
Bapak Bajra akhirnya mencari Emi. Dia ingin membicarakan mengenai keinginan Emi untuk pergi kembali ke rumahnya. Dia berpikir bila Sekar saja tidak bisa, bagaimana dengan Emi nanti.
" Mi... sedang apa? kamu masih sudah merapikan pakaian kamu? "
" Hemm aku akan secepatnya kembali kerumah pak.. Bapak sudah menghubungi Sekar? Dia bisa pulang cepat? Aku ingin hari ini juga kembali kesana"
Bapak Bajra bingung cara memberitahu anaknya mengenai hal ini. Dia merasa sangat berat untuk menyampaikan maksud kedatanhan dia sekarang pada Emi. Karena sudah pasti tanggapan Emi tidak akan sebaik sebelumnya pada dia bila sampai bapak Bajra yang menginginkan Emi tidak jadi kembali kerumah itu.
" Ada apa pak? Kenapa bapak melamun begitu? Apa yang bapak pikirkan? "
" Mi... bapak khawatir dengan diri kamu nanti bila kamu tinggal di rumah itu lagi. Kalau kamu mau kembali kesana, bisakah kamu jangan tinggal di rumah itu lagi? Kenangan Bagas disana sangat banyak Mi.. Bapak sangat yakin kamu belum bisa menghadapi itu semua. Kamu bukan membaik nanti disana, tapi kamu malah memburuk dan mengurung diri saja nanti. "
Bapak Bajra dapat melihat raut wajah Emi saat ini ada keraguan saat mendengar perkataannya. Jadi bapak Bajra melanjutkan lagi.
" Tadi bapak sudah sempat menelpon Sekar. Dan dia mengatakan kalau masuk kerumah kamu lagi, dia tidak sanggup Mi... dia bilang kenangan Bagas sangat banyak disana. Walaupun dia hanya merawat Bagas sebentar, tapi semua itu membuat Sekar tidak nyaman. Dia seperti tetus terbayang Bagas saja. Sekar juga mengatakan kalau dia saja sudah merasakan hal itu, bagaimana dengan kamu? "
Emi berhenti merapikan bajunya. Dia mulai mendengarkan apa yang bapaknya katakan. Dia sebenarnya jug ragu untuk masuk rumah itu lagi. Tapi, Emi ingin kembali untuk membuat semua orang menyesal telah mengabaikan Bagas.
" Aku harus bagaimana sekarang pak? aku ingin kembali untuk memberikan keadilan untuk Bagas. Atau bisa juga di bilang untuk memberikan kepuasan untuk aku. Karena aku belum terima mendiang suami aku di perlakukan seperti itu oleh mereka. "
__ADS_1
" Tapi apa kamu sudah memikirkan bagaimana resiko nanti? kamu ingin menunjukan apa pada mereka? Bila kamu ingin membuat mereka merasa jengah, kamu bisa melakukan dengan cara perbaiki hidup kamu. Dan tunjukan kalau kamu itu mampu berjuang sekarang ini. "
Emi akhirnya merenung mendengar apa yang bapaknya katakan. Dia tidak sempat memikirkan bagaimana cara dia membalas keluarga Bagas. Yang dia pikirkan sebelumnya hanya ingin bertemu mereka dan mencaci maki mereka semua. Tapa memikirkan resiko yang akan dia terima nantinya.
" Mi.. bila bapak boleh memberikan saran, kamu memang boleh masih marah pada mereka karena perlakuan mereka pada Bagas selama ini tidak baik. Tapi kamu tidak boleh mendendam nak.. Itu tidak baik untuk diri kamu. Kamu hanya akan terus berada di lingkaran benci itu saja nanti. Kamu tidak akan menemukan tenang. Coba kamu belajar ikhlas saat ini. Belajar menerima semua yang terjadi. Kamu pasti akan lebih baik. Bagas juga akan tenang disana. Dan bila sudah saatnya nanti, kamu pasti bisa dengan mudah bertemu dengan Bagas. "
Emi tidak bicara lagi. Hatinya masih perih bila mengingat bagaimana penderitaan Bagas sebelumnya.
" Baiklah pak... aku akan mencoba untuk melangkah maju mulai sekarang. Aku akan mencari rumah sewaan saja untuk saat ini. Bila Sekar mau ikut bersama aku, silakan saja. Tapi bila tidak aku tidak masalah. Aku akan kembali lagi berkerja di tempat sebelumnya. Mungkin dengan berkerja aku bisa sedikit mengalihkan pikiran aku. "
Bapak Bajra tersenyum dengan sangat tulus kepada Emi. Karena anaknya mau mengerti apa yang dia katakan. Walupun bapak Bajra tidak tau bagaimana isi hati Emi. Tapi mendengar dia mau melanjutkan hidupnya lagi, membuat bapak Bajra senang bukan main.
Emi tersenyum karena merasa bapaknya selalu memanjakan dia seperti anak kecil. Dia tidak pernah di anggap dewasa oleh bapaknya. Dan kedekatan Emi dan adiknya kepada bapaknya sudah tidak bisa di ragukan lagi.
Tapi pada ibunya, Emi sedikit menjaga jarak. Karena mereka sering kali berselisih pendapat. Karena setiap ucapan yang ibunya katakan selalu bernada pedas.
" Yank aku kembali untuk kamu saat ini. Aku akan mencoba melakukan yang terbaik kedepannya. Dan akan melihat bagaimana penyesalan mereka nantinya. "
Emi melanjutkan berkemasnya sambil menimang dia nanti akan melakukan apa saja di kota. Sedangkan Ibu Ayu, dia sudah tidak melihat suaminya selama tiga hari. Dan hal itu membuat dia khawatir hingga dia berusaha untuk nekad mencari sendiri suaminya.
__ADS_1
" Pa... kamu dimana sih? Kenapa aku sangat susah untuk bertemu dengan kamu saat ini? "
Ibu Ayu berusaha mencari suaminya ketempat berkerjanya. Tapi tidak juga menemukan suaminya itu. Hanya teman kerja suaminya yang mengatakan kalau bapak Wisana sudah tidak berkerja selama tiga hari juga.
Perasaan ibu Ayu semakin tidak menentu karena hal ini. Dia takut kalau suaminya itu melakukan apa yang dia katakan sebelumnya pada ibu Ayu.
" Pa.. aku harap kamu tidak bermain gila di belakang aku pa... aku tidak akan terima bila hal itu terjadi nanti. Selama ini aku memang menurut pada kamu. Tapi bila kamu bermain api di belakang aku, aku tidak akan segan segan pada kamu lagi nanti. Aku tidak suka penghianatan. Dan bila semua yang sudah aku lakukan untuk kamu dan anak kamu itu kamu balas dengan penghianatan, aku akan pastikan kamu dan wanita itu tidak bisa hidup dengan tenang. "
Ibu Ayu yang sudah merasa bersalah pada Bagas, di buat sakit hati oleh suaminya dan Adi, dia tidak terima bila harus nanti di selingkuhi juga. Sakit hati ibu Ayu terlalu besar untuk di tangani oleh dia saat ini. Jadi hanya perbuatan nekad yang bisa di pikirkan sekarang oleh ibu Ayu untuk mempertahankan posisinya.
Posisi yang dia dapatkan dengan cara mengorbankan buah hatinya sendiri dan juga mengabaikannya.
Adi yang saat itu berada di rumah, dia melihat penampilan ibunya yang tidak baik baik saja mengira ibunya sibuk memikirkan Bagas. Jadi dengan nada membentak dia memperingatkan ibu Ayu.
" Darimana saja? apa ibu ketempat Bagas lagi? tidak puaskah datang ketempat itu hanya sekali? Semua yang ibu lakukan tidak akan merubah fakta kalau ibu sudah mentelantarkan Bagas. "
Ibu Ayu yang pikirannya sedang tidak baik, langsung menatap Adi dengan tajam. Dia tidak pernah melakukan hal ini. Tapi sekarang karena terlalu tertekan dia sampai lepas kendali.
" Hati hati dengan ucapan kamu Adi. Ingat aku adalah ibu mu. Jangan pernah berkata kasar pada aku. "
__ADS_1