
Ibu Ayu cukup mengerti kalau dia tidak bisa kembali lagi seperti sebelumnya kepada Emi dan Bagas karena sikap dia yang sudah mengecewakan Bagas dan Emi.
" Mi... ibu minta maaf untuk semua kesalahan ibu. Ibu tau ibu salah karena sudah meninggalkan Bagas lagi. Tapi apa salah ibu memilih kebahagiaan ibi di hari tua ibu ini? Ibu hanya ingin menikmati hidup tenang di masa tua ibu. Biarkanlah ibu bahagia saat ini Mi.."
Emi mendengar hal itu dengan kondisi emosinya yang belum setabil seketika mencibir ibu Ayu. Emi tidak bisa menyembunyikan lagi ekpresi wajahnya. Dia sudah sangat lelah untuk berpura pura baik baik saja dan menahan emosinya.
" Kebahagiaan, Ketenangan, Kenyamanan. Apa lagi yang ibu sebutkan tadi? ibu mengatakan ingin semua itu. Apa sudah ibu dapatkan semua? Apa sekarang ibu bahagia? sudah tenang dan Nyaman? Bagaimana bu rasanya meninggalkan anak kandung demi kebahagiaan diri sendiri? sebegininya ya seorang ibu. Aku malu untuk mengatakan kau adalah seorang ibu. Benar apa yang aku bilang dulu. Kau tidak layak di panggil ibu oleh siapapun. Egois. ini tidak akan membawa kamu kepada kebahagiaan bu... kau akan menyesal suatu saat nanti. Bila nanti ibu merasa sulit dan kesusahan jangan pernah cari aku atau Bagas. Seperti ibu saat ini sudah membuang Bagas, anggap saja kami sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan ibu. "
Emi berkata begitu lalu meninggalkan ibu Ayu yang menatap kepergian Emi dengan sedih. Dia sayang pada Bagas. Tapi untuk bertahan hidup dia tidak bisa mengandalkan Bagas. Selain itu nanti siapa yang akan membantu biaya pengobatan Bagas saat dia ada disana. Setidaknya dia tidak menambah beban Emi di rumah itu.
Ibu Ayu hanya belum paham. Bila dukungan seorang ibu bisa mengurangi rasa sakit anaknya. Bisa lebih semangat dalam menjalani semua cobaan. Hanya dukungan dan doa yang Bagas mau. Emi juga tidak ada menuntut Ibu Ayu untuk membantu biaya pengobatan Bagas. Tapi tindakan ibu Ayu membuat mereka kecewa.
Bagas mungkin tidak tega mengatakn hal ini pada ibunya. Tapi Emi, dia sangat tega karena dia juga sudah lelah menahan semua beban yang dia rasakan.
" Ibu sayang pada Bagas Mi.. hanya saja, ibu tidak mau menambah beban kalian lagi. Dab ibu masih ingi menikmati hari tua ibu dengan nyaman. Ibu harap kalian bisa paham apa yang ibu maksudkan. "
Emi yang sudah sampai di rumahnya, dia langsung menuju toilet di luar dulu. Sebelum masuk kedalam kamar untuk menemui Bagas.
" Kak, kenapa lama sekali? kak Bagas sama sekali tidak mau dekat dengan aku. Dia bahkan tidak mau makan saat aku suapi. Sampai saat ini dia belum minum obat. "
__ADS_1
Mendengar laporan adiknya, kepala Emi menjadi tambah berat. Dia tidak mengerti lagi bagaimana cara dia menyakinkan suaminya agar mau menerima bantuan orang lain saat dia tidak ada.
" Kakak liat Bagas dulu ya."
Sekar kadang kasihan dengan Emi yang terlalu memaksakan diri dengan apa yang dia lakukan saat ini. Tapi Sekar tidak dapat berbuat apa apa lagi. Karena ini adalah piliha Emi untuk merawat Bagas. Dia hanya bisa mendoakan kakaknya di berika kesehatan dalam mengurusi kakak iparnya itu.
" Kak Emi semakib hari semakin kurus aja. Apa sebegitu stresnya dia menghadapi kakak Bagas ya... Kakak gak pernah cerita pada siapapun. Jadi bagaimana cara aku atau yang lain tau keadaan dirinya yang sebenarnya. "
Sekar hanya bisa berkata begitu di saat dia sendiri saja. Dia tidak mungkin bisa mengatakan hal ini di depan orang tuanya atau orang lain. Karena itu akan membuat Emi di ceramahi dan semakin membebani Emi.
Emi yang sudah di dalam kamar, dia melihat Bagas menutup matanya. Dan Emi tau dia hanya pura pura tidur .
Bagas tidak menjawab dan masih memejamkan matanya. Emi dengan sabar menunggu jawaban Bagas dengan cara mengelus pundak Bagas untuk membujuk Bagas agar mau bicara kepadanya. Dan mengakhiri acara merajuk itu.
" Yank... "
" Apa kamu lelah merawat aku Mi? "
Pertanyaan Bagas seperti pisau yang menancap di hati Emi. Baru saja dia mengeluh dan mengatakan dia lelah menghadapi tingkah Bagas. Sekarang suaminya menanyakan hal ini. Emi bingung harus menjawab bagaimana. Dia tidak masalah merawat Bagas asal Bagas tidak emosi begini.
__ADS_1
" Aku tidak bosen sayang.. "
" Tapi aku tau kamu sangat lelah merawat aku Mi... kamu sering menahan emosi saat menghadapi tingkah laku aku. Aku sadar hal itu. Aku tidak mau bersama orang lain karena aku ingin hanya kamu yang mengurus aku. Aku tau ini melelahkan. Tapi kenapa dulu kamu bersikeras aku melakukan kemo bila kamu tidak bisa menjaga aku? Mi sebelumnya aku bisa berjalan lagi dan aku tidak merepotkan kamu. Tapi kenapa kamu memilih aku seperti sekarang ini? aku belum bisa menerima keadaan aku saat ini. Aku tidak bisa menerima diri aku yang lemah dan tidak bisa melakukan apa apa. Kamu paham hal itu Mi? Aku sakit saat harus menjalani peroses pengobatan itu. Melihat rambut aku harus rontok dan tubuh aku melemah begini. kamu paham apa yang aku rasakan? "
Bagas berkata begitu sambil matanya tertutup tetapi air matanya mengalir terus. Emi juga menutup bibirnya karena dia juga menangis saat ini. Semua yang dokter katakan kepada dia ternyata benar. Bagas menyalahkan dia karena mengikuti pengobatan ini.
Bagas belum bisa menerima keadaan dia yang sekarang. Dan sakit Bagas yang begini membuat Emi semakin merasa bersalah. Dia yang ingin melakukan segala macam pengobatan untuk kesembuhan Bagas. Dia juga yang mengeluh saat dirinya lelah dengan sikap Bagas yang berubah.
" Maaf yank... "
" Kenapa kamu berjuang sebegini kerasnya untuk aku Mi... ? ini sama saja siksaan untuk aku. Aku di siksa lahir dan batin sebelum mati. Ini sangat menyakitkam asal kamu tau. Bisakah aku meminta biarkan aku mati dengan cepat tanpa merasakan hal begini lagi? "
Emi semakin menangis karena perkataan Bagas. Bila dia membiarkan Bagas tanpa pengobatan saat ini, Bagas akan meninggalkan dia secepatnya. Tapi bila dia memaksa Bagas untuk tetap melakukan pengobatan, dia belum mengetahui sampai kapan Bagas akan bisa bertahan dengan kondisi yang terus melemah ini.
" Yank... tolong berjuang yank.... aku gak bisa tanpa kamu. "
" Berarti kamu lebih memilih aku untuk tersiksa saat ini begitu? Mi... aku mau keiklasan kamu aja. Aku akan terima sekarang apa keputusan kamu. Aku tetap mencintai kamu selamanya. Aku hanya mengatakan aku lelah. Hanya itu. "
Tangisan mereka membuat Sekar yang sedari tadi mendengar pembicaraan itu ikut menangis tersedu sudu di balik pintu.
__ADS_1