Dear AURORA

Dear AURORA
12 : Taruhan Bayu dan Reiga


__ADS_3

Malam harinya, setelah selesai dengan acara kupas-mengupas mangga dan makan malam sederhana  di rumah Aurora. Reiga pulang dengan badan lesu dan lelah. Apalagi tidak ada sambutan dari sang mama saat kakinya memasuki rumah. Yang pemuda itu lihat, Bu Ira sedang asyik dengan drama Korea-nya di televisi.


"Aduh! Mas Eunwoo gantengnya gak bisa mundur dikit apa? Kelewatan banget!"


Seruan senang Bu Ira  membuat Reiga yang sudah setengah jalan menaiki tangga kembali turun dan duduk di sebelah mamanya dengan tatapan malas.


"Ma, anakmu ini jauh lebih ganteng!" protes Reiga.


Bu Ira hanya melirik sekilas. "Dari mananya lebih ganteng?" tanyanya menggoda. "Mama tau kalau kamu gantengnya gak manusiawi."


Senyum Reiga terbit mendengar pujian Bu Ira.


"Tapi kalau gantengnya blasteran surga malaikat kayak mas Eunwoo, kamu mending mundur alon-alon. Kalah jauh," lanjut Bu Ira sambil terkikik geli saat melihat perubahan ekspresi pada wajah putranya.


Senyum Reiga berganti dengan dengusan sebal karena kalimat sarkastik sang mama.


"Mama gitu ya, anak sendiri dijelekin."


"Kenyataan."


"Mama!"


"Apa?"


"Mama gak mau nyambut gitu? Aku udah pulang, Ma. Gak mau nawarin makan malam? Cium pipi gitu?"


Bu Ira menggeleng. "Kamu mau gak pulang seminggu juga mama adem ayem. Seneng malah, ngurangin biaya hidup."


Reiga dibuat melongo dengan jawaban sang mama. Mendengus sebal dan berlalu begitu saja ke kamar, hatinya dongkol setengah mati. Sementara samar-samar Reiga masih bisa mendengar suara tawa  menggelegar Bu Ira dari ruang tamu.


Sesaat sebelum memasuki kamar, Reiga mengelus dadanya sabar. "Untung mama, untung sayang."


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Sesampainya di  kamar, Reiga memutuskan untuk mandi. Karena jika dicium dengan seksama, bau tubuhnya  mirip dengan ikan asin yang tak sengaja ia senggol saat di pasar tadi. Amis dan sedikit tengik.


Selesai  mandi dan berganti baju dengan kaos putih serta celana selutut berwarna hitam, Reiga beranjak mengambil tongkat pramuka yang ia beri tangan palsu pada salah satu ujungnya. Merentangkannya ke arah jendela yang terbuka lebar guna mengetuk jendela tentangganya—Saga.


"Apaan beris—MAMI ADA TANGAN  SETAN!" Saga dikagetkan dengan tangan palsu yang menyembul di antara celah jendela yang baru terbuka sedikit.


"Woi, diem! Ini gue, Sag!" Reiga berseru. Menampar pipi Saga menggunakan tangan palsu hingga sang empunya terdiam dengan mata membulat.


"Kamu kenapa, Sag!" Bu Rahma bertanya panik sambil mengetuk pintu kamar Saga yang terkunci.


"Enggak jadi, Mi! Ini cuma Reiga yang ngetuk jendela Saga!" Saga setengah berseru menjawab pertanyaan Bu Rahma.


Dan samar-samar Reiga serta Saga bisa mendengar gerutuan dari Bu Rahma yang mengatakan bahwa ia sampai rela meninggalkan adegan seru drama korea kesukaannya demi mendengar teriakan Saga.


Aduh! Ibu-ibu zaman sekarang sedang dibutakan drama asal negeri ginseng itu.


"Lo jadi cowok penakut amat!" Reiga mencibir. Meletakan tongkat panjang itu dan melompat ke  kamar Saga.


Saga mendengus. Tak terima dibilang penakut. "Lo pakai acara ngagetin! Sok-sokan ngetuk jendela. Padahal biasanya udah kayak kucingnya bu Mijah. Keluar masuk rumah orang seenak jidat," gerutunya.


Reiga tidak menanggapi, ada hal penting yang harus ia bahas. "Gimana soal bang Bayu, mau bantuin gue gak?"


Saga mengangkat bahu. "Gue belum tanya. Bang Bayu biasanya sabtu sama minggu pulang ke rumah."


Reiga duduk di kursi belajar Saga, memainkan rubrik yang setengah selesai. "Tanya lewat chat kan bisa."


"Jangankan dibales, dibaca aja gue sujud syukur."


Reiga tergelak akan jawaban Saga. Bayu, kakak sahabtanya itu memang terkenal dingin dan cuek.


"Menurut lo gue bakal menang gak lawan Aurora?" tanya Reiga acak.


"Jujur gak?" goda Saga sambil menghempaskan tubuh di ranjang.

__ADS_1


"Jujurlah, Mirnah."


"Lah, siapa Mirnah?"


"Gebetan gue di depan komplek," sahut Reiga ketus.


Saga tertawa mendengar jawaban sarkas Reiga. "Menang pastinya."


"Beneran?"


"Menangis," lanjut Saga dengan tawa yang pecah. Pemuda  itu bahkan sampai berguling di kasur dengan tangan memegang perut dan kaki tertekuk.


"Kampret lo, Sag!"


"Hehe, canda, Ga. Serius amat."


Suasana hati Reiga yang terlanjur buruk membuat pemuda itu tidak menghiraukan ucapan Saga. Segera mendekat ke jendela dan kembali melompat ke kamarnya.


"Lah, ngambek, Ga? Kayak anak cewek lo ngambekan!"


Reiga tidak peduli, menutup jendela dan gorden kamarnya dalam sekali hentak. Tak menghiraukan seruan dan ketukan Saga di luar.


Ia sedang dongkol setengah mati.


Ting


Saga


|Besok bang bayu balik ke rumah


|Biasanya minggu pagi bakal lari-lari keliling komplek


|lo ikutan gih, sekalian ngebujuk


|menang traktir gue!!!


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Rencananya, Reiga akan berlari setelah jarak mereka tepaut seratus meter lebih. Berpura-pura bahwa ia juga sedang ingin lari pagi ini lalu mengobrol ringan dan menyampaikan tujuan sebenarnya.


Reiga keluar dari halaman rumah saat Bayu sudah cukup jauh darinya. Berlari kecil, tapi cepat agar bisa menyusul pemuda yang berstatus kakak kelasnya itu.


"Eh, ada Bang Bayu. Baru balik, Bang?" tanya Reiga basa-basi setelah berhasil menyamakan langkah.


"Hn."


Dehemam kelewat dingin yang Bayu lontarkan sebagai jawaban membuat Reiga menggurutu dalam hati. Jika sapaannya saja dijawab sedingin ini, bagaimana ia akan membangun percakapan selanjutnya.


"Bang, langitnya cerah ya."


Alis Bayu terangkat mendengar kalimat Reiga. "Lo mau gombalin gue, Ga? Stok cewek lo habis?" Bayu bertanya dengan nada datar.


"Bukan gitu, Bang." Reiga mengerjapkan mata saat menyadari arah kalimatnya. Sial, bibirnya ini tidak bisa diajak kerjasama memang. "Gue mau minta diajarin taekwondo."


"Tumben?" Bayu bertanya dengan nada remeh. "Dulu gue ajak masuk taekwondo lo malah kabur ke fotografi sama basket."


Reiga menyengir. "Lagi butuh, Bang."


"Mau ngajak berantem preman depan komplek? Apa mau ngajak Saga berantem?"


Reiga menggeleng kecil. "Tapi, emang Saga bisa taekwondo?"


Bayu menoleh sekilas. "Sabuk hitam malahan."


Bibir Reiga menipis seiring terciptanya senyum aneh di sana. Saga keterlaluan sampai tidak memberitahunya bahwa pemuda itu juga pandai bela diri. Sialan, sekali sahabatnya yang satu itu.


"Lo ada waktu kosong gak, Bang? Gue mau berguru sama lo." Reiga bertanya sambil menyeka peluh di dahi.

__ADS_1


"Gak."


Wajah Reiga merengut, lalu apa gunanya percakapan tadi jika jawabannya sesingkat itu. Dasar kakak dan adik menyebalkan.


"Lo belum jawab pertanyaan gue."


Kepala Reiga menoleh, dahinya  berkerut bingung. "Yang mana?"


"Buat apa belajar taekwondo?"


Reiga menghela napas berat. "Gue ditantangin Aurora buat tanding tiga minggu lagi. Makanya gue butuh lo latih, Bang."


Bayu melambatkan larinya selama beberapa saat. "Aurora?" tanya Bayu memastikan.


Reiga mengangguk.


Seringai kecil muncul di sudut bibi Bayu. "Mau taruhan?" tawarnya.


"Taruhan? Taruhan apa Bang?" Reiga bertanya balik.


"Kalau lo menang, Yegi jadi milik lo. Kalau kalah, jadi babu gue sebulan."


Reiga melotot. "Serius Bang? Yegi?"


"Iya, gimana?"


"Okelah," kata Reiga menyetujui. "Tapi lo jadi ngelatih gue kan, Bang?"


"Gak."


Aduh, Reiga lagi-lagi menggerutu dan mengumpat dalam hati sementara mulutnya komat-kamit tak jelas. Mengutuk Bayu yang justru menolak mengajarinya.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Sampai di rumah, tanpa mau membersihkan tubuh terlebih dahulu, Reiga segera membuka jendeka kamar dan melompat ke kamar Saga yang tidak dikunci.


Mencari sang penghuni yang menurut tebakan Reiga sedang mandi. Karena samar-samar, ia bisa mendengar gemericik air dan suara Saga yang tengah menyayikan lagu GFriend-Crossrod di dalam sana. Entah, Reiga  juga tidak tahu sejak kapan Saga jadi pecinta Kpop, mungkin tertular sang mami yang pecinta K-Drama.


Lelah menunggu Saga yang tak kunjung keluar, Reiga memilih menyamankan diri di atas kasur Saga yang tertata rapi. Memeluk gulis bersarung Super Mario dan bersiap tidur sebentar. Tubuhnya lelah setelah lari pagi dadakan.


"Astaga Mami!" Saga berseru kaget saat menemukan Reiga yang telentang di atas kasurnya. Napas pemuda  itu teratur—Saga menyimpulkan Reiga tertidur—dengan baju basa  karena keringat. "Minggir lo! Kasur gue  bau!"


"Cemen lo, kayak cewek!" sinis Reiga sambil meregangkan otot tubuhnya yang kaku.


"Spreinya baru diganti sama mami, kutil Onta!" Dan dorongan Saga berhasil membuat tubuh Reiga jatuh berguling dari kasur. "Tidur di sofa sana!"


Reiga bangkit dan segera menyembur Saga dengan kalimat yang ia tahan sejak tadi. "Woi, tokek! Lo kok gak bilang kalau lo bisa taekwondo juga!"


"Lo gak tanya," ketus Saga sambil merapikan kembali kasurnya.


Reiga menggeram. Melempar bantal sofa pada wajah Saga. "Waktu itu gue udah tanya!"


"Kapan?" Saga menengadah, mengingat kembali pertanyaan Reiga tempo hari. Lantas menjetikan jarinya dan tersenyum lebar. "Kan lo tanyanya kenalan gue. Bukan gue," jawabnya dengan wajah polos.


Gigi-gigi Reiga bergemeletuk mendengar jawaban Saga. Tangannya di bawah sana terkepal erat ingin menghantam wajah polos sahabtanya itu.


"Terserah lo!" Reiga berseru ketus. Beranjak dari kursi dan melompat kembali ke kamarnya.


Saga menggeleng kesal sambil memungut bantal sofa dan melemparnya ke tempat asal. "Gitu tuh kalau sifatnya sebelas duabelas sama jailangkung. Datang tak diundang, pulang tak diantar."


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Note Kaica :



Mundur alon-alon : mundur pelan-pelan

__ADS_1


Adem ayem : tenang atau tidak masalah



__ADS_2