Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Kepulangan Bagas


__ADS_3

Semua hasil dari pemeriksaan Bagas sudah bagus dan dinyatakan bisa melakukan rawat jalan saja nanti. Bila kondisi Bagas bisa membaik, dia akan segera di kemoterapi. Dengan tujuan mematikan sel kanker itu.


Tapi bila kondisi Bagas tidak memungkinkan, dia tidak akan bisa di kemoterapi. Karena obat yang akan masuk kedalam tubuhnya sangat kuat dosisnya.


" Selamat pagi bapak Bagas... hasil pemeriksaan Bapak Bagas sudah bagus. Dan sudah bisa untuk pulang hari ini. Seperti rencana awal, bapak akan menjalani rawat jalan dulu. "


Perawat mulai menjelaskan bagaimana nanti alur rawat jalannya. Dan Bagas hanya diam saja. Sedangkan Emi, dia sedang sibuk mengurus surat surat kepulangan Bagas dari rumah sakit.


" Mi... nanti bila kamu sudah membawa Bagas pulang, pastikan dia tetap melakukan rawat jalan ya.. Karena kita harus tetap memantau kondisi Bagas terus. "


" Baik terimakasi banyak dok. Semua yang ada di tempat ini terus mendukung saya dan memberikan pelayanan yang sangat baik. Saya sangat berterima kasih. "


Emi sedang berbicara dengan dokter ahli bedah saraf saat ini. Karena tadi sempat konsultasi mengebai kondisi Bagas. Selain itu, Emi juga akan ke dokter onkologi nantinya. Agar dia bisa pulang dengan tetang bila semua hasil baik.


Selesai dengan segala urusanya, Emi lalu mengajak Bagas untuk pulang. Sesampainya di rumah, saat akan masuk Bagas menangi dalam diamnya. Air mata Bagas meleley dengan sangat banyak di pipinya.


" Rumah ini. Tempat yang begitu banyak kenangan kita ada di tempat ini. Aku sangat ingat bagaimana aku dulu menggendong kamu untuk memasuki rumah ini. Rumah kita. Tempat kita memadu kasih dan saling mencintai. Sekarang aku masuk rumah ini dengan kamu yang mendorong aku yang duduk di kursi roda tidak berdaya. Aku merasa tidak berguna saat ini. Bagaimana bisa aku membahagiakan kamu lagi. "


Bagas larut dalam kesedihannya dan terus menangis di dalam diamnya. Sampai mereka sudah ada di ruang keluarga, dan di situ barru Emi tau kalau suaminya menangis.


" Yank... ada apa? kenpa kamu menangis begini? ada yang sakit? kamu kenapa? jangan buat aku tambah panik yank... mau ke rumah sakit lagi? "


Emi sangat takut suaminya kesakitan hingga dia menangis. Tapi yang sebenarnya, Bagas hanya merasa sangat sedih saat memasuki rumah dengan kenangan indah merek dulu.

__ADS_1


Tapi karena keadaan Bagas yang tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan, membuat Emi panik dan ingin membawa Bagas kembali ke rumah sakit.


Saat Emi akan mendorong lagi kursi rodanya keluar rumah, Bagas tiba tiba mengeluarkan sebuah kata.


" Mi."


Emi yang mendengar apa yang Bagas ucapkan, dia langsung menatap Bagas dari arah depan. Dan duduk di lantai untuk lebih memastikan apa yang dia dengar tadi.


"Yank... kamu tadi bisa bicara? kamu tadi mengucapkan sesuatu? kamu bisa mengulanginya lagi? "


Kepanikan Emi berubah menjadi sebuah harapan dari saat ini. Dia ingin mendengar apa yang Bagas ucapkan tadi. Seperti ingin sedang menunggu sebuah hadiah dari mesin capit boneka, Emi menunggu dengan sabar. Duduk dan terus menatap Bagas.


Bagas melihat bagaimana tingkah laku istrinya merasakan gemas dan ingin sekali dia memeluk dan mencium istrinya saat ini. Melihat ekspresi Emi yang sangat lucu, membuat kesedihan yang sebelumnya di rasakan Bagas menguap tak tersisa.


" Kamu sungguh menggemaskan yank... bagaimana aku bisa menahan diri aku saat aku melihat kamu yang seperti sekarang ini. Seandainya aku sehat, sudah aku pastikan kamu tidak selamat dari diriku. "


" Yank... apa kamu bisa mengulanginya sekali saja? aku ingin mendengarnya lagi Yank... ayolah.. aku ingin mendengarnya.. "


Emi mulai merengek kepada Bagas. Dia memang sangat manja bila dengan Bagas. Sikap tegar yang selama ini di perlihatkan Emi hanya sebuah topeng untuk melindungi dirinya.


Hal ini juga yang membuat dia belum bisa dan belum siap bila kehilangan sang suami.


" Mi. "

__ADS_1


Dengan usaha yang sangat keras dan banyak tenaga yang di butuhkan, Bagas berhasil mengucapkan kata itu kembali. Emi yang mendengar hal itu, Dia seperti mendapatkan sebuah oasis di tengah gurun pasir.


Kebahagiaan Emi terlihat sangat jelas. Dia sampai berteriak dan berjingkrak jingkrak saking bahagianya. Dia merasa sangat bahagia bisa mendengar suara Bagas lagi. Walaupun tidak begitu jelas dan tegas, Tapi Emi sangat bahagia. Itu artinya nanti ada tanda kesembuhan untuk Bagas.


Bagas walaupun tenaganya banyak terkuras karena mengcapkan satu kata itu, Dia juga sangat bahagia. Bahagia karena bisa membuat istrinya bahagia dan tersenyum lebar.


" Aku berharap kebahagiaan akan selalu kamu rasakan. Kamu memang tidak pernah berubah sedikitpun. Kebahagiaan kecil selalu kamu hargai. Ini yang membuat aku sangat mencintai kamu. Kesederhanaan hati kamu, membuat aku tidak pernah bisa berpaling. Dan rasa cinta ini semakin hari semakin bertambah. "


Bagas hanya bisa mengatakan semua itu dalam hatinya. Dia menyimpan jelas du ingatanya tentang bagaimana ekspresi Emi saat ini.


Dan Emi saat sadar dengan keadaannya, dia baru ingat bila suaminya tidak boleh kelelahan. Dia harus segera membawa suaminya istirahat di dalam kamar.


" Yank.... maaf ya... kamu pasti capek ya.. aku sampai lupa karena saking senangnya. Kita kekamar ya.. kamu harus istirahat. "


Emi mendorong kursi roda itu menuju kamar mereka. Disana, Emi lalu mengambil kursi roda transfer untuk pasien agar bisa memindahkan suaminya ketempat tidur.


Saat semua sudah selesai di lakukan, dan suaminya sudah nyaman dengan posisinya. Emi laku meletakkan kepalanya di perut suaminya.


" Yank... makasi ya... makasi sudah berjuang untuk kesembuhan kamu. Kamu sudah mau menemani aku di tempat ini dan tidak menyerah. Aku sungguh bagaia dengan semua ini. Kamu satu satunya penguat aku yank... jadi aku mohon jangan pernah menyerah apapun yang terjadi ya... jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa tanpa kamu."


Ingin sekali Bagas mengelus kepala istrinya. Tapi dia tidak bisa melakukan hal itu. Tangannya masih belum bisa di gerakan. Emi tau apa yang suaminya inginkan. Jadi, dia mengambil tangan suaminya itu, dan di letakannya di kepalanya.


Posisi begini sangat Emi sukai. Dia merasa nyaman bisa begini dengan suaminya. Semua hal yang mereka jalani ini tidak penah memudarkan cinta yang mereka rasakan. Malah, cinta itu semakin tubuh dan semakin besar.

__ADS_1


" Ahhh... aku lupa, aku harusnya mengatakan hal ini pada dokter. Betar yank. "


Emi seketika bangun untuk menghubungi dokter yang menangani Bagas. Dia ingin mengabarkan perkembangan Bagas saat ini.


__ADS_2