
Perkataan bapak Bajra yang terakhir itu membuat jantung Emi terasa berhenti berdetak. Dia merasa bapaknya saat ini membandingkan dirinya denga ibu dari Bagas. Ibu mertuanya yang sangat buruk itu.
" Apa aku layak di bandingkan dengan ibu mertua ku? Apa aku seburuk itu sampai bapak saat ini malah membandingkan aku dengan mertua yang begitu buruk itu? Aku tidak akan mungkin meninggalkan anak aku seperti yang dia lakukan saat ini. Bapak terlalu merendahkan diri aku sekarang "
Emi menanggapi perkataan bapaknya dengan emosi yang sangat tinggi. Sedangkan bapak Bajra tau anaknya ini sedang dalam suasana hati yang tidak bisa di ajak bicara baik baik lagi. Jadi dia berusaha untuk mengalah dulu.
" Baiklah.. Bapak tau kamu tidak terima dengan apa yang bapak bilang tadi. Tapi nanti bila kamu sudah agak tenang, coba kamu pikirkan lagi apa yang bapak katakan pada kamu tadi itu benar atau tidak. "
Emi tidak ada menjawab apapun. Dia merasa sangat marah dan tidak di mengerti oleh bapaknya sendiri. Biasanya bapaknya selalu mendukung dia dalam segala hal dan tidak pernah mengatakan sesuatu yang membuat dia sakit hati seperti sekarang.
Tapi kali ini bapaknya tidak mendukung dia sama sekali. Dia merasa bapaknya mulai egois karena memikirkan Emi harus menjalani kehidupan bersama dengan orang lain lagi nanti saat Bagas tidak ada.
Padahal semua yang Emi pikirakan itu tidak benar sama sekali. Semua itu hanya pikiran Emi saja. Yang sebenarnya terjadi adalah bapak Bajra takut bila anak yang tidak berdosa itu tidak mendapatkan kehidupan yang layak nantinya.
Emi yang belum bisa menerima kenyataan tentang Bagas, dia tidak akan bisa merawat anak bayi di kehidupannya nanti. Selain untuk kebaikan Emi. Ini juga untuk bayi itu. Bila Emi menunggu situasi tenang dulu, dan dia memprogram bayi itu setelah Bagas tidak ada dan suasana sudah lebih baik. Emi akan di bicarakan oleh banyak orang. Karena hamil tanpa ada ayah dari bayi yang di kandung.
Semua hal itu tidak pernah di pikirkan Emi. Emi hanya melakukan segalanya berdasarkan emosi saja.
__ADS_1
Begitu juga sebelumnya mengenai Bagas. Banyak yang sudah menyarankan Emi menyerah saja dalam pengobatan Bagas karena itu tidak baik untuk Bagas dan mentalnya nanti. Tapi Emi masih kekeh ingin melanjutkan segalnya dengan harapan Bagas sembuh dan kembali seperti sebelumnya lagi.
Bapak Bajra mendukung semua itu karena tidak mau anaknya nanti menyesal karena tidak melakukan semua yang terbaik untuk suaminya. Karna Bapak Bajra masih berpikir nanti siapa tau ada keajaiban. Selain itu, sebagai istri Emi memang tidak boleh menyerah begitu saja tanpa adanya usaha untuk menyembuhkan suaminya.
Bapak Bajra mendukung semua itu. Tapi saat melihat kondisi Bagas yang semakin memburuk setiap menjalani pengobatannya, bapak Bajra ingin menghentikan Emi untuk berusaha lagi. Karena sebelumnya suatu keajaiban Bagas bisa berjalan lagi setelah oprasi besar yang dia lakukan. Dan setelah menjalani kemo, kondisi Bagas malah semakin memburuk dan sekarang kembali lumpuh seperti itu.
Bapak Bajra hanya merasa kasihan pada Bagas yang harus menderita seperti itu lagi setelah dia bisa merasakan bagaimana dia bisa sembuh dan berjalan setelah sakit yang dia rasakan sebelumnya.
Dan itu semua di pikirkan oleh bapak Bajra tanpa Emi tau. Emi masih memilih egonya yang sangat tinggi dengan alasan cinta dan sayangnya pada Bagas. Tanpa tau itu menyakiti Bagas.
Saat ini Emi kembali melakukan hal seperti itu dan akan mengorbankan anak yang tidak berdosa. Jadi bapak Bajra jelas menolak keras untuk hal ini. Dia tidak perduli bila anaknya nanti marah pada dirinya atau bagaimana. Yang bapak Bajra pikirkan kedepannya akan seperti apa. Hanya itu.
Sedangkan di meja makan, bapak Bajra dan Sekar hanya duduk diam saja. Niat mereka sarapan bersama sebelum Sekar berngkat pulang menjadi gagal karena situasi yang tidak memungkinkan tadi.
" Pak... kenpa kakak hanya memikirkan dirinya saja ya? Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana resiko yang akan dia terima bila dia melakuka semua itu. Kakak terlalu bodoh sekarang ini. Apa karena dia terlalu terbebani mengenai penyakit kakak Bagas ya.... "
Sekar mencoba mengeluarkan unek uneknya yang sedari tadi di tahan saat melihat apa yang bapak dan kakaknya bicarakan sebelumnya. Sekar merasa gemas dengan pemikiran kakaknya yang sangat pendek dan tidak seperti sebelumnya lagi.
__ADS_1
Saat ini Emi selalu menanggapi setiap masalah dengan emosi saja. Dia tidak penah bisa memikirkan dengan baik segala resiko yang akan dia hadapi kedepannya.
" Biarkan apa yang kakak kamu lakukan sekarang. Kita hanya bisa mengingatkan saja tenatang apa resiko yang akan dia hadapi kedepannya. Kamu jangan bicarakan hal ini pada ibu kamu ya.. Bila dia sampai tau akan hal ini, dia pasti akan datang kemari dan memarahi kakak kamu itu. Bapak yakin dia akan membuat suasana akan semakin buruk bila dia datang. Bukan hanya Emi yang akan sakit hati dengan ibunya nanti. Tapi Bagas juga. Bapak hanya tidak mau menambah beban Bagas saat ini. Jadi biarlah Emi berpikir dulu sendiri."
Apa yang di katakan bapaknya Sekar turuti. Dia juga memiliki pendapat yang sama. Bila sampai ibunya tau masalah ini, bukan menyelesaikan maslah. Tapi yang ada akan menambah masalah untuk mereka nanti.
Karena ibunya selalu memikirkan segala sesuatu itu demi kebaikan anaknya saja. Dan mengeluarkan kata kata tanpa ada di saring sedikit pun. Maka dari itu sering kali Emi dan Sekar itu berselisih pendapat bersama ibunya. Padahal tujuan ibunya itu baik. Hanya terkadang tidak memikirkan perasaan anaknya dalam memberikan saran.
" Aku tidak akan mengatakan apapun pada ibu pak... Tanang saja. Masalah di rumah ini biar saja dulu. Nanti bila kakak sendiri yang sudah siap bercerita pada ibu, baru aku akan bantu menjelaskan. "
" Kamu benar. Sekarang biarkan Emi begini dulu. Nanti teman dia di rumah sakit juga pasti akan menahan dia untuk melakukan prigram ini. Selain karena dia tidak berkerja lagi saat ini. Emi juga masih harus mengurusi sakit Bagas yang masih sangat berat. Teman Emi tidak akan menyarankan hal ini di lakukan. "
Sekar hanya menganggukan kepalanya untuk menanggapi perkataan bapak Bajra.
Sedangkan di dalam kamar, Emi sedang menyiapkan Bagas untuk periksa di rumah sakit. Dia tidak ada menunjukan ekspersi sedih dan marahnya di depan Bagas. Dia hanya menunjukan wajah yang gembira dan semangatnya untuk melakukan pemeriksaan kali ini.
" Yank,.. apa aku salah meminta kamu melakukan program ini? kenapa aku merasa ini akan menjadi beban untuk kamu ya.. "
__ADS_1
Emi melotot mendengar apa yang Bagas katakan. Apa tadi Bagas sempat mendengar apa yang dia bicarakan dengan bapaknya?