Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Penyesalan Tiada Guna


__ADS_3

Ibu Ayu semenjak meninggalnya Bagas menjadi lebih sering murung dan melamun sendiri. Dia tidak bisa menutupi kesedihan yang dia rasakan lagi di hadapan suami dan anaknya.


" Semua perkatan bapak Bajra memang benar. Aku telah lalai sebagai seorang ibu. Aku menukar segalanya demi kebahagiaan diriku. Bahkan anak yang seharusnya aku jaga dan aku lindungi aku abaikan hanya demi kehidupan aku yang tenang dan bahagia. Tapi saat ini kebahagiaan dan ketenangan yang aku inginkan tidak bisa aku dapatkan semenjak Bagas meninggalkan aku. "


Ibu Ayu terus termenung sendirian seperti itu sampai tidak menyadari suaminya datang dan ingin di layani kehutuhannya.


" Apa yang kau pikirkan? Apa kau sadar sudah mengabaikan aku selama ini? Mana kewajiban kamu melayani aku? Kau asik dengan hayalan mu itu. Apa kau pikir aku bisa kau abaikan begini? "


" Maaf pa... maaf.. Aku hanya memikirkan kesalahan yang sudah aku lakukan saja. Aku merasa bersalah kepada Bagas selama ini "


Suami Ibu Ayu yang bernama Wisana itu semakin marah mendengar alasan istrinya yang tidak melayani dia karena rasa bersalahnya pada anak tirinya itu.


" Rasa bersalahmu saat ini tidak akan bisa menebus apapun. Kau harusnya sadar akan hal itu. Bukankah saat Bagas hidup kau sendiri yang memilih mengabaikan dia? Sekarang untuk apa kau menangis sedih begini? Sudah tidak beguna air matamu itu. Dan kau juga mengabaikan kami yang masih ada bersama mu. Bila ini berlanjut terus, jangan salahkan aku bila aku mencari kesenangan di luar sana. "


Wajah ibu Ayu pias mendengar apa yang di katakan oleh suaminya. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan mementingkan nafsu saja saat ini. Dia sama sekali tidak ada rasa prihatin dan berduka atas meninggalnya anak kandung dari istrinya itu.


" Pa... apa selama ini papa sama sekali tidak pernah menganggap Bagas ada? apa selama ini papa tidak pernah menyayangi Bagas? Aku menikah dengan kamu membawa anak pa... tapi kenapa kamu seolah tidak menerima dia dalam pernikahan kita.? "

__ADS_1


Rasa marah bapak Wisana semakin besar karena mendengar perkataan istrinya. Keinginan yang sebelumnya sudah meninggi seketika hilang karena pertengkaran mereka. Tanpa perasaan bapak Wisana mencengram rahang ibu Ayu dengan kuat dan melayangkan tamparan keras dua kali kepadanya.


" Dengar saat aku menikahi kau dulu, aku meminta mu menyayangi anakku selayaknya anak kandung. Aku tidak pernah mengatakan akan menerima anak mu juga dalam pernikahan kita. Aku hanya mencari istri untuk menjadi ibu anakku. Aku tidak ada mengatakan aku akan menjadi bapak untuk anakmu juga. Ingat apa yang selama ini terjadi? Bukankah kau sendiri yang sudah mengabaikan dia hanya demi kebahagiaan mu? Kau sendiri yang tidak mau menerima dia dalam rumah tangga kita. Bahkan kau yang mengirim dia untuk tinggal di asrama agar kau bisa fokus menyayangi Adi. Apa aku salah dalam hal ini? "


Ibu Ayu semakin sakit saat mendengar semua perkataan suaminya. Dia seolah di ingatkan terus mengenai kesalahan dia pada Bagas selama ini.


Betapa buruknya dia sebelumnya pada Bagas. Hingga dia memilih anak orang lain menjadi anaknya daripada mengurus Bagas yang anak kandungnya sendiri.


Setelah menampar dan berkata kasar pada ibu Ayu, Bapak Wisana meninggalkan rumah lagi karena merasa muak dengan tingkah laku istrinya. Dia merasa ibu Ayu sudah tidak bisa menjadibistri yang baik lagi untuk dirinya. Karena semua kewajiban ibu Ayu sebagai istri mulai tidak di jalankan. Jadi bapak Wisana menjadikan alasan ini untuk membenarkan sikap dia yang mencari selingkuhan di luar sana.


Tapi kali ini sudah berbeda. Dia melihat ibu Ayu sudah mulai melawan dirinya semenjak pertemuan ibu Ayu dengan Bagas tempo lalu. Jadi bapak Wisana mulai menunjukan sikap buruknya pada ibu Ayu agar dia tidak berani melawan lagi. Tapi semakin lama ibu Ayu semakin dingin dalam hubungan suami istri dengan nya. Hingga sekarang secara terang terangan bapak Wisana mengatakan akan mencari selingkuhan di luar sana.


Ibu Ayu yang berada di rumah saat ini sedang menangis pilu setelah kepergian suaminya. Suami yang dia pikir orang baik dan bisa menjaga dan melindungi dirinya ternyata hanya penjahat yang memakai topeng malaikat saja.


Dia sudah tertipu sangat lama dengan suami nya itu. Hingga dirinya mengabaikan Bagas dan menggantungkan hidupnya sepenuhnya pada Bapak Wisana.


" Maaf Gas.. maaf... ibu ternyata salah memilih. Ibu pikir ibu bisa bahagia di hari tua ibu. Tapi ternyata hanya penderitaan yang saat ini ibu temui. Ibu mohob Gas... jagan terlalu marah pada ibu nak... Saat ini ibu sudah tidak bisa tenang lagi saat kepergian kamu. "

__ADS_1


Ibu Ayu menangis sambil memukul mukul dadanya yang terasa sesak. Dia tidak bisa menghentikan tangisannya karena penyesalan dia terlalu dalam pada Bagas.


" Benar kata Emi, ibu akan merasakan penyesalan yang besar setelah kamu pergi Gas. Ibu sakit sekali saat mengingat semua yang sudah ibu lakukan pada kamu. Padahal sebelumnya ibu sudah di berikan kesempatan oleh Tuhan agar ibu bisa menebus kesalahan ibu pada kamu. Tapi ibu malah memilih masuk kedalam kesalahan yang lebih dalam lagi. Sekarang apa yang bisa ibu lakukan Gas? ibu menyesal nak... "


Tangisan pilu ibu Ayu tidak ada merubah apapun yang sudah terjadi. Bahkan tidak ada yang simpati pada diriny saat ini. Semua orang seolah menutup mata atas kesedihan yang di rasakan ibu Ayu.


Bahkan Adi bila tau ibunya menangisi Bagas, dia akan sengaja membuat masalah yang akhirnya membuat ibu Ayu harus menutup kesedihan dirinya agar bapak Wisana tidak marah lagi padanya.


Adi yang saat itu berkumpul dengan teman temannya mendapatkan kabar kalau Emi belum juga kembali dari rumah orang tuanya. Bahkan Emi tidak pernah terlihat di sekitar rumah itu. Seolah Emi selalu mengurung diri di dalam kamar saja.


" Wanita itu sampai kapan akan betah di rumah saja. Aku akan buat dia lebih menderita dengan semua gosip yang aku sebarkan selama ini. Aku harap Emi segera keluar dari rumah itu dan melawan semua berita yang aku sebarkan. Sehingga nanti semua rencana yang aku susun bisa terlaksana. "


" Kau sangat kejam kawan. "


" Wanita yang sudah mempermalukan aku begitu tidak akan aku berikan ampun. Dia harus tau kalau melawan aku itu akan sangat sulit. "


Teman teman Adi hany geleng geleng kepala saja mendengar perkataan temannya yang sudah seperti orang tidak waras karena di hina.

__ADS_1


__ADS_2