
Perkataan dokter Jemmy memang benar adanya. Sebenarnya Emi lah yang belum siap untuk di tinggalkan. Jadi asal suaminya masih bernapas saja, dia sudah cukup senang untuk itu.
" Kamu tidak mau Bagas meninggalkan kamu ya Mi? "
Emi tidak bisa bicara apapun. Mana mungkin dia bisa ikhlas di tinggalkan oleh orang yang dia cintai. Malah bila bisa, dia ingin pergi meninggalkan suaminya lebih dulu. Itu karena dia sangat takut kehilangan. Emi masih sangat tergantung dengan suaminya.
Setidaknya tau suaminya masih ada saja, dia sudah sangat bahagia. Berarti dia tidak sendiri lagi.
" Mi.. kamu harus belajar mengikhlaskan Bagas Mi.. "
Emi langsung emosi mendengar ada orang yang mengatakan hal itu padanya. Dia merasa orang yang mengatakan hal itu berarti melebihi Tuhan. Orang itu seolah sudah tau akan hidup mati seseorang. Hal itu yang membuat Emi emosi dan tidak menyukainya.
" Jem.. aku tau kamu sangat membantu aku dalam perawatan Bagas. Tapi perkataan kamu tadi itu, sudah kelewat batas Jem. Kamu solah bisa tau kapan hidup mati seseorang dari perkataan kamu. Jangan pernah mendahului Tuhan Jem. "
" Terus kamu mau melakukan oprasi yang tadi di katakan dokter itu? Kamu mau sampai kapan akan menyiksa Bagas Mi? Kamu benaran cinta atau takut kehilangan saja? Jangan menjadi egois jadi orang. Kamu tidak merasakan bagaimana dia merasakan sakit saat pengobatan. Kamu hanya sebagai pendukung saja. Yang menjalani ini adalah dia Mi. Sadar itu. "
Emi masih tidak terima dengan tuduhan yang di katakan oleh Jemmy. Dia masih ingin membenarkan dirinya. Dia merasa melakukan hal ini hanya untuk menyembuhkan Bagas. Dia hanya mau berusaha dulu. Dia tidak akan menyerah untuk saat ini.
" Kamu hanya dokter Bagas Jem.. jaga batasan mu.. aku tidak suka dengan hal seperti ini. Walaupun kamu teman aku, aku tidak akan segan segan pada kamu saat kamu terus melakukan hal ini. Asal kamu tau, aku tidak akan menyerah sampai akhir. "
Emi langsung meninggalkan ruangan Jemmy setelah mengatakan hal itu. Dia membawa kemarahan di hatinya karena perkataan Jemmy. Walaupun dia kadang membenarkan apa yang Jemmy bilang. Tapi, dia memilih untuk menyakini apa yang dia anggap benar.
__ADS_1
" Kenapa? apa aku salah bila berjuang saat ini? Apa aku tidak bisa berharap kesembuhan untuk Bagas? Apa aku tidak boleh bersama suami aku lebih lama? Kenapa semua orang menyarankan aku seperti itu? apa mereka tidak bisa melihat aku dan Bagas berjuang untuk kesembuhannya? "
Emi terus berjalan sambil menangis. Dia masih terus bergumam hal yang sama di dalam hatinya. Dia merasa tidak ada yang mendukung saat ini. Dia merasa semua orang berusaha memisahkan dirinya dengan Bagas.
Karena tangisannya tidak kunjung mereda, Emi akhirnya pergi ke taman rumah sakit. Disana dia meluapkan segala emosi yang dia punya. Dia menangis sekencang kencangnya untuk mengurangi beban di dalam hatinya.
Jemmy melihat hal itu. Dan dia membiarkan dulu Emi meluapkan emosi yang selama ini dia pendam. Sebenarnya Jemmy sedari awal sudah mengikuti Emi. Dia khawatir dengan temannya itu. Dia sadar kalau apa yang dia ucapkan sebelumnya itu memang sangat menyakitkan untuk Emi. Tapi ini perlu di pikirkan lagi.
Jangan hanya memikirkan dari sisi orang yang di tinggalkan. Tapi pikirkan juga dari segi sakit yang di derita pasien. Pasien akan sangat kesakitan saat melakukan segala macam pengobatan yang akan semakin memakan sedikit demi sedikit kehidupannya. Tidak ada kesembuhan dari pengobatan itu. Dan seharusnya Emi bisa paham hal ini, Karena dia tenaga medis juga.
Tetapi, karena yang di hadapi saat ini adalah kasus keluarganya sendiri, lebih tepatnya suaminya. Emi memilih menutup mata dan telinganya. Dia ingin melakukan segala cara agar suaminya lebih lama bersama dirinya saat ini.
Emi belum bisa untuk mandiri tanpa suaminya. Segala hal selalu harus ada suaminya. Tapi hal itu mempengaruhi kinerja Emi juga nanti. Jemmy sudah memperkirakan hal ini. Semua akan saling terhubung. Dan sudah pasti Emi akan lebih sering meninggalkan pekerjaannya demi mengurus Bagas.
" Aku kasihan kepada kamu sebagai teman aku. aku tidak ada berharap lebih dari kamu. Tapi, kamu masih kaku dan tidak bisa di beritahu apapun. Aku harap apa yang aku bayangkan tidak akan terjadi pada kamu nanti. semoga kamu bisa melewati semua cobaan ini dengan tabah. "
Jemmy langsung pergi dari tempat itu dan dia memilih menghindar dulu dari Emi. Tapi, dia tetap akan merawat Bagas. Karena profesi dia sebagai dokter, memang mengharuskan dia melakukan hal itu. Tapi sebagai teman, dia hanya ingin temannya mendapatkan hal yang terbaik.
Emi masih di taman dan menagis sampai puas. Sedangkan bapak Suci, dia merasa pabik karena anaknya belum juga datanv dari bertemu dengan dokter Jemmy.
Dia berpikir hal yang buruk. Karena saat ini Emi sedang dalam pemikiran yang buruk dan tertekan. Takutnya apa yang di beritahukan oleh dokter Jemmy membuat Emi semakin tertekan. Jadi bapak Suci semakin mencemaskan anaknya.
__ADS_1
" Bu... bapak cari Emi dulu.... Bapak takut dia kenapa napa. Karena ini sudah sangat lama. Dia tidak mungkin akan meninggalkan Bagas selama ini bila dia tidak mendapatkan hal yang buruk"
" Sebaiknya bapk disini. Dan ibu yang mencari Emi. "
" Bu... biar bapak saja. "
Bapak Suci tau istrinya tidak aka bisa mengontrol emosinya bila sampai melihat anaknya terpuruk nanti. Sudah pasti kalau istrinya itu akan semakin membuat anaknya tertekan dengan berbagai permintaannya.
Saat akan mendekati ruangan dokter Jemmy, bapak Suci melihat dokter Jemmy keluar dari ruang perawatan. Dan itu artinya anaknya sudah tidak ada di ruangan dokter Jemmy.
" Dok... maaf saya mau nnya, apa dokter tau dimana anak saya? Emi dok.. dia anak saya. "
" Iya pak, dia ada di taman samping. Dia sedang meluapkan emosinya saat ini. biarkan dulu dia begitu pak. Biar dia lebih tenang."
" Dok bagaimana keadaan Bagas? "
" Kita berdoa saja ya pak. Kita para dokter akan melakukan segala sesuatunya sebaik mungkin. "
Bapak Suci akhirnya menebak apa yang membut putrinya menabgis itu karena Emi mendengar kabar soal Bagas.
" Emi pasti sangat sedih saat ini. "
__ADS_1
Pak Suci mengatakan hal itu sambil bergumam. Tapi masih di dengar oleh Jemmy. Dan Jemmy hanya tersenyum saja untuk menanggapinya.