Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Memulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Emi sudah berhari hari ada di rumah orang tuanya. Dia belum juga bisa kembali seperti sebelumnya. Emi masih sering melamun dan tatapan dia masih kosong. Seolah hanya badan kasarnya yang ada saat ini bersama orang tuanya. Dan ini membuat khawatir orang tua Emi.


" Bu... apa yang harus kita lakukan saat ini? Aku lihat semakin hari Emi semakin sulit kita ajak komunikasi. Apa yang bisa kita lakukan saat ini bu? Aku sangat cemas dengan keadaan putri kita. Belum lagi aku dengar gosip buruk mengenai dirinya di luar sana. "


" Bapak bicara apa? aku tidak mendengar gosip apapun tentang Emi saat ini. "


" Di kota, sudah banyak yang membicarakan Emi yang tidak mengurus Bagas dengan baik. Dan menghentikan pengobatan Bagas di tengah jalan. Padahal saat itu memang sudah tidak ada harapan lagi. Bagas juga memohon agar dia tidak di sakiti lagi dengan pongobatan itu. Emi dan Bagas sepakat melewati semua itu bersama. Tapi perkataan orang orang seolah membuat Emi menjadi pelaku dalam meninggalnya Bagas. "


Ibu Emi hanya mengelus dadanya. Dia tau seberapa besar anaknya mencintai Bagas. Bahkan sampai rela melakukan segala hal untuk membuat Bagas bisa sembuh. Bahkan dulu saat dirinya menyuruh Emi menyerah saja pada Bagas Emi langsung marah pada dirinya.


" Pak.. aku takut Emi tau hal ini nanti. Dan dia akan semakin terpuruk. Bagaimana ya caranya agar Emi tidak mendengar berita ini pak? "


Bapak Bajra menghela napasnya. Dia bingung harus melakukan apa lagi. Karena dia ingin meminta saran istrinya tapi istrinya malah melempar lagi masalah ini pada dia. Sebagai orang tua, bapak Bajra ingin anaknya mendapat yang terbaik dan bisa melanjutkan hidupnya lagi. Tapi keadaan Emi sangat tidak mendukung untuk semua yang akan terjadi.


Bila sampai Emi mendengar gosip mengenai dirinya itu, bapak Bajra yakin kalau keadaan tidak akan baik baik saja untuk Emi nanti. Tapi mau seperti apapun bapak Bajra harus bisa menyakinkan anaknya untuk bangkit kembali dan memulai kehidupan yang baru lagi.


" Mi... kamu sedang memikirkan apa? "


Bapak Bajra mencari Emi yang sedang duduk sendirian di taman. Tatapan matanya masih saja kosong dan pandangannya menerawang sangat jauh.

__ADS_1


Emi tidak merespons apapun yang di katakan oleh bapaknya karena dia tenggelam di dalam pikirannya.


*pluk*


Bapak Bajra menepuk bahu anaknya untuk menyadarkan Emi kalau dia ada sekarang di sampingnya.


" Eh.. bapak.. kenapa? "


" Kamu terlalu larut dalam pikiran kamu nak.. Seharusnya kamu tidak larut dalam kesedihan kamu ini. Bapak tau kamu sangat sedih karena Bagas sudah meninggalkan kita. Tapi kamu tidak boleh larut dalam kesedihan kamu ini. Kamu ingat pesan Bagas dulu? dia ingin kamu bisa menjalani kehidupan tanpa dia nantinya. Bila kamy seperti ini. Apa kamu pikir dia akan tenang di sana? Dia pasti sangat menghawatirkan kamu nak. "


" Aku belm bisa menerima semua ini pak.. kenapa disaat aku ingin melewati waktu bersama, dia langsung meninggalkan aku begitu. Apa aku tidak bisa memegang tangan dia lebih lama lagi? aku masih ingin menggenggam tangannya dan bersandar di bahunya pak.. Tapi saat ini aku sudah tidak bisa melakukan hal itu lagi. "


Bapak Bajra mengelus bahu anaknya dan menuntun anaknya agar merebahkan kepalanya di pangkuan Bapak Bajra.


Memang semua yang di katakan bapaknya adalah benar. Dia tidak akan pernah cukup untuk bersama Bagas. Tapi saat ini dia perlu waktu lebih lama lagi untuk menyesuaikan diri. Banyak kenangan yang selalu membuat dia ingat akan Bagas. Jadi ini akan sangat sulit untuk dia bisa melanjutkan semuanya.


" Pak.. kemana pun aku pergi, aku selalu melihat Bagas pak. Rumah sakit, rumah, semua tempat yang pernah kami datangi membuat aku semakin merasa kehilangan dirinya. "


Bapak Bajra berusaha untuk memikirkan bagaimana cara agar anaknya tidak terbayang bayang Bagas lagi di tempat ini. Akhirnya Bapak Bajra menghubungi saudaranya yang berkerja di rumah sakit untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan di tempat itu.

__ADS_1


Setelah mendapat kepastian, bapak Bajra kembali mendekati Emi untuk membicarakan hal ini.


" Mi.. bapak bukan mau mengusir kamu. Tapi, bapak ingin kamu memulihkan diri dulu. "


" Maksud bapak apa? "


" Apa kamu mau berkerja di luar daerah? di rumah sakit tempat paman kamu berkerja. Disana membuka lowongan pekerjaan. Kamu bisa memulai dari sana dulu. Saat kamu bisa menerima keadaan. Kamu bisa kembali lagi ketempat ini. "


" Tapi pak... bagaimana dengan tanggung jawab aku di tempat ini. Bagaimana pun aku masih istri Bagas dan menantu dari keluarga itu. Aku tidak bisa lepas dari kehidupan bermasyarakat. "


" Jangan pikirkan mereka lagi Mi.. kehidupan kamu tidak akan baik baik saja di tempat itu. Apalagi setelah kita mempermalukan mereka di depan umum. Bapak yakin kalau Adi akan melakukan banyak hal untuk menyakiti kamu. "


Emi sudah siap untuk menghadapi Adi. Hanya yang belum siap dia hadapi hanya kenangan Bagas. Untuk masalah Adi dan keluarganya Emi sangat siap untuk melawan mereka. Karena saat dia memutuskan untuk melawan Adi, Emi sudah memantapkan hati untuk menerima konsekuensinya.


" Pak... untuk keluarga itu, aku sangat siap untuk melawan mereka. Aku tidak akan diam lagi seperti dulu pada mereka semua. Yang belum siap aku hadapi hanya kenangan Bagas saja. Bahkan aku sangat siap untuk menghadapi ibu mertua aku itu. Aku ingin sekali mengatakan pada dirinya kalau aku tidak sama dengan dia. Aku tidak pernah menyerah kepada sakit Bagas dan berjuang hingga akhir bersama Bagas. Tidak seperti dirinya yang egois memikirkan kepentingan dia saja. Dan mengabaikan anak kandungnya sendiri. "


Bapak Bajra akhirnya melihat ada semangat hidup di mata Emi saat membicarakan keluarga Bagas. Walaupun di mata Emi terlihat kemarahan dan kebencian disana. Tapi itu lebih baik dari pada tatapan kosong terus yang di tunjukan oleh Emi selama ini.


" Bapak takut kamu terluka dan tersakiti nanti Mi... bapak terlalu capek mendengar hinaan mereka untuk kamu. Jadi bisakah kamu menghindar saja untuk saat ini? "

__ADS_1


Emi menatap bapak nya marah. Kemarahan yang Emi rasakan saat ini sudah sangat lama dia pendam jadi dia tidak akan mundur lagi.


" Aku siap menghadapi apapun kedepannya. Karena aku akan membuat mereka menyesal karena sudah menyianyiakan Bagas seperti itu. ".


__ADS_2