Dear AURORA

Dear AURORA
Maafin Tante Aurora


__ADS_3

Setelah menidurkan Aurora, Ares langsung di suruh menunggu di lantai bawah bersama Livy.


Untuk urusan mengganti pakaian Aurora itu sudah menjadi tugasnya. Sampai Livy yang awalnya ingin ikut membantu oun Hana melarangnya.


Hana mengambil pakaian hangat yang selalu Aurora pakai, Lalu Hana membuka baju Aurora secara perlahan. Setelah di buka, Hana begitu terkejut melihat luka yang ada di tubuh Aurora.


Bekas Cambukkan yang ada di pundak dan punggung Aurora, Serta memar yang ada di perut Aurora sampai berwarna ungu. Membuat Hana sangat prihatin dengan kondisi Aurora.


"Sebegitu terlukanya kamu Ra, Sampai mental dan fisik kamu di hajar habis-habisan begini, Tante janji. Tante akan mengembalikan semua kebahagiaan kamu yang selama ini sudah hilang" Lirih Hana dengan menahan isakan tangisnya.


"Maafin semua kesalahan tante Ra" Lirih Hana, Dengan mengusap lembut kepala Aurora.


***


Setelah 2 jam Aurora tak sadarkan diri, Akhirnya Aurora terbangun dari pingsannya. Aurora mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya di dalam ruangan tersebut. Aurora kembali mengingat kejadian sebelum ia pingsan, Lalu ia mengingat Ares yang mengantarkannya ke sini.


"Dimana dia.." Lirih Aurora yang mencari Ares.


Aurora bangun dari tidurnya, Dan mencoba untuk duduk. Setelah Aurora duduk sempurna pintu kamar pun terbuka yang menampilkan seorang wanita yang sangat dia benci.


"Syukurlah kamu sudah sadar nak" Ucap Hana, Yang tak di gubris Aurora.


Hana datang menghampiri Aurora dengan membawa segelas air minum.


"Minum dulu sayang" Ucap Hana dengan menyodorkan segelas air minum pada Aurora.


Aurora mengambil air minum dari tangan Hana, Lalu meneguknya sampai tandas. Setelah Aurora minum Hana mengambil kembali gelasnya. Lalu duduk di tepi ranjang samping Aurora.


"Mau makan?" Tanya Hana, Yang hanya di jawab dengan gelengan saja dari Aurora.


Suasana kembali hening, Cukup canggung bagi Hana berduaan dengan Aurora. Lalu Hana pun menatap Aurora yang sedang menundukkan kepalanya membuat Hana bertanya-tanya.

__ADS_1


"Ra, Kamu kenapa?. Ada yang sakit?" Tanya Hana, Yang langsung membuat Aurora mendongkakkan kepalanya menatap Hana.


Aurora hanya diam, Setelah beberapa saat diam. Aurora menganggukkan kepalanya yang langsung membuat Hana khawatir.


"Mana yang sakit nya Ra, Bilang sama tante biar tante panggilkan dokter" Ucap Hana dengan penuh kekhawatiran.


Aurora kembali menggelengkan kepalanya, Lalu ia memegang dadanya, Menunjukkannya pada Hana.


"Disini, Sakit. Sangat sakit" Lirih Aurora dengan memukul dadanya, Dan menangis.


Melihat itu, Hana langsung menutup mulutnya dan menangis. Hana mengalihkan pandangannya dari Aurora, Karena tidak tega melihat keadaan Aurora yang begitu terluka.


Hana pun memberanikan diri untuk memeluk Aurora, Tanpa rasa takut ataupun marah jika nantinya Aurora memberontak padanya.


Bukanya marah Aurora malah semakin terisak dalam pelukan Hana, Karena Aurora sudah cukup merasa lelah dan tidak punya cukup tenaga.


Setelah beberapa menit mereka berpelukan, Hana pun melepas pelukannya dan menatap Aurora dalam.


"Iya sayang, Tante pastikan kamu akan mendapat kebahagiaan kamu kembali"


"Tidak!, Kalian jangan ikut campur dalam kehidupan saya" Ucap Aurora dengan menatap Hana.


"Dengan begitu saya akan bahagia" Lanjut Aurora yang langsung membuat Hana terkejut.


"Maafin tan..."


"Perbuatan kalian sudah tidak bisa di maafkan lagi, Karena itu saya tidak ingin kalian terlibat dalam kehidupan saya. Biarkan saya hidup sendiri, Biarkan saya mencari kebahagiaan saya yang lain, Tanpa campur tangan kalian yang sudah memberi luka dalam hidup saya. Saya mohon" Ucap Aurora.


Mendengar semua permohonan Aurora, Hana sampai tak tega dan langsung memeluk Aurora kembali.


Mereka berdua sama-sama menangis, Di luar kamar ternyata Daren mendengar semua ucapan Aurora yang memohon pada Hana.

__ADS_1


Hana sengaja tidak menutup rapat pintu kamar Aurora agar Daren bisa mendengar semua permintaan Aurora, Daren sudah tidak sanggup lagi mendengar semua ucapan Aurora, Yang menyayat hati. Dan membuat rasa bersalahnya pada Aurora semakin besar.


Mau menyalahkan Lina karna tidak bisa mendidik Aurora pun, Daren sekarang cukup sadar diri. Karena sudah menelantarkan Aurora sedari kecil. Bahkan ia adalah luka yang paling besar bagi putrinya sendiri.


***


Dilantai bawah, Livy menceritakan semuanya pada Ares.


"Dulu aku dan Aurora adalah sahabat yang paling dekat seperti saudara. Dimana ada Aurora, Disitu ada aku. Tapi sekarang, Ah rasanya aku seperti parasit dalam kehidupan Aurora yah Res" Ucap Livy.


"Kamu tahu sendiri kan, Waktu dulu aku kehilangan alm papah. Aku sangat kesepian Res, Kak Arka yang selalu pulang sekolah sore hari, Mamah yang sibuk dengan butiknya. Itulah alasannya aku kesepian, Sampai akhirnya aku mengenal Aurora, Aku selalu ikut main ke rumah Aurora jadi aku merasa mempunyai saudara perempuan" Jelas Livy, Yang masih di pahami Ares.


"Tante Lina baik banget, Dia gak pernah pilih kasih atau pun membedakan kita. Padahal aku bukan anaknya loh, Aku cuman sahabat Aurora. Tapi perlakuan tante Lina membuat aku nyaman dengan keluarga Aurora, Dulu juga masih ada Mira yang masih balita. Dan papah Daren, Yang sekarang papah aku juga dari dulu baik"


"Jujur aku sangat iri Res, Melihat begitu damainya keluarga Aurora. Berbeda dengan ku yang kesepian, Aku iri lihat Aurora yang mempunyai papah yang sangat sayang padanya, Tapi aku?. Tuhan malah mengambil papah ku untuk jauh dariku"


"Dan di saat ulang tahunku, Aku dengan bodohnya meminta papah Daren untuk menjadi papah ku. Aku tidak berpikir dengan Aurora dan ibunya, Sampai keluarga Aurora hancur karna hanya permintaan bodoh ku" Ucap Livy, Dengan menangis.


"Bodoh banget aku kan Res, Sampai gak mikir kondisi Aurora" Ucap Livy dengan terisak.


"Kalau gak mau lanjut cerita, Gak usah Livy" Ucap Ares dengan mengusap kepala Livy.


"Gak!, Pokoknya aku harus cerita sama kamu Res"


"Karena permintaan ku, Papah dan mamah bertemu. Saat itu mamah yang sudah lama sendiri tentu sangat ingin dekat dengan papah, Dan saat itu juga papah Daren lagi ada masalah sama tante Lina yang aku gak tahu, Akhirnya mereka menjalin hubungan. Dan aku sangat bahagia melihat itu Res, Kalau di ibaratkan. Aku adalah pendukung utama yang mendukung perselingkuhan mereka"


"Harusnya dulu aku menentang hubungan mereka Res, Bukan malah mendukungnya. Aku menyesal sangat menyesal, Aku egois Res. Aku membutuhkan figur seorang papah, Tapi aku gak mikirin hidup Aurora yang kehilangan kasih sayang seorang papah" Ucap Livy dengan menangis tersedu.


Ares langsung memeluk Livy, Dengan begitu eratnya dan mengelus pucuk kepala Livy.


Tanpa mereka tahu, Ada dua orang yang melihat kebersamaan mereka yang sedang berpelukan.

__ADS_1


Alkan yang baru datang ke rumah Livy, Dan Aurora yang baru turun dan hendak pergi dari rumah Livy.


__ADS_2