
Belle mengikuti arah helikopter Isaac dan turun ke daratan sesuai arahan Isaac.
Esmat dan Isaac sudah menunggu Belle di lapangan tempat Belle mendarat.
"Kak ... Kek ... Tolong selamatkan Alech." Suara Belle tersengal.
"Ayo naik, kita bicarakan nanti." Esmat menuntun Belle masuk ke helikopter.
***
***
***
Satu tahun setelah kepergian Alech, Isaac terus mencari cara agar bisa mengeluarkan Alech dan orang-orang yang sudah Joseph tahan.
Entah apa yang terjadi di sana, bagaimana kondisi Alech. Semua itu hanya berputar di kepala Belle tanpa henti.
LE QUECUM BAR.
Belle duduk dengan lesu di meja bar, sambil memutar gelasnya.
Amelia yang melihat Belle tidak bersemangat akhir-akhir ini membuat ia ikut menderita.
Pill yang berusaha menghiburnya namun tak ada hasil juga.
Billy yang tiba-tiba datang dengan langkah kesal menghampiri Belle. "Hey wanita buruk rupa! Sampai kapan kau menjadi mayat hidup! Pikirkan orang yang sudah berusaha menghiburmu. Kenapa kau jadi selemah ini?"
Belle terkesiap mendengar Billy yang sedang marah kepadanya.
"Kau wanita genius, kenapa kau jadi bodoh seperti keledai hanya karena cinta!" lanjut Billy dengan nafas yang memburu karena emosi.
Kata-kata Billy benar. Belle tersadar setelah mendengar ceramah dari Billy.
"Bill, thanks sudah menyadarkanku, aku tidak boleh seperti ini terus menerus." Belle memeluk Billy dengan erat.
"Dasar kau wanita genius tapi bodoh! Aku merindukanmu yang dulu." Tangisan Billy mulai pecah. Perasaannya sakit melihat sahabatnya itu.
"Pill, Amelia. Thanks untuk support nya, dan maafkan aku yang tidak menghargai usaha kalian untuk menghiburku." Belle memeluk ketiga temannya itu.
"Kalau begitu, maukah kau bernyanyi bersamaku?" Pill menawarkan Belle bernyanyi di atas stage.
"Tentu, ayo kita lakukan." Senyuman Belle seperti matahari terbit setelah badai, begitu cerah dan penuh semangat.
You're not alone, together we stand
I'll be by your side, you know, I'll take your hand
When it gets cold and it feels like the end
There's no place to go, you know, I won't give in
No, I won't give in
Keep holding on
'Cause you know we'll make it through
Just stay strong
__ADS_1
'Cause you know I'm here for you, I'm here for you
There's nothing you can say, nothing you can do
There's no other way when it comes to the truth
So keep holdin' on
'Cause you know we'll make it through
So far away, I wish you were here
Before it's too late, this could all disappear
Before the doors close and it comes to an end
With you by my side, I will fight and defend
I'll fight and defend, yeah, yeah
Keep holding on
'Cause you know we'll make it through
Just stay strong
'Cause you know I'm here for you, I'm here for you
There's nothing you can say, nothing you can do
There's no other way when it comes to the truth
So keep holding on
'Cause you know we'll make it through
Hear me when I say, when I say I believe
Nothing's gonna change
Nothing's gonna change destiny
Whatever is meant to be will work out perfectly
Yeah, yeah, yeah, yeah
Keep holding on
'Cause you know we'll make it through
Just stay strong
'Cause you know I'm here for you, I'm here for you
There's nothing you can say, nothing you can do
There's no other way when it comes to the truth
So keep holding on
__ADS_1
'Cause you know we'll make it through
Keep holding on
Keep holding on
There's nothing you can say, nothing you can do
There's no other way when it comes to the true
So keep holding on
'Cause you know we'll make it through
Avril Lavigne - Keep Holding on
Pill merasakan hatinya seperti tersayat mendengarkan lagu yang Belle nyanyikan. Begitu cintanya Belle kepada Alech. Tapi siapa yang tahu? Takdir mungkin bisa berubah, dan Belle melupakan Alech, mungkin saja. Pill tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan berusaha selalu ada untuk Belle, meskipun perasaannya tidak bisa tersampaikan, setidaknya ia bisa selalu dekat dengannya.
"Pill, Amelia. Maukah kau datang ke studioku? Aku sedikit gugup untuk ujian tengah semester. Aku ... butuh kalian," ucap Belle sebelum ia pergi dari bar.
"Tentu saja, kirimkan kami alamatnya dan kami akan datang." Amelia menjawab penuh dengan semangat.
"Ok, nanti aku kirimkan. Aku pergi dulu. Bye." Belle melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Billy mengemudi dengan hatin yang ringan. Sahabatnya yang selama ini hilang, sekarang sudah kembali.
Dalam perjalanan pulang, arloji Belle berbunyi. Belle melihat ada pesan dari Isaac.
" Pulanglah kerumah."
Billy melihat isi pesan itu dan ia langsung mengantar Belle ke rumahnya.
- Rumah Jakob, London -
Belle masuk ke ruang kerja ayahnya yang sekarang menjadi ruang kerja Isaac untuk sementara waktu.
"Ada apa kak?" Belle duduk di hadapan kakaknya yang sedang menatap layar laptop miliknya.
"Lihat ini. Ada beberapa gedung penelitian Joseph terbakar dan ada juga yang meledak karena bom." Isaac memutar laptopnya ke arah Belle.
"Ini perunjuk yang Alech tinggalkan untuk kita." Belle menganalisis pergerakan Alech.
"Cerdas! Ayo kita lihat ke arah mana mereka membawa pergi Alech." Isaac mengambil selembar kertas dan sebuah pena. Ia mulai menggambar sebuah peta yang berisikan beberapa gedung penelitian milik Joseph.
Joseph memiliki tigapuluh lima gedung penelitian. Dan semua tersebar diberbagai negara.
Isaac menemukan pola pergerakan mereka. Ia menyeringai ke arah Belle.
"Ayo kita jemput pujaan hatimu." Isaac mengedipkan sebelah matanya, menggoda Belle.
Tiba-tiba Esmat masuk ke ruang kerja. "Kenapa kalian bersenang-senang sendiri tanpa kakek? Apa ini bentuk kasih sayang kalian kepada kakek tua ini?" Esmat menepuk kepala Isaac dengan keras.
"Kakeh habis berkeliaran kemana saja? Tadi aku sudah mencari kakek, tapi kakek tidak ada di rumah." Isaac mengelus kepalanya yang sakit.
Esmat tertawa mendengar kata-kata Isaac. "Lihat apa yang sudah aku lakukan."
Esmat membuka ponselnya. Video di mana Alech sedang merakit bom dan membuat beberapa obat sejenis nar kotika.
"Sialan! Darimana kakek tua bangka mendapatkannya?" Isaac merasa kesal.
__ADS_1
"Itu rahasia." Esmat tersenyum jahil ke arah Isaac.