
" Sayang apa yang kamu bicarakan ini? Kamu mau mendur saat ini setelah kita membuat rencana begitu? Ada apa dengan kamu yang berpikir begini lagi saat ini? "
Emi takut kalau Bagas ternyata mendengar apa yang dia dan bapaknya katakan. Jadi dia berkata begitu pada Bagas sekarang ini.
" Aku tadi memikirkan lagi mengenai permintaan aku pada kamu semalam. Aku merasa egois bila meminta hal ini pada kamu. Bila kita memprogram bayi saat ini, kamu akan kesulitan dalam mengurus aku dan kandungan itu. Karena kamu harus banyak istirahat setelah melakukan program itu. Sedangakan kamu harus merawat aku saat ini. Tapi bila kamu melakukan setelah aku nanti meninggalkan kamu. Kamu akan semakin kesulitan lagi nanti. Kamu harus berkerja untuk menanggung hutang hutang kita. Aku merasa sangat khawatir akan hal itu yank... "
Emi tau akan hal itu. Tapi dia tidak peduli lagi. Dia akan tetap melakukan semua program itu dan akan memiliki anak dari Bagas nanti. Dia hanya ingin menikmati waktu bersama Bagas dulu. Seperti permintaan Bagas pada dirinya sebelumnya.
" Sudah lah.. jangan di pikirkan lagi. Saat ini yang harus kamu pikirkan itu adalah bagaimana cara kita bisa melakukan pemeriksaan dengan baik nanti. Dan aku berharap hasilnya juga akan baik. Sehingga aku bisa punya anak dari kamu. "
Emi mencoba mengalihkan pembicaraan mereka saat ini. Dia hanya tidak mau Bagas berpikir berlebihan lagi. Dan dia akan memikirkan bagaimana nanti baiknya. Dia memang sangat ingin punya anak dari Bagas. Tapi perkataan bapaknya dan perkataan Bagas tadi membuat dia sempat tertegun dan memilikirkab sesuatu yang buruk.
" Apa semua kecemasan bapak itu akan terjadi? Tapi aku hanya ingin punya sesuatu dari Bagas. Apa itu salah? Kenapa Bapak tidak mau mendukung aku saat ini? bapak bahkan menolak dengan tegas apa yang sedang aku lakukan sekarang ini."
Emi sambil mempersiapkan Bagas, dia memikirkan bapaknya yang tiba tiba bersikap tegas begitu pada dirinya.
Setelah semua siap, mereka langsung pergi ke ruamah sakit tanpa ada berpamitan pada bapak Bajra dan Sekar yang saat itu sedang berada di dalam kamar sekar untuk merapikan pakaiannya.
Bapak Bajra tau anaknya sudah pergi dengan Bagas keluar. Tapi dia sengaja tidak melihatnya karena dia merasa dia belum bisa menerima bila Emi semakin menghancurkan hidupnya lagi.
Kenangan Bagas memang bagus untuk Emi agar dia tetap bisa semangat. Tapi mahluk kecil yang tidak bersalah itu bila di perlakukan tidak adil nanti oleh Emi akan seperti apa jadinya.
Bapak Bajra hanya tidak mau anaknya menjadi seperti besannya. Hanya karena menuruti nafsu dan ego nya. Dia mengorbankan anak yang tidak bersalah dan saat ini butuh dukungan untuk menjalani pengobatannya.
__ADS_1
" Pak... apa yang bapak pikirkan. Kenapa bapak melamun begitu? "
Sekar menegur bapaknya karena sejak berselisih pendapay dengan Emi, bapaknya seperti sedang memikirkan masalah yang besar dan berat.
" Hanya memikirka kakak kamu. Kamu sudah siap dengan semua barang kamu? kalau begitu nanti hati hati di perjalanan ya... Ingat jangan katakn apapun pada ibu"
" Baik pak... aku pergi dulu. "
Sekar langsung berangkat pulang ke rumahnya dengan harapan apa yang dia takutkan tidak terjadi nantinya. Dia berharap kalau Emi tidak jadi membuat program bayi itu.
" Aku mohon atas kuasa mu... aku berharap pemeriksaan kakak Bagas kali ini itu tidak baik baik saja. Aku tidak mau kakak aku menanggung beban yang besar lagi nantinya. "
Dalam perjalanan pulang Sekar terus berdoa seperti itu. Dia tidak berani menegur langsung kakaknya itu. Tapi dia bisa berdoa agar semua rencana kakaknya gagal.
Emi yang sudah sampai di rumah sakit, lalu mendaftar agar bisa bertemu dengan dokter obgyn untuk konsultasi mengenai program bayi tabung itu.
" Oohh ya bisa silakan di tunggu sebentar. Kalau boleh tau mau melakukan pemeriksaan atau konsultasi saja? "
" Saya akan konsultasi. "
" Baiklah silakan di tunggu. "
Emi dan Bagas menunggu dengan sabar di tempat itu dan berharap nanti akan mendapatkan kabar baik. Kebetulan dokter ini tidak mengenal mereka berdua. Dan di bagian poli ini semua tidak ada yang tau kalau Emi adalah perawat yang berkerja di sana.
__ADS_1
" Yank... apa kamu lelah? mau tiduran saja? mau aku ambilkan bangkar? "
" Aku tidak apa apa... kita akan cepat selesai di tempat ini. Jadi jangan pikirkan aku. antrean saat ini juga belum terlalu banyak. Jadi masih aman. "
Saat sampai di dalam, Emi langsung menyampaikan tujuan dirinya pada dokter itu. Dan dokter yang bernama Mira tersebut tidak langsung menjawab apa yang menjadi pertanyaan Emi.
" Selamat pagi dok... "
" Iya selamat pagi. Silakan duduk. Di sini di katakan ingin konsultasi ya.. Apa yang ingin di konsulkan? "
" Iya dok.. begini saya berencana melakukan program bayi tabung saat ini. Dan hari ini saya ingin memeriksakan kesuburan kami berdua. Apa bisa dok? "
Dokter Mira hanya menatap Emi dan Bagas bergantian. Dia merasa ada yang tidak benar dalam program bayi yang ingin di lakukan oleh pasiennya itu.
" Maaf saya menanyakan hal ini. Apa ini suami ibu? Kenapa suami ibu duduk di kursi roda? apa ada masalah kesehatan seperti patah tulang atau apa? Saya menanyakan hal ini bukan untuk menghina atau merendahkan bapak.. maaf jangan tersinggung dulu. Karena ini ada hubungannya dengan pemeriksaan nanti. Kesuburan itu memang bisa di cek di lab. Tapi kita juga bisa mengetahui semua dari riwayat kesehatan pasien"
Dokter Mira sengaja cepat cepat mengklarifikasi pernyataannya agar tidak menyinggung pasangan yang ada di depannya saat ini. Karena dia sudah sangat sering menghadapi pasien yang mempunyai kepercayaan diri yang kurang.
" Tidak apa dok... saya paham. Sebenarnya suami saya mempunyai penyakit kanker tulang. Dan setelah menjalani kemo, dia tidak bisa berjalan lagi. Apa ini bisa mempengaruhi kesuburan dok? "
" Hemmm begini ibu... maaf saya mengatakan hal ini. Tapi ibu, apa ibu tau apa resiko kemoterapi itu? apa dampak yang di timbulkan dari hal itu? "
Emi mulai menduga hal yang buruk yang akan di katakan oleh dokter di hadapannya saat ini. Tapi dia mencoba untuk tetap tenang agar bisa mendengarkan dengan jelas apa yang akan di katakan oleh dokter itu.
__ADS_1
Melihat Emi diam saja, dokter Mira mencoba menjelaskan apa yang dia maksudkan. Karena dia menganggap Emi memang tidak paham akan apa yang dia katakan.
" Jadi begini bu.. bila suami ibu saat ini melakukan kemoterapi, itu akan mempengaruhi sisetem kerja tubuh yang lainnya juga. Karena bukan hanya sel jahat saja yang di bunuh oleh obat kemo itu. Tapi juga sel sel baik juga. Makanya saat ini kondisi suami ibu menjadi lemah. Nanti bila sudah selesai dengan pengobatan kemo dan semua prosedurnya, kita bisa mencoba mengecek kesuburan dari sana lagi. Tapi bila ibu masih tidak percaya dengan perkataan saya, kita bisa lakukan cek lab agar dapat jawaban pasti. "