
Hari hari berlalu dan saat ini Emi mendapatkan kabar kalau perampok yang masuk rumanya sudah di tangkap polisi. Tetapi tidak ada apapun yang mereka dapatkan di rumah Emi. Jadi mereka langsung di hukum di penjara saja.
Sedangkan Adi, dia semakin murka saat tau kondisi Bagas saat ini yang mulai berangsur membaik. Walaupun tidak bisa seperti sediakala lagi, tapi Bagas menunjukan kondisi yang semakin sehat. Hal itu membuat Adi semakin membenci Bagas.
"Dia harus mati secepat mungkin. Aku tidak mau kalau dia merebut apa yang aku punya lagi. Dia hampir merebut ibu dari aku. Tapi untung masih bisa di tahan oleh bapak. Kalau tidak, aku akan membunuh kalian semua yang menyakiti hati aku."
Adi seperti mempunyai gangguan kejiwaan karena hal ini. Dia tidak pernah mau atau suka berbagi dengan orang lain. Dia mau paling di utamakan. Dan bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Emi yang saat itu sedang libur dari pekerjaannya, dia berencana hari ini untuk mengajak Bagas kontrol ke dokter. Karena mereka harus menjalani kemoterapi setelah ini. Karena kondisi Bagas yang sudah membaik begitu, jadi Emi ingin melanjutkan proses pengobatan Bagas. Dia mau semua cepat tuntas dan Bagas kembali sehat lagi.
" Yank... kamu sudah siap? kita ada janji ketemu dokter pagi ini loh.. "
" Iya aku sudah siap. Apa Sekar sudah berangkat berkerja? "
" Hemm... dia sudah berangkat pagi pagi sekali. Kalau begitu ayo kita berangkat. Nanti selesai periksa baru kamu makan ya.. aku sudah bungkuskan makanan untuk kamu. "
Bagas dan Emi akhirnya menuju kerumah sakit untuk melakukan kontrol. Dan dalam perjalanan secara tidak sengaja Emi melihat ibu mertuanya yang sedang asik mengobrol dengan seseorang di tempat makan. Terlihat sekali ibu mertuanya itu tidak ada raut wajah menyesal sudah menelantarkan anaknya begitu saja.
" Ternyata Ibu sama sekali tidak berubah. Ibu masih saja egois dan mementingkan dirinya sendiri. Bahkan rela meninggalkan anaknya demi kehidupannya yang terjamin. Ternyata kasih sayang ibu tidaklah begitu besar untuk Bagas. Ibu memikirkan kalau Bagas tidak bisa lagi menjadi penopang hidup untuknya. Apalagi pengobatan Bagas yang sangat banyak memerlukan biaya. "
Emi berkata begitu dalam hatinya. Dia tidak mau sampai Bagas mendengar segalanya. Karena Bagas sudah cukup menderita setelah mengetahui kalau Ibunya tidak akan peduli lagi pada dirinya lagi.
Bagas tau semua itu saat dia secara tidak sengaja mendengar gumaman Emi. Sejak saat itu Bagas berusaha lebih kuat lagi dalam menjalani semuanya lagi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Emi melakukan pendaftaran dan mengantare di loket tersebut. Bagas secara tidak sengaja melihat ada salah satu teman guru di tempat dia berkerja sedang berada disana.
" Hai Gus.. "
Agus yang mendengar ada yang menyapanya, dia melihat kesamping dan mendapati ada Bagas di dekatnya.
" Astaga Bagas... ini kamu... kamu tambah kurus saat ini. Bagaimana pengobatannya? apa semua berjalan lancar? "
" Syukur semua berjalan lancar. Walau banyak proses yang harus di lewati. Kamu ada di tempat ini untuk apa? "
Agus akhirnya menceritakan kalau dirinya di katakan menderita kanker usus. Jadi saat ini dia harus menjalani serangkaian pemeriksaan untuk bisa melakukan tindakan lebih lanjut lagi.
Bagas yang mendengar hal itu, tidak bisa berkomentar apapun lagi. Dia berpikir nasib yang dia dan temannya jalani saat ini hampir sama. Hanya yang membedakan dukungan saja. Bagas hanya di dukung oleh keluarga istrinya dan istrinya saja. Sedangkan temannya itu di dukung oleh seluruh anggota keluarganya.
" Bagas... kau tidak bisa membandingkan dirinlmy dengan orang lain begitu. Seharusnya kau bersyukur mempunyai istri yang setia seperti Emi. Dia tidak meninggalkan mu dan tetap berjuang denganmu walau bagaimana pun keadaannya. Kau sudah mendapatkan cinta itu Gas. "
Bagas tau akan hal itu. Dia sangat beruntung memang memiliki Emi disampingnya. Tapi tetap saja dukungan keluarga dia butuhkan. Apalagi biaya yang besar. Dia tidak mau membebani Emi terlalu banyak.
" Kau memikirkan mengenai biaya pengobatan ya Gas? Seharusnya kau tidak memikirkan hal itu lagi. Aku yakin istrimu sudah bisa menangani semuanya. Dia sudah menjadi pegawai tetap di rumah sakit ini. Sudah pasti mendapat jaminan untuk pengobatanmu. Selain itu kau juga sudah menjadi pegawai pemerinyahan. Dan kau sudah mendapatkan tanggungan itu. Mertuamu juga bukan orang miskin. Kau tidak perlu berpikir banyak lagi Gas. Beda halnya dengan aku. Aku ini memang banyak yang mendukung. Tapi kondisi keuangan aku yang tidak mencukupi. Aku belum menjadi pegawai tetap. Istri juga tidak berkerja. Mau dapat uang darimana? Semua di berikan cobaan menurut takanran yang sudah pas di berikan oleh Tuhan. Jadi jalani saja semua itu. Karena semua akan berlalu dengan sendirinya nanti. Jangan terlalu cemas kawan. "
Perkataan temannya yang seperti ingin menguatkan dia itu berhasil membuat Bagas menjadi lebih tenang lagi. Dia memang harus bersyukur dengan segalanya. Walaupun dia tidak berkerja lagi, dia tetap di berikan gaji dari pemerintah. Dia masih menghasilkan uang untuk membayar hutang.
" Apa ini suatu keberubtungan? Tapi bila nanti dana aku di putus, bagaimana nasib Emi selanjutnya.? "
__ADS_1
Bagas masih dengan kecemasannya memimirkan Emi nanti. Sedangkan di tempat Emi saat ini, dia sedang berusaha agar pemeriksaan Bagas cepat di lakukan. Jadi dia meminta teman temannya untuk membantu dia agar tidak terlalu lama untuk mengantre.
" Pak... tolong ya... bantu aku untuk Bagas biar bisa cepat di periksa. Dia sudah ouasa dari semalam. Kalau dia terlalu lama tidak makan, kondisinya akan memburuk lagi. "
" Iya... cepat panggil dia mendekat dan kita akan masuk dari jalur belkang."
Emi lalu mencari Bagas ketempatnya dan berbasa basi sebentar dengan teman Bagas. Setelah itu dia mengajak Bagas cepat cepat pergi bersma dirinya.
" Yank... aku mau nanya sesuatu. "
" Apa itu? "
" Berapa banyak sudah kamu meminjam uang di bank untuk pengobatan aku? "
" Kenapa tiba tiba menanyakan hal ini? "
Dalam perjalanan menuju ruang pemeriksaan sempat sempatnya Bagas membahas masalah hutang. Dia hanya tidak mau Emi terlalu banyak hutang nantinya.
" Aku tidak mau terlalu membebani kamu. "
" Dan kamu juga harus tau, aku akan melakukan apapun untuk kamu. Aku tidak bisa tanpa kamu yank.. jadi kamu harus memikirkan cara sembuh saja. Bukan uang atau yang lainnya. Semua mendukung kamu. Bahkan semua dokter disini mereka mendukung kamu saat ini. Mereka sangat bangga melihat kamu bisa berjuang sampai di titik ini. Karena sangat jarang ada yang bisa melewati masa seperti kamu sebelumnya. "
Emi menyemangati Bagas dengan semua perkataannya. Dan Bagas menjadi semakin semangat lagi setelah mendengar hal itu. Dia akan berjuang lebih keras lagi kedepanya.
__ADS_1