Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Keputusan Bersama


__ADS_3

Keluar dari ruangan dokter Adit, Emi berjalan lunglai seolah tidak bertenaga. Dia berpegangan di dinding rumah sakit saat berjalan menuju ruangannya. Tapi Emi tidak bisa menemui Bagas dalam keadaan dirinya sedang kacau. Jadi Emi memilih pergi ketaman dan menelpon Sekar untuk meminta pendapat adiknya.


" Halo... Sekar... apa kamu sibuk? "


" Kakak tumben menghubungi aku. Ada apa kak? "


" Aku pingin meminta pendapat kamu soal pengobatan Bagas. "


Mendengar hal ini Sekar langsung memposisikan dirinya dengan benar. Dia tau kalau kakaknya sedang tertekan saat ini dan butuh dukungan.


" Kenpa dengan kak Bagas kak? Bukannya dia baik baik saja? "


Emi lalu menceritakan semua pada Sekar. Dan betapa kagetnya Sekar mengetahui fakta tentang kesehataan Bagas selama ini.


Dia tidak menyangka kalau kakaknya menyembunyikan fakta yang begitu besar dari dia dan keluarga yang lainnya.


" Kak.. apa kakak tidak mau memberitahu bapak dan ibu? Merek juga berhak tau keadaan menantunya. Kak.. tidak semua kakak bisa tanggung sendiri. Kita perlu berbagi dengan orang terdekat kita. Jadi beritahu bapak dan ibu kak.. "


" Aku takut mereka akan sedih nanti. Dan aku mereporkan mereka lagi. "


" Kak... orang tua akan memberika saran terbaik untuk anaknya. Mereka ingin anaknya mendapatkan kebahagiaan. Kak Bagas sudah di anggap anak oleh bapak dan ibu. Jadi kakak wajib memberitahu mereka tentang keadaan kak Bagas. Tapi ingat kak, yang paling berhak mengambil keputusan untuk kak Bagas, adalah kakak sebagai istrinya. Kami hanya akan memberikan saran untuk semuanya. "


Emi mendengarkan saran adiknya dan memang benar, tempat paling tepat dia meminta saran adalah kepada orang tuanya. Tapi pengambilan keputusan tetap ada pada dirinya nanti.


Dia butuh bahu untuk dia bersandar saat ini dan bahu ayahnya yang paling tepat menggantikan bahu suaminya untuk sekarang ini.


" Aku akan hubungi bapak dulu kalau begitu. Nanti bila samapai di rumah, jangan tunjukan wajah sedih kamu di depan Bagas oke. Karena aku tidak mau dia terlalu banyak berpikir. Aku akan mengambil keputusan untuk dirinya nanti tanpa memberitahu dia lagi. "

__ADS_1


" Kak... sebaiknya kakak juga bicarakan dengan kakak Bagas. Karena nanti dia yang akan menjalani pengobatan. Dia yang akan merasakan sakitnya bukan kakak... sebaiknya kakak pertimbangkan pendapat aku ini. Aku mau kerja lagi sekarang. Telponlah bapak selagi kakak masih berlum didekat kakak Bagas saat ini. "


Sekar memang selalu memberikan saran yang kadang membuat Emi menjadi kesusahan. Tapi apa yang dia katakan memang sangat masuk akal. Semua yang menjalani pengobatan adalah Bagas dia hanya pendukung saja. Yang merasakan sakit adalah Bagas nantinya.


Daripada Emi pikirannya tambah kacau, dia menghubungi bapaknya. Ternyata bapak Emi sedang berada di kebun duren untuk melihat hasil panennya.


" Mi... ada apa nak? "


Perasaan Bapak Bajra sudah tidak enak saat melihat Emi menelpon tapi berada di luar rumah. Jadi dia langsung mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol denga Emi.


Setelah sampai di gubuk, dia bertanya lagi pada anaknya yang sedari tadi hanya diam saja tidak mau menjawab apapun yang dia katakan.


" Mi... kamu kenapa? "


" Pak sebenarnya aku sedang sangat bingung untuk saat ini. Aku butuh bapak untuk membantu aku mengambil keputusan. "


Dan bapak Bajra tidak ada menyela apapun dan membiarkan semua cerita Emi selesai dulu. Inilah yang Emi suka dari bapaknya. Dia tidak akan menyela cerita Emi sampai Emi selesai bercerita dan nantinya akan memberikan solusi.


Beda halnya dengan ibunya. Yang baru mendengar cerita Emi setengah sudah menyela pembicaraan Emi dan memberikan saran dengan emosinya.


Bapak Bajra tidak dapat memungkiri perasaan sedih yang dia rasakan untuk anak perempuannya yang mendapatkan nasib buruk karena memiliki cobaan begitu besar. Tapi dia tidak bisa menyarankan Emi untuk menyerah begitu saja saat ini. Karena dia tidak mau anaknya nanti menyesal karena tidak melakukan segala sesuatunya dengan tuntas.


" Mi... bapak tahu kamu sangat sedih saat ini. Tapi kamu harus kuat demi Bagas. Cinta dan kasih kalian sama besarnya. Jadi berjuanglah Mi.. bapak siap mendukung kamu nanti mengenai biaya. Tapi yakinkan Bagas kalau dia harus berobat dengan tuntas dulu. Bapak tidak mau nanti kamu menyesal di kemudian hari karena tidak tuntas mengobati Bagas. Bisa saja nanti kamu bertemu kasus sama seperti Bagas dan orangnya selamat. Bapak tidak mau kamu hidup dalam penyesalan itu. Kita berjuang sampai akhir. Sampai nanti memang Tuhan mengatakan kalau Bagas sudah cukup berjuang. "


Emi mendapatkan dukungan begitu dari bapaknya menjadi lebih lega saat ini. Dia merasa ini pilihan tebaik yang dia lakukan dia meminta saran pada orang yang tepat. Jadi tidak ada keraguan lagi. Dia akan tetap mengajak Bagas untuk melakukan kemoterapi.


" Pak... maksi untuk sarannya. Aku sangat terbantu untuk ini. "

__ADS_1


" Besok bapak akan ketempat kamu dan kita akan mendukung Bagas bersama. "


" Tidak usah pak... bapak sangat sibuk di rumah. Lebih baik bapak urus saja yang disana dulu. Untuk Bagas disini aku sudah di bantu Sekar. "


Bapak Bajra hanya melihat Emi sambil menghela napasnya.Dia tau Emi tidak akan mau merepotkan dirinya lebih banyak lagi.


" Baiklah. kalau ada apa apa hubungi bapak ya.. uang untuk biaya pengobatan Bagas akan bapak kirimkan nanti pada kamu. "


" Tidak usah pak.. aku masih ada. "


Emu jelas tidak mau membebani orang tuanya lebih banyak lagi. Tapi Bapak Bajra sangat tau anaknya itu. Dia tidak menerima penolakan dari Emi untuk maslah biaya.


" Bapak mendapatkan panen besar saat ini. Jadi jangan menolak. Bapak tidak bisa menemani kamu disana. Tapi dukungan bapak akan selalu ada untuk kamu. "


Emi tersenyum senang dengan perkataan bapaknya. Memang pak Bajra tidak pernah membesakan anaknya. Walaupun sudah menikah, Emi tetap saja di berikan segala yang di miliki oleh orang tuanya. Tidak pernah Emi dan adinya di bedakan oleh orang tua Emi.


Mereka selalu adil dalam segala hal yang di berikan untuk anaknya.


Emi selesai menghubungi bapaknya, menghirup udara sebanyak mungkin karema merasa lega. Dia akhirnya mengulas senyuman tulus untuk menemui Bagas di ruang kerjanya.


" Yank.. kamu sudah bangun ternyata. Kenapa masih tiduran? kamu pusing? "


Saat Emi sampai di ruangannya melihat Bagas sedang melamun menatap langit langit ruangan itu. Seperti ada yang dia pikirkan saat ini.


" Kamu sudah datang... bagaimana kata donter? kapan aku di kemo? "


Emi tersenyum dan menjawab kalau Bagas akan di kemo lusa dan besok dia akan masuk ruangan untuk di rawat inap.

__ADS_1


Bagas berusaha tersenyum kepada Emi walau hatinya sangat takut saat ini.


__ADS_2