Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Aku Harus Bagaimana?


__ADS_3

Emi pulang dengan keadaan dia yang masih linglung dan tatapan mata yang kosong. Dia bingung harus melakukan apa saat ini. Dia merasa semua tanah yang dia injak retak dan tidak bisa menahan dirinya lagi.


" Mi... kamu kenapa? "


Emi masih tidak ada berbicara. Tapi bapak Bajra tau kalau ada masalah yang sedang terjadi saat ini. Bapak Bajra tidak mengatakan apapun lagi dan hanya memeluk Emi sebagai dukungannya pada anaknya itu.


Emi sudah tidak bisa menangis lagi. Dia mengingat semua doanya. Dia ingat bagaimana dia memohon pengampunan dosa dan meringankan jalanya kedepannya. Meminta petunjuk untuk segala sesuatu yang harus dia lakukan kedepanya nanti.


" Pak... aku menemui Bagas dulu ya... "


Melihat Emi yang tidak menangis lagi dan seperti menahan segalanya di dalam hatinya. Tuan Bajra malah merasa semakin sedih dengan hal itu. Dia lebih suka anaknya menangis dan meluapkan kesedihanya dari pada harus diam dan menahan sendirian begitu.


Emi yang sudah sampai di kamar. Dia melihat kalau Bagas masih tertidur. Jadi dia mandi dulu agar dia tidak membawa penyakit untuk Bagas nanti.


" Apa yang bisa aku lakukan saat ini? Tapi bila ini petunjuk untuk aku dan agar aku memilih jalan ini. Aku akan pilih jalan untuk ikut dengan suami aku kemana pun dia pergi. "


Emi dengan pikiran kalutnya dia malah berpikir bodoh menghadapi masalah ini. Dia ingin berbuat yang tidak tidak di saat banyak masalah yang datang.


Selesai dengan acara mandinya, Emi keluar dari kamar mandi dengan membawa bayclin di tangannya. Ini perbuatan nekad dengan pikiran bodoh yang dia punya.


Emi ingin mengakhiri hidupnya bersama Bagas saat itu juga. Dia sudah tidak sanggup bila harus memilih apa yang harus dia lakukan nanti. Dia tidak bisa di tinggalkan suaminya dan juga tidak tega bila melanjutkan pengobatan untuk Bagas.


Saat dia duduk di sebelah Bagas dan berencana ingin menuangkan cairan pemutih baju itu kedalam minuman Bagas. Bagas kambuh sesaknya. Dan saat itu Emi lalu tersentak. Seolah tersadar dari apa yang akan dia perbuat sebelumnya.

__ADS_1


Badan Bagas panas tinggi dengan napas yang sangat berat. Napas Bagas mirip seperti napas kucing yang berbunyi begitu. Karena panik, Emi berteriak memanggil bapak dan adiknya agar membantu dia membawa Bagas untuk kerumah sakit.


" Bapak... Sekar... bantu aku.. cepat tolong.. bantu.. "


Bapak Bajra dan Sekar berlarian masuk kedalam kamar dan melihat keadaan Bagas yang agak kejang saat ini. Tapi ada yang aneh di lihat oleh Bapak Bajra. Yaitu botol pemutih pakaian yang ada di dekat tempat tidur Bagas.


" Emi... apa yang kamu lakukan? "


" Aku tidak melakukan apapun pak.. cepat bantu aku membawa Bagas kerumah sakit. "


Mereka bergesas ke rumah sakit dan bapak Bajra masih menahan rasa penasaran dia kepada Emi tentang botol tersebut.


Sesampainya di rumah sakit, Bagas lalu mendapatkan penanganan darurat. Emi dan keluarga menunggu di luar dengan keadaan cemas. Bapak Bajra dia menatap Emi dengan tatapan menyelidik. Dia masih mengira Emi berbuat nekad menbuat Bagas seperti saat ini. Karena melihat obat pemutih pakaian itu.


" Pak... jangan melihat aku begitu. Ini sungguh bukan salah aku. Bagas sesak napas sendiri. Itu akibat paru parunya yang sudah bermasalah. Aku tau apa yang bapak pikirkan saat ini. "


" Aku tau aku salah sebelumnya. Saat ini aku tidak mau lagi melakukan hal itu. Nanti bila Bagas bisa baik lagi. Aku tidak akan memaksa dia berobat lagi dan akan membuat kenangan indah bersama sebelum nantinya kami harus berpisah. Aku tidak mau membuat kenangan buruk bersama Bagas di saat terakhir kami. Aku mau dia bahagia dan nanti bisa tenang meninggalkan aku. *


Emi sudah mulai mengikhlaskan Bagas sedikit demi sedikit. Doa yang dia panjatkan sebelumnya menyadarkan dia kalau dia yang meminta petunjuk ini. Berarti saat ini, ini jalan paling baik untuk mereka besama. Emi harus lebih kuat dan bersabar lagi menghadapi segalanya.


" Keluarga pasien Bagas. "


Emi lalu mendekati perawat itu dan menabyakan keadaan suaminya.

__ADS_1


" Sus, bagaimana keadaan Bagas? "


" Ada cairan di paru parunya bu.. Kami sudah menydot cairan itu. Cairan itu yang membuat pasien susah bernapas dan panas badan tinggi. Bila nanti panasnya sudah turun. Pasien bisa di bawa pulang. "


Emi tau kalau hal ini akan terjadi. Rumah sakit hanya akan menangani Bagas sebatas keluhan dia saat ini saja. Karena mereka tidak bisa memberikan pengobatan apapun pada Bagas.


" Baik sus.. trimakasi"


Emi masuk kedalam UGD itu dan mencari di bilik bagian mana tempat Bagas saat ini di rawat. Terilihat Bagas sudah bernapas dengan normal lagi. Dan dia sudah sadar kembali.


Emi sangat bahagia melihat hal itu. Dia mendekati Bagas dan memegang tangan Bagas dengan erat.


" Aku takut kamu tadi kenapa kenapa.. kamu sesak napas. Untung ada bapak dan Sekar di rumah tadi. Jadi aku bisa cepat membawa kamu kemari. "


Bapak Bajra mendengar apa yang perawat itu katakan dan apa yang Emi bicarakan dengan Bagas itu langsung merasa lega. Dia merasa bersalah karena hampir menuduh anaknya ingin berbuat kejahatan sebelumnya.


" Aku sangat bodoh. Mana mungkin anakku Emi melakukan tindakn nekad begitu. Dia begitu menyayangi Bagas. Mana mungkin dia melakukan seprti yang aku pikirkan. Mungkin obat itu tadi tidak sengaja dia bawa keluar saat Bagas kumat. "


Bapak Bajra meyakinkan dirinya kalau apa yang dia pikirkan itu salah. Tapi yang sebenar nya terjadi. Semua dugaan bapak Bajra sangat benar. Maka dari itu Emi saat ini sedang dalam suasana hati yang merasakan sangat bersalah pada suaminya.


Dia hampir saja membunuh suaminya dan bunuh diri juga. Emi menangis bukan karena sedih Bagas di rawat di rumah sakit. Tapi Emi menangis karena menyesali perbuatannya. Berkali kali kata maaf di ucapkan Emi kepada Bagas untuk mengurangi rasa bersalahnya. Tapi itu tidak bisa.


Bagas tau kalau Emi sedang merasa bersalah padanya tapi tidak tau karena apa. Dia hanya dian dan melihat Emi saja saat itu.

__ADS_1


" Sayang.... apapun yang kamu rasakan saat ini. Jangan terlalu kamu jadikan beban. Aku tidak apa apa. Aku tau kamu merasa bersalah karena suatu hal. Tapi tolong jangan di pikirkan itu lagi. Anggap saja semua sudah berlalu dan kita mulai semua dengan yang baru sekarang ini. Jadi jangan menangia lagi. Kamu harus tetap tersenyum"


Perkataan Bagas bukan membuat Emi tenang tapi dia tambah menangis kejer. Dia semakin kencang menangisnya kareana merasa tidak sanggup menghadapi Bagas saat itu.


__ADS_2