
Emi melihat reaksi ibu mertuanya yang diam saja merasa kalau saat ini ibu Ayu sedang memikirkan apa yang dia katakan sebelumnya.
Emi yang semula begitu menggebu dalam emosinya mulai bisa mengatur semua itu. Dia mulai menenangkan dirinya dengan mengatur pernapasanya. Dia tidak mau semakin melukai perasaan ibu mertuanya nanti dengan kata kata kasar.
Tapi Emi tetap akan membuat ibu mertuanya sadar akan tibdakan dia yang salah dan terlalu egois. Emi ingin setidaknya Bagas mendapatkan kasih sayang yang dia rindukan selama ini di akhir hidupnya.
Atau bisa saja dengan di berikan kasih sayang dari ibunya, Bagas biaa lebih semangat lagi untuk sembuh. Emi hanya ingin yang terbaik saat ini untuk suaminya. Jadi segala macam cara akan dia lakukan.
Dan kebetulan saat ini Ibu Ayu datang sendiri sehingga dia bisa ajak bicara seperti sekarang. Karena bila dia datang dengan Adi atau suaminya, Sudah pasti Emi tidak akan bisa bicara leluasa dengan ibu mertuanya ini. Karena Emi pasti akan di serang bersamaan oleh mereka semua. Itu akan sangat mereporkan untuk Emi.
Sedangkan di saat Emi dan Ibu Ayu sedang berbicara di belakang rumah, Bagas di dalam kamar merasa cemas dan gelisah. Dia takut kalau terjadi apa apa dengan istrinya. Dia sangat sadar bagaimana ibunya tidak menyukai Emi.
" Aku harap ibu tidak bertindak buruk pada Emi. Walaupun ibu adalh ibu kandungku, tapi hanya Emi yang selama ini menemani ku.. menjagaku dan selalu mendukung apa yang aku lakukan. Emi seolah sudah menggantikan posisi ibu saat itu. Dia mengambil peran yang harusnya ibu lakukan pada aku. Aku sungguh berharap Emi tidak terluka. "
Bagas terus berguman dalam hatinya seperti itu. Dia merasa sangat lemah saat ini. Karena dia sama sekali tidak bisa menjada istrinya dan melindungi dia. Ketakutan Bagas semakin besar saat mendengar bentakan istrinya.
Samar samar Bagas mendengar kalau istrinya mengatakan bagaimana keadaan dirinya dan bagaimana perasaan Bagas saat ini. Jadi Bagas tidak bisa menghentikan tangisannya.
__ADS_1
Ternyata Emi sedang melakukan pembelaan terhadap dirinya. Emi memang selama ini setau Bagas selalu menahan dirinya sendiri agar tidak melawan mertunya itu. Dan kali ini sepertinya Emi sudah tidak tahan dan mengeluarkan keluh kesahnya pada ibunya.
" Apa yang kamu katakan semua benar sayang... aku sangat hancur saat tidak di perdulikan oleh orang yang seharusnya selalu ada di dekat aku dan membela aku. Tapi aku melihat dia malah lebih perhatian dengan keluarga barunya ketimbang dengan aku. Tapi aku tidak berani mengatakan apa yang aku rasa. "
Bagas sudah tidak ada lagi mencoba untuk bangun dan berbicara lagi. Dia larut dalam kesedihannya saat mengingat masa kecilnya yang begitu suram. Semua kenangan itu membuat Bagas semakin tidak bisa menghentikan tangisan dirinya. Dan prasaan hancur sebelumnya kembali muncul karena hal itu.
Di tempat Emi dan Ibu Ayu sekarang berada, Ibu Ayu masih terdiam dan memikirkan segala kesalahnya. Dia masih tidak habis pikir dengan semua yang terjadi saat ini. Semua itu berdampak kepada anaknya.
" Apa benar Bagas semenderita itu? aku lihat dia baik baik saja dan dia tidak ada mengeluh apapunapapun. Tapi saat mendengar apa yang Emi katakan, memang benar aku melakukan semua kesalahan itu selama ini. Tapi aku tetap menyayangi Bagas. "
Ibu Ayu lama terdiam sampai Emi menepuk bahunya dan menyadarkan dia dari pikirannya itu.
Apa yang Emi katakan membuat Ibu Ayu menjadi bingung. Apa mkasud meminta SK Bagas? Dia tidak akan setega itu menyusahkan anaknya lagi yang sudah tidak berdaya. Dia sudah tidak memberikan bantuan uang untuk pengobatan Bagas. Bagaimana dia berani meminjam SK Bagas untuk membangun rumah.
" Dari siapa kau dengar saya meminta SK Bagas? Saya tidak akan melakukan hal itu kepada Bagas. Walaupun saya tidak membiayai Bagas, Saya tidak akan tega juga mengambil uang untuk pengobatannya. "
Mereka terdiam seperti menyadari sesuatu. Mereka termyata sengaja di adu domba oleh Adi selama ini. Anak laki laki yang dia sayang dan manjakan malah tega berbuat begitu pada dirinya dan Bagas. Ini cukup mengejutkan Ibu Ayu. Tetapi tidak dengan Emi. Dia seolah sudah sangat tau dengan tingkah prilaku iparnya itu. Jadi Emi tidak terlalu ambil pusing.
__ADS_1
" Mumpung ibu ada di sini, temuilah Bagas. Dia sudah mendengr suara ibu tadi. Jangan pergi begitu saja. Karena itu akan melukai perasaan Bagas."
Emi langsung pergi meninggalkan mertuanya yang masih diam di halaman belakang itu. Emi ingin memastikan keadaan Bagas dulu sebelum nanti di lihat oleh ibunya.
Tapi sampai di kamar, Emi langsung melihat Bagas yang menangis terisak disana. Dan saat itu Emi tau kalau apa yang tadi dia bicarakan dengan ibu mertuanya pasti ada yang di dengar oleh Bagas. Sehingga Bagas sedih seperti saat ini.
" Yank... hei.. sudah.. jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat kamu menangis. Nanti bila ibu kamu datang, kamu bermanjalah dengan dia. uangkapkan betapa kamu merindukan pelukan hangat dirinya. Kamu tidak usah berlagak sok kuat lagi. Karena sekarang saatnya dia yang mendukung kamu. Paham yank.. "
Emi menguatkan Bagas sambil menghapus air matanya. Emi sebenarnya merasakan apa yang Bagas rasakan sekarang. Ras sedih karena mengenang kisah masa kecil itu sangat menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi bila Emi tidak mengatakan sekarang kapan lagi Bagas bisa di peluk sayang oleh ibunya.
Ibu Ayu di depan pintu melihat bagaimana Emi bicara dengan Bagas dan merawat Bagas. Dia merasa bersalah sudah membenci menantunya ini. Dia juga merasa sangat bersalah melihat anaknya dalam kondisi begini tanpa adanya dirinya yang menjadi pendukung disana.
" Apa aku masih pantas dan layak di panggil seorang ibu oleh orang lain? kenapa aku merasa sangat kecol di hadapan cinta mereka berdua."
Ibu Ayu mengatakan hal itu di dalam hatinya. Dia masih diam di depan pintu dan tidak berani masuk kedalam. Sampai Emi melihat dirinya dan beranjak untuk memberikan ruang dia dan Bagas untuk bicara berdua disana.
" Bagas, maaf kan ibu nak... maaf... maaf Bagas... maaf.. "
__ADS_1
Hanya itu yang keluar dari bibir ibu Ayu saat itu