Debaran Ini Selamanya

Debaran Ini Selamanya
Sesak Napas


__ADS_3

Sekar menyaksikan bagaimana gawatnya keadaan Bagas saat iti sempat mematung di buatnya. Dia sadar saat mendengar bentaka dari kakaknya yang meminta tabung oksigen di dekatkan pada dirinya.


Beruntung saat itu, Emi sudah mempunyai tabung oksigen di rumah. Ini juga karena saran dari dokter yang menangani Bagas. Dia menyuruh Emi untuk menyediakan oksigen bila mana nanti di perlukan untuk penanganan Bagas. Di awal Emi merasa itu tidak perlu. Tapi karena ketakutanya dia akhirnya membeli juga tabung oksigen untuk jaga jaga.


Dan hari ini tabung itu di gunakan oleh dia untuk Bagas. Bagas yang mulai bisa tenang kembali dan sudah di suntikan obat penenang juga oleh Emi. Seketika badan Emi langsung lemas seperti tidak bertulang saat selesai dengan segala ketegangan barusan. Dia tidak menyangka kalau hal ini terjadi sangat cepat.


Emi hampir kehilangan Bagas hari ini setelah perdebatan mereka dan setelah Bagas mencurahkan isi hatinya pada Emi mengenai apa yang dia rasakan. Bila sampai Bagas tadi telat di tolong, Emi yang akan merasakan pukulan paling beraat saat itu. Karena dia akan terus merasa bersalah setelah apa yang terjadi hari ini.


" Kak... ini minum dulu... minum dulu kak..."


Sekar memberikan air pada Emi dengan tangan gemetaran. Dia juga masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi.


Emi yang melihat adikny juga sedang syok akibat kejadian tadi. Dia segera menarik badan adiknya dan menangis bersama.


Emi mengeluarkan semua emosi yang dia rasakan saat itu denga tangisan. Dia memang harus menemui dokter sesegera mungkin. Sekar dia juga menangis kencang karena ini pengalaman pertamanya menghadapi situasi dimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Bagas tadi sekarat.


Sekar sangat takut akan hal itu. Dia merasa sudah tidak berani lagi untuk mengurus Bagas bila di tinggal pergi oleh kakaknya nanti. Awalnya Sekar tidak masalah di suruh menjaga Bagas walau Bagas yang begitu cerewet saat di hadapi. Tapi kejadian tadi, membuat Sekar memikirkan bagaimana bila saat dia di tinggalkan oleh Emi berdua dengan Bagas, Bagas kumat seperti barusan.


Sekar tidak mau menjadi penyebab meninggalnya Bagas kalau begitu.

__ADS_1


" Kak... aku pulang saja ya... aku tinggal dengan ibu lagi ya... biar bapak saja yang menemani kakak disini merawat kakak Bagas. Kak, aku sudah tidak sanggup. Aku gak bisa kak... "


Keluhan adiknya yang sambil menangis ini menambah beban untuk Emi lagi. Dia kembali berpikir mengenai bagaimana cara dia agar tidak merepotkan banyak orang lagi. Dia merasa kasihan bila harus menyuruh bapaknya datang dan ikut merawat Bagas.


" Kamu pulang saja dek.. biar kakak saja yang mengurus Bagas kakak tidak apa apa. Kakak hanya kaget tadi. "


Sekar tau kalau kakaknya ini berusaha kuat lagi. Tapi dia memang sudah tidak sanggup bila harus tetap tinggal dengan keadaan yang seperti sekarang ini.Dia menyerah. Dia tidak sanggup berhadapan dengan ketakutan seperti itu setiap saat.


" Aku akan katakan pada bapak agar dia datang kemari menemani kakak.. kakak jangan berpikir kalau kakak membebani kami. Kakak tidak ada membebani kami. Hanya saja aku tidak berani bila harus menghadapi situasi seperti tadi lagi. Aku gak siap kak... Aku mungkin saja tidak akan bisa bertindak seperti yang kakak lakukan. Karena aku pasti sangat kaget sampai tidak bisa bergerak. Beda dengan kakak yang sudah biasa menghadapi kondisi seperti saat ini. "


Emi tau kalau menjadi orang yang tidak pernah menangani masalah seperti ini akan sangat susah untuk merawat Bagas. Dia tau adiknya tidak mau bila nanti terjadi apa apa pada Bagas. Adiknya di anggap lalai mengurus Bagas dan di salahkan.


" Dek... pulanglah... kakak akan mencari perawat saja nanti. Benar kata kamu kalau sangat sulit untuk orang biasa menghadapi hal seperti tadi. Kakak tidak mau kalau bapak juga merasakan hal yang seprti kamu rasakan ini. "


" Kak... bila kakak mencari perawat. Apa dia akan di terima oleh kakak Bagas? kakak tau sendiri kita saja sangat sulit di terima oleh dia. Apalagi orang lain. Kak... aku akan hubungi bapak dulu untuk meminta bantuan sama bapak. Kak Bagas sangat menurut pada kakak... aku yakin kalau kakak aka sangat terbantu kalau bapak ada disini mengurus kakak Bagas. "


Bagas memang sangat menurut dengan bapaknya Emi. Bahkan tidak pernah Bagas mengatakan tidak saat bapak Emi meminta sesuatu hal. Jadi mengkin itu bisa meringankan beban Emi nanti dalam mengurus Bagas.


Hanya saja, bila emosi Bagas masih tidak stabil begitu. Dia takutnya nanti bapaknya akan melihat kalau anaknya di bentak oleh Bagas dan yang lebih buruk lagi bapak nya mendapat perlakuan kasar dari Bagas.

__ADS_1


Emi belum bisa memperediksi bagaimana dia bisa menghadapi kondisi emosi Bagas yang tidak stabil itu. Karena cepat sekali Bagas berganti suasana hati.


" Apa bapak akan repot ya dek? kakak gak mau nanti bila bapak disini, dia melihat kakak bertengkar dengan Bagas. Terus bapak juga mendapatkan perlakuan buruk dari Bagas. "


" Kak, kita bicarakan pelan pelan pada bapak ya... bapak paling mengerti kita selama ini. Bapak sangat bijak dalam menangani masalah. Jadi kita coba saja dulu berbicara dengan bapak ya... "


Emi setuju dan dia ingin segera menghubungi bapaknya. Tapi saat melihat hp, dia melihat jam sudah menunjukan pukul 23.45 dan sudah pasti saat ini orang tuanya sedang istirahat.


" Kita hubungi bapak besok aja dek... ini sudah sangat larut ternyata. Kakak tidak mau mengganggu istirahat mereka. "


" Kalau begitu, aku mohon besok kakak jangan kerumah sakit dulu. Aku gak mau sendirian di rumah mengurus kakak Bagas. Aku mau pulang secepatnya. "


Sekar sepertinya sangat ketakutan dengan kejadian tadi. Dan sepertinya hal itu meninggalkan trauma tersendiri untuk dirinya. Jadi Emi harus menunda dulu keingian dia untuk pergi kerumah sakit melihat hasil pemeriksaan Bagas.


" Hemmm sudah tenang... minum lagi.. kakak tidak akan kemana mana besok. Dan akan meminta bapak cepat datang. "


Emi menenangkan Sekar dengan kata kata begitu. Tetapi dia sendiri saat itu merasakan ketakutan yang besar juga.


Emi pertama kali menangani orang sekarat seperti tadi. Dan ini langsung suaminya menjadi bahan untuk dia praktek. Biasanya dia akan berkerja sama dengan teman temannya dalam menangani setiap masalah pasien. Tapi kali ini semua dia lakukan sendiri dan hanya di bantu oleh orang tidak berpengalaman seperti adiknya.

__ADS_1


__ADS_2