
Semenjak terakhir kali Emi menghubungi ibu Ayu, Emi sudah tidak bisa lagi menghubungi mertuanya itu. Emi sudah berusaha berulang kali menghubunginya tapi tidak bisa.
Saat Bagas terlihat menanyakan ibunya, Emi selalu mengalihkan pembicaraan. Kemajuan Bagas dalam pengobatan dan terapinya juga sangat baik. Bahkan selang makan Bagas sudah bisa di lepas oleh dokter. Karena saat ini Bagas sudah mulai belajar untuk mengunyah dan berbicara.
Walaupun suara Bagas belum begitu jelas, Emi dapat mengerti akan hal itu. Dan itu sebabnya dia ingin menghubungi ibu Ayu. Untuk memberikan kabar mengenai perkembangan Bagas.
Tetapi, Emi selalu gagal dalam menghubungi mertuanya itu. Sehingga dia juga harus berbohong kepada Bagas. Dengan mengatakan kalau ibunya tidak bisa menjenguk lagi karena sedang sibuk di rumahnya.
Bagas tidak mudah Emi bohongi. Dia tau kalau ibunya tidak akan lagi datang menemui dia. Jadi, Bagas tidak pernah lagi membahas mengenai ibunya itu.
Luka di hati Bagas semakin dalam lagi karena ulah ibunya itu. Seharusnya ibunya tidak datang dengan memberikan Bagas harapan bila dia juga tidak bisa menepati janjinya.
" Bu... seharusnya ibu tidak melakukan hal ini. Bila waktu itu ibu tidak datang dan meminta maaf. Aku tidak akan merasakan sakit seperti saat ini lagi. Sakit aku yang lama sudah bisa aku terima. Aku sadar hanya istri aku yang aku punya. Tapi ibu datang dan memberikan aku harapan. Saat aku berharap akan kebahagiaan itu, ibu langsung merampasnya kembali dari aku. Luka kali ini sangat sakit rasanya. Aku tidak tau lagi harus bagaimana dalam menyikapi segalanya. Saat ini hanya Emi yang menjadi penyemangat aku dan dukungan aku untuk tetap berjuang. "
Bagas melamun di dalam kamarnya sedangkan Emi berada di dapur untuk membuatkan Bagas makanan.
Bohong bila di katakan Emi saat ini baik baik saja hanya dengan Bagas besama dirinya di rumah itu. Tapi ini lebih baik daripada dia kehilangan Bagas. Emi sering kali merasakan kelelahan dalam menjalani harinya selama merawat Bagas. Tapi Emi berusaha kuat dan tegar dalam menjalani semua itu.
__ADS_1
Belum lagi masalah yang datang kepada dia secara bertubi tubi membuat dia menjadi semakin rapuh dan ingin bersadar. Tapi sandaran dirinya tidak ada. Saat ini Emi hanya bisa memendam segalanya sendiri saja.
" Aku tidak menyangka kalau ibu akan melakukan ini lagi. Aku pikir ibu sungguh sungguh dalam meminta maaf sebelumnya. Tapi ternyata ibu hanya membuat masalah lebih besar lagi. Aku tau Bagas sudah mengetahui semuanya. Tapi dia hanya diam saja. Kami seperti membohongi diri kami sendiri saat ini. Kami tau keadaan satu sama lain tapi selalu berkata kami baik baik saja. "
Emi masih memikirkan semua masalah yang membebani dirinya. Walaupun saat ini Bagas sudah menunjukan banyak kemajuan, Tapi Emi tetap selalu waspada dengan segala kondisi Bagas. Karena tiba tiba Bagas bisa saja langsung kondisinya menurun. Itu yang membuat pikiran Emu tidak pernah tenang.
" Beban yang aku rasakan saat ini tidak bisa aku bagi pada siapapun. Siapa yang bisa aku ajak bercerita tentang apa yang aku rasakan dan mengeluh akan lelah yang aku rasakan. Aku sangat malu bila harus membebani keluarga aku lagi. Jadi kemana aku harus melangkag saat ini? "
Semua yang Emi alami ini dan beban yang Emi rasakan itu di mulai saat Bagas masih di rawat di rumah sakit saat dia mengalami panas tinggi. Dan saat dia akan pulang ke rumah untuk mengambil pakaian di rumah untuk Bagas, Emi melihat rumahnya berantakan dan pintu sudah di jebol. Jelas hal itu membuktikan rumahnya di jebol oleh pencuri.
Emi yang melihat rumahnya berantakan dan semua berserakan di lantai. Langsung merosot duduk di bawah. Dia tindak menyangka kalau cobaan bertubi tubi menghampiri dirinya. Suami masih di rawat di rumah sakit dan sekarang rumahnya di masuki pencuri.
" Kenapa jadi begini? cobaan selalu datang bersamaan gini.. apa lagi nanti yang akan terjadi? apa aku bisa menghadapi semua ini? "
Emi ingin menyerah saat mendapati cobaaan yang bertubi tubi datang pada dirinya. Dia merasa tidak kuat untuk terus bertahan. Dan merawat suaminya yang sakit. Tapi saat melihat foto pernikahannya dengan Bagas, senyum Bagas di foto itu menguatkan dirinya. Dia harus bisa bertahan dengan semuanya.
" Baiklah. aku tidak akan menyerah dengan mudah. Lagi pula ini hanya perlu di rapikan saja. Tidak ada yang hilang saat ini. Aku hanya perlu memastikan kesehatan Bagas saat ini. Dan untuk rumah, pelan pelan akan aku perbaiki. "
__ADS_1
Semangat Emi muncul saat itu, tapi kembali hilang saat mengetahui ibu mertuanya kembali membuat ulah dan seolah dia di tinggalkan oleh semua orang. Bagas juga seperti berpura pura bahagia. Jadi Emi semakin merasa tertekan.
Selesai dengan acara masaknya, Emi kembali kedalam kamar untuk memberikan makanan kepada Bagas dan membersihkan badannya.
" k.. hu.. he.. yah.? "
Pertanyaan Bagas yang masih terbata bata di dengar Emi, tetap saja Emi mengerti. Bagas menanyakan *apa dia lelah*. Sekuat tenaga Emi menahan air matanya di depan Bagas agar tidak tumpah. Tapi elusan tangan Bagas langsung membuat Emi menumpahkan Air matanya.
Air mata bahagia dan kesedihan keliar begitu saja dari mata Emi. Dia sangat bahagia saat tau tangan Bagas sudah bisa di gerakan lagi. Tapi dia merasa sedih karena pertanyaan Bagas seolah ingin membagi beban dirinya.
" Gas... "
Bagas tetap mengelus tangan Emi dengan sentuhan kecil. Jadi Emi semakin menangis. Dia menumpahkan segala kesedihan di hatinya kepada Bagas saat itu.
" Aku tau kamu sangat lelah dengan semuanya Sayang. Bila memang kamu ingin menyerah, silakan saja. Aku tidak akan apa apa. Kamu berhak memilih untuk bahagia tanpa beban. Aku sadar hanya beban untuk kamu. Tapi bisakah aku egois dan berharap kamu tetap bertahan bersama aku walau kamu kesakitan? apakah kamu mampu sayang? Bila memang tidak, aku siap untuk meninggalkan semua saat ini dan memilih berhenti berjuang. "
Emi mulai sadar dengan apa yang dia lakukan. Dan dia tidak mau membebani Bagas lagi. Jadi secepat mungkin dia merubah tangisan kesedihannya menjadi tangisan kebahagiaan di depan Bagas.
__ADS_1
" Kamu sudah bisa menggerakan tangan kamu sayang... kamu sangat hebat.. kita akan berjuang lebih keras lagi ya... "