Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Perjuangan Yang Tak Sia Sia


__ADS_3

Beberapa hari berlalu lagi. Dan saat ini, orang tua Emi juga sudah tidak menemani anaknya di rumah sakit. Itu karena, bapak dan ibu Emi harus melakukan pekerjaan yang lainnya lagi.


Lagipula Bagas sudah semakin baik dan sudah berada di ruang rawat inap saat ini. Jadi mereka sudah lebih tenang meninggalkan Emi dengan Bagas.


" Selamat pagi pak Bagas, hari ini kita priksa lab dulu ya.. Setelah itu, akan ada sesi terapi untuk bapak nanti."


Seorang perawat menyapa mereka pagi itu setelah Bagas selesai di berikan makanan berubapa susu dari selang di hidungnya. Bagas belum bisa makan biasa. Karena masih dalam peroses penyembuhan. Jadi hanya cairan nutrisi dan susu saja yang dapat masuk kedalam tubuh Bagas.


" Sus, apa nanti Bagas akan ada pemeriksaan dari dokter saraf? Karena kemarin saya di kasi info kalau akan ada pemeriksaan saraf untuk Bagas hari ini"


" Ooo itu, iya mba... nanti agak siangan akan ada pemeriksaan saraf dan otot dari bapak Bagas. Karena suami mba ini kan sudah lama tidak bergerak. Jangan sampai ada pelemahan fungsi otot nantinya. "


Emi hanya menganggukan kepalanya. Dia merasa beruntung tidak memilih menyerah saat itu. Dia masih bis bertahan saat ini. Walaupun, pekerjaanya samapi detik ini belum dia mulai lagi.


Batas cuti Emi, memang masih ada Jadi Emi masih cuti. Sedangkan Bagas, uang gajinya dia tetap terima karena dirinya sudah menjadi pegawai pemerintahan atau PNS saat ini. Beruntungnya, saat SK Bagas keluar saat itu baru ketahuan Bagas memiliki penyakit mematikan ini.


Jadi tanpa sepengetahuan orang lain, Emi sudah meminjam uang di bank dengn jaminan gajih suaminya. Semua hal nekad Emi lakukan saat ini. Apalagi dia sudah melihat ada perubahan di dalam kesehatan Bagas.


Walaupun Emi belum menanyakan lagi keadaan Bagas pada Jemmy. Tapi melihat Bagas yang semakin hari terlihat semakin segar, membuat dia berpikir Bagas sudah mulai membaik.


Sesi terapi sudah di mulai dan Bagas tetap melakukan itu dengan baik. Tidak ada penolakan dari sikap Bagas. Jadi terapis nya mulai merasa perubahan pasien saat ini itu semakin baik.


" Mba... nanti saya sarankan coba konsul ke dokter ortho ya... biar kita bisa melakukan terapi untuk persendian pak Bagas juga. Karena kalu di biarkan begini terus, saya takut akan lebih kaku nanti. "

__ADS_1


Pesan itu di ingat oleh Emi. Walaupun dia belum bisa meninggalkan Bagas di ruangannya sendiri, Tapi Emi berncana akan secepatnya menanyakan hal ini pada dokter yang di sarankan.


" Aku melihat semangat di mata kamu untuk kesembuhan aku. Dan aku tidak mau mengecewakan kamu. Walaupun saat ini aku merasa tidak nyaman dan sangat kesakitan, aku akan terima semuanya demi kamu. Senyum mu itu membuat aku bersemangat Sayang. "


Bagas saat ini hanya bisa semangat hidup lagi dengan memandang wajah istrinya sendiri. Dia tidak bisa memungkiri rasa takut akan kematian itu tetap ada di dalam dirinya. Dia takut meninggalkan wanita yang sangat di kasihi dan di sayangi itu. Dan tidak mau membuat air mata membasahi pipi istrinya.


"Tolong beri aku waktu lebih lama lagi untuk bisa memastikan kalau dia nanti bisa menjaga dirinya sendiri. Aku tidak mau meninggalkan dia denga keadaan dia tidak bisa mengurus segalanya seorang diri. "


Permohoban Bagas masih sama. Hanya ingin yang terbaik untuk istrinya. Dan akan pergi saat istrinya bisa mandiri.


"Jem... maaf menggangu... dokter ortho sudah pulang ya...? "


"Mi... iya.. dokter ortho sudah pulang hanya tersisa dokter praktek saja. Ada apa emangnya? "


" Aku di suruh konsul soal kondisi tulang Bagas. Apa bisa di terapi tulang nanti? masalahnya persendian Bagas biar tidak kaku lagi. "


" Ooohhh untuk hal ini, menurut aku tidak masalah di gerakan kecil untuk pergelangan kaki, lutut. dan beberapa sendi lainnya. Hanya jangan terlalu di paksa. Aku takut tulang Bagas sudah rapuh. "


Emi mengangguk paham untuk hal ini. Dia sebenarnya tau untuk masalah ini. Hanya saja, dia ragu. Karena pasiennya suami dirinya sendiri.


" Jem... untuk kondisi Bagas, bagaimana perkembangannya? "


" Kita akan lagukan CT scan lagi bila memang di butuhkan, sekalian MRI. Kita perlu memastikan keadaan yang sebenarnya. Biar nanti dia bisa pulang dengan aman. "

__ADS_1


" Jadi Bagas akan pulang dengan selang di hidungnya? "


" untuk sementara begitu. Bila tidak ada masalah lagi. "


Jemmy melihat raut wajah sedih di wajah Emi. Dia tau kalau Emi ingin suaminya berobat dengan tuntas dulu, baru pulang. Tapi untuk biaya yang di tanggung jaminan keaehatan juga sudah sangat banyak. Jadi Bagas harus pulang dulu.


" Mi... kamu tau aturan di dunia kesehatan. Kamu tidak bisa lama di tempat ini. Apalagi pengobatan Bagas tidaklah murah. Tanggungan dari jaminan kesehatan kamu hampir mencapai batasnya. Jadi, kamu harus pulang dulu. Nanti kamu bisa kembali kesini lagi. "


Emi Emi mendesah pasrah saat mendengar hal itu. Lalu dia harus mempersiapkan segala sesuatunya lagi nanti di rumah.


" Aku harus semangat untuk kesembuhan Bagas. Dia pasti akan sembuh dan akan terus bersama aku. Aku tidak mampu bila di tinggal secepat itu. "


Pikiran Emi mulai berkecamuk dengan berbagai hal. Tetapi semangatnya tidak pernah padam. Dia wanita yang sangat kuat untuk menjalani semua yang di hadapinya saat ini.


Sesampainya di kamar, Emi melihat Bagas sudah bangun dari tidurnya. Dan Bagas melihat kedatangan Emi. Seolah Bagas bertanya padanya dari mana saja? Dan Emi langsung berusaha menjelaskannya pada Bagas.


" Aku dari ruangan dokter Jemmy. Tadi aku ingin bertemu dengan dokter orthopedi. Tapi spesialis nya sudah pulang. Jadi tidak bisa bertemu. Mungkin besok akan aku tanyakan apa yang di suruh terapis tadi. Selain itu, aku juga menanyakan apa saja pengobatan kamu selanjutnya. Dan Jemmy bilang hanya pemeriksaan biasa saja. Biar nanti kalau hasilnya bagus, kamu bisa langsung pulang. Aku sudah tisak sabar kembali pulang kerumah bersama kamu. "


Emi mengulas senyumnya sambil berbicara dengan Bagas. Dia sudah pandai membohongi Bagas saat ini. Emi sudah banyak menyembunyikan masalahnya pada Bagas. Dengan alasan tidak mau membuat Bagas berpikir terlalu keras.


Sedangkan orang tua Bagas dan semua saudara sepupu Bagas, sama sekali tidak pernah berkunjung lagi. Jangankan berkunjung, mereka bahkan tidak ada yang menelpon menanyakan kabar dari Bagas.


Ibu mertuanya sangat tega kepada Bagas. Mereka benar benar membuang Bagas saat dalam keadaan sakit begini. Dan hal ini membuat Emi semakin sedih bila mengingatnya.

__ADS_1


" Kita berjuang bersama Yank.. "


__ADS_2