Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Cukup lama Emi menunggu dengan Bagas di kantin dan Bagas sudah terlihat kelelahan. Jadi dia mengajak Bagas untuk menunggu di ruangan dia saja selama belum di panggil untuk mengetahui hasilnya.


" Yank... ietirahat di tempat aku saja ya.. kamu terlihat sangat lelah saat ini. Jadi yuk kita ketempat aku. Kamu bisa tidur disana walaupun tempanya kecil dan keras sih.. "


Emi menyelingi pembicaraannya dengan candaan pada Bagas. Karena melihat raut wajah Bagas yang terlihat sudah mulai tidak mengenakkan.


" Yank.... bila kita ke ruangan kamu, teman teman kamu nanti bagaimana? mereka pasti risih dengan kedatangan aku. "


" kamu jangan menghawatirkan hal itu. Mereka akan menyambut baik kamu nanti. Tidak akan ada yang merasa kamu repotkan saat ada diaana. Lagi pula jam segini mereka tidak akan ada di ruangan. Mereka sedang memeriksa pasien ke ruang rawat."


Emi mengatakan hal yang sebenarnya pada Bagas. Karena dia tau kalau jadwal perawat itu seperti apa saja. Tapi bila memang temannya ada di ruangan pun, mereka tidak akan keberatan dengan hadirnya Bagas disana. Karena mereka sudah memaklumi kondisi Emi saat ini.


Sesampainya di ruangan Emi, benar kata dia. Kalau di ruangan itu sepi tidak ada orang. Itu karena semua sedang sibuk mengurus pasien dan memberikan laporan pada dokter jaga.


Emi lalu menyiapkan tempat untuk Bagas bisa beristirahat dan bisa nyaman di ruangan itu.


" Tempat kamu di sini kecil sekali Yank... berarti dulu saat tugas malam, kamu tidur di tempat ini? "


" Hemm... dan kamu tau, kami hampir ber 7 ada di ruangan yang sama hanya untuk istirahat malam itu. Kami giliran berjaga untuk pasien. Tapi saat melewati jam darurat, dan semua keadaan sudah di periksa aman. Kami bisa tidur tenang sampai jam setengah 6.."


Bagas mendebgar istrinya bercerita begitu merasa lucu. Karena selama ini istrinya selalu mengeluh kalau tugas malam itu sangat melelahkan dan dia lebih suka tugas pagi hari. Tapi bila mendengar cerita Emi. Bagas berpikir lebih enak tugas malam karrna bisa tidur tapi masih mendapatkan uang.


" Yank... apa kamu yaki kalau tugas malam itu sangat menyusahkan? bukankah tadi kamu bilang bisa tidur. "

__ADS_1


Sambil menuntun Bagas untuk duduk di tempat yang sudah Emi sediakan, Emi mengatakan kalau tugas malam itu lebih ekstrem dari tugas pagi.


Karena telinga mereka tetap harus waspada walau mata mereka terpejam. Mereka tetap harus mendengarkan bila ada pasien yang butuh bantuan mereka.


" Yank... aku tidak bisa tidur seperti itu. mata terpejam tapi telinga tetap waspada. Aku lebih suka kerja pagi karena lebih gampang aku meminta bantuan bila terjadi keadaan darurat. "


Bagas paham maksud dari Emi. karena elusan lembut Emi pada kakinya, akhirnya Bagas terlelap di dalam ruangan itu.


Emi yang berencana istrirahat juga, mendapatkan pesan dari dokter yang menangani Bagas saat itu untuk membicarakan kondisi Bagas.


Jadi Emi terpaksa menibggalkan Bagas di dalam ruangannya dan menemui dokter itu. Tapi sebelum pergi dia berpesan pada temannya kalau Bagas dia titipkan di dalam ruangan mereka. Yang artinya mereka tidak boleh ribut saat masuk kedalam sana. Karena Bagas sedang tidur.


Teman teman Emi mengiyakan apa yang Emi katakan dan akhirnya dia bisa dengan tenang meninggalkan Bagas untuk keruangan dokter tersebut.


"Masuk."


Emi masuk kedalam dan melihat dokter Andre. Dokter yang bertanggung jawab atas keadaan Bagas. Dan akan menentukan jadwal kemoterapi Bagas.


" Dok.. "


" Ooohhh sudah datang ternyata. Duduk dulu Mi.. "


Emi harap harap cemas menunggu dokter itu berbicara. Sehingga dia meremas tangannya beberapa kali agar menghilangkan gugupnya.

__ADS_1


" Mi... kondisi Bagas sudah membaik. Ini kamu bisa lihat hasilnya di komputer. Hasil dari cek darah dan foto tulangnya semua baik. Hanya saja sel kanker itu tidak bisa kita angkat sepenuhnya dari tulang Bagas. Saya memang menyarankan kamu untuk melakukan amputasi untuk tulang Bagas dan menggantinya dengan buatan manusia. Tapi itu akan beresiko lagi untuk Bagas. Dengan keadaan Bagas yang baru membaik dan harus menjalani oprasi sebesar itu, saya rasa itu tidak mungkin bisa di terimanya. "


" Dok... solusinya bagaimana? apa tidak bisa hanya dengan kemo saja dok? "


Dokter itu terdiam sejenak dan menatap Emi dalam. Dia sudah berbicara dengan dokter Jemmy sebelum memanggil Emi datang. Dan keputusan merekael memang ingin memberitaukan keadaan terburuk dari Bagas. Agar nantinya Emi tidak terlalu berharap lebih dalam pengobatan Bagas. Dan mulai mempersiapkan diri untuk kembali merawat Bagas dengan kondisi seperti sebelumnya.


" Mi... kamu tau kalau kemo itu resikonya apa bukan? Bukan hanya membunuh sel kanker yang jahat tapi juga membunuh sel baik di dalam tubuhnya nanti. Apa kamu setuju dengan kemo ini? saya mengatakan hal ini bukan menyuruh kamu menyerah dalam mengobati Bagas. Hanya saja kamu harus berpikir matang sebelum mengambil tindakan. Karena saat ini berjalan, kamu tidak bisa mundur lagi. Jadi berpikirlah dengan bijak. Kalau kamu ingin melakukan oprasi pada Bagas. Saya sebagai dokter menolak hal itu. Karena itu tidak baik untuknya saat ini. Tapi bila kemo, kamu yang memutuskannya. Karena ini ranah keluarga pasien. Karena nanti kamu yang akan merawat Bagas di rumah. "


Emi bingung apa yang harus dia lakukan saat ini.Dia lagi lagi di hadapkan dengan pilihan yang sulit. Tapi sebenarnya dia sudah tau akan semua resiko itu. Karena dia bukan baru berada di dunia kesehatan.


" Kalau aku mengambil kemo itu, kapan Bagas akan melakukannya dok? "


" Bila kamu tetap akan melakukan hal itu, Bagas bisa masuk kamar besok dan masuk obat kemo lusa. Lagi pula hasil cek semua kondisi Bagas sudah ada hari ini. Jadi bisa di lakukan dengan cepat. Tapi bila kamu mau memikirkan dulu, nanti saat ada jawabanya, Bagas akan di cek ulang lagi dan menunggu jadwal berikutnya untuk kemo. "


Emi serba salah. dia harus kemana meminta pertimbangan saat ini. Dia sangat kebingungan dalam menghadapi kondisi Bagas. Orang tua Emi belum tau kalau setelah oprasi Bagas, Bagas itu harus menjalani berbagai perawatan lagi. Jadi mereka mengira Bagas tinggal penyembuhan saja. Begitu juga dengan Sekar. Dia juga berpikir hal yang sama dengan orang tuanya. Semua itu akibat Emi tidak pernah mau jujur pada mereka semua.


Emi selalu menyimpan masalahnya sendiri dan memendam segalanya. Tanpa memikirkan resiko yang akan dia hadapi saat masalah sudah semakin besar. Dan saat begini, dia sudah harus mengambil keputusan besar, dan bingung meminta pendapat siapa untuk membantu dirinya.


" Aku harus bagaimana sekarang...


apa aku bicara saja dengan Sekar dulu. Sepertinya itu lebih baik. "


Emi keluar dari ruanga dokter tersebut dan berjanji akan mengabari dokter Adit nanti malam soal keputusannya

__ADS_1


__ADS_2