
Emi sudah mulai mau berinteraksi dengan orang lain. Obrolan dia sebelumnya dengan bapak Bajra membuat dia mengingat kembali rasa sakit yang belum dia kembalikan pada orang yang sudah membuat Bagas menderita.
Jadi Emi berusaha untuk bangkit kembali demi bisa memberikan pelajaran berharga untuk orang yang sudah jahat kepada mereka sebelumnya.
" Pak.. aku mau kembali ke rumah aku lagi. Aku yakin aku bisa melewati semua ini lagi. "
Bapak Bajra ragu membiarkan anaknya pergi kerumah itu lagi. Selain karena kenangan Bagas. Saat ini warga sekitar sedang sibuk menggunjingkan Emi di sana. Bapak Bajra takut anaknya kembali mengurung diri nanti disana.
" Mi... apa.. "
" Pak... aku akan memulai semua dari awal lagi. Aku tidak akan diam saja dengan semua yang sudah terjadi selama ini. Aku harus membuat mereka menyesal karena sudah menyianyiakan Bagas. "
Semangat Emi seperti ini membuat bapak Bajra sulit untuk menghentikan dirinya. Tapi bila Emi di larang, akan semakin banyak dia menanyakan sesuatu nanti. Jadi bapak Bajra hanya bisa membiarkan Emi tinggal di rumah itu lagi dan mengajak Sekar kembali disna.
" Baiklah.. tapi kamu tinggal dengan adik kamu disana. Bapak hanya ingin memastikan kamu baik baik saja. Dan ingat Mi... apapun perkataan orang di luar sana, bapak harap kamu tidak mendengarkannya. Karena hidup kamu hanya kamu sendiri yang tau. "
Emi sadar kalau saat ini pasti banyak sekali fitnah tentang dirinya di luar sana. Maka dari itu bapaknya mengatakan hal ini pada dirinya.
" Bapak tenang saja. Emi yang sekarang tidak lagi Emi yang terpuruk akan kesedihan dirinya. Tapi yang sekarang ini adalah istri Bagas yang ingin memberikan keadilan pada mendiang suaminya. "
Bapak Bajra tersenyum melihat anaknya yang seperti sekarang. Emi banyak berubah setelah melewati berbagai macam masalah saat bersama Bagas. Mulai dari membatasi diri, bersedih hingga saat ini seperti Emi versi baru, baru saja di ciptakan.
" Pak... aku akan melihat bagaimana penyesalan mereka nanti saat Bagas sudah tiada lagi. "
__ADS_1
" Apa kamu akan tetap membiayai keluarga Bagas Mi? "
" Tentu tidak lah pak... Bagas sudah tidak ada. Dan aku tidak ada kewajiban lagi memenuhi keinginan mereka. Biar saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Aku tidak akan peduli lagi. Aku hanya ingin menunjukan pada mereka kalau aku yang sekarang tidaklah seperti dulu lagi. Aku sekarang bisa melawan apapun yang mereka lakukan pada aku. Walaupun Bagas tidak ada di samping aku lagi. "
" Kalau begitu pergilah.. ingat harus ajak adik kamu juga. Karena bapak tidak akan tenang bila kamu sendirian. "
Emi mengangguk tapi saat dia akan pergi, terdengar suara ibunya yang berteriak.
" Mau kemana kamu? mau pergi dari rumah ini lagi? Emi... kamu belum boleh kemana mana saat ini tinggal saja di rumah. Bapak dan Ibu masih bisa membiayai diri kamu. "
Emi dan bapak Bajra hanya menggelengkan kepala saat mendengar teriakan istrinya. Mereka tau kalau ibu Emi ini mempunyai kepanikan berlebihan bila berhubungan dengan masalah anaknya.
" Bu... tenang dulu.. biar Emi kembali menyusun kehidupannya lagi. Dia memang harus bisa melanjutkan hidupnya lagi. Bukankah itu yang kita mau. Tapi kenapa kamu malah ingin anak kamu mengurung diri di sini? "
" Mi... ibu bukan tidak membiarkan kamu memulai hidup baru kamu. Tapi kembali ke tempat yang sebelumnya yang sudah memberikan kamu sakit itu, ibu tidak setuju nak... Ibu mau kamu bahagia dengan cara yang baru. Bukan dengan memperjuangkan hal yang sudah tidak ada lagi. "
Emi marah. Sangat marah pada Ibunya. Karena ibunya sama sekali tidak mengerti akan dirinya saat ini. Selalu ibunya mementingkan hal hal pribadi tanpa mau peduli akan perasaan dia untuk Bagas. Sedangkan bapaknya selalu bisa menenangkan dirinya.
" Bu.. kenapa ibu selalu begini. Kenapa sampai saat ini ibu selalu tidak paham. Kalau aku tidak akan bisa membiarkan ketidakadilan pada terjadi pada suami aku bu. Apa bila posisi ibu saat ini ada di tempat aku, bagaimana cara ibu menangani ini? Bu.. aku mencintai Bagas dengan seluruh hati dan perasaan aku. Jadi jangan hentikan aku untuk sekarang ini bu.. "
Emi mengatakan semua itu dan membuat hati ibunya sakit. Ibunya hanya menghawatirkan dirinya tapi cara penyampaian ibu Emi itu salah. Dia membuat Emi tersinggung dan marah lagi padanya.
Ibu Emi melihat kearah suaminya dan hanya di balas dengan gelengan semata. Suaminya merasa kecewa kepada dirinya karena kembali menorehkan luka di hati putri mereka.
__ADS_1
Mungkin niat dari istrinya benar. Tapi istrinya tidak pernah bisa mengelola kata untuk berbicara pada anaknya.
" Pak... "
" Bu... kamu harus lebih bisa menjaga ucapanmu dulu. Kita sebagai orang tua memang tidak ingin melihat anak kita terluka lagi. Tapi kita tidak bisa mengatakan semua itu dengan cara yang kasar pada Emi saat ini. Kamu harus ingat Emi sekarang sangat sensitif mengenai hal ini. Kamu bukannya tau sendiri kalau Emi masih berduka. Tapi kenapa kamu menyebut tempat Emi yang sebelumnya bersama Bagas adalah tempat yang selalu memberikan dia luka? itu sama saja artinya kamu mengatakan Emi bersama Bagas tidak pernah bahagia. Pelajari lagi untuk berbicara Bu.. aku tidak bisa membela kamu saat ini karena kamu memang salah saai ini. "
Bapak Bajra pergi meninggalkan istrinya yang termenung sendirian. Dia mau menghubungi Sekar agar dia bisa cepat pulang hari ini. Untuk bersiap ikut dengan kakaknya kembali kerumah Bagas lagi.
" Halo dek.. kamu masih sibuk nak? "
" Gak pak... ada apa? "
" Kalau bisa kamu cepat pulang nanti ya.. kamu harus ikut dengan kakak kamu pulang kerumahnya. Temani dia sampai bisa di tinggal sendirian lagi. "
Lama tidak terdengar ada suara dari sebrang sana hingga bapak Bajra mengira sambungan telponnya terputus saat itu. Tapi saat di lihat masih terhubung.
" Dek.. "
" Pak.. aku takut.. aku akan selalu terbayang kak Bagas kalau tinggal disana. Aku tidak kuat bila ada di sana pak.. apa kakak tidak mau tinggal di tempat lain saja dulu. Aku yang hanya adik iparnya saja sudah merasa beban untuk kembali kerumah itu. Terlalu banyak kenangan disana. Bagaimana bisa kakak tetap tinggal disana nanti. Aku takut kesehatan kakak terganggu saat tinggal disana. Mungkin saat dia bersama kita dia bisa kuat. Tapi bila masuk kerumah itu apa mungkin bisa pak? Aku takut. "
Bapak Bajra paham akan apa yang di maksud oleh Sekar. Dia juga merasa ketakutan akan hal itu. Maka dia menyarankan Sekar ikut. Tapi ternyata Sekar juga merasa cemas saat ini. Jadi sekarang bapak Bajra mulai ragu untuk membiarkan Emi kembali ketempat itu. Semua perkataan Sekar memang masuk akal.
" Bagaimana cara mencegah Emi kembali? "
__ADS_1