
Bel pergantian jam pelajaran baru saja berbunyi, artinya sekarang kelas XI-5 akan belajar pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan guru pengajarnya Pak Arif. Guru muda dengan gaya khas yang disukai murid-muridnya.
Suasana kelas yang tadinnya riuh berangsur hening karena kedatangan Pak Arif ke kelas. Pria itu mengucap salam dan selamat pagi yang dibalas sama oleh murid kelas XI-5.
"Saya absen dulu ya." Pak Arif mengeluarkan buku daftar hadir dari dalam tasnya. Lantas mulai memanggil sesuai absen. "Ain, Nda, Monic, Cit, Der, Don, E~do, Ek, Finโ"
Jangan heran, memang begitu cara Pak Arif mengabsen tiap murid di kelas yang ia ajar. Hanya memanggil suku kata pertama nama depan atau nama yang membuatnya tertarik.
Pelajaran berlangsung begitu menyenangkan. Cara mengajar Pak Arif yang diselingi gurauan sukses mengocok perut murid sekelas.
"Kalau semua guru modelannya kayak Pak Arif mah, seneng gue, Ra. Mau pelajaran sesulit fisika serumit kimia juga gue dengerin sepenuh hati." Sellena berbisik mendekatkan wajah ke arah sahabatnya.
Aurora mengangguk membenarkan. "Pengen kelas duabelas pak Arif lagi yang ngajar. Tapi kata kak Bintang, kelas duabelas diajar pak Muji."
Helaan kecewa keluar dari bilah bibir Sellena.
"Tapi katanya pak Muji juga asyik. Pengertian ke murid," tambah Aurora.
Pelajaran berlangsung hening karena pak Arif tiba-tiba memberi tugas untuk merangkum bab Peran Indoonesia dalam Perdamaian Dunia sesuai UUD 1945. Tak ayal, satu dua gurauan pak Arif lontarkan sebagai pengisi keheningan dan supaya muridnya tidak ada yang tertidur.
Jarum jam menunjuk angka sepuluh saat bel istirahat berbunyi, membuat pak Arif yang berkeliling mengecek pekerjaan muridnya kembali ke meja guru. Mebereskan barangnya dan memasukkan ke dalam tas selempang ukuran sedang berwarna coklat kebanggaannya.
Kata Pak Arif, meski kecil, di sana banyak hal menakjubkan yang menemaninya dari zaman kuliah hingga sekarang.
"Karena jam pelajaran sudah habis, saya akhiri sampai di sini dulu. Itu tugasnya dikerjakan minggu depan saja waktu saya ngajar. Assalamu'alaikum."
"Wa'aklaikumsakam warrahmatukkahi wabarakatuh." Sekelas menjawab serentak.
Satu lagi poin tambahan untuk Pak Arif. Guru muda itu seolah mengerti bahwa muridnya sudah memikiki banyak tugas dari guru lainnya. Jadi, Pak Arif tidak pernah memberikan PR.
Pernah sekali waktu Udin bertanya mengapa tidak diberi PR. Pak Arif menjawab singkat saja.
"Emang mau ngerjakan?"
Dan otomatis sekelas menggeleng serempak sebgai jawaban. Mana mau mereka mengerjakan tugas jika moto hidupnya saja rebahan is my life. Jelas afeksi ranjang dengan bantal guling yang mampu membawa mereka ke dunia impian menang telak daripada tumpukan buku di atas meja.
---๐๐๐๐๐---
"Nanti masih diskusi masalah kemah lagi, Ra?" Sellena bertanya setelah meletakan mangkok bakso di hadapan Aurora dan nasi pecel untuk dirinya sendiri, rencana dietnya gagal karena bingkisan kue dari Bu Mirna kemarin.
Aurora mengangguk.
"Emang kapan sih acaranya?" Udin datang menyela.
"File dari Hajar gak di download ya?" Sellena menyelidik, menunjuk Udin dengan sedoknya.
Udin menggeleng sambil menyengir. "Kan udah gue bilang, kalau gak penting gak bakal gue download."
"Lebih gak penting hidup lo, Din," sinis Sellena.
Udin mengacak surai pekatnya dengan tatapan tak mengerti. "Heran gue, lo semua kenapa seneng banget julidin hidup gue? Hidup kalian kurang berwarna? Perlu gue warnai pakai cat tembok di rumah?"
Aurora melempar pandangan tak percaya pada Udin. "Maaf ya, Din. Bukannya hidup kita kurang berwarna. Tapi hidup lo aja yang julidable."
Sellena tertawa.
Udin mendesis. "Sialan lo, Ra!"
__ADS_1
---๐๐๐๐๐---
Sementara di sisi kiri kantin, tepatnya di stan Bu Jamilah. Saga dan Reiga mengantri nasi kuning di sana. Antriannya cukup ramai, membuat Saga harus rela mengantri lama dan mengumpat karena Reiga yang terus menebar pesonanya pada adik kelas.
Dasar pencari kesempatan dalam kesempitan, batin Saga mendengus.
"Ga! Anak orang jangan lo alusin terus kenapa? Kalau udah baper gue yang repot!" Saga memprptes saat melihat dua hingga tiga siswa yang ikut mengantri di sana dirayu oleh Reiga. Pasalnya, ia sering sekali ditanyai mengenai kepastian hubungan merekaโperempuan yang dirayu Reigaโdengan Reiga.
Terkadang Saga jadi bingung sendiri, ini siapa yang merayu siapa yang dimintai kepastian. Reiga memang sialan.
"Oke, bye cantik." Reiga melambai saat tiga siswi perempuan itu menyelesaikan pesananannya dan beranjak pergi. Lantas tatapannya beralih pada Saga. "Bacot, lo."
Saga menekuk bibirnya ke dalam sementara rahangnya beradu keras, menahan kekesalan yang bisa ia lontarkan kapan saja. Lantas kembali fokus pada antrian yang semakin mengular.
"Lah, Bu Jamilah! Saya duluan yang dateng, Bu! Kok malah dianggurin," protes Saga saat nasi kuning yang harusnya menjadi miliknya direbut oleh pembeli lain.
"Sabar, Sag, ini Ibu buatin lagi."
"Awas ya, Bu, kalau sampai dikasih ke yang lain. Saya mau ngambek tujuh turunan."
"Kamu ngambek tujuh tanjakan juga gak ngaruh ke dagangan saya, Sag." Bu Jamilah membalas samping menata tujuh piring sekaligus di stan-nya.
Sementara Saga yang menunggu pesanannya, Reiga justru mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin. Sejenak memang tidak ada yang menarik, tapi saat netranya menangkap sosok Aurora yang tengah tertawa. Seringai tipis muncul dibibirnya.
"Ga, pesenan gue gak usahlah. Lo ambil aja." Reiga menepuk bahu Saga lalu pergi.
"Apaan, heh! Lo pikir perut gue, perut **** makan dua porsi sekaligus." Saga memekik tak terima.
Reiga tak peduli, terus melangkah menjauh dengan satu tangan terkibas.
"Woi! Bangโ" Saga mengembuskan napas cepat, mengelus dada sambil bergumam lirih, "Sabar Saga, sabar. Akan ada saatnya lo bebas nampol muka kurang ajarnya Reiga. Sabar aja, senyumin dulu, santetnya bisa diatur."
Slaga menyengir lalu berucap ragu-ragu, "Satu aja, Bu. Satunya buat yang lain aja."
---๐๐๐๐๐---
Sendokkan Aurora pada baksonya terpaksa berhenti karena seseorang dengan lancang menarik mangkok menjauh, membuatnya hampir tersedak karena kaget. Dan saat mengetahui siapa pelakunya, mata Aurora kontan menggelap dengan api kemarahan tergambar jelas di sana.
"Balikin bakso gue kelinci gila!" Aurora berteriak saat Reiga berhasil memasukan satu sendok bakso ke dalam mulutnya.
"Anggep aja bayaran gue buatย ngupas mangga kemarin." Reiga menumpu kepala menunggunakan tangan kiri sementara tangan kanannya yabg memegang sendok sedang mengaduk kuah bakso Aurora. "Emang lo mau makan bakso itu lagi? Sendok sama kuahnya bekas gue lho," katanya menyeringai.
Aurora menggeram marah, hendak merebut mangkoknya lagi. "Sebelum jadi bekas lo, itu bekas gue!" tekannya.
Reiga tidak mencegah ataupun menghalangi usaha Aurora mengambil baksonya. Ia membiarkan mangkuk yang baru beberapa menit di tangannya direbut kembali oleh sang pemilik. Tapi, sebelum sempat Aurora sempat memakan baksonya lagi, Reiga berujar ringan mendahului.
"Indirect kiss."
Aurora menghentikan kegiatannya sejenak. Dahinya berkerut dengan mata memincing. "Maksud lo?"
"Secara gak langsung ...." Reiga menggantung kalimat beberapa detik. "Lo ciuman sama gue. Sendok itu," katanya sambil menunjuk sendok Aurora menggunakan dagu." ... udah kena bibir gue."
Aurora melongo. Apa yang baru saja diucapkan oleh Reiga? Sungguh, otaknya sedang tidak bisa mencerna kalimat itu dengan baik.
Mendadak, Aurora merasa pipi memanas dan jantungnya berdetak tak seirama. "Gu-gue gak peduli," ketus Aurora dengan tetap menyendok baksonya.
"Gak usah dimakan, Ra." Bintang, entah sejak kapan, pemuda itu sudah berdiri di samping Aurora dan menarik sendok menjauh dari bibir gadis itu. Lantas menyodorkan mangkuk itu kembali pada Reiga dengan tatapan tajam. "Gue beliin yang baru, lo minum susu ini aja dulu."
__ADS_1
Aurora masih mencerna kejadian yang baru saja menimpannya. Kedatangan Bintang, perlakuan pemuda itu hingga susu di tangan yang tak kunjung ia minum.
Seseorang, tolong jelaskan kejadian itu pada Aurora! Sungguh, gadis itu masih dalam proses mencerna perlakuan Reiga.
Sementara di hadapan Aurora, Reiga menunjukkan wajah jengkel dan marah. Tanpa aba-aba pemuda itu langsung bangkit dari kursi seraya menggebrak meja, membuat seisi kantin terkejut dan heran akan kelakuannya lalu pergi begitu saja tanpa mengucap apapun.
"Sel, kalau menurut gue ya. Kak Bintang sama Reiga itu suka sama Aurora." Udin menarik lengan Sellena mendekat.
"Jangan ngada-ngada." Sellena menepis anggapan Udin. "Tapi bisa jadi sih," tambahnya sambil melihat Aurora, Bintang dan Reiga. Memang ada yang aneh dengan mereka bertiga.
---๐๐๐๐๐---
Masuk ke ruang multimedia, Aurora mendapati pemandangan anggota panitia yang sedang sibuk melanjutkan membuat properti untuk keperluan kemah.
Surya, Agam dan Diego mengerjakan palang yang akan digunakan sebagai tempat menggantung kerupuk. Ada Amanda, Alya dan Wulan yang mengikat jerami padi menjadi dan menyusunnya berjajar di sudut ruangan. Sementara Angga, Reiga dan Bintang terlihat sangat kompak memaku potongan bambu yang akan digunakan sebagai gerbang saat open gate dan closed gate. Padahal jika mengingat kejadian di kantin tadi, seharusnya mereka berduaโReiga dan Bintangโtidak akan akur seperti sekarang.
"Ra, lo bantuin Alya sama yang lain iket jerami ya," titah Bintang tanpa mengalihkan perhatian. Ia hapal betul wangi tubuh Aurora.
"Iya, Kak." Aurora membalas singkat, segera meletakan tasnya ditumpukan tas lain dan bergabung mengikat Jerami.
Hampir setengah jerami berhasil mereka ikat dan susun selama satu jam penuh tanpa obrolan dan hanya ditemani lagu-lagu BTS, Gfriend dan NCT dari ponsel Amanda.
"Ra." Alya memanggil.
"Iya, Kak?" Aurora menoleh dan menghentikan ikatan pada jerami saat suara Alya mengetuk indra pendengarnya.
"Lo ... pacaran sama Bintang?" Alya menggigit bibir saat menanyakan hal itu.
Jika kalian berpikir Alya menyukai Bintang, maka jawabannya salah. Gadis itu hanya ingin tahu saja.
Aurora berjengit kaget, kemudian menggeleng cepat. "E-enggak Kak, kita deket sebagai temen aja. Lagian, kita ada di satu ekskul. Wajarkan kalau deket."
"Tapi, sikap sama sifat Bintang ke lo itu beda kalau sama yang lain," celetuk Alya.
"Eh, iyakah?"
Alya mengangguk. Lalu memperhatikan punggung Bintang lamat-lamat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dia sering ngater lo pulang."
"Kemarin waktu kerja kelompok di rumah, Kak Alya dianter pulang juga sama kak Bintang," sanggah Aurora.
"Rumah kita searah, Ra, tentanggaan juga. Beda sama lo."
Aurora terdiam.
"Dia sering ngasih susu ke lo." Alya melanjutkan dugaannya.
"Kan mamanya kak Bintang yang nyediain buat kak Bintang," elak Aurora.
Alya menggeleng. "Gue beberapa kali liat Bintang mampir ke indomaret buat beli susu."
"Gini ya Ra, gue jelasin. Bintang itu bukan orang yang mau repot-repot kasih perhatian ke orang lain. Bintang itu emang care sama orang lain, apalagi jabatannya waketos. Tapi dia ngelakuin semua itu karena tanggungjawab, OSIS kan emang harus kasih contoh yang baik. Intinya, dia merhatiin orang lain itu cuma karena tuntutan tanggung jawab dan karena dia manusia. Sesama manusia harus saling tolong menolong, kan?"ย Alya menghentikan ucapannya, lalu menghirup napas panjang dan menatap lekat wajah Aurora. "Kalau sama lo beda, Ra. Tatapan mata Bintang itu beda kalau lagi nolongin lo. Dia nganggap lo bukan sekedar manusia yang harus dibantu, lo spesial."
Kalimat-kalimat Alya terus berdengung di telinga Aurora hingga kegiatan itu selesai. Membuat Aurora mau tak mau menolak ajakan Bintang untuk pulang bersama karena kecanggungan tiba-tiba melanda hatinya.
Gadis itu berlari cepat keluar area sekolah dan duduk di halte dekat perempatan sekolah. Memegang jantungnya yang berdebar cepat dan pipinya yang memerah.
__ADS_1
"Apa bener kak Bintang suka gue?" Aurora bertanya pada diri sendiri. Lantas mengembangkan senyum kelewat lebar dan melompat-lompat di tempat. Tidak menghiraukan tatapan bertanya sekaligus heran orang di sekitarnya. Karena yang Aurora tahu, sekarang ia sedang bahagia.
---๐๐๐๐๐---