Dear AURORA

Dear AURORA
2 : Gulat di Lapangan Indoor


__ADS_3

"Gandeng baru lagi. Emang gak sungkan ke kak Lail? Kemarin gue  liat dia nangis-nangis di gazebo bareng kak Mita." Saga—sahabat Reiga—memainkan bola basket di jari telunjuk. Memutarnya dengan  beberapa trik.


Mereka sedang pelajaran olahraga dengan materi basket. Sebenarnya bukan hanya kelas XI-7—kelas Saga dan Reiga—tapi juga ada kelas XI-5 yang menempati lapangan  indoor itu. Materinya sama,  basket. Hanya saja guru pengajarnya yang berbeda.


"Gue udah bosen sama kak Lail. Pengen coba pacaran sama adek kelas." Reiga menjawab santai. Lantas segera bangkit saat melihat Pak Mad—guru olahraga kelas XI-7—memasuki lapangan sambil membawa kertas absensi.


"Cih, najis, sok kegantengan," cibir Saga.


"Kan emang gue ganteng. Gak kayak lo, buluk."


Saga mendengus kesal karena jawaban Reiga yang kelewat pedas itu. Hampir melempar bola basket di tangan kalau tidak ingat nilai rapornya tergantung pada otak jenius Reiga. Dunia kejam sekali padanya.


Seluruh murid XI-7 segera berbaris rapi menghadap Pak Mad. Bukan tanpa alasan, wajah garang guru itu dan peluit maut yang menggantung di leher membuat siswa yang diajarnya tidak berani melawan. Sekali melihat Pak Mad dari Kejauhan, maka mereka akan seperti koloni semut pada gulanya. Tunduk, patuh dan berkumpul di satu tempat.


"Itu kelas XI-5 kenapa tidak ikut kumpul?! Pak Mad bertanya sambil berteriak saat melihat kelas XI-5 masih asyik merebahkan tubuh dan berkejaran.


Serempak, siswa kelas XI-5 menoleh ke arah Pak Mad, namun ada juga yang tak menghiraukan dan tetap bermain ponsel.


"Eh, kita  kan diajar pak Charles, Pak." Udin menjawab cepat. Menghasilkan anggukan dari seluruh siswa  kelas XI-5.


"Cepat sini kumpul, pak Charles gak masuk. Saya yang ngajar," terang pak Mad.


"Yah ...." Keluhan tak terima keluar dari kelas XI-5  yang berjarak lima puluh meter dari kelas XI-7.


Mau bagaimanapun, Pak Charles jelas guru pengajar olahraga terbaik. Selera humor guru berumur dua puluh enam tahun itu bagus dan cara mengajar yang mengasyikan membuat siswa yang diajarnya bersemangat. Tambahkan juga, Pak Charles sangat pengertian pada muridnya.


Akan beda cerita jika pak Mad yang mengajar. Bisa pecah gendang telinga mereka mendengar suara melengking peluit keramat yang tergantung di leher pria paruh baya itu.


"Cepat kemari atau saya bertindak!"


PRITT


Baru saja dibahas, peluit itu sudah menunujukan kekuasaannya pada siswa kelas XI-5. Secepat kilat, siswa kelas XI-5 berbaris rapi di samping siswa kelas XI-7. Mendengarkan dengan seksama. Takut peluit itu mengeluarkan suara melengking yang mengerikan.


"Saya akan menjelaskan peraturannya. Hari ini adalah penilaian untuk materi basket. Poin-poin penilaiannya adalah dribbel dan passing berpasangan, lay up dan under ring. Untuk dribble dan passing dilakukan bersama pasangan yang nomor absennya sama. Contohnya, Sellena Azel Kinanthi dengan absen dua puluh delapan berpasangan dengan Saga Putraku Lanang. Sedangkan lay up dan under ring di pisahkan. Ring sebelah kiri dipakai oleh kelas XI-7 sedangkan ring sebelah kana dipakai XI-5. Dan saya minta tolong pada Reiga dan Saga yang merupakan senior di ekskul basket untuk membantu menilai. Hasilnya akan saya evaluasi bersama tugas. Mengerti?!" tanya  Pak Mad memastikan.


"Mengerti, Pak!"


"Bapak mau ada urusan dulu, kalau sempat akan kembali ke sini. Kalau enggak kalian olahraga sendiri. Pokoknya jangan masuk kelas sebelum bel bunyi."


Seluruh siswa mengangguk menanggapi perintah Pak Mad.


"Padahal gak balik juga gak apa-apa, enak malahan," ujar Udin setelah Pak Mad berjalan menjauh.


Siapa yang menyangka bahwa telinga pria berusia empat puluh delapan tahun itu begitu peka. Pria itu menoleh dengan wajah kaku dan alis bertaut. "Siapa itu yang bicara?"


Udin meneguk ludah kasar. Menyumpahi pendengaran Pak Mad yang terlalu bagus. Ragu-ragu ia menoleh ke arah teman sekelasnya. Menggeleng penuh harap saat seringaian muncul di bibir tiga puluh lima sisawa kelas XI-5.


"Muhammadin Yusuf Zakaria absen dua puluh satu kelas XI-5."


Siswa kelas XI-5 kompak menjawab pertanyaan Pak Mad, sementara siswa kelas XI-7 sudah terbahak karenanya. Apalagi Saga dan Reiga, dua pemuda itu bahkan sampai memukul satu sama saking lucunya.


Nah, Udin memang tak berharap banyak. Teman-temannya senang sekali melihat dirinya tertindas, seperti kejadian saat Aurora mengejarnya habis-habisan tempo hari karena menyela pembicaraan gadis itu bersama Bintang.


"Mana yang namanya  Muhammdin?" tanya Pak Mad.


"Awas lo semua!" Udin mengancam dengan suara rendah sebelum akhirnya berdiri. "Saya Pak."


"Habis penilaian langsung ke area masjid. Bantuin tukang bangunan di sana!" perintah Pak Mad.


Udin mengangguk patah-patah. Menoleh ke arah teman-temannya yang masih tertawa dengan tatapan tajam. "Padahal emak gue bayar uang sekolah bukan buat gue jadi tukang," keluhnya.

__ADS_1


---🌟🌟🌟🌟🌟---


"Sag, gantiin. Bentar lagi giliran gue." Reiga menyerahkan kertas berisi nilai dari siswa kedua kelas itu pada  Saga.


"Oke." Saga menyetujui, duduk di kursi yang berada di luar lapangan, segaris dengan garis tengah lapangan. Sementara Reiga sudah pergi ke sisi lain lapangan sambil men-dribble bola.


"Selanjutnya, Rivana Anggareni dan Resty Elma!" Saga memanggil agar segera melakukan penilaian.


Butuh waktu sedikit lama bagi Rivana dan Resty di tengah lapangan sana untuk melakukan dribble dan passing. Mereka bermain dengan sangat buruk, saling melempar tanpa menentukan arah atau mengatur kekuatan. Terkadang bola menggelinding jauh, membuat keduanya harus berlari mengambil lalu melanjutkan penilaian. Kadang saling  mengolok karena  bola tak sampai pasa tujuan. Mengejek lemah satu sama lain padahal Saga hampir berteriak kalap. Karena sesunghuhnya, dua perempuan itu sama-sama lemah!


"Selanjutnya, Rona Aurora  dan Reiga Putra!" panggil Saga. "Main yang bener Ga!" tambahnya.


Reiga memberi senyum singkat dan angkuh. Apa susahnya melakukan dribble dan passing bagi Reiga. Dia adalah kapten basket dan senior yang patut diperhitungkan.


"Ra, semangat ya!" Sellena meneriaki dari pinggir lapangan.


Aurora mengangguk dan memberi tanda 'oke' menggunakan tangan kananya.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Reiga tersenyum saat mendapati Aurora berdiri di hadapannya. Gadis yang terkenal galak dan tempramental, tapi bisa menjadi begitu perhatian di waktu yang sama.


"Halo, cantik," rayu Reiga. Mencoba peruntungan, mungkin saja Aurora luluh dan bisa menjadi persediaan pacar jika ia bosan dengan Wulan.


Aurora balas melotot. Ia benci laki-laki yang suka mempermainakan hati perempuan seperti Reiga. "Apa lo?!" sahutnya galak.


"Ya ampun, Ra, galak amat jadi cewek. Anggun dikit kenapa, siapa tahu gue tertarik jadiin lo pacar." Reiga mengedipkan sebelah matanya.


"Gak sudi gue jadi pacar lo!"  Aurora membalas ketus.


"Woi! Buruan main, yang lain ngantri nih! Jangan malah pacaran di sana!" Saga berseru menginterupsi. Karena sejak dipanggil hingga tiga menit berikutnya Aurora maupun Reiga tidak segera memulai penilaian.


"Lo mau gue gampar, hah!" Aurora balas berteriak. Tak suka dengan Saga yang menyebutnya sebagai pacar reiga.


Permainan dimulai dengan dribble berpasangan. Aurora maupun Reiga melakukannya  dengan bagus, tak terlalu lama seperti Rivana dan Resty.


Kemudian dilanjutkan dengan passing berpasangan. Reiga yang pertama kali melempar bola. Iseng saja, pemuda itu melempar sepenuh tenaga hingga bola meluncur jauh hingga ke lapangan voli.


Aurora mendengus jengkel. "Masalah lo sama gue apa sih?" cecarnya.


Reiga mebalas santai, mengangkat bahu tak acuh. "Gak ada. Cuma pengen ganggu lo aja."


Aurora bersungut marah. "Sialan!" Lantas membalik badan dan cepat berlari sebelum bolanya menggelinding lebih jauh.


Lemparan kedua, saat Aurora membalas dendam. Gadis itu mengambil ancang-acang saat melempar bola dengan teknik bounce pass. Melempar sepenuh tenanga seperti yang dilakukan Reiga sebelumnya, membuat bola itu memantul keras di jarak setengah meter dari Reiga.


Reiga tak begitu awas menerima serangan dari Aurora. Tangannya tak sempat mengendalikan laju bola, sibuk melindungi wajah tampannya yang menjadi sasaran empuk. Niat sekali gadis itu membalasnya.


Aurora tersenyum puas. Semenetara Reiga menekuk wajah tak senang.


"Jangan di muka gue juga! Ini buat cari cewek! Gue jadi jelek lo mau tanggung jawab?" sinis Reiga saat bersiap mengambil bola yang melenceng ke arah Saga.


"Ya lo-nya ngegas kalau ngelempar!" jawab Aurora tak mau kaklah.


"Cih, gitu aja marah, kayak bocah," ejek Reiga sebelum akhirnya balik kanan guna mengambil bola yang tepat berada di samping Saga. Sedikit mengumpati pemuda yang berstatus sebagai sahabatnya itu karena tak mau melempar bola yang jelas dalam jangkauannya.


Di belakang Reiga, Aurora tidak  terima dengan ucapan Reiga. Berlari ke arah pemuda itu seperti banteng marah, lalu membanting tubuh Reiga ke lantai lapangan.  Tangan Aurora bergerak cepat, sebelum Reiga sempat mencerna apa yang terjadi, Aurora telah menguncinya seperti dalam pertarungan. Membuat Reiga tidak bisa bergerak sama sekali.


"Reiga!" Saga berlari demi melihat sahabatnya dalam kesusahan. Persetan dengan kertas nilai yang berhamburan, itu bisa disusun lagi nanti. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan Reiga. Jangan sampai Aurora berbuat macam-macam pada ensiklopedia berjalannya itu.


Yang lain ikut berlari ke tengah. Panik dan ada yang malah berseru mendukung Aurora. Intinya,  bagi sebagain siswa, ini adalah hiburan gratis yang menyenangkan.

__ADS_1


"Ulangi lagi ucapan lo tadi! ULANGI REIGA! BIAR GUE PUNYA ALASAN BUAT MATAHIN TANGAN LO!" Aurora berseru marah.


Reiga  terdiam, pemuda itu tidak bisa berbicara. Wajahnya terbenam di lantai lapangan.


"ULANGI SEKALI LAGI!"


Reiga tersengal. Susah payah mengambil udara.


"Lepasin Reiga, Ra!" Saga berseru panik melihat sahabatnya kesusahan mengambil napas.


"Dia ngatain gue anak-anak!" Aurora semakin gencar mengunci tubuh Reiga. Gadis itu tidak mungkin mau mendengarkan.


"Sel, bantu gue bujuk Aurora." Saga menyikut lengan Sellena.


"Ngapain? playboy cap satu kelinci gitu pantes diginiin." Sellena berucap tak acuh.


Beberapa siswa di sana mencoba melerai, mendekati Aurora dan Reiga. Percuma, baru beberapa langkah saja Aurora mendelik tajam. Memberi peringatan.


"Lepasin Reiga, Ra!" Sekali lagi Saga berseru, lebih serius. Wajah pemuda  itu cemas melihat punggung Reiga yang naik turun dengan cepat, sulit bernapas.


"Gak bakal sampai dia kau minta maaf," kukuh Aurora.


"Petarung taekwondo harus berikap ksatria, Ra. Dan nyerang dari belakang bukan sikap ksatria."


Itu Udin yang bicara, mencoba trik dari salah satu film yang ia lihat. Meski tidak tahu-menahu tentang olahraga bela diri itu, tapi jelas menyerang dari belakang adalah tindakan tidak terhormat. Dan pemuda itu juga cukup prihatin dengan wajah Reiga yang hampir memerah  karena  kehabisan napas."


Aurora tidak peduli. Dia masih marah.


Sellena maju perlahan, memegang pundah Aurora, ikut membujuk. "Lepasin Reiga, Ra, kasihan liat dia kayak mau bertamu ke rahmatullah."


Reiga menepuk lantai dengan tangan kiri yang bebas.


"Mau bicara?!" Aurora tidak menurunkan intonasi suaranya.


Reiga kembali menepuk lantai. Seolah mengatakan agara Aurora melonggarkan kuncian, pemuda itu tidak bisa bicara dalam posisi seperti ini.


"Gue minta maaf, Ra. Beneran, minta maaf." Reiga menolehkan kepala ke samping.


Aurora mendengus.


"Reiga udah minta maaf, lepasin, Ra," ucap Saga. Menagih janji tak langsung yang di ucapkan Aurora tadi.


Akhirnya Aurora melepas kuncian, berdiri. Lantas melangkah pergi begitu saja.


Sellena mengikuti.


Sementara Reiga membalikan tubuhnya, menarik napas dalam lantas duduk bertopang tangan di belakang tubuhnya.


"Gila, pegulat sumo juga kalah kalau sama dia," cibir Reiga.


"Diem! Lo mau hampir mati lagi?" Saga memperingatkan. Melihat punggung Aurora yang perlahan menjauh diikuti Sellena.


"Tapi dia menarik." Senyum simpul muncul di bibir Reiga.


Saga menatap was-was pada Reiga. Perasannya tiba-tiba tidak enak, apalagi otaknya yang sudah berasumsi buruk. Jangan bilang Reiga ingin menjadikan Aurora sebagai target berikutnya.


"Perlu gue siapin kain kafan sama patokan?" Saga bertanya sarkas.


"Kampret! Lo nyumpahin gue mati?!"


Saga tak peduli, menjauhi Reiga yang mencak-mencak tak terima dengan ucapannya. Biarkan saja, toh Reiga itu playboy kelas kakap yang akan melupakan target awal jika ada yang lebih bening, bohai dan mempesona.

__ADS_1


---🌟🌟🌟🌟🌟---


__ADS_2