Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Rencana Program Bayi Tabung


__ADS_3

Emi sudah memutuskan akan melakukan apa yang Bagas inginkan untuk yang terakhir kalinya. Dia mungkin tidak bisa mengatakan akan membaut Bagas sembuh kembali saat ini. Karena dia sudah melihat sendiri bagaimana kondisi tubuh Bagas yang semakin melemah setiap harinya.


Jadi saat Bagas mengatakan ingin Emi mengandung anaknya. Jelas Emi sangat setuju dengan hal itu. Karena itu berarti dia tidak akan kehilangan sosok Bagas di hidupnya. Karena Bagas masih meninggalkan bagian dari dirinya untuk Emi.


Di pagi hari, semua terjadi seperti biasa saja. Tapi yang berbeda adalah raut wajah Emi yang sudah telihat lebih tenang saat ini. Bapak Bajra dan Sekar sampai penasaran kenapa bisa ekspresi wajah Emi bisa lebih tenang hari ini.


Karena biasanya Emi akan selalu terlihat tegang dan banyak pikiran setiap harinya. Tapi melihat Emi yang bisa lebih tenang begini membuat pak Bajra merasa bersyukur kalau putrinya bisa menerima semua keadaan yang terjadi sekarang ini.


" Pak.. hari ini aku akan pergi lagi ke rumah sakit bersama Bagas. Bapak diam saja di rumah gak apa apa. Aku hanya akan kontrol biasa saja. Tidak ada yang lain lagi. "


" kamu mengatakan akan kontrol biasa, terus kita kemarin baru datang dari rumah sakit itu kamu pikir bapak bodoh Mi? bapak tau kalau kemarin Bagas sudah di cek keseluruhan. Kalau gak gitu gimana dia boleh pulang coba. "


Emi memang tidak akan bisa berbohong pada bapaknya. Jadi dia harus jujur dengan apa yang akan dia lakukan nanti bersama Bagas di rumah sakit.


" Pak... aku dan Bagas berencana membuat Bayi tabung. Aku mau ngajak Bagas priksa dulu di dokter dan nanti bila hasilnya bagus dan benih Bagas juga bisa normal, aku akan membuat janji untuk bayi tabung itu. "


Bapak Bajra kaget mendengar rencana anaknya ini. Emi ingin membuat bayi tabung dengan resiko nanti dia akan hidup sendirian tanpa Bagas lagi. Lalu bila dia nanti memulai rumah tangga yang baru akibatnya akan sangat buruk.

__ADS_1


Selain untuk anaknya, untuk Emi juga gak akan baik. Jarang ada laki laki yang mau menerima janda beranak satu. Bila ada keluarga pihak laki laki biasanya akan merasa keberatan. Semua resiko itu seolah tidak di pikirkan oleh Emi. Emi berpikir semua akan mudah saja untuk dirinya kedepannya.


" Mi... bapak ingin kita bicara serius dulu. Jadi duduklah dulu. "


Emi baru kali ini melihat bapaknya sangat tegas pada dirinya. Dia merasa kalau yang akan di bicarakan oleh bapak nya ini memang sangat penting.


" Iya pak... ada apa? "


" Kamu bilang tadi ingin membuat bayi tabung. Apa kamu sudah memikirkan apa resiko yang akan kamu hadapi Emi? "


" Pak... aku mencoba ikhlas mengenai penyakit Bagas selama ini. Bila nanti Bagas meninggalkan aku, aku tidak akan merasa begitu kesepian saat di tinggalkan bersama bagian dari dirinya. "


Bapak Bajra tau kalau memang cinta mereka sngat kuat dan sangat tulus. Tapi, Emi nanti harus melanjutkan hidupnya walau misalnya nanti tanpa Bagas di sisinya. Jadi dia harus menata ulang lagi hidupnya bukan terjebak di masalalu yang menyedihkan.


" Mi.. coba kamu pikirkan lagi. Bila kamu membuat program bayi tabung itu, nanti kalau misal Bagas meninggalkan kamu. Apa kamu bisa mengurus diri dan bayi itu? Yakin kamu tidak akan terpuruk dalam kesedihan kamu? Bila kamu melakukan semua ini demi Bagas, bapak akan bicara pada dia mengenai apa saja resiko yang akan terjadi pada kamu nantinya. Mi... bila kamu memprogram itu sekarang atau nanti itu akan tetap ada resikonya. Apa kamu sudah pikirkan dengan matang mengenai hal ini? Jangan selalu berpikir pendek nak,.. kamu seharusnya memikirkan dengan matang dan segala resiko yang nanti akan kamu hadapi kedepannya."


Emi belum paham apa maksud bapaknya itu. Bila hanya mengenai pernikahan setelah dia sendiri nanti itu yang bapaknya khawatirkan. Seharusnya bapak Bajra tau kalau Emi tidak akan pernah menikah lagi.

__ADS_1


" Pak... kalau ini mengenai aku melanjutkan hidup aku kedepannya bagaimana bila punya anak, aku rasa bapak tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku tidak akan menikah lagi. Pernikahan aku cukup sekali hanya bersama Bagas. Dan untuk anak, dia yang akan membantu aku nantinya melanjutkan hidup aku. Anak akan membuat aku mempunyai tujuan untuk bisa melanjutkan segalanya tanpa Bagas. Pak, sampai saat ini Bagas masih bersama aku. Tapi pembicaraan kita sudah menjurus ke arah dia seolah sudah meninggal. Apa bapak tidak merasa keterlaluan saat ini? Bagas suami aku masih ada. Dan bapak berkata seolah dia secepatnya akan meninggal. Aku hanya mau ada bagian dari Bagas yang bersama aku nantinya pak... bukan yang lain lagi. Kenapa bapak tidak bisa mendukung aku sama sekali. "


Emi semakin emosional saat dia sudah membicarakan mengenai Bagas dan kelanjutan hidupnya. Tapi yang bapak Bajra cemaskan adalah masa depan anaknya. Bila masih seperti ini terus. Yang ada nanti kehidupan Emi kedepannya akan semakin berat.


Berat karena omongan orang, berat karna beban keuangan, berat karena akan sulit melanjutkan kehidupannya. Berat untuk mengasuh anak sendirian. Dan masih banyak lagi. Emi hanya melihat segala sesuatu dari satu sudut saja.


Emi belum bisa melihat resiko yang akan dia hadapi kedepannya seperti apa. Karena mengasuh anak sendirian itu akan sangat sulit untuk dirinya. Dia harus berkerja dan merawat bayi. Belum lagi biaya kehidupan dan hutang yang banyak. Ditambah fase ngidam itu yang akan menambah berat dia menjalani segalanya.


Jadi Emi belum sampai di tahap itu untuk pemikirannya. Dia hanya berpikir akan ada yang menggantikan Bagas setelah Bagas tidak ada. Tapi dia lupa kalau bayi itu perlu biaya yang besar sebelum dewasa. Dan tanggung jawab yang harus di tanggung juga sangat besar. Bayi itu tidak akan besar dengan sendirinya. Itu perlu waktu dan banyak tenaga. Tapi Emi saat ini sangat emosional bila berhubungan mengenai Bagas.


" Mi... bapak tidak ada berbicara mengenai Bagas yang sudah tidak bersama kita lagi. Tapi ini kemungkinan yang akan kamu hadapi kedepannya bila Bagas tidak bisa bersama kamu lagi. Apa kamu bisa menanggung segala hal itu? "


" Pak... aku itu hanya mau bagian dari Bagas ada bersama aku menjadi penyemangat aku dalam menjalani hidup kedepannya. hanya itu. Kenapa bapak tidak paham akan apa yang aku maksudkan sih? "


" Bapak hanya tidak mau kau nanti menjadi seperti mertua mu. Yang membuat anak tapi tidak bisa bertanggung jawab akan kelangsungan hidup anak itu. "


*deg*

__ADS_1


__ADS_2