Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Romantic Date


__ADS_3

Emi menjalani harinya seperti biasa bersama Bagas. Dan mereka saling menguatkan setiap saat. Rencana Emi untuk melanjutkan pengobatan Bagas pun sudah di urungkan.


Dia mendengarkan perkataan Bagas yang mengatakan tidak mampu lagi untuk menjalani serangkaian pengobatan itu. Emi menyanggupi semua yang Bagas katakan. Tapi di dalam harinya, Emi selalu menangis karena dia merasa semakin gagal menjadi istri.


Tangisan Emi kadang di dengar oleh bapak Bajra dan bapak Bajra selalu menguatkan Emi dengan berbagai macam kata kata penguat. Sampai Emi bisa berpikir kalau memang jalan yang harus mereka tempuh saat ini hanya bisa dengan cara begini.


Emi harus iklas dalam menjalani cobaan dan belajar menerima keadaan yang sedang dia jalani sekarang ini.


" Yank... aku sudah membuat pengaturan untuk nanti malam. Kita akan melihat matahari terbenam ya nanti? Aku sudah mengatur segalanya. Aku mau menikmati waktu berdua dengan kamu seperti saat kita masih pacaran dan menikmati waktu romantis bersama. "


Bagas hanya tersenyum menjawab apa yang Emi katakan. Dia tidak bisa berbohong mengenai kondisinya lagi. Semakin hari kondisi Bagas semakin memburuk. Dia bahkan beberapa kali sudah mengeluarkan batuk darah.


Tapi dia menikmati waktu yang tersisa bersama Emi dengan membut kenangan indah bersama. Sama sama membohongi perasaan demi terlihat baik baik saja. Itulah yang mereka lakukan saat ini. Hanya ingin membuat pasangan bahagia dan tidak menunjukan kesedihan lagi.


Hari mulai sore, dan Bagas sudah di ajak ke halaman belakang untuk diam disana. Emi menyiapkan makanan yang bisa di makan oleh Bagas dan dia menemani Bagas menikmati sorenya.


" Yank..... terimakasi ya... karena kamu sudah melakukan semua ini untuk aku. Aku bahagia sekali mendapatkan semua hal ini. Belum lagi kita menikmati waktu kita berdua. Aku merasa kembali kewaktu kita pacaran dulu. Kita melakukan banyak hal bersama dan menikmati waktu berdua begini."


Suara Bagas sangat kecil dan terdengar lemah saat itu. Dia seperti berusaha keras untuk mengatakan semua itu pada Emi. Tapi karena terlalu sulit berbicara lantang, Bagas jadinya terdengar berbisik pada Emi.


Tapi Emi mendengar dan mengerti segalanya. Dia menggengam tangan Bagas dan mulai merapatkan tubuhnya. Emi menikmati waktu berdua mereka ini.

__ADS_1


" Aku juga sangat bahagia karena bisa melakukan semua ini lagi dengan kamu. Kamu tau, aku masih merasakan perasaan itu sampai sekarang. Aku masih berdebar saat akan mendekati kamu. Aku masih merasa tersipu kalau kamu menatap mata aku. Aku masih merasakan berbunga bunga saat kamu memuji aku. Yank.... aku sama sekali tidak pernah berubah dari awal hingga akhir pada kamu. Di hati ini, masih tertata indah ukiran nama kamu di sana. Aku harap kamu paham akan semua yang aku rasakan ini"


Emi mengatakan semua itu sambil menangis. Dia tidak bisa menahan air matanya saat mengungkapkan isi hatinya pada suami tercintanya.


Bagas juga sama seperti Emi. Dia sama menangis juga saat itu. Dia merasakan kehangatan dalam hatinya karena mendengar perkataan Emi. Tapi semakin matahari menenggelamkan dirinya, napas Bagas juga semakin berat dan dia merasakan tekanan berat di dadanya.


Emi belum menyadari apa yang terjadi pada Bagas saat itu. Dia masih sibuk mengelus tanga Bagas sambil bersandar di bahu Bagas. Bagas berusaha untuk tetap tenang dan menerima semuanya.


" Bila ini adalah akhir aku, aku rela pergi saat ini juga. Aku sudah merasakan kebahagiaan yang sangat besar dari istri dan keluarganya. Aku bahagia bertemu dan menjadi bagian dari mereka. Bila aku bisa, Tuhan tolong ijinkan aku bersama dia lagi di kehidupan mendatang. "


Mata Bagas semakin berat untuk di buka dan pegangan tangannya semakin melemah. Disaat itu baru Emi menyadari apa yang terjadi pada suami nya.


" Tolong.... bapak... tolong pak... "


Emi yang panik bukan menghubungi mobil sewaan. Tapi dia menghubungi ambulans. Dan untuk bisa datang dengan cepat dan membawa Bagas kerumah sakit dengan segera.


" Aku mohon... jangan sekarang.. aku mohon.. aku belum siap"


Emi terus bergumam begitu sedangkan bapak Bajra sadar dia sudah melakukan kesalahan. Bagas seharusnya dia biarkan saja seperti itu karena itu keinginan Bagas. Tapi saat melihat Bagas yang lemah dan teriakan Emi yang minta tolong. Bapak Bajra tidak bisa menghentikan dirinya agar menolong Bagas.


" Aku harap kamu bisa berjalan dengan hati hati nanti Gas. Bapak tidak bisa melakukan apapun lagi. Tapi seperti janji bapak padamu dulu. Bapak tidak akan membiarkan Emi sakit terlalu lama. Kamu bisa tenang sekarang. "

__ADS_1


Bapak Bajra berbicara di dalam hatinya karena dia merasa ini adalah hal yang sensitif dan Emi tidak boleh tau. Sedangkan Emi terus berdoa agar dia masih di berikan waktu lagi untuk bersama dengan Bagas sebentar lagi.


Tapi sesampainya di UGD. Bagas sudah meninggal.


*Tiiiiiiiiiittttt*


Suara alat yang sebelumnya di pasang agar tau detak jantung dari pasien itu tiba tiba mengeluarkan bunyi begitu setelah penanganan singkat dari dokter disana.


Emi yang ada di dalam ruangan juga dan melihat langsung yang terjadi disana, membuat Emi lemas seketika. Dia juga tidak bisa menolang tubuhnya lagi. Emi jatuh saat mendengar suara itu.


" Tidak... tidak... itu... tidak benar.. tidak... Bagas belum meninggalkan aku... Bagas...Bagas... "


Emi sulit mengontrol dirinya dan dia mulai merancu tidak jelas. Dia berusaha mendekati Bagas tapi di hadang oleh beberapa dokter dan perawat disana.


" Tidak.. tidak... Bagas... Bagas... BAGAS...... "


Teriakan kencang dari Emi terakhir kali itu langsung mebuat dia tidak sadarkan diri. Bapak Bajra juga sama kaget dan sedihnya seperti Emi. Tapi dia berusaha untuk tetap bisa menguasai dirinya. Karena bila dia juga lepas kendali. Tidak akan ada yang bisa membantu mengurus segala sesuatu tentang kepulangan Bagas nanti.


Jemmy melihat apa yang terjadi di UGD itu dan mulai mendekat. Dia tau kalau bapak dari Emi tidak akan mampu untuk melakukan segalanya sendiri. Jadi dia meminta teman perawatnya untuk membantu bapak Bajra.


Sedangkan Jemmy dia mendekati jasad Bagas dan mengelus tangannya.

__ADS_1


" Kau sangat kuat Gas. Aku salut pada dirimu yang berhasil melewati ini sampai pada tahap begini. Aku tidak pernah melihat pasien yang sekuat kamu dalam menjalani pengobatan. Padahal kamu tau efek dari pengobatan itu. Tapi demi menyenangkan wanita mu, kau mau melakukan semua itu untuknya. Aku merasa beruntung pernah kenal dengan diri mu kawan. "


__ADS_2