Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Apa Aku Harus Iklas?


__ADS_3

Emi tidak bisa tidur setelah pembicaraan dirinya dengan Bagas itu. Dia sangat tertekan karena pembicaraan tadi. Sedangkan Bagas, dia sudah tidur setelah meminum obat yang Emi berikan.


Sedah banyak sekali yang menyarankan agar dia iklas untuk membiarkan ini semua berjalan dengan seharusnya. Tapi hati nuraninya lagi lagi tidak terima bila harus menyerah.


Wanita nama yang bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja dan menerima dengan pasrah tanpa ada perjuangan sedikitpun untuk mengobati sakit suaminya.


" Apa aku terlalu egois? Bagas sudah mengatakan kalau dia merasa lelah dengan semuanya. Tekanan batin Bagas memang tidak aku rasakan. Tapi bila melihat bagaimana perubahan sikap dia dan bagaimana dia bercerita barusan. Aku menjadi semakin sakit. Apa aku harus menyerah sekarang dan menerima semua? Apa hanya sampai di sini aku berjuang dengan suami aku? Aku kasihan dia sakit begitu, tapi aku juga tidak bisa menerima bila dia meninggalkan aku sendirian. "


Pikiran Emi berkecamuk di dalam kepalanya.Dan dia tidak tau harus bagaimana lagi. Dia hanya bisa duduk diem di halaman belakang rumahnya. Sampai Sekar menghampuri dan menepuk pundak dari Emi.


" Kak.. "


" Loh... kamu belum tidur? "


" Kak, maaf aku mendengar apa yang tadi kalian berdua bicarakan di dalam kamar. Maaf bukan aku menguping. Hanya saja, saat aku mau lewat, aku mendengar semua itu. "


" Tidak apa... kamu kemari karena ingin bicara hal ini dengan kakak? "


Sekar menatap mata Emi. Terlihat kalau kakaknya sedang sangat lelah dan kurang istirahat. Jadi Sekar mengelus bahu kakaknya dan memberikan pijatan kecil disana.

__ADS_1


Emi tau apa yang di lakukan oleh adiknya itu, agar bisa mengurangi beban dan rasa lelahnya. Hanya saja, saat ini yang lelah bukan badan Emi saja. Tapi juga pikiran Emi.


" Kak... bila kakak sangat merasa terbebani. Kakak bisa bercerita dengan aku. Bila kakak tidak mau dengan aku, kakak bisa bercerita dengan orang yang kakak percaya. Kak, aku hanya takut kakak dalam menjalani semua proses pengobatan kakak Bagas, kakak juga ikut sakit nanti. "


Emi tersenyum tipis dengan perhatian yang di tunjukan oleh adiknya. Emi beruntung di saat seperti sekarang. Tanpa dia bicara, Sekar tau keadaan dirinya. Sekar bahkan tidak ada mengatakan apapun kalau Emu tidak mau membicarakan masalahnya. Dia hanya akan menunggu sampai Emi mau bercerita dan barulah Sekar akan memberikan pendapatnya.


" Dek.... apa yang harus kakak lakukan kali ini ya? Seperti yang kamu dengar tadi. Bagas sudah mengatakan menyerah pada sakitnya. Apa yang harus kita lakukan lagi? Bila kita paksa dia untuk berobat lagi dan menjalani kemo lagi. Kakak takut kondisinya semakin menurun. Tapi bila kita tidak melakukan kemo itu, Kondisinya juga tambah buruk. Kakak harus bagaimana sekarang Dek?


Sekar menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dia tidak berani menyarankan kepada kakaknya untuk berhenti. Karena dia takut nanti bila terjadi sesuatu kepada iparnya itu, Sekar yang akan di salahkan oleh Emi nanti.


Sama halnya seperti yang Bagas lakukan saat ini pada Emi. Dia menyalahkan Emi karena memaksa dirinya melakukan kemo sehingga dirinya kembali tidak bisa berjalan normal lagi.


" Kak, aku tidak berani memberikan kakak saran. Tapi, bila kakak mau memikirkan mengenai apa yang di rasakan kakak Bagas. Kakak harus meninta saran pada dokter ahli. Karena darinya kita bisa mengetahui apa yang harus kita lakukan berikutnya. "


Sekar membiarkan kakaknya mengeluarkan segala keluh kesah yang dia rasakan saat ini. Dia setidaknya harus menjadi pendengar yang baik saja untuk sekarang. Karena Emi bukan butuh di berikan ceramah atau saran dari orang. Melai kan dia butuh dukungan dan di dengarkan untuk saat ini.


" Kakak sampai tidak berani melakukan pengecekan menyeluruh pada Bagas waktu ini. Sampai saat ini kakak belum tau bagaimana hasil dari pemeriksaan itu. Kakak hanya meminta domter menjelaskan bagaimana kelayakan untuk melakukan kemo saja. Kakak tidak berani menanyakan hasil kondisi organ dalam Bagas. "


Emi menagis meraung di pelukan Sekar. Pikiran buruk Emi mengenai kondisi Bagas membuat semua semakin kacau. Kemungkinan yang belum terjadi dan ketakutan di dalam pikirannya menambah beban untuk Emi. Emi sama sekali tidak bisa tenang dalam menjalani semua cobaan ini. Dan telihat kalau badan dia tambah kurus karena beban pikirannya itu.

__ADS_1


" Kak... apa tidak sebaiknya kakak tanyakan dulu hasil dari pemeriksaan kakak Bagas dengan lengkap? Dengan itu kakak bisa membuat tolak ukur untuk mengambil keputusan berikutnya. Aku pikir kakak sebagai istri kakak Bagas harus mengetahui segalanya dulu. Karena ini menjadi keputusan yang berat nanti untuk kakak kedepannya. Buka hanya kakak. Tapi seharusnya keluarga kakak Bagas juga. Tapi karena kakak Bagas sudah tidak di anggap, jadi hanya kakak ya b berhak dalan segala hal sekarang ini. "


Emi memikirkan apa yang di katakan adiknya itu adalah benar. Tapi rasa takut itu membuat dia tidak berani menanyakan segalanya.


" Dek... besok temani kakak kerumah sakit ya? "


" Kak, bila kita pergi berdua, kakak Bagas bagaimana? di tinggal kakak sebentar saja susah. bagaimana bisa di tinggal berdua? Bila kita ajak ke rumah sakit. Aku takut penyakit di sana kan banyak, itu bisa mempengaruhi lagi kesehatan Kakak Bagas. "


Emi menarik napas dan mencoba untuk menenangkan diri lagi. Dia menguatkan dirinya lagi. Dan dia berkali kali mengatakan kalau dia kuat dalam menghadapi segalanya.


" Aku kuat .. aku bisa. "


Selalu itu yang di ucapkan Emi setiap dia menarik dan menghembuskan napasnya sampai dia tenang.


" Baiklah... besok kakak kerumah sakit lagi setelah selesai mengurus Bagas. Dan dia tertidur. Jadi kakak punya waktu dua jam untuk pergi nanti. "


Emi sudah memutuskan seperti itu dan saat ini perasaan dia sudah semakin lega karena sudah bercerita pada adiknya.


Tapi saat dia kembali ke kamar, Emi menyaksikan pemandangan yang membuat dia hampir berhenti bernapas. Dia melihat Bagas sudah sesak napas dan tangannya sudah meraba raba seperti mencari sesuati untuk di pegang

__ADS_1


" Bagas..... "


Teriakan Emi membuat Sekar kembali keluar kamar dan langsung menghampiri kakaknya. Di sana dia melihat Emi menyalakan kipas angin dan di dekatkan ke hidung Bagas agat bisa mendapatkan udara sebelum dia meminta bantuan untuk mengambil O2 untuk pernapasan Bagas pada Sekar.


__ADS_2