
Bagas saat itu sudah menyelesaikan syarat agar bisa masuk ruang rawat untuk melakukan kemoterapi pun merasa sangat gelisah.
Emi dengan sabar memegang tangan Bagas untuk menenangkanya. Emi yakin, dia memang harus melakuka yang terbaik dulu untuk Bagas. Dia tidak mau bila nanti dia sampai terlambat membantu Bagas.
Perkataan bapaknya semua benar. Dia harus berusaha semaksimal mungkin dulu agar tidak ada penyesalan lagi.
Saat Bagas sudah masuk kedalam ruang rawat, dia berkali kali bertanya pada Emi tentang bagaimana nanti bila dia kembali tidak bisa melakukan apapun. Dari pertanyaan Bagas, dia terlihat sangat tidak ingin melakukan pengobatan ini. Dia tidak mau kalau nanti merasakan lagi ketidak berdayaan pagi.
" Yank... bila aku nanti di kemo, dan aku kembali seperti sebelumnya bagaimna? "
" Sayang... dengar, mau kamu bagaimana pun, aku tetap akan bersama kamu dan menyayangi kamu selamanya. Aku mau kamu melakukan semua ini untuk upaya kesembuhan kamu. "
Lagi lagi Emi meyakinkan Bagas seperti itu. Tapi tetap saja, rasa tidak berdaya dia sebelumnya itu membuat Bagas merasa ketakutan. Walaupun dia mempunyai orang yang menyayangi dia dan mendukungnya. Tapi tetap saja dia merasakan hancur di dalam.
Selama peroses pemasukan obat untuk kemoterapi, Bagas mulai terlihat melemah dan sampai harus di transfusi darah beberapa kantong sebelum di ijinkan pulang.
" Sayang... apa kamu masih merasa mual? "
Emi menanyakan hal ini saat dia sampai di rumahnya. Dan sudah mengajak Bagas istirahat di kamar. Rasa mual yang dirasakan oleh Bagas, karena efek dari obat kemo yang keras dan itu membuat lidahnya terasa pahit.
__ADS_1
Bahkan Bagas malas untuk berbicara saat dia merasakan hal ini. Dia sama sekali tidak menjawab apa yang Emi katakan. Sampai Emi bilang dia harus makan dulu dan setelah itu minum obat.
Disana emosi Bagas terpancing. Perutnya sedang tidak nyaman dan Emi terlalu ribut di dekatnya. Sehingga dia lepas kendali dan membentak Emi.
" Kamu bisa diam tidak ha? aku pusing mual. kau tidak tau rasanya. Maka nya kau begini. Aku mau tidur saja susah. "
Emi kaget dengan bentakan Bagas yang seperti itu. Tingakah Bagas memang akhir akhir inu sangat sensitif dan tidak bisa di tebak. Kadang dia bersikap seperti anak kecil. Karang memang berlaku layaknya kekasih. Tapi kali ini emosinya benar benar di luar batas sehingga Emi di bentak oleh Bagas.
Sekar yang kebetulan ada di rumah juga, dia mendengar apa yang Bagas katakan pada Kakaknya. Dia marah pada Bagas. Tapi juga memaklumi sikap Bagas yang begitu. Karena memang dari tadi Emi tidak bisa diam dan terus berbicara.
" Kakak kalau dia sakit pasti tidak suka kalau ada yang ribut di dekat dia. Tapi saat dia merawat kakak Bagas, dia malah ribut begini. Kakak Bagas jelas sangat terganggu dengan hal ini. Kak Emi memang kadang kadang dia nih... "
" Aku akan kembali berkerja dulu. Lagian diam di rumah juga aku bingung harus melakukan apa. "
Sekar yang sudah dalam perjalanan menuju tempat kerjanya, dia melihat Adi di jalan jalan sedang bermain judi dengan teman teman nya. Terlihat sekali kalau sikap Adi itu tidak lah baik menjadi seorang saudara.
" Kapan kau akan bertobah sih... kau tidak memperdulikan keluargamu yang sedang sakit. Kau disini menghambur hamburkan uang seenak hati. "
Perkataan Sekar ternyata di dengar oleh salah satu warga disana. Dan ikut berkomentar.
__ADS_1
" Mbak... itu loh.. Adi itu, makin hari makin sering dia berjudi di tempat ini. Dia sepertinya sudah masuk kedalam pergaulan bebas loh... Masalahnya saya dengar dengar orang disana ada yang sudah memakai narkoba. "
Sekar takut dia terseret dalam obrolan itu lebih dalam jadi dia menanggapi dengan senyuman saja dan langsung pergi tanpa pamit pada warga disana.
" Aku tidak seharusnya ikut berurusan dengan mereka. Mau pakai narkoba atau apapun. Itu bukan urusan aku. Yang terpenting saat ini adalah kakak aku. Aku ada di tempat ini memang hanya untuk kakak aku saja. "
Sekar melanjutkan perjalanannya dan mulai ketempat kerjanya lagi. Di rumah Emi, dia saat ini sedang duduk sendiri di halaman belakang sambil melamun. Dia sadar apa yang dia lakukan kepada Bagas terlalu berlebihan. Sehingga Bagas merasa risih dan membentak dirinya.
" Kamu tidak tau Yank... gimana rasanya aku setiap hari harus berpura pura baik baik saja di depan kamu. Menahan segala emosi aku dan hanya menunjuka satu ekspresi yaitu senyuman bahagia. Aku lelah yank... Bolehkah aku mengeluh sekarang? sikap kamu yang tidak mau berkerja sama dengan aku membuat aku tambah lelah menjalani hari hari aku. Belum lagi tuntutan dari tempat kerja aku dan kamu. Kamu mungkin tidak twu, kalau selama ini kamu masih harus menyerahkan laporan ke sekolahan. Dan semua itu aku yang mengerjalannya. Tapi kamu sekarang malah semakin membebani aku dengan sikap kamu yang berubah ubah. Aku merindukan kamu yang dulu yank... Yang begitu lembut pada aku dan menyayangi aku. Setidaknya untuk mengobati rasa lelah aku saja. "
Keluhan demi keluahan hanya bisa Emu takakan seorang diri. Dia tidak ada teman berbagi dan saat ingin mengatakan pada adiknya, Sekar seolah ingin menghidari berada di rumah saat Bagas ada di rumah juga.
Sebab Bagas selalu sensitip dengan semua orang kecuali Emi. Bagas sering pura pura tidur hanya untuk menghindari obrolan dengan orang lain. Itu terjadi saat di rumah sakit dan Bagas masih di rawat inap. Dia akan selalu berpura pura tidur saat teman Emi menjenguknya di ruang rawat.
Dan hal itu bukan rahasia lagi kalau Bagas menghindari interaksi dengan orang lain. Alasan Bagas hanya satu. Tiadak mau mendapat tatapan perihatin dan kasihan dari orang lain. Dia menganggap apa yang orang lain katakan itu adalah angin lalu. Hanya teori tanpa peraktek. Bisa menceramahi dan memberisaran tanpa tau bagaimana yang mebjalani.
Hingga saat ini Bagas seperti masih menyesal telah mengikuti saran istrinya untuk melakukan kemoterapi. Karena sebelumnya dia bisa berjalan sekarang dia kembali harus duduk di kursi roda.
Tapi semua penyesalan itu tidak pernah Bagas sampaikan kepada Emi karena takut melukai hati istrinya. Tapi yang dia lakukan sebenarnya juga menyakiti Emi. Dia memendam segalanya sendiri dan bertingkah tidak baik pada Emi. Semua perikalu Bagas itu memicu kesedihan Emi yang paling dalam.
__ADS_1
" Aku sadar kalau aku ini sudah banyak merepotka kamu. Tapi kenapa kamu ingin aku menjalani pengobatan yang menyakitkan ini. Padahal sebelumnya aku sudah bisa berjalan. Tapi karena pengobatan ini, aku kembali tidak berdaya. "