
Bagas hari itu sangat maja dan cerewet sekali hingga Emi dan Sekar sangat kerepotan saat mengurus dirinya. Sedangkan Bapak Bajra, dia akan sampai di rumah Emi besok. Karena dia tidak bisa tiba tiba saja pergi dari rumah tanpa mempersiapkan apapun.
Emi melihat adiknya yang sudah telihat kelelahan mengurus Bagas itu. Lalu menyuruh dia untuk beristirahat saja di dalam kamar.
" Dek... istirahat saja sana... Kamu juga harus mengemasi barang kamu untuk di bawa pulang besok kan... "
" Aku akan pulang lusa kak... besok aku akan menemai bapak disini untuk merawat kak Bagas. Besok kakak jadi ke rumah sakit kan untuk melihat hasilnya? Kakak istirahatlah.. kakak butuh istirahat yang banyak saat ini. "
Sekar memilih menemani Emi di kamar itu untuk menjaga Bagas. Jadi mereka akan tidur bertiga malam itu.
Karena terlalu capek, Emi yang baru saja menaruh kepalanya di bantal langsung tertidur. Sekar yang melihat hal itu merasa semakin kasihan kepada Emi. Sebegitu lelahnya dia sudah mengurus kakak iparnya.
" Kak... aku kasihan melihat kakak yang seperti sekarang ini. Tapi aku juga tidak berani ikut campur dalam masalah kakak Bagas. Bila kakak memutuskan sendiri untuk berhenti nanti, aku yakin bukan hanya aku, tapi ibu juga bersyukur akan hal ini. Karena kami sangat peduli padamu kak... Semakin lama kau mengurus kakak Bagas dirumah ini dalam keadaan sakit. Semakin sakit nanti saat kau do tinggal oleh kakak Bagas. Mungkin saja nanti kau sendiri yang tidak akan bisa tinggal di rumah ini lagi. Karena di temapat ini begitu banyak kenangan kau dengan kakak Bagas. "
Sekar hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya saja. Dia tidak bisa berkata terus terang pada Emi. Karena ini akan menyakiti kakaknya.
Emi sendiri dia merasa sudah sangat lelah saat ini. Kadang kala dia ingin mengabaikan segalanya. Tapi bila melihat bagaimana Bagas saat itu. Semua lelahnya langsung berusaha di tahan. Karena dia sadar kalau sakit yang di rasakan olah Bagas itu sangat besar dan berat di tanggung oleh dirinya.
Keesokan paginya, Bapak Bajra sudah sampai di rumah Emi dan di sambut hangat oleh Sekar. Sekar memang sangat dekat dengan bapaknya. Saat melihat bapaknya datang dia langsung memeluk bapaknya dan tidak mau melepaskannya. Bahkan Sekar tidak mau duduk berjauhan dari bapaknya itu.
" Bagaimana keadaan kakak kamu? Kenapa hanya kamu saja yang menyambut bapak? "
" Kakak sedang mandi. Dia dari semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kakak Bagas kesakitan. "
" Bagaimana kondisi Bagas saat ini dek? "
Sekar lalu menceritakan keadaan Bagas sesuai yang dia ketahui. Dan bapak Bajra hanya mendengarkan saja tanpa ada berkomentar apapun.
__ADS_1
Emi yang sudah selesai mandi, dan bersiap. Dia memeriksa Bagas apa Bagas terbangun lagi atau tidak. Tapi ternyata dia tidak bangun dan Emi bisa pergi meninggalkannya sebentar saja.
" Aku pergi sebentar ya yank... sepertinya bapak sudah datang. Kamu sama bapak dan Sekar dulu di rumah ya... Aku hanya sebentar. "
Emi berpamitan kepada Bagas walau dia dalam keadaan masih tertidur. Saat dia keluar dari kamar Emi melihat bapaknya sudah ada di ruang tamu sedang duduk dengan adiknya Sekar.
" Pak..."
Emi lalu menghamburkan pelukanya kepada bapaknya. Dia tidak kuat menahan tangisanya lagi. Dia menangis terisak di pelukan laki laki yang sudah menjadi cinta pertamanya itu.
Sekar melihat kakaknya menangis, dia akhirnya ikut menangis juga. Tidak ada kata yang di ucapkan. Hanya tangisan saja yang terdengar disana dari mereka bertiga.
" Sudah... Sudah... baju bapak ini isi make up kamu saja loh.. lihat ini. Semua bedak kamu menempel di baju bapak. "
Emi lalu memukul dada bapaknya karena candaan yang di lontarkan bapaknya itu. Emi walau sudah menikah dan umur sudah tua, tapi dia tetap akan bertingkah seperti anak anak di hadapan bapaknya.
" Kamu mau kemana?"
" Kakak mau kerumah sakit untuk melihat hasil pemeriksaan kakak Bagas pak...Bapak di rumah sama aku mengurus kak Bagas ya. . "
Sekar menjawab saat Emi belum bisa menjawab pertanyaan bapaknya karena masih berusaha mengatur napasnya karena tangisan dia yang tidak bisa di hentikan.
" Bapak... makan.. du.. lu nan.. ti.. "
Dengan terbata bata Emi mengatakan hal itu pada Bapaknya. Dan di balas dengan pelukan hangat dari bapaknya kepada Emi.
" Nanti hati hati di jalan. Bagas akan bapak rawat dengan baik. kamu tenang lah. "
__ADS_1
Emi menganggukan kepala dan pergi meninggalkan mereka semua untuk kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, setelah mendaftar dan mengantre, dia akhirnya bisa bertemu dengan dokter spesialis yang menangani Bagas. Dia mau melihat semua hasil pemeriksaan Bagas waktu ini dan dia ingin memastikan lagi tindakan yang akan dia ambil kedepannya.
Berkali kali Emi menarik napas sebelum masuk kedalam ruangan itu. Dia masih mempersiapkan dirinya untuk mendengar apa yang akan di katakan oleh dokter nanti.
" Aku kuat. Aku bisa. "
Semangat itu terus yang di ucapkan Emi sebelum membuka pintu ruangan dokter itu.
" Selamat siang dok.. "
" Selamat siang Mi... ada apa? "
" Dok.. begini, saay datang kali ini ingin melihat hasil dari pemeriksaan Bagas waktu ini."
" Apa Bagas mengalami penurunan dalam kesehatannya? apa dia mengalami sesak napas? "
Emi melotot mendengar hal itu. Dia tidak menyangka kalau dokter akan menebak semuanya dengan benar. Sebenarnya ada apa dengan kondisi suaminya sekarang ini.
" Iya dok... kemarin dia tiba tiba sesak napas. Dan seperti saran dokter sebelumnya, saya sudah menyediakan O2 di rumah. Jadi itu saya gunakan kemarin. "
" Mi... bawa Bagas kemari untuk periksa lagi ya.. kita harus cek lagi paru paru Bagas nanti. Hasil dari pemeriksaan waktu ini, di lihat kalau paru paru Bagas sudah di gerogoti oleh sel kanker itu. Ini sudah komplikasi Mi... maka dari itu sebelumnya saya menyarankan kalau kamu sebaiknya iklas saja. "
Bagaikan di sambar petir saat itu Emi mendengar semua perkataan dokter tentang kesehatan Bagas. Dia sudah menyiapkan diri sebelumnya tapi tetap saja ternyata tidak bisa mendengar berita ini secara langsung.
" Mi... kamu baik baik saja? "
__ADS_1
Dokter Adit melihat wajah Emi yang sudah pucat setelah dia menyampaikan semua kabar itu. Tapi memang ini wajib di ketahui oleh keluarga pasien. Hanya saja, sebelumnya Emi yang tidak mau mengetahui semua hasil pemeriksaan Bagas.