
Keesokan harinya Aurora kembali untuk bersekolah, Sekarang dia sedang memperhatikan penampilannya di depan cermin. Bekas tamparan dan pukulan yang ada di wajahnya masih membekas, Padahal sudah ia kompres dan tutupi dengan foundation.
"Huft, Terpaksa pake masker lagi" Gumam Aurora dengan menghembuskan nafas panjang.
Sebelum memakai masker, Aurora mengoleskan lipblam di bibirnya agar lembab.
Setelah di rasa cukup, Aurora langsung keluar dari kamarnya, Dan menuruni tangga. Terlihat di lantai bawah ada Lina yang sedang tersenyum menyambut Aurora.
"Mamah ngapain?" Tanya Aurora, Yang tak biasanya Lina akan ada di lantai bawah jika pagi hari.
"Lagi nungguin kamu, Kita sarapan bareng yah" Ucap Lina, Aurora hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
"Padahal kalau mamah mau sarapan duluan juga gapapa, Gak usah nungguin Ara"
"Gapapa sayang, Kali-kali" Ucap Lina, Dengan menatap pipi Aurora.
"Pipi kamu masih sakit?"
"Hm.." Jawab Aurora hanya dengan deheman saja.
"Maafin mamah Ara, Mamah..." Ucapan Lina terpotong karna Aurora lebih dulu menjawab nya.
"Mah udah!, Kita udah bicarakan ini tadi malam" Jawab Aurora.
Lina hanya mengangguk dengan menatap sendu wajah Aurora yang kini sudah tumbuh dewasa. Aurora yang tidak di pedulikan, Aurora yang selalu ia abaikan. Nyatanya dia adalah seorang gadis yang kuat, Aurora tetap tersenyum ke arah Lina, Meskipun dirinya sedang terluka.
"Ara udah selesai, Ara pamit dulu yah mah. Mamah baik-baik di rumah, Jangan lupa minum obatnya" Ucap Aurora dengan beranjak dari duduknya dan menghampiri Lina untuk menyalaminya dan mencium kening Lina.
"Hati-hati" Jawab Lina, Dengan mengusap lembut kepala Aurora.
Aurora hanya mengangguk dan pergi berangkat sekolah, Dengan menggunakan mobilnya.
Setelah beberapa menit perjalanan, Aurora pun sudah sampai di sekolahnya. Aurora menghela nafas kasar, Rasanya tak ingin untuk bersekolah.
Aurora Menggunakan masker untuk menutupi wajahnya dan keluar dari mobil. Banyak bisik-bisik dan pasang mata yang melihat ke arah Aurora.
"Wah si putri salju sekolah lagi"
"Awas woy minggir ada si putri salju"
"Jangan coba-coba deh, Deket sama dia. katanya dia orang yang kejam!"
__ADS_1
Masih banyak lagi bisikan-bisikan yang Aurora dengar, Tapi Aurora tidak memperdulikan itu. Ia malah memasang earphone di kedua telinganya.
Walaupun Aurora menutupi wajahnya dengan masker, Tapi tidak menutup aura di wajahnya dan tatapan mata yang tajam.
Tin
Tin
"Woy minggir lo pada, Ngalangin jalan gua sama jalannya neng Aurora" Ucap Alex, Yang menunjukan wajah sangar pada semua murid, Tapi pada Aurora malah memasang wajah tengil.
Akhirnya semua murid yang menghalangi jalan Aurora pun memilih pergi, Karan teguran dari Alex.
"Kayak gak pernah liat cewek cantik aja, Tapi kan kecantikan my putri salju gak ada yang nandingin" Gumam Alex, Dengan terkekeh. Lalu memarkirkan mobilnya di samping mobil Aurora.
Aurora pun bernafas lega, Karna semua murid yang mengerumuninya pergi.
***
Di kelas Aurora, Masih seperti biasanya. Ia akan menyendiri dengan membaca buku, Dan earphone yang masih terpasang di telinganya.
"Hai Aurora" Sapa Ares, Dengan tersenyum manis pada Aurora.
Aurora langsung mendongak melihat ke arah Ares yang sedang berdiri di depan meja Aurora.
"Kemarin kemana gak.." Belum sempat ucapan Ares selesai, Tapi sudah terhenti karna bel masuk.
Ares pun menghembuskan nafas kasarnya dan pergi dari kelas Aurora, Aurora tidak memperdulikan Ares, Ia hanya menatap datar kepergian Ares dari kelasnya.
***
Setelah Bel istirahat berbunyi Aurora tidak ke kantin, Ia malah memilih untuk menyendiri di ruang piano.
Setelah sampai di ruang piano, Aurora langsung masuk ke dalam ruangan yang sepi dan sunyi itu. Aurora duduk di depan piano, Lalu jarinya memainkan alat musik itu dengan lincahnya, Kini Aurora sedang bermain instrumen, Jurriv- Crying Alone.
Aurora menghayati suara piano yang ia mainkan, Dengan mata yang terpejam. Sampai tak terasa air matanya mengalir.
***
Di kantin, Ares sedang bersama Livy dan para sahabatnya. Tapi tidak dengan Alkan, Karna semenjak kejadian bersama Livy, Alkan memilih menjauh dari mereka untuk melapangkan perasaannya.
Ares celingukan kesana kemari, Menatap setiap sudut kantin. Untuk mencari keberadaan Aurora, Livy yang melihat Ares celingukan pun langsung penasaran.
__ADS_1
"Kenapa Res?" Tanya Livy.
"Oh, Ah gak papa" Jawab Ares.
"Bohong, Kamu kayak lagi cari seseorang" Jawab Livy, Yang langsung membuat Ares mati kuku.
"Ah nggak, Gua cuma mau ke toilet, Yah ke toilet" Jawab Ares, Dengan beranjak dari duduknya untuk pergi.
Livy hanya melihat kepergian Ares, Dengan rasa penasarannya. Tapi entah kenapa Livy tidak ingin mengejar atau mengikuti Ares, Ia malah duduk dan melanjutkan makanya.
Ares kini sedang menuju ke kelas 11 ipa 2, Dimana itu adalah kelas Aurora. Sesampainya di kelas 11 ipa 2, Ares tidak menemukan Aurora. Lalu Ares pergi ke rooftop, Tapi hasilnya juga sama tidak ada Aurora.
Ares baru ingat, Jika Aurora suka menyendiri di ruang piano. Lalu, Are pun berlari ke ruang piano untuk menemui Aurora.
Sesampainya di ruang piano, Ares menemukan Aurora yang sedang duduk dan memainkan piano, Ares masuk dengan mengendap-endap. Agar Aurora tidak tahu.
Ares duduk, Di belakang Aurora. Dan menyaksikan Aurora yang sedang bermain piano dengan mata yang terpejam, Bahkan sampai air matanya keluar.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi lagi sama kamu Aurora, Maaf aku cuma cowok pecundang ra. Yang gak bisa jadi sahabat baik untuk kamu, Aku egois. Karna lebih mementingkan Livy dan melupakan kamu, Aku gak tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Mungkin rasa sakit hati" Gumam Ares, Dengan menatap sendu Aurora.
Ares melihat ada luka di sudut bibir Aurora, Tanpa menunggu lama, Ares langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Aurora.
Ares mengeluarkan salep, Yang biasa ia gunakan jika luka. Lalu Ares mengoleskan salep yang ia bawa ke luka yang ada di sudut bibir Aurora.
"Shhss" Ringis Aurora, Dengan membuka matanya melihat siapa yang berani menyentuh lukanya.
"Ka-mu" Ucap Aurora terbata, Dengan menepis tangan Ares.
"Diam Aurora!" Ucap Ares.
"Kamu yng diam!" Jawab Aurora dengan meninggikan suaranya, Membuat Ares tersentak kaget.
"Jangan dekati saya lagi!" Tekan Aurora, Dengan menatap tajam Ares.
"Kenapa?" Tanya Ares, Dengan mengerutkan keningnya.
"Karna, Saya tidak suka dengan laki-laki pecundang. Seperti kamu!"
"Kenapa kamu berkata seperti itu Aurora?" Tanya Ares, Yang masih tidak mengerti.
"Kenapa?, Kamu masih tanya saya ini kenapa?. Sudah jelas kamu adalah laki-laki plin plan yang pernah saya kenal, Kamu selama ini hanya menjadikan saya sebagai pelampiasan, Lebih tepatnya agar saya mengikuti lomba piano" Jawab Aurora, Tanpa melihat ke arah Ares.
__ADS_1
Ares langsung diam mematung, Karna bingung harus mencari pembelaan apalagi. Karna Aurora sudah tahu semua maksud dari Ares yang mendekatinya.