
Ketegangan selama oprasi itu terus di rasakan oleh Emi. Dia tidak ad henti hentinya berdoa agar suaminya bisa sukses dalam oprasinya.
" Emi... apa kamu tidak mengabari orang tua Bagas nak? setidaknya mereka tau Bagas di oprasi. "
" Mereka bahkan tidak bisa di hubungi pak.. Mereka menolak telpon dari aku. "
Emi memang sudah dapat menghubungi orang tua Bagas untuk memberitahukan kabar mengenai Bagas. Tetapi mereka tidak mau menerima telpon dari Emi. Dan malah menolak panggilan itu.
Orang tua Emi kompak menggelengkan kepala. Mereka tidak menyangka kalau sampai seperti ini tingkah orang tua Bagas padanya.
Anak kandungnya di perlakukan begini. Sungguh miris nasib Bagas.Tidak di terima dengan baik oleh keluarga kandungnya.
Saat mereka mengobrol begitu, pintu ruang oprasi terbuka. Dan Jemmy keluar dari sana. Melihat hal ini, membuat Emi langsung menghampiri Jemmy dengan tatapan yang penuh harap.
" Jem.. "
Jemmy menepuk bahu Emi pelan dia membuka maskernya dan tersenyum pada Emi. Hanya senyum langsung bisa membuat Emi lega. Dia tidak henti hentinya bersyukur karena oprasinya berhasil.
"Mi... oprasinya berhasil. Hanya saja, kita harus menunggu Bagas sadar dulu. Kami berusaha semaksimal mungkin dalam oprasi ini. Semoga saja tidak banyak mempengaruhi alat gerak Bagas nanti. "
" Jem... maksud kamu, Bagas harus ada di ICU sekarang ini? "
" Iya... kita tunggu dia sadar dulu. "
Emi kembali panik. Karena berada di ICU itu sama saja suaminya belum bisa bernafas normal. Karena semua masih menggunakan alat bantu.
" Jem... apa semua sudah tuntas di angkat? Kita tinggal menjalani kemoterapi dan sinar saja kan selanjutnya? "
" Mi...nanti kita bicarakan di ruangan aku oke... sekarang kamu bisa istirahat dulu. Bagas tidak boleh di jeguk saat ini. Dan kamu juga harus siapkan alat alat yang di butuhkan Bagas saat ini. Seperti tisu steril untuk mengelap badannya Bagas, pempers, dan banyak yang lainnya. Kamu sudah paham bukan apa yang di butuhkan? Aku kembali dulu ke ruangan aku. "
__ADS_1
Emi meminta adiknya untuk membeli semua yang di butuhkan oleh Bagas nanti. Dan dia malah duduk disana memikirkan apa yang Jemmy katakan tadi.
Dalam perkataan Jemmy seperti memberitahu kalau pengangkatan sel jaringan kanker Bagas itu belum selesai. Dan akan ada oprasi tambahan lagi.
" Pak... aku akan keruangan Jemmy dulu. Tolong tunggu di sini sebentar ya pak... Siapa tau ada panggilan untuk keluarga pasien nanti."
Orang tua Emi hanya mengangguk dan mengelus punggung Emi untuk menguatkannya.
" Kami akan berjaga di sini. Kamu bisa kesana dan jangan khawatir soal Bagas lagi. Ada ibu, bapak, dan adik kamu yang akan menunggu dia di tempat ini. "
Emi akhirnya pergi dari tempat itu dan menuju ruangan Jemmy saat ini.Dalam perjalanan Emi merasakan kecemasan yang luar biasa. Dia terus berdoa agar dirinya mendapatkan kabar yang baik dari Jemmy.
Sesampainya Emi di ruangan itu, dia melihat bukan hanya ada Jemmy saja, tapi dokter bedah saraf, dokter othopedi juga ada. Hal ini semakin membuat Emi khawatir.
" Malam dok.. ".
" Malam Emi... "
" Kami memang memanggil kamu kemari Mi ada yang ingin kami bicarakan. "
Di saat ini seluruh tulang Emi rasanya melunak. Dia seperti akan mendapatkan berita buruk. Karena semua yang ada di ruangan itu, wajahnya tegang dan seperti ada beban berat.
" Mi... setelah tadi kami oprasi suami kamu, kami mencurigai sel kankernya sudah menyebar lebih jauh. Jadi memang tadi sel kanker itu sudah kami angkat. Tapi untuk penyebarannya yang belum kami tangani. Kalau memang nanti setelah di cek kankernya sudah merusak struktur tulang, kami sarankan melakukan amputasi untuk tulangnya. setelah itu kita pasang tulang buatan. "
" Jadi bisa di katakan suami saya akan lumpuh total ya dok? "
" Kami harap tidak.. tapi kemungkinan itu bisa terjadi. Kami bicara begini pada kamu, bukan untuk menakuti kamu. Kami hanya ingin kamu lebih menyiapkan diri lagi. Apa lagi kamu tenaga medis juga. Kamu pasti paham bagaimana cara nanti menangani pasien. "
Emi tidak bisa berkata apapun lagi. Dia hanya diam dan mendengarkan perkataan para dokter disana. Mereka mulai menjelaskan bagaimana nanti oprasinya dan berbagai cara untuk mendukung. Tapi pendengaran Emi mulai melemah dan tidak lama setelah itu, dia pingsan.
__ADS_1
" Emi... Emi... hei.... "
" Dia terlalu berat memikirkan masalah suaminya. Jadi dia pingsan begini."
" Biarlah dia istirahat dulu di ruangan saya dok, saya akan merawat dia. "
Jemmy menyarankan hal itu karena dia ingin membicarakan sesuatu lagi dengan Emi. Dia tau kalau saat ini Emi sedang tertekan. Dan ini tidak baik untuk kesehatan Emi. Jadi Jemmy ingin Emi lebih mengikhlaskan suaminya.
" Mi... aku tau kamu sangat mencintai Bagas. Tapi apa masih layak kamu dikatakan mencintai dia sekarang?. Kamu hanya menyiksa dia saat ini Mi. Bila kamu tidak bisa mengikhlaskan dia, kamu sendiri yang berarti menyiksa dia sangat lama."
Jemmy merasa cinta Emi yang terlalu besar untuk Bagas membuat Emi tidak mau kehilangan Bagas. Dan terus akan menyiksa Bagas dengan berbagai macam pengobatan yang berakhir sia sia.
Tapi Emi merasa apa yang dia lakukan sekarang, mungkin nanti akan mendapatkan keajaiban dari Tuhan. Hingga sakit suaminya bisa sembuh.
Karena tmTuhan tidak akan memberika cobaan melebihi batas kemampuan umatnya. Hanya saja, kita bisa menerima hal itu atau tidak. Kuat menjalaninya atau tidak. Emi tidak berpikir kalau memang jalan Tuhan menginginkan suaminya pergi, Dia tidak akan bisa memaksakan untuk suaminya tetap tinggal.
Saat Emi sadar, dia melihat kesekeliling dan mendapati Jemmy masih duduk di kursinya. Emi langsung bangun dan ingin turun dari ranjang itu.
" Kamu sudah sadar rupanya, Bagaimana keadaan kamu saat ini? sudah lapar? mau makan? "
" Aku tidak apa apa Jem.. maksi ya... Apa aku lama pingsannya? "
" Tubuh kamu kelelahan. Dan kamu juga banyak tetanan. Jadi kamu wajar bila pingsan tadi. Kanu juga langsung dapat tidur setelah itu. Karena aku mendengar dengkuran halus setelah beberapa saat kamu pingsan."
Emi hanya mengangguka kepalanya saja. Dia memang saat ini sedang sangat lelah dalam segala hal. Banyak beban dan tekanan yang dia hadapi. Tapi di depan suaminya, dia berusaha tetap kuat dan tegar. Dia harus menjadi penyemangat untuk suaminya.
" Mi... apa kita bisa bicara? "
" Kamu mau bicara soal oprasi Bagas lagi? "
__ADS_1
" Bukan. Tapi, mengenai kelanjutan pengobatan Bagas. Aku tau kamu sangat menyayangi Bagas. Tapi bila kamu terus menyiksa dia dengan pengobatan yang keras, apa kamu tidak kasiha pada Bagas? Dia pasti tersiksa. Apa sebenarnya kamu yang belum siap menerima sakitnya Bagas?"