
VALERIE SWEET HOME.
Dengan langkah cepat, Belle masuk ke rumah. Ia melihat semua berkumpul di ruang tamu. "Ibu!" Belle berlari menghambur ke pelukan ibunya yang sudah lama ia rindukan.
"Isabella." Valerie menyambut pelukan Belle. Pelukan penuh akan rasa rindu.
Suasana haru menyelimuti ruangan.
"Sudah cukup berpelukannya. Ayo kita duduk, ada yang ingin aku bicarakan." Jakob mengusap ujung matanya yang mulai basah dengan embun air mata.
"Kenapa kalian tidak melibatkanku dalam hal ini?" Belle menatap Jakob dan Isaac dengan tatapan menyelidik.
Isaac mencegah ayahnya untuk berbicara. "Biar aku saja yang menjelaskan, yah."
"Adikku sayang. Kita memiliki tugas masing-masing, tugasmu menjaga perusahaan ibu. Tugasku menjaga keselamatan keluarga kita. Terlebih penjemputan ibu adalah suatu hal yang berbahaya untukmu. Kau tidak paham dengan dunia gelap ini, ketika kau berhadapan dengan mereka mungkin saja kau mati sebelum menemukan ibu." Suara Isaac yang tenang membuat Belle paham akan kondisi di luar sana.
" Baiklah, aku mengerti kak." Tanpa sengaja Belle melirik kaki Isaac yang sedari tadi bergerak tidak nyaman.
Isaac yang menyadari tatapan Belle, ia hanya tersenyum seolah mengatakan. "Akan aku ceritakan padamu nanti."
Perbincangan dengan keluarga cukup hangat, mengobati rasa rindu berkumpul seperti impian Jakob selama ini. Berkumpul dengan anak-anak serta istrinya.
Jhon yang sudah meninggal dunia karena racun pemberian Alech. Sedangkan Joseph kabur entah kemana.
Isaac menjemput ibunya setelah merusak seluruh keamanan Joseph. Valerie dipaksa bekerja di pusat penelitian teknologi dan senjata milik Joseph, hasilnya akan dijual secara ilegal di kalangan mafia. Tentu saja untuk memperkaya diri sendiri dengan memeras otak serta tenaga orang lain tanpa bayaran.
Rumah utama Joseph yang berada di Amerika, sudah hancur lebur tidak ada yang tersisa. Sedangkan istri dari Jhon berhasil melarikan diri karena bantuan Isaac.
Dunia yang sangat rumit. Belle paham kenapa Isaac harus berada di Rusia bersama kakeknya. Ternyata hidupnya tidak senormal seperti orang lain.
.
.
.
__ADS_1
"Kak ..." Belle memanggil kakaknya yang duduk di taman belakang, dengan memunggungi pintu ke arah taman tersebut.
"Kemarilah." Tanpa menoleh ke sumber suara, Isaac meminta Belle untuk mendekat.
Belle duduk di samping kakaknya. "Kakimu baik-baik saja? Aku lihat kau sering menggerakkan kakimu seperti tidak nyaman." Ia menelusuri kaki Isaac dengan matanya yang menunjukkan rasa khawatir.
Isaac menyentuh pahanya yang cidera. "Oh ini terjadi saat sedang membawa ibu keluar dari pusat penelitian."
Jantung Belle berdetak sangat cepat. Rasa cemas tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhnya. "Lalu apa yang terjadi?"
Isaac tersenyum, seolah membayangkan kembali kejadian yang telah dia alami. "Kau tahu? Di sana banyak sekali ranjau, dan ibu menginjak salah satu ranjau di area lapangan, dimana helikoper kita berada, dan aku menggantikan ibu untuk menghalau ranjau itu." Wajah Isaac sangat tenang ketika menceritakan kejadian itu.
Butiran air mata Belle jatuh tanpa permisi. Dadanya semakin sesak mendengar kejadian itu. Ia memeluk sebelah tangan Isaac. "Kau pasti tidak baik-baik saja, kan kak? Pasti sangat sakit." Suara Belle tersengal dan ia menangis sesenggukan.
Mata Isaac mengembun. Baru kali ini perasaannya melemah, untung saja ini terjadi di hadapan adiknya. Ia tidak bisa menutupi semua rasa sakit yang ia rasakan. Telapak tangan Isaac membelai rambut panjang Belle dengan lembut.
"Belle .. Sebelum pergi menjemput ibu, aku sudah berjanji pada ayah dan kamu untuk membawa ibu pulang dengan selamat tanpa ada luka sekecil apapun. Itu juga yang akan aku lakukan untuk menjagamu."
Isakan Belle semakin menjadi. "Kak, berjanjilah padaku, apapun yang terjadi jangan sampai kakak terluka. Kita baru bertemu, dan aku ingin kita bersama sampai waktu yang lama." Dengan suara tersengal, Belle mencoba mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Isaac memeluk dan mencium puncak kening Belle. " Kau juga, jangan biarkan seseorang melukaimu."
**
**
**
Kehidupan Belle sekarang sudah normal kembali. Ia merasa lebih aman ketika sosok seorang kakak hadir dihidupnya. Hari-harinya terasa hangat bersama keluarga yang utuh. Namun pikiran tentang Alech tidak kunjung sirna. Ia masih saja memikirkannya. Rindu? Mungkin ini yang disebut dengan rindu.
PICKFORD WHARF, CLINK St. LONDON - OLD THAMESIDE.
Belle terkesiap ketika seseorang berbisik di telinganya. "Boleh aku temani?"
Suara yang familiar serta suara yang ia rindukan. Hembusan nafas halus menyapu daun telinganya. Dengan tidak tahu malu, perasaannya kini semakin bergejolak, desiran aneh menjalar ke seluruh tubuhnya membuat badannya lemah tak berdaya.
__ADS_1
Belle menoleh ke samping. Alech yang berdiri dengan menyembunyikan satu tangannya di balik badannya. Seperti biasa, dia tampan dan sempurna di mata Belle.
Dengan susah payah Belle mengatur ekspresi wajahnya dan merapatkan mantelnya untuk mengurangi rasa gugup.
"Boleh aku duduk di sini?" Alech memiringkan kepalanya menghadap ke wajah Belle yang sudah memerah.
Wajah mereka berhadapan terlalu dekat. Mungkin jika seseorang melihat dari belakang punggung Belle, pasti orang lain akan berfikir mereka sedang berciuman.
Belle mendorong wajah Alech menjauh. "Baru kali ini, orang meminta izin untuk duduk bukan dengan kata-kata saja, tapi dengan menyodorkan wajah."
Alech tertawa mendengar ucapan Belle. "Dan sepertinya kau menyukai cara seperti itu."
Belle mendecak. "Suka? Dengan gayamu yang sok romantis itu? Dalam mimpimu!"
"Lihat wajahmu yang memerah seperti hidung badut," kata Alech yang disusul dengan tawanya.
Belle hanya diam dan menunduk malu. Untuk mengurangi rasa malunya, ia mengambil bungkus rokok di dalam tasnya yang berada di atas pahanya.
"Isabella yang genius, cantik dan mempesona. Kau tahu? Aku selalu membayangkan hidup bersamamu." Alech menopang dagunya dengan telapak tangan.
"Seharusnya kau katakan itu di hadapan Shei, bukan aku," ucap Belle dengan suara yang lirih namun masih bisa didengar Alech.
"Sial! Kenapa aku kelepasan mengatakan itu? Pasti dia tahu bahwa aku sedang cemburu." Belle merutuki ucapannya dalam hati.
Tawa Alech pecah mendengar ucapan Belle. "Kau sedang cemburu kan? Aku dan Shei tidak memiliki hubungan apapun, kami hanya teman."
"Teman? Apakah seorang teman bergelayut manja di lenganmu? Apakah seorang teman berciuman di depan umum? Apakah ummm ..."
Kata-kata Belle terhenti karena Alech tanpa permisi melu mat bibirnya dengan rakus. Ia tidak bisa menghindar, tangan Alech yang kokoh menahan lehernya.
Mata Belle terbuka lebar karena terkejut. Pikiran dan hatinya ingin menolak namun badannya merespon sebaliknya.
Alech melepaskan ciumannya dengan enggan. Mereka mengatur nafas masing-masing.
Dengan cepat Belle memukul lengan Alech. "Apa yang kau lakukan! Dasar gila!"
Alech terpekik menahan pukulan Belle. "Auch! Pukulanmu lumayan sakit. Apa kau berlatih tinju akhir-akhir ini?"
__ADS_1