Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 46


__ADS_3

Belle menceritakan Lily buku dongeng sebelum tidur. Tidak lama kemudian Lily tidur dengan lelap. Dengan hati-hati Belle keluar dari kamar Lily dan melihat Pill yang sedang duduk dan sedang melihat acara tv.


"Maaf, karena Lily jadi aku harus merepotkanmu." Pill memggeser duduknya.


"Tidak apa, dia hanya anak kecil yang butuh kasih sayang seorang ibu dan aku tahu rasanya." Belle meraih kaleng bir yang ada di meja.


"Wine?" Pill menawarkan kepada Belle.


Belle mengangguk dengan tawaran Pill.


Pill bergegas untuk mengambil Wine yang ada di lemari dapur, dan dua gelas. Ia menuangkan wine untuk Belle.


Mereka menghabiskan satu boto wine dan bercerita tentang kisah hidupnya masing-masing. Malam semakin larut dan mereka sudah sangat mabuk.


"Bell, aku mencintaimu." Dengan kondisi setengah sadar Pill mengungkapkan perasaannya.


Belle tertawa mendengar ucapan Pill. "Aku menyukaimu tapi aku tidak tahu caranya untuk mulai mencintai orang lain." Belle mencibir dirinya sendiri.


"Kau pasti bisa, ikuti saja kata hatimu." Wajah Pill mendekat tepat di depan muka Belle.


Belle mengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.


Pill menyentuh bibir Belle dengan bibirnya. Ia memberikan kecupan kecil di bibir milik Belle, sementara itu tangan Pill mengusap halus punggung Belle.


Belle membuka bibirnya. Ia mengizinkan Pill menjelajari bibirnya. Tanpa sadar tangan Belle menekan kepala Pill agar tetap menciumnya.


Lidah mereka saling bertautan. Pill melu mat bibir Belle dengan lembut dan menjadi semakin menggebu. Ciuman yang intens membuat Belle melenguh.


Belle menarik rambut Pill penuh dengan hasrat. Sekejap kemudian Belle melepaskan kancing kemeja yang Pill kenakan.


Pill menggendong Belle ke kamarnya. Pill merebahkan Belle di atas kasurnya. Pill melepaskan semua pakaiannya tanpa sehelai benang yang berada di tubuhnya.


Mata Belle memancarkan kekaguman saat melihat badan Pill yang atletis. Hasratnya tidak bisa ditunda lagi, ia menarik tangan Pill dengan kasar.


Pill menindih badan Belle yang sintal. Ia melu mat bibir Belle dengan hasrat yang menggebu. Ciumannya turun ke area leher Belle yang putih. Ia menghujani ciuman dan gigitan kecil di leher Belle.


Belle melenguh hebat dan jarinya menari di punggung Pill.


Pill menyingkirkan seluruh pakaian yang berada di tubuh Belle. Pill menuju ke bukit milik Belle. Ia memainkan lidahnya di kedua bukit itu. Pill membuka kedua kaki jenjang Belle agar memudahkannya bersatu dengan Belle.


Belle merasa tubuhnya melayang. "Alech teruskan, aku menyukainya." Tanpa sadar Belle menyebutkan nama Alech di tengah acara panasnya dengan Pill.

__ADS_1


Seketika Pill berhenti sebelum ia masuk ke dalam tubuh Belle. Ia segera menjauh dari Belle dan mengenakan pakaiannya kembali dan menutupi tubuh Belle dengan selimut.


Belle tersentak. Ia tidak sadar apa yang sudah ia ucapkan.


Pill keluar dari kamar dan meninggalkan Belle sendiri di kamar. Ia menuju ke dapur untuk mengambil air dingin. Tak lama kemudian Belle keluar dari kamar dengan lakaian lengkap.


Kondisi yang canggung untuk mereka berdua.


"Pill, aku harus pergi, ada urusan mendesak." Belle mengambil tasnya yang berada di atas sofa.


"Biar aku antar." Pill meletakkan gelasnya di atas meja.


"Tidak perlu. Kakakku sudah menunggu di luar. Sampaikan permintaan maafku untuk Lily." Belle segera keluar dari apartemen Pill dengan rasa bersalah.


Belle melihat mobil Isaac sudah menunggu di tempat parkir. Ia segera masuk ke mobil Isaac.


"Kak ..." Belle melihat kakaknya yang terlihat lebih pendiam.


"Semua barangmu sudah siap dan kita akan menuju ke Amerika sekarang." Isaac menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat.


"Ada apa kak?" Belle semakin bingung dengan kakaknya itu.


"Kau akan tahu setelah sampai di sana." Isaac masih bersikap dingin kepada Belle.


"Lebih baik aku yang menculikmu dari pada laki-laki lain." Suara Isaac sedikit kesal.


Belle terbahak mendengar ucapan kakaknya. "Ternyata kau lucu juga. Jadi kenapa kita harus pergi ke Amerika?"


"Joseph belum mati," jawabnya singkat.


Belle terbelalak mendengarnya. "Apa?! Dia belum mati? Sepertinya dia punya tujuh nyawa seperti kucing."


"Tapi dia beehasil ditangkap oleh anak buah kakek dan sekarang ia berada di Amerika."


"Terus ada kabar tentang Alech?" Belle berharap ada kabar baik.


Isaac menggeleng.


"Sudah aku duga." Belle duduk dengan lesu.


- Amerika Serikat -

__ADS_1


Esmat menyambut kedatangan cucu - cucunya dengan gembira.


"Kalian istirhatlah dulu. Kita akan pergi menemui tikus itu nanti malam." Esmat menunjukkan kamar istirahat.


Setelah Belle membersihkan diri, ia langsung merebahkan badannya dan tertidur dengan lelap.


Dalam tidurnya, Belle merasakan tangannya tidak bisa bergerak dan mulutnya tidak bisa terbuka. Ia membuka matanya dan ia terkejut saat melihat dirinya berada di dalam mobil dengan kondisi terikat dan mulut tertutup plester.


"Hei apakah gadis itu masih pingsan?" tanya salah satu penculik itu kepada rekannya.


Belle segera menutup matanya.


"Gadis lemah. Dia masih pingsan," jawab rekan penculik itu.


"Kalau begitu kita bisa makan malam dengan tenang. Ah di sana ada makanan lezat. Kita berhenti di sana." Penculik itu melaju ke sebuah mini bar pinggir jalan.


Mereka turun dari mobilnya dan menuju ke mini bar.


Belle segera membuka matanya dan ia tidak tahu di mana ia berada sekarang ini. Belle berusaha membuka tali yang mengikat tangannya dengan cepat. Lalu ia membuka plester di mulutnya.


"Cih! Penculik amatir. Mengikat saja tidak benar." Belle menggerutu.


Belle membuka pintu mobil dan ia terkejut dengan pria yang berada di luar pintu. Pria dengan topeng besi dan baju berwarna hitam.


"Cepat, aku dikirim oleh Esmat untuk menyelamatkanmu." Pria itu menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Belle segara keluar dari mobil itu dan mengikuti pria bertopeng. Entah kenapa, Belle merasa nyaman berada di dekat pria itu. Ia bahkan ingin memeluk pria bertopeng itu.


Belle memperhatikan kaki pria itu sedikit pincang saat berjalan. Namun Belle menepis prasangka bahwa pria itu adalah Alech.


Penculik itu menyadari bahwa Belle telah kabur dari mobil mereka ketika mereka kembali dan menemukan pintu mobil dengan kondisi pintu yang terbuka.


Empat penculik itu berpencar untuk menemukan Belle.


Suara tawa dua orang penculik membuat langkah Belle terhenti. "Sial! Kita tertangkap." Belle berbicara dengan suara pelan.


"Kau meminta tolong kepada laki-laki pincang untuk menyelamatkanmu?" Penculik itu kembali tertawa.


Kedua penculik itu berjalan mendekati Belle dan pria bertopeng itu untuk menangkap mereka.


Namun Belle tidak mundur dam tidak takut. Ia sering mengalami kejadian ini sebelumnya. Bertemu dengan orang yang hendak menculiknya.

__ADS_1


Penculik itu geram dan menyerang Belle. Dengan cepat Belle menangkis dan memukul penculik itu tepat di area fatal. Sedangkan pria itu sudah melumpuhkan penculik satunya.


__ADS_2