "Tidur terus pikiran lo."
Sellena menjulurkan lidah tidak peduli.
Sampai di gedung serba guna, mereka dikagetkan dengan ruangan yang hanya terisi separuhnya. Berpikir apakah mereka yang terlalu rajin atau murid sekolah sedang malas-malasnya? Maka dengan senang hati mereka memikih opsi pertama, terdengar jauh lebih baik.
"Cek... maaf sekali lagi, arahan yang akan kami berikan ditunda selama duapuluh menit ke depan karena hampir setengah siswa sekolah sedang dalam masa ulangan. Mohon tetap kondusif."
Di ujung ruangan, Fajar memberitahu alasan sepinya ruangan. Membuat Sellena kembali mendesah dan Aurora mendudukan diri di lantai ruangan.
"Tau gini melipir dulu ke kantin gue, haus banget." Sellena memulai gerutuannya, mengibaskan tangan pada leher dan wajah yang berkeringat.
"Tadi gue tawarin gak mau." Aurora membalas tanpa mengalihkan fokus.
"Ya kan gue kira kalau bakal cepet selesai."
"Ra!"
Aurora menoleh saat namanya dipanggil—Sellena reflek ikut menoleh. Dari belakang, Bintang sedang berlari kecil ke arahnya membawa dua kotak susu. Senyum Aurora spontan terlukis dengan tingkah malu-malu. Perkataan Alya tempo hari masih terngiang jelas di telinganya.
"Iya, Kak? Kenapa?" Aurora bertanya sopan, berdiri menghampiri Bintang yang berdiri menjulang dua meter darinya.
"Strawberry milk as always. Biar lo gak haus sama bosen." Bintang menyerahkan satu kotak susu stroberi untuk Aurora dan satu kotak susu coklat pada Sellena. "And for Aurora's bestfriend, chocolate milk is the best for you," lanjutnya sambil tersenyum.
Aurora menerimanya dengan senang hati, ikut tersenyum membalas. Sellena sudah beda lagi, wajahnya merah, matanya melotot tak percaya dan mulut setengah terbuka. Setengah dunia Sellena serasa runtuh hanya karena senyum seorang Bintang. Benar-benar menakjubkan.
"Ra, diabetes gue liat senyumnya kak Bintang!" Sellena memekik heboh setelah Bintang pergi, meremat lengan bawah Aurora gemas dengan gigi bergemeletuk menahan teriakan lain."Lo kok masih sehat sih tiap hari disenyumin gitu? Ambayar hati gue."
__ADS_1
Aurora menaik sudut bibirnya lalu menggeleng. "Jangan lebay ah."
"Fakta, Ra, fakta!"
"Terserah Sel."
"Susu coklatnya jadi lebih manis gara-gara yang ngasih manis banget orangnya." Senyum Selllena masih enggan luntur dari bibir.
Aurora melengos saat mendengar ucapan Sellena. Ia tak mau menjadi munafik. Meski yang mengucapkan hal itu sahabatanya sekalipun, ia cemburu. "Udah dibilang jangan alay."
"Kenapa? Cemburu lo?" Sellena bertanya penuh selidik.
Aurora tertawa hambar, kaget dengan pertanyaan tliba-tiba Sellena. "Ya enggaklah," elaknya.
"Beneran?" Sellena menggoda. "Kalau gue pacaran sama kak Bintang lo jangan marah."
Aurora tersentak. Pacaran? Sellena berpikir jauh sekali. "Ngapain marah?" Lantas Aurora kembali asyik dengan ponselnya. "Itupun kalau kak Bintang-nya mau."
Sellena mendecak. "Gue secantik ini siapa juga yang gak mau."
"Halu terus!"
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Sebagai salah satu panitia kemah, sudah menjadi peraturan jika ia diharuskan berangkat sehari lebih awal untuk memastikan bahwa acara akan berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, saat jarum jam menyentuh angka tiga, Aurora sudah siap dengan perlengkapan, kecuali penampilannya saat ini.
Gadis itu masih setengah berbaring di ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah, sedangkan setengah badannya berada di ranjang. Tangannya terjulur ke atas dengan ponsel dalam genggaman. Sesekali terkikik geli atau malah tawa membahana yang ia keluarkan. Unggahan para idol Korea kadang memang sangat mengocok perut, mengundang tawa bahagia yang beberapa orang justru tidak tahu. Halu dan idol, satu kesatuan yang menyenangkan.
"Ampun ini anak! Udah jam berapa sekarang?! Kok masih pakai baju baby doll pink sama celana training gitu." Bu Mirna menatap tak percaya putri semata wayangnya itu. "Ini juga sandal kelinci udah buluk gitu, masih diapakai."
Aurora mencebik sambil memutar bola matanya malas. "Mama, ini masih jam tiga lebih. Jangan kayak orang kebakaran jengot deh. Sepuluh menit juga udah cukup buat siap-siap."
"Kamu ini dibilangin ngeyel!" Bu Mirna kembali berkutat dengan wadah Tupperware. Memasukkan kue nastar isi selai mangga ke dalam dan menyerahkannya pada Aurora. "Kamu kasihin temen kamu nanti. Kalau suka, suruh beli ke mama."
Aurora mencibir pelan. "Strategi marketting."
Bu Mirna terkekeh pelan.
"Eh, itu dua wadah bekal buat apa, Ma? Ara makan gak sebanyak itu."
"Kamu mau makan banyak atau dikit juga gak bakal ngaruh. Tetep kurus, ceking kayak tiang."
"Timbangan Ara naik satu kilo, Ma. Udah lebih gendut sekilo."
"Sama aja, gak ngaruh. Lag—"
Suara bel dan ketukan pintu menghentikan Bu Mirna menyelesaikan kalimatnya. Segera melepas celemek warna biru muda dengan motif bunga dan meletakannya di pinggiran meja. Lantas berjalan cepat membuka pintu.
"Kamu lanjutin nata bekalnya, mama mau bukain pintu dulu."
__ADS_1
Aurora mengangguk. Tidak bertanya lebih banyak karena segera sibuk memasukan nasi dan beberapa lauk ke dalam tupperware lalu menutupnya.
Sepuluh menit, Bu Mirna kembali dengan wajah berseri. Mengeluarkan piring saji dan menata kue nastar ukuran besar di atasnya kemudian berjalan menuju kulkas, mengeluarkan jus jambu buatan Aurora tadi malam. Menuangkan ke gelas ukuran sedang dan meletakannya di nampan.
Aurora yang terdiam sejenak, bertanya dalam diam pada dirinya sendiri. Belum pernah mamanya menjadi seantusias ini karena seorang tamu. Bahkan saat keluarga Reiga datang pun tidak sampai mengeluarkan senyum lebar hingga Aurora ngilu merasakan rahangnya yang ikut tertarik.
"Siapa yang dateng, Ma?" Akhirnya Aurora bersuara saat Bu Mirna sudah sampai di ambang pintu dapur, penghubung ke ruang tamu.
Seketika Bu Mirna berbalik arah, berjalan ke arah Aurora, menyerahkan nampan di tangan pada putrinya yang diam mematung. "Temen kamu. Ini suguhin sana, ajak ngobrol juga."
Aurora memasang wajah bertanya. "Siapa, Ma?" ulangnya.
"Banyak tanya kamu ini. Udah sana!" Bu Mirna mendorong punggung Aurora dan kembali sibuk di dapur.
Langkah Aurora sedikit menghentak saat tak mendapat jawaban yang sesuai dari Bu Mirna. "Tinggal bilang nama aja su—LO NGAPAIN DI SINI?!"
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Kini Aurora dan Bu Mirna duduk bersebelahan di sofa ruang tamu, sementara Reiga duduk di hadapan mereka. Suasana canggung meliputi ruangan itu. Tak ada yang beniat membuka suara bahkan jikal itu hanya deheman ringan.
"Mama bisa jelalsin kenapa dia di sini?" Aurora membuka suara dengan tatapan tajam terus dilayangkan pada Reiga yang terlihat santai memakan nastar.
Bu Mirna memukul punggung Aurora. "Yang sopan sama tamu. Mama minta Reiga buat jemput kamu, berangkat bareng ke perkemahan."
"Ma! Gak bisa gitu dong," protes Aurora.
"Mama gak berima penolakan, siap-siap sana. Mama mau masak kue lagi," ucap Bu Mirna sebelum akhirnya kembali ke dapur.
Aurora tetap diam di tempatnya. Bersedekap sambil menatap remeh Reiga. "Lo bisa pergi sekarang."
Reiga tak peduli, terus memakan nastar di meja dan sesekali meminum jus jambunya.
"Gue bilang pergi!" Aurora setengah berteriak memerintah Reiga.
"Ra! Jangan kasar!" Bu Mirna berseru di sela suara mixer.
"See, tante Mirna aja gak keberatan. Kenapa lo yang repot?"
"Ara! Cepet siap-siap! Kasian Reiga nungguin lama." Lagi, Bu Mirna berseru memerintah anak gadisnya.
"Arghh ... ini yang anaknya mama itu gue apa lo sih?" Aurora mengacak rambutnya frustasi.
"Mungkin tante Mirna mau gue jadi menantunya."
"Gak sudi gue nikah sama playboy cap gajah berdiri macam lo."
"Siapa juga yang mau sama cewek bar-bar modelan singa lepas kayak lo. Orang gila juga bakal mikir beribu kali buat ngelakuin hal itu."
"Lo!" geram Aurora. "Tau ah, naik darah mullu gue ngomong sama lo."
__ADS_1
Reiga bersandar di kursi tak peduli, mengambil satu kue lagi dan melahapnya tanpa memedulikan gerutuan serta kaki Aurora yang menghentak kesal. Padahal dalam hati Reiga mati-matian menahan tawa agar tidak ditendang Aurora. Gadis itu sungguh terlihat menggemaskan saat marah, memancing Reiga untuk melakukannya lagi, lagi dan lagi.