Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 34


__ADS_3

St. THOMAS' HOSPITAL



Belle berbaring lemah di rumah sakit yang tidak jauh dari Westminster Bridge. Ia tidak sadarkan diri selama lima hari.


Semua sibuk menjaga Belle di rumah sakit secara bergantian. Lukanya memang tidak serius tapi kondisi shock yang menumpuk menjadikannya tidak sadarkan diri selama berhari-hari.


"Ayah ibu lihat, itu rumah kita!" Dengan girang Belle menatap rumahnya di balik kaca helikopter.


Helikopter mendarat di lapangan samping rumahnya. Belle berlari masuk ke rumah. Ia terpaku di ambang pintu melihat Marcus yang sudah menunggu di rumahnya itu.


Belle mundur dua langkah. Karena ia tidak tahu siapa laki-laki yang ada di depannya itu.


Jakob dan Valerie tersenyum. "Jangan takut, dia paman Marcus." Valerie menggendong Belle dan mengusap kepalanya.


"Gadis kecil yang cantik ... Panggil saja aku paman Marc, dan ini anakku, Alech."


Setelah perkenalan mereka, Marcus dan Alech sering datang ke rumah Belle. Sudah seminggu lamanya mereka datang setiap hari.


Kali ini Alech melihat Belle yang sedang murang, Belle duduk di pangkuan ibunya itu sedang tidak bersemangat meskipun hanya tersenyum.


Alech tersenyum ramah ke arah Jakob, Valerie dan Belle. "Ayo kita main." Alech mengulurkan tangannya untuk mengajak Belle bermain di taman belakang rumah.



Belle dan Alech bermain dekat stable horse. Pepohonan hijau dan rindang menghalau angin yang bertiup kencang. Mereka duduk di bawah pohon besar untuk melepas lelah sejenak.


Alech menulis sesuatu di pohon dengan menggunakan batu yang ia genggam. "Alech Belle Selamanya." Tulisan yang dibungkus dengan gambar hati.


Selesai menulis di pohon, Alech mencium pipi Belle yang tembam, setelah itu ia berlari ke arah rumah. Belle yang masih duduk di dekat pohon hanya bisa diam mematung dengan pipi bersemu merah.


Belle membuka matanya perlahan. Ia masih merasakan pusing dan berat untuk membuka mata. Sesaat kemudia Belle menoleh ke samping tempat tidur, terlihat Alech yang tidur tertelungkup sambil memegangi tangannya. Ia mengusap rambut Alech dengan pelan.


"Belle ... kau sudah sadar. Aku akan panggilkan dokter." Alech berlari ke kuar ruangan dan memanggil dokter.


Dokter datang dan memeriksa kondisi Belle. "Kau baik-baik saja, kondisimu bagus. Jika tidak ada keluhan lain, kau bisa pulang tiga hari lagi,"

__ADS_1


***


***


***


Kondisi Belle sudah membaik, ia sudah bisa berjalan lagi seperti biasa. Luka di kakinya sudah mulai kering.


Alech menjaga Belle penuh dengan perhatian, ia tidak pernah meninggalkan Belle sedetikpun. Keahlian Alech dalam dunia medis sangat membantu perawatan Belle.


Dengan lembut Alech membuka perban yang membalut kaki indah Belle, ia memnersihkan dan mengobati luka dengan sangat hati-hati.


Belle sangat tersentuh dengan sikap Alech. "Alech ... bolehkah aku bertanya padamu beberapa hal?"


"Kau boleh bertanya apapun, dan aku akan jawab semua." Alech tersenyum, namun pandangannya tidak lepas dari kaki Belle yang sedang ia bersihkan.


Belle tidak tahu harus bicara mulai dari mana. "Stable belakang rumah." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.


Wajah Alech cerah, secerah matahari. "Akhirnya kau mengingatnya." Senyum bahagia Alech terlihat jelas di wajahnya.


"Alech Belle selamanya," ucap mereka bersamaan.


Tawa mereka memenuhi kamar. Banyak alasan mereka tertawa, kenangan masa kecil dan kata yang mereka ucapkan secara bersamaan.


"Kau masih ingat ketika aku menciummu?" Alech mengusap ujung matanya yang sedikit berair.


"Kapan? Kenapa aku tidak ingat?" Belle menutupi hal memalukan itu. Tapi wajahnya tidak mengatakan hal yang sama, pipi Belle yang merah terlihat sangat jelas.


"Hahaha ... wajahmu sekarang sama seperti wajahmu sewaktu kecil." Alech menarik hidung Belle, gemas.


"Dasar bocah liar. Tidak tahu malu." Belle cemberut seperti anak kecil yang kalah bermain game.


"Kemana kau pergi setelah aku berlari untuk mengambil bunga? Dan ketika aku kembali kau sudah tidak ada di bawah pohon." Pertanyaan yang sudah lama Alech ingin tanyakan, baru sempat ia tanyakan sekarang.


"Pulang dan aku masuk ke kamarku, mengunci pintu dan tidur," jawab Belle dengan wajah galak yang ia buat-buat.


Air wajah Belle terlihat berubah, ia mengingat tentang Shei dan Alech. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya.

__ADS_1


Alech tahu, setiap kali wajah Belle berubah seperti itu kemungkinan ia sedang mengingat tentang Shei.


"Bell ... mau aku jelaskan dengan jelas apa yang telah terjadi antara aku dan Shei?" Alech duduk di samping Belle, mereka bersandar di kepala tempat tidur. Tangan Alech menarik Belle ke dalam pelukannya.


Belle yang terkejut tidak bisa bergerak untuk menghindar, pikiran dan tubuhnya merespon berbeda. Ia bersandar di dada Alech sebelah kanan dengan sedikit canggung.


Alech mulai menceritakan pertama kalinya bertemu Shei, mengapa ia memutuskan hubungan dengan Shei, sampai ia beberapa kali bertemu dengan Shei yang membuat semua menjadi mimpi buruk untuk Alech dan Belle.


"Aku menemui wanita itu karena dia ingin bunuh diri, dia dihamili oleh David dan berniat untuk menggugurkan kandungannya, yang kau lihat waktu itu aku sedang berusaha menenangkannya. Namun sebulan yang lalu, dia menggugurkan kandungannya tanpa mengatakan apapun kepadaku." Suara Alech yang tenang dan tangannya yang mengusap rambut panjang Belle terasa nyaman. " Foto yang Isaac ambil itu aku hanya menangkap Shei yang terpleset, karena sangat berbahaya untuk kandungannya jika ia sampai jatuh dan menekan perutnya."


Belle hanya diam, ia mencerna semua perkataan Alech. Ada rasa menyesal yang ia rasakan, ia tidak mau mendengar penjelasan Alech dan mengutamakan rasa cemburu. Jika dari awal ia mendengarkan penjelasan Alech, hubungannya pasti akan baik-baik saja sampai saat ini. Cinta memang membunuh akal sehatnya, dan menyiksa perasaannya sendiri.


Alech menarik wajah Belle untuk menatapnya. Perlahan bibir Alech menyentuh bibir merah muda milik Belle, ia melu muat bibir wanita yang ia cintai sejak kecil itu penuh dengan kelembutan.


Belle membuka mulutnya perlahan, lidah mereka saling beradu pelan namun pasti. Ciuman yang lembut berubah menjadi hasrat yang menggebu. Ada rasa rindu dan ingin memiliki di setiap sentuhannya.


Alech membaringkan Belle dengan perlahan tanpa melepaskan bibir mereka yang masih terpagut satu sama lain, sesaat kemudian tangannya melesat ke dada Belle yang besar, ia meremas gundukan itu dengan lembut. Lenguhan Belle terdengar lirih, membuat Alech tambah bersemangat. Bibirnya kini menelusuri leher jenjang nan putih milik Belle.


"Uhmmm ..." Lenguhan Belle tidak terkendali, ia merasakan sekujur tubuhnya seperti tersengat aliran listrik yang menggelitik ke seluruh tubuhnya.


Gigitan-gigitan kecil yang Alech berikan membuat Belle seperti terbang melayang. Tidak sampai di situ, bibir Alech terus menjelajahi ke telinga Belle, deru nafasnya yang menyapu telinga Belle dengan lembut menambah hasrat mereka tidak terkendali.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Bos, ada kabar darurat." Suara anak buah Alech terdengar dari balik pintu.


Mereka mengakhiri aktifitasnya dengan enggan. Alech menyelusupkan kepalanya di leher Belle dengan nafas yang tidak beraturan.


"Akan aku bunuh dia, beraninya mengganggu disaat seperti ini." Suara Alech terdengar parau, menahan nafsunya yang tertunda.


"Hahaha ... Pergilah, mungkin lain kali bisa kita teruskan." Seketika Belle menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Sial! Mulutku tidak bisa bekerja sama." Ia merutuki dirinya sendiri, kata-kata yang seolah berharap untuk disentuh lagi meluncur dengan lincah dari bibirnya.


Alech tersenyum mendengar ucapan Belle, ia bangkit dan duduk sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia mengatur nafas dan mencium kening Belle. "Istirahatlah. Aku pergi dulu, aku usahakan kembali secepatnya." Tangan Alech mengusap bibir Belle dengan lembut. Senyuman bahagia terlihat jelas di wajahnya.


Nafas Belle yang masih memburu hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sebelum keluar, Alech memandang Belle dengan senyuman yang penuh makna, dan sesaat kemudian ia menghilang dari pandangan Belle.

__ADS_1


__ADS_2