
"Sayang, apakah kau sibuk? Aku ingin mengajakmu bersantai sejenak."
"Aku tidak sibuk, bagaimana kalau akhir pekan ini?" Belle melihat jadwalnya, ada waktu luang untuk beristirahat di hari sabtu dan minggu.
"Baiklah, aku akan menjemputmu besok pagi jam 8 pagi. See you beb. " Alech menutup telponnya.
Belle dan Alech sering bertemu di cafe, tempat pertama kali mereka bertemu, hanya sekedar makan siang bersama. Itupun Billy juga ikut nimbrung makan bersama mereka.
***
Sepeeti biasa, Alech menjemput tepat waktu. Kali ini Alech membawa mobilnya.
"Hey sayang, kita pergi sekarang?"
"Yep, ayo kita berlibur ... Aku sangat butuh liburan, terlalu banyak pekerjaan juga tidak baik untuk kesehatanku." Belle cemberut seperti anak kecil.
"Hahaha ... Ayo kita habiskan waktu seperti para wisatawan yang berlibur ke London."
"Woah ... It will be fun!" Belle kegirangan.
Mereka berhenti di Hyde Park, pohon yang rindang, bunga sakura yang sudah mulai mekar dan tanah yang diselimuti rumput hijau, menambah sejuk suasana, angin yang berhembus lembut menerbangkan beberapa helai rambut hitam nan panjang milik Belle.
"Akhirnya setelah sekian lama aku hanya terkurung di ruangan, sekarang bisa merasakan udara bebas. Terdengar seperti tahanan kan?"
"Hahaha... Aku juga merasakan hal yang sama." Alech tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya Belle.
"Nothing. Aku sedikit merasa kesemutan di bagian kaki." Alech mencoba mencari alasan.
"Kalau begitu kita bisa duduk disini dulu." Belle duduk di bangku taman serta menarik Alech untuk ikut duduk.
Alech menyadari ada seseorang yang mengikuti mereka sedari tadi. Orang yang sama ketika mereka sedang bersama. Mulai dari cafe dekat kantor sampai hari ini.
Alech dengan cekatan menekan arlojinya, mengirimkan tanda kepada para bawahannya. Terlalu bahaya untuk Alech mengejar orang itu dan meninggalkan Belle sendiri. Terlebih lagi Belle belum tau siapa dirinya yang sebenarnya.
Alech menatap Belle yang sedang menutup mata dan menikmati angin yang bertiup lembut. Dia heran kenapa banyak musuh yang mengincar pacarnya itu, apa selama ini dia baik-baik saja? Atau selama ini dia bisa menangani orang-orang yang ingin membunuhnya? Pikiran Alech dibuat kacau oleh Belle.
"Alech ... Sayang ... Hallo ..." Belle memanggil Alech yang sedang melamun.
"Ah maaf, aku sedang memikirkan sesuatu."
"Apakah kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Iya aku baik-baik saja, ayo kita jalan lagi, disana ada cafe yang menjual roti yang terkenal enak."
"Ayo kita kesana!" Belle bersemangat ketika Alech membicarakan makanan, karena Belle tahu apapun makanan yang di rekomendasikan oleh Alech pasti lezat.
Alech yang sedang menikmati roti dan segelas teh bersama Belle, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Aku angkat telpon dulu sebentar."
Belle hanya menjawab dengan anggukan, karena mulutnya penuh dengan roti.
"Bos, orang yang mengikuti anda sudah kami amankan, dia tidak mau memberitahu apapun."
"Jaga dia baik-baik, biar itu jadi tugasku nanti. Untuk sementara amankan tempat sekitar, jangan sampai lengah."
"Baik bos."
Setelah Alech menerima telepon dari anak buahnya, dia kembali ke meja dimana Belle yang masih lahap memakan roti.
"Ada masalah?"
"Umm ya, sedikit. Client meminta hasil 3D yang aku buat untuk dikirimkan malam ini."
"Apa sudah selesai kamu buat?"
"Kalau begitu ayo kita pulang, kamu harus menyelesaikan pesanan itu. Kita bisa jalan-jalan lagi besok."
"Apa kau tidak apa-apa? Kita baru keluar sebentar dan aku juga tidak menyangka kalau deadline dipercepat."
"It's ok Alech. Masih ada hari esok."
"I'm so sorry beb..."
"Ayo lah Alech, aku tidak apa-apa, aku juga akan mengerjakan tugasku yang belum selesai. Jadi kita impas, kita sama-sama mengerjakan pekerjaan kita masing-masing." Belle menggenggam tangan Alech.
Dalam perjalanan pulang, mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Alech memikirkan orang suruhan siapa yang anak buahnya berhasil tangkap. Sedangkan Belle memikirkan ada hal janggal pada Alech. Belle bukanlah seorang wanita yang polos dan tidak peka, dia adalah wanita genius dalam beberapa hal.
Tak lama kemudian mereka sampai didepan apartment Belle, dengan lembut Alech mencium kening Belle.
"See you beb, jaga dirimu baik-baik."
"See you ..." Belle turun dari mobil Alech dan melambaikan tangan, lalu dia masuk ke dalam apartmentnya.
Alech melesat pergi dengan kecepatan penuh. Tidak membutuhkan waktu lama, ia pun sampai di sebuah gudang tua yang terbengkalai.
__ADS_1
"Bos, kau sudah datang."
"Dimana orangnya?"
"Ada didalam bos, dia hanya mau bicara dengan anda."
Laki-laki dengan baju hitam, berumur sekitar 35 tahun itu duduk terikat dikursi. Wajahnya yang tenang menatap Alech tanpa takut.
"Kamu sudah mengikuti wanita itu beberapa bulan ini bukan? Apa tujuanmu?"
"Aku hanya menjalankan tugas," Jawab laki-laki itu dengan santai.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Ayah Isabella, Tuan Jakob."
"Untuk apa?"
"Jika kau ingin jawaban lebih banyak, kau bisa menghubungi Tuan Jakob."
Tanpa banyak bertanya, Alech mengambil ponselnya, dia menekan nomor telpon Tuan Jakob.
"Anak buah anda tertangkap oleh ku, Tuan Jakob."
"Oh benarkah? Dia tidak pandai bersembunyi rupanya, aku akan menarik dia pulang dan mengajarinya lebih ketat lagi."
"Bukankah lebih baik orang seperti dia dibunuh saja? Membuat malu majikannya seperti ini."
"Hahaha ... Alech kamu belum berubah ternyata ... Oh ya bagaimana dengan kencanmu hari ini?"
"Tidak berjalan dengan baik, karena anak buah anda. Tuan, sudah cukup basa basinya. Untuk apa anda membuntuti putri anda sendiri?" Alech mulai tidak sabar.
"Kau tahu istriku meninggal bukan karena kecelakaan, melainkan dia dibunuh, sebelum kecelakaan itu terjadi, dia ditembak tepat di jantungnya. Kau paham kan maksudku?"
"Saya mengerti. Serahkan saja padaku, dan suruh anak buah anda yang tidak berguna ini kembali untuk mendapatkan pendidikan yang layak."
Alech memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan laki-laki itu.
Ayah Isabella mengetahui bahwa istrinya meninggal bukan karena kecelakaan. Itu berarti Tuan Jakob sedang mencari dalang dari pembunuhan istrinya. Alech heran kenapa orang seperti Tuan Jakob sampai menghabiskan waktu 5 tahun lebih untuk mencari pembunuh itu. Itu tandanya bahwa orang yang membunuh Valerie bukanlah orang biasa, orang yang cukup cerdik dan rapi untuk membunuh seseorang. Tidak ada jejak sedikitpun dari kejadian itu.
Alech berasumsi bahwa orang yang membunuh Valerie adalah orang yang sama dengan yang membunuh kedua orang tuanya. Dia belum mengetahui motif apa yang membuat orang tersebut membunuh orang-orang penting di lingkungan mafia seperti dirinya dan Tuan Jakob. Entah apa yang orang itu cari dengan cara membunuh.
Sesampainya Alech di rumahnya, dia langsung membuka data para anggota mafia di seluruh dunia. Alech mencermati satu persatu. Data yang tidak bisa ditembus oleh siapapun tapi Alech mampu menembusnya tanpa meninggalkan jejak.
__ADS_1
Setelah berjam-jam, Alech menemukan titik terang, orang yang kemungkinan menjadi dalang dari pembunuhan orang tuanya dan istri Tuan Jakob.