
Emi sangat hancur mendapati kenyataan ini. Dia tidak menyangka kalau hari dimana dirinya melakukan kencan mereka kembali, di saat itu Bagas meninggalkan dia untuk selamanya.
Kenangan yang Bagas berikan pada Emi membuat Emi semakin terpuruk dalam kesedihannya. Dia belum bisa menerima kenyataan bila kekasih hatinya. Bagas meninggalkan dia selamanya. Bahkan Bagas tidak ada mengeluh apapun padanya saat dia merasakan sakit sebelum di panggil Tuhan.
" Kenapa secepat ini Tuhan? Kenapa di saat seperti ini kau ambil dia dari sisi ku? Aku belum siap untuk semua hal ini Tuhan. Seharusnya kau berikan aku kesempatan lebih lama lagi bersama Bagas. Apa aku tidak pantas mendapatkan kesempatan itu? Kenapa dia sangat cepat perginya? Aku belum puas menggenggam tangannya. Aku belum puas untuk bersandar padanya. Kenapa kau sudah memanggil dia kembali Tuhan?"
Emi terus berbicara seperti itu. Dia belum bisa mengiklas kan Bagas pergi meninggalkan dia selamanya. Apalagi dia saat ini melihat Bagaimana Bagas di tutupi kain putih dengan keadaan tidur di tempat penghormatan terakhirnya.
Emi tidak kuat melihat keadaan yang seperti itu. Dan sudah beberapa kali dia pingsan karenanya.
Ibu Ayu dan keluarganya juga datang kerumah Bagas dan memberikan penghormatan terakhir padanya. Tapi ibu Ayu belum bertemu dengan Emi. Karena Emi saat ini sedang pingsan dan di urusi oleh ibu dan adiknya di dalam kamar.
" Kamy anak yang kuat Bagas. maafkan ibu nak. Ibu tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu. Ibu sudah banyak melukai hati kamu. Ibu harap kau tenang di sana saat ini. Kau sudah tidak merasakan sakit lagi saat ini. Ibu mohon maafkan Ibu nak. Sampai akhir ternyata ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kamu. "
ibu Ayu hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya saja. Dia tidak mungkin mengatakan semua itu secara langsung karena tidak mau Adi sampai mendengar semuanya. Ibu Ayu hanya bisa menunjukan tangisan dia saja saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Adi, dia mengeluarkan tangisan palsunya. Dia hanya berpura pura sedih karena kehilangan Bagas. Padahal di dalam hatinya dia saat ini sedang berencana melakukan hal yang buruk pada Emi.
" Kau sudah meninggalkan Emi yang begitu cantik sendirian saat ini. Kalau aku sebagai adik mu membantu menjaganya, aku rasa itu tidak masalah. Aku yakin kau pasti merasa tenang nanti karena aku akan menjaga dia untuk kamu. Jadi Bagas, tenanglah disana. Emi aman bersama aku"
Sangat busuk memang rencana Adi. Dihari kematian dari saudara tirinya dia malah berencana melakukan hal yang buruk pada iparnya. Sangat tidak tau malu Adi sebagai manusia. Tapi dia selalu saja terlihat baik di mata orang orang.
Berbeda dengan Bagas dan Emi. Teman baik mereka memang sangat tau bagaimana kebaikan Emi dan Bagas. Tapi masyarakat, ibu ibu rumah tangga, mereka sama sekali tidak tau bagaimana Emi dan Bagas selama ini. Jadi mereka sering sekali menggosipkan Bagas dan Emi yang tidak tidak.
Emi sudah kembali sadar dan dia ingin melihat Bagas kembali sebelum dia di kremasi nantinya. Tapi saat akan mendekat ketempat Bagas, Emi melihat ada ibu Ayu dan keluarganya hadir di temapt itu.
Emosi Emi tidak bisa terbendung lagi saat ini. Dari awal sampai akhir ibu Ayu dan keluarganya hanya menyakiti Bagas saja. Jadi Emi ingin membalaskan semuanya saat itu juga.
" Mi... sudah nak tenang. Untuk apa kamu marah marah sekarang? orang yang melihat kamu akan semakin memandang rendah diri kamu nanti. Selain itu apa kamu pikir Bagas akan senang kepergiannya di antarkan dengan pertengkaran begini? kamu harusnya mengalah dulu Mi.. Jangan kebawa emosi begini. Bapak tau apa yang ada di hati kamu saat ini. Tapi semua itu tidak bisa kamu tunjukan sekarang juga. Harus ada alur yang kamu jalani. "
Bapak Bajra berusaha memberikan pengertian pada anaknya yang sudah terlanjur terbakar emosi saat melihat besannya tadi.
__ADS_1
Sebenarnya dia juga marah kepada mereka saat ini. Tapi bapak Bajra tidak bisa melakukan apapun untuk sekarang. Dia harus menjaga nama baik anaknya yang sudah ditinggalkan suaminya sekarang ini. Karena status Emi saat ini sangat riskan dan mudah mendapatkan gunjingan dari masyarakat sekitar.
" Pak... aku tidak terima mereka datang kemari saat ini. Kemana mereka sebelumnya? kenapa mereka malah datang di saat Bagas sudah tidak ada lagi? Kenapa mereka tidak datang saat Bagas berjuang sebelumnya? Wanita tua itu, dia menorehkan luka yang sangat dalam pada Bagas sampai dia tiada sekarang. Apa dia tidak punya rasa malu sedikit pun? kenapa dia berani datang kemari di saat dia sudah mengabaikan anaknya dulu? "
Emi mengungkapkan segala unek uneknya pada bapak Bajra. Dia merasa saat ini dia ingin sekali menanyakan semua itu pada keluarga dari ibu Ayu. Emi tidak suka kemunafikan mereka. Berpura pura baik padahal sangat sering menyakiti dia dan Bagas selama ini.
Melihat bagaimana cara Ibu Ayu menangis tadi, tidak membuat hati Emi tersentuh karenanya. Dia merasa sudah cukup selama ini melihat kebohongan ibu mertuanya itu. Karena sebelumnya Ibu Ayu juga sempat meminta maaf pada Bagas tapi ternyata mengulangi lagi kesalahannya.
Selain ibu Ayu, Emi juga melihat tadi adik ipar dan ayahnya sedang mengeluarkan air mata buayanya. Ini sangat menyakitkan untuk Emi sekarang ini. Dia menyaksikan sendiri bagaimana pintarnya keluarga itu melakukan sandiwaranya.
" Emi... bapak paham akan semua yang kamu katakan itu. Tapi ingat nak, kalau semua masalah tidak bisa kita selesaikan dengan cara kekerasan begini. Yang akan di rugikan dengan semua ini adalah kamu sendiri nantinya. Cobalah untuk tenang dulu"
Bapak Bajra memberikan Emi air agar dia bisa lebih tenang sekarang ini. Dan untung saja Emi mau meminumnya. Karena sebentar lagi Bagas akan di bawa ke tempat kremasi untuk upacara terakhirnya.
" Emi... kamu harus bisa mengantur emosimu saat ini. Bagas sudah mau berangkat sebentar lagi. Jagan memikirkan hal yang tidak penting dulu nak.. antarlah Bagas dengan tenang. Setelah itu terserah kamu mau seprti apa. Bapak akan mendukung kamu. Bila kamu mau kembali pulang kerumah, bapak akan menerima dengan tangan terbuka kehadiran kamu nanti. Tapi bila kamu masih mau bertahan di temapat ini, bapak juga akan mendukung kamu. "
__ADS_1
Emi kembali merenung dan mengingat semua kenangan dia dan Bagas. Dia memang harus fokus pada pemakaman Bagas dulu saat ini.
" Pak... nanti kita bicarakan hal ini lagi. Aku mau fokus pada Bagas dulu. "