Dear AURORA

Dear AURORA
14 : Jaket Milik Reiga


__ADS_3

"Kenapa dia?" Udin bertanya pada Sellena sedang pandangannya terus menatap heran pada Aurora yang tersenyum sumringah.


"Mana gue tau." Sellena mengangkat bahu. "Dari tadi udah senyum-senyum sendiri, ditanya gak jawab malah ketawa girang. Berasa ngomong sama orang kesurupan gue," lanjutnya sambil membuka buku ekonomi dan mulai mengerjakan tugas yang baru selesai setengah.


"Ra, lo gak kesurupan kan? Apa salah minum obat?" Udin memberanikan diri bertanya.


"Gak apa-apa, Udin. Gue sehat, aman, tentram, dan sentosa." Aurora menjawab lembut sambil tersenyum.


"Kan, gue makin merinding." Sellena menunjukkan bulu di tangannya yang mulai berdiri tegak pada Udin.


Udin mengangguk—merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Sellena.


"Lah, Sel. Kenapa duduk di depan?" Aurora bertanya pada Sellena yang melangkah menjauhinya, menuju bangku Siti yang memang sebelahnya kosong.


"Biar rajin." Sellena menjawab singkat tanpa menoleh. Lalu setelah meletakkan tas dan duduk, gadis itu menghadap ke arah Aurora. "Plus biar gak ketempelan."


Aurora membulatkan mata, bersiap melempar buku sejarah yang tergeletak di atas meja. "Lo kata gue setan?!"


"Kan emang lo ratunya, Ra!" Udin menceletuk dari belakang. Lalu segera kabur menuju toilet laki-laki sebelum Aurora sempat membalas.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Lorong sekolah mulai sepi sejak bel berbunyi lima belas menit yang lalu. Kini yang tersisa hanya beberapa murid yang masih menyapu kelas atau memang sengaja pulang terlambat.


Terkadang Reiga heran sekali dengan sifat murid zaman sekarang. Saat berangkat sekolah mengeluh bahwa sekolah itu memebosankan, tapi saat jam pulang justru berdiam diri di dalam kelas, malas pulang alasannya.


Sesekali Reiga melihat jam yang terpampang di lockscreen ponselnya, masih lima menit sebelum diskusi panitia dimulai.


Di anak tangga ke empat, Reiga dikagetkan dengan Aurora yang berlari cepat menyalipnya. Tangan kanan gadis itu yang terayun tak sengaja menyenggol lenggannya hingga ia kehilangan keseimbangan. Beruntung tidak sampai terjatuh, hanya oleh sedikit dan kembali tegak saat berpegangan pada besi pembatas.


"Gak usah lari-lari bisa gak sih?!" Reiga menegur kesal.


"Bodo amat." Tanpa menoleh, Aurora membalas ketus teguran Reiga.


"Kalau dasarnya udah bar-bar, ya tetep aja bar-bar."


Perkataan Reiga ampuh menghentikan langkah Aurora yang meniti tangga cepat. Gadia itu berbalik lalu kembali turun hingga berdiri satu anak tangga lebih tinggi di hadapan Reiga.


"Gak bisa ya, sehari gak cari masalah  sama gue?" Aurora berkacak pinggang, matanya menatapa tajam dengan hidung kembang kempis menahan amarah.


Reiga memasukkan tangan kanannya ke dalam saku, sementara tangan kiri digunakan untuk menahan tas di pundak kirinya. "Kalau pun gue gak cari masalah, masalah itu yang datang sendiri. Lo  sama masalah itu beda  tipis."


Lantas Reiga kembali menaiki tangga, tak menghiraukan Aurora yang masih mengumpat tidak terima karena diolok pembuat masalah  secara tidak langsung oleh Reiga.


Namun, sebelum kaki Reiga menjejak lantai koridor pusat seluruh ruangan penting di sekolah ini, ia menyempatkan diri menoleh ke belakang. Memperhatikan Aurora yang masih setia pada posis sambil menghentakkan kaki. Sayangnya, bukan itu fokus Reiga,  melainkan noda di rok selutut milik Aurora yang menjadi perhatiannya.


"Habis ngemis dimana tuh anak bisa sampai kotor gitu?" gumam Reiga sambil melangkah menjauh karena melihat Aurora menyudahi umpatannya.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Diskusi terakhir berjalan lancar, semua properti dan keperluan telah siap delapan puluh persen. Hanya tinggal menunggu gerbang dengan panjang tiga meter dan tinggi empat meter dari bambu itu selesai serta beberapa perintilan lain, maka siap sudah acara ini untuk dimulai.


Di sebelah kanan ruangan, Reiga dan Bintang kembali memaku potongan bambu dan menyatukannya menjadi bagian tiang gerbang. Surya dan Agam memilih menyelesaikan bagian atas gerbang, sebagai perhubung dua tiang yang dibuat Bintang dan Reiga. Sementara kaum perempuan hanya melihat sekilas dan kembali mengikat jerami pada sisi lain ruang multimedia.


"Gue heran deh," ucap Amanda yang memang sudah akrab dengan Alya dan Aurora. "Itu si Wulan nempel mulu sama kak Reiga, mana cuma diem aja, mending bantu maku atau bantu kita iket jerami." Amanda melanjutkan dengan nada sinis, mengambil beberapa jerami untuk diikat lagi.

__ADS_1


"Itu lagi, udah tau ruangan panas, AC mati, kipas angin mati, masih aja pake jaket. Emang titisan setan gak bisa ya suka sama tempat adem." Amanda  kembali mencerca melihat Reiga yang justru tidak melepas jaketnya. Membuat peluh kembali mengalir dan Wulan sigap mengusapnya  menggunakan tisu.


Alya tertawa sebentar. Aurora ikut melirik sinis pada  Wulan yang duduk manis di sebelah Reiga sambil sesekali mengelap keringat pemuda itu.


Memang tidak bisa dibantah lagi, meski sama-sama berada di kelas sepuluh, sejak awal panitia dibentuk pun tak pernah sekalipun dua perempuan itu—Amanda dan Wulan—bertegur sapa. Amanda yang memang tidak suka pada Wulan dan Wulan yang memang hanya memikirkan diri sendiri—termasuk Reiga.


Bintang bahkan pernah menegur mereka berdua karena terus bertengkar pada diskusi. Hanya karena perbedaan pendapat, mereka adu mulut hingga suasana suram sore hari bertambah menegangkan. Apalagi saat Wulan maju hendak menjambak rambut Amanda dan Amanda justru menanggapi dengan menggulung lengan jaketnya. Hancur sudah diskusi hari itu karena dua anak hawa yang terus  bertengkar. Bintang bahkan angkat tangan dan berseru ketus sesaat sebelum keluar ruangan.


"Saya gak bakal cegah. Lanjutin aja sampai kalian babak belur, saya gak peduli lagi."


Lantas pemuda itu berjalan menjauh, membuat Amanda dan Wulan yang melihat dari jendela terdiam. Tidak saling meminta maaf atau melanjutkan pertengkaran. Tapi sejak hari itu, sebisa mungkin mereka menahan emosi masing-masing agar tidak keluar memancing emosi lain.


"Udahlah, biarin aja." Alya menanggapi tidak peduli. "Atau lo suka ya sama Reiga?" tanya Alya menggoda Amanda.


Aurora sontak menoleh,  mengalihkan atensi dari Reiga dan Wulan. Sekarang fokusnya ada pada Amanda. Entah mengapa, ada setitik rasa tidak suka saat Alya menanyakan hal itu dan reaksi Amanda yang terlihat malu-malu malah menambah kekesalannya.


Amanda terdiam. Pipinya perlahan memerah dan tersenyum kaku. "Gak mungkinlah, Kak. Aku ini setipe sama Kak Aurora. Gak mungkin suka playboy macam buaya kayak kak Reiga," bantah Amanda.


"Tapi kok malu-malu gitu?" Alya mencolek lengan Amanda, membuat sang empunya semakin menunduk menyembunyikan wajah. " Aih, udah ketahuan juga. Emang sih, pesona Reiga itu sulit banget buat dihindari. Udah macam oppa-oppa Korea-lah." Alya masih menggoda.


"Kak ...." Suara Amanda terdengar mendayu, menyuruh Alya berhenti menggodanya.


"Kak, aku ke toilet dulu ya," pamit Aurora karena sudah tak kuat lagi mendengar godaan Alya. Entahlah, kalimat yang Alya tujukan pada Amanda itu membuat sedikit dari dirinya tak nyaman. Seperti ... marah? Aurora juga tak tahu, ia bingung.


"Eh, iya Ra. Hati-hati."  Alya menjawab.


Amanda mengangguk.


Sementara Bintang langsung menoleh ke arah Aurora, menghentikan pukulan palunya demi melihat gadis itu keluar ruangan. Bahkan, saat wajah Aurora  menghilang sepenuhnya dari jendela, Bintang tak kunjung melanjutkan pekerjaan.


Seruan Reiga membuyarkan lamunan Bintang, membuatnya mendengus berat dan kembali memaku. "Padahal hampir enam puluh lima persen yang ngerjain ini gue."


Reiga memutar bola mata dan berdiri, hendak melangkah namun sebuah tangan kecil menarik jaketnya. Wulan, gadis itu mendongak dengan tatapan bertanya.


"Gue mau ke toilet," jawab Reiga sambil melepas cekalan tangan Wulan.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Aurora tidak berbohong masalah akan pergi ke toilet. Namun, sedari tadi yang ia lakukan hanya mondar-mandir tidak jelas sambil bergumam, bertanya pada diri sendiri tentang perasaannya.


"Gue kenapa sih? Gak mungkin kan kalau gue mulai suka sama Reiga." Aurora menahan tubuh di pinggiran watafel, bertanya pada cermin bebentuk lonjong yang merefleksikan wajahnya hingga pundak. Lantas menangkup wajah dengan kedua tangan lalu memukul pipinya pelan. "Gak mungkin, gak mungkin. Orang gue sukanya sama kak Bintang," yakinnya pada diri sendiri.


Sedetik kemudian gemericik air dari wastafel memenuhi ruangan lima kali enam meter itu. Aurora membasuh wajah, sesekali menggosok dan menepuknya lagi. Mengapa rasanya gila sekali saat memikirkan dugaannya tadi.


Setelah selesai, Aurora menggeringkan wajah dengan lengan baju dan menatap pantulan dirinya mantap. Ia memutuskan keluar dari kamar mandi. Namun, baru satu kakinya sempurna keluar, sosok pemuda yang berdiri bersandar pada tembok dengan dua tangan terlipat di depan dada membuat Aurora menjerit kaget.


"Lo ngapain?!" Aurora berseru, mundur satu langkah ke dalam toilet.


"Ke toilet," jawab Reiga apa adanya.


Aurora langsung mendongak, melihat tanda di atas pintu toilet. Lambangnya toilet perempuan, bukan toilet laki-laki, berarti ia tidak salah masuk kamar mandi.


"Ini toilet perempuan," geram Aurora.


"Yang bilang ini toilet laki-laki siapa?" Reiga membalas tak kalah ketus.

__ADS_1


"Terus lo ngapain di sini, hah? Lo bukan perempuan, Ga!" Aurora menghentikan pekikannya dan menutup mulut. "Atau jangan-jangan lo—"


"Ya emang gue bukan perempuan dan ...." Tangan Reiga menjitak kening Aurora hingga menimbulkan bunyi," jangan mikir aneh."


Aurora mengepalkan tangannya, menahan emosi yang hampir meledak karena  jawaban kelewat mengesalkan yang dilontarkan Reiga.


"Sabar Aurora, orang sabar disayang Tuhan."


"Gak mau disayang gue aja?" celetuk Reiga menaik turunkan alisnya.


"Najis! Minggir! Gue mau balik." Auror menggeser tubuh Reiga ke samping kanan.


Namun, baru satu langkah tercipta, Reiga mencekal tangan Aurora hingga tubuh gadis berbalik dan menabrak tembok. Tangan Reiga bergerak cepat ke samping bahu gadis itu, mengukung tubuh kecil Aurora dalam kuasanya.


"Lo mau ngapain?!" pekik Aurpra karena kaget.


Reiga menyeringai. Mecondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan wajah Aurora. "Lo pikir gue mau ngapain," kata Reiga dengan nada rendah mengintimidasi.


"Gak usah mesum pikirannya!"


"Gue bakal mikir beribu kali mau ngapa-ngapain lo. Tepos gitu, bukan style gue."


"Halah, gak usah muna lo!" Aurora menyergah.


Sudut bibir Reiga terangkat mendengar penuturan Aurora. "Oh, jadi lo mau gue apa-apain?"


"Hah?! Eh, bu-bukan gitu." Aurora mengutuk dalam hati setelah menyadari maksud kalimatnya tadi.


Reiga mendekatkan wajahnya ke wajah Aurora yang terlihat lucu—menurutnya. Ia bahkan menahan diri setengah mati agar tidak tertawa melihat wajah merah Aurora, ekpresi terkejut dan embusan napas yang sudah tidak terasa. Gadis dalam kuasanya ini benar-benar gugup.


Aurora menahan napas. Tubuhnya semakin kaku di tempat. Otak dan hatinya  terus menyuruh agar segera meninggalkan tempat itu, tapi entah apa yang terjadi, tubuhnya tak bisa  bergerak.


"Tapi sayangnya gue gak sebrengsek itu," bisik Reiga tepat di telinga Aurora. Lantas segera menjauhkan tubuh dari gadis itu dan membuka jaket kemudian mengikatnya di pinggang Aurora.


Aurora terhenyak. Matanya terbuka lebar memperhatikan Reiga yang menunduk fokus pada kegiatannya. Ia tak bisa berucap apa-apa karena keterkejutan jauh mengusai dirinya.


"Rok lo merah bagian belakangnya," ujar Reiga seraya membalik badan, kembali ke ruang multimedia.


Di tempatnya, Aurora masih mematung tidak percaya. Tubuhnya hampir merosot jatuh jika saja tidak berpegangan pada dinding. Lantas tangan kirinya  yang bebas  digunakan untuk menyentuh simpul jaket di pinggangnya. Tak lama, pipinya memerah semerah jaket Reiga.


"Gila! Lo mikir apa Aurora!" sentaknya pada diri sendiri.


Ting!


Suara notifikasi membuat kesadaran Aurora yang sempat hilang kembali lagi kemudian merogoh ponsel di saku baju dan melihat siapa pengirimnya. Aurora mengernyit mendapati nomor tak dikenal terpampang di sana. Segera saja Aurora membukanya.


+6285850718818


|parkiran


|awas sampai jaket gue kotor!


Dan decihan keluar dari bibir Aurora melihat isi pesan itu. Ternyata Reiga. Memang Aurora  tidak menyimpan nomor Reiga seperti yqng pemuda itu minta.


Tanpa niat membalas, Aurora kembali memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju parkiran.

__ADS_1


---🌟🌟🌟🌟🌟---


__ADS_2