Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 28 Semua Kembali Sesuai Tempatnya.


__ADS_3

STUDIO FASHION MILIK ISABELLA


Porak poranda. Kata yang tepat untuk kondisi studio pribadi milik Belle. Kain berserakan di mana-mana, kertas pola yang tergantung di sana - sini sedikit membuat Billy pusing.


"Iyi keder! (Astaga). Isabellaaa ... Sudah satu bulan aku melihat tempat ini bagaikan jalan menuju pasar di India," ucap Billy yang duduk di sofa sambil memijat pelipisnya.


"Çok fazla konuşma! (Jangan banyak bicara). Kemari dan bantu aku. Sebentar lagi kakek Yohji akan datang." Belle masih sibuk merapikan gulungan kain dan meletakkan di rak bawah meja.


" Yohji akan datang? Iyi keder .. Iyi keder .." Billy beranjak dari sofa dan membantu Belle merapikan ruangan.


Belle menahan tawa melihat kelakuan sahabatnya itu.


" Bitmiş!! (selesai)" ucap Billy dan Belle bersamaan.


Belle pergi ke dapur dan membuat Japanese ice coffee sebanyak dua server glasses. Ia memasang paper filter di atas pour over yang sudah berdiri tepat di server glass, ia menuangkan kopi bubuk arabika sesuai dengan takaran, sambil menunggu suhu air turun menjadi delapan puluh lima derajat. Belle mulai menuangkan air panas secara melingkar.


Billy yang sudah selesai memotong lemon serta menyiapkan es batu, berdiri di samping Belle. Ia memperhatikan Belle yang sedang fokus.


"Umm ... Bell, Alech menghubungiku dan menanyakanmu," kata Billy dengan hati-hati. Belle tidak merespon ucapan Billy. "Aku jawab kau sedang sibuk dan tidak ingin diganggu." Billy melanjutkan.


"Bagus. Jawab saja seperti itu, dan ingat jangan beritahu dia tentang keberadaanku," ucap Belle mengingatkan.


Billy hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tidak lama kemudian Yohji datang. Ia terpatung melihat studio pribadi Belle. Ia menghampiri gaun berwarna biru muda cerah yang terpasang di badan manekin. Menelusuri setiap jahitan dan pola gaun itu dengan teliti.


"Nak, kau yang membuat ini?" tanya Yohji tanpa menoleh dari gaun itu.


"Aku sendiri yang membuatnya kek." Belle sedikit gugup karena hasil rancangannya sedang dinilai oleh master fashion ternama.


"Aku sangat kagum, sempurna, tidak ada celah. Dari mana kau mendapatkan ide untuk gaun ini?"


"Bunga bluebell yang hanya tumbuh diakhir musim semi."


Belle mengajak Yohji duduk di teras samping yang sudah ia siapkan beserta kopi.


__ADS_1


"Kau tahu, setiap gaun memiliki jiwa yang menunjukkan suasana hati pembuatnya. Gaunmu terlihat lembut namun pilu." Yohji tersemyum ke arah Belle, lalu menyesap kopi yang sudah berada di tangannya.


Belle terkejut mendengar kata-kata Yohji. "Terimakasih atas pujianmu kek." Hanya itu yang bisa Belle katakan kepadanya.


***


Sesaat Belle teringat Alech yang sedang bersama wanita berambut pirang. "Ah Shei, ya itu nama wanita berambut pirang yang bersama Alech." Ia mengingat dan berkata dalam hatinya namun tidak bisa ia ceritakan kepada Billy.


Tiba-tiba arlojinya berbunyi dan Belle terkesiap dari lamunanya, ada pesan masuk. Belle heran siapa yang menghubunginya lewat arlojinya.


" Buka pintu, aku sudah di depan studiomu. Kakakmu."


Belle bingung dengan pesan itu. Ia beranjak dari sofa dan membuka pintu. Laki-laki jangkung, berambut cokelat, wajah yang mirip dengan ibunya. Belle membulatkan matanya tidak percaya. Ia hanya mematung di ambang pintu.


Belle terkesiap ketika laki-laki itu menerobos masuk ke dalam studio.


"Aku Isaac, kakakmu." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Ia meletakkan paper bag yang berisikan kebab daging domba.


"Tapi bagaimana bisa? Ayah dan ibu tidak pernah membicarakanmu." Belle duduk di sebelah Isaac.


Isaac menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Belle mengangguk paham atas cerita yang Isaac sampaikan.


Isaac hanya menunjukkan arlojinya dengan telunjuknya. Arloji yang berada di lengan Isaac sama dengan Belle.


"Aku tahu kau pergi dari rumah dan tinggal di studio ini bukan karena pekerjaanmu, tapi kau menghindar dari Alech, bukan?" Isaac menyunggingkan bibirnya.


"Kak .. Lütfen dur. (tolong hentikan)"


Isaac mengeluarkan beberapa lembar foto dan membantingnya di atas meja. "Jauhi pria breng sek itu sebisa mungkin."


Belle mengambil foto-foto itu, ada beberapa foto Alech yang sedang berpelukan dengan Karine, dan ada juga yang sedang berciuman. Tangan Belle gemetar melihat semuanya. Hatinya seperti ditusuk oleh seribu jarum jahit.


Berakhir? Hubungannya dengan Alech sudah berakhir? "Aku harus menanyakan langsung, dan aku harus mempersiapkan diri jika kemungkinan terburuk."


***


__ADS_1


Acara fashion show bersama Yohji berjalan dengan lancar. Mereka mengeluarkan tujuh puluh pakaian yang dirancang bersama. Penonton yang bersorak penuh dengan antusias memberikan bouquet bunga yang tidak terhitung jumlahnya.


Seminggu setelah acara, berita tentang Yohji dan Belle menjadi yang terunggul dalam pencarian di internet. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk Belle.


Yohji sangat senang. Pengalaman bekerja sama dengan pendatang baru dengan rancangan pakaian yang melebihinya.


PERUSAHAAN DIAMOND FASHION


Belle kembali ke ruangannya. Ia terperanjat ketika melihat sosok laki-laki yang membuat hatinya hancur sedang duduk bersandar di sofa menatap langit-langit ruangan.


"Sedang apa kau disini?" tanya Belle dengan dingin.


"Kenapa kau menghindariku? Sudah tiga bulan aku mencarimu." Wajah Alech terlihat muram.


"Kenapa mencariku? Bukankah kau sudah kembali bersama Shei?" Belle melipat tangannya di depan dada.


"Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau tahu aku dan Shei sudah tidak ada hubungan?" Alech mulai bingung dengan apa yang telah terjadi.


Tanpa berkata-kata, Belle memberikan foto Alech dan Shei. "Begitu mesra sampai kau tak sadar apa yang sudah kau lakukan."


Alech mematung melihat foto-foto dirinya dan Shei, ia tidak bisa berkata-kata.


"Kenapa diam? Aku anggap kau setuju bahwa kau dan Shei menjalin hubungan kembali, dan kau mengkhianatiku." Belle dengan susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh. "Silahkan keluar dari ruanganku dan jangan pernah menemuiku lagi."


"Biar aku jelaskan. Aku dan Shei tidak ada hubungan apa-apa, ini salah paham. Shei sangat butuh seseorang untuk jadi pendengar. Hanya itu."


"Lalu? Bagaimana dengan ini?" Belle menyerahkan foto Alech yang sedang berciuman dengan Shei.


"Dia hampir terjatuh dan aku menangkapnya, kejadian ini tidak disengaja." Alech berusaha meyakinkan.


Belle tidak tahan lagi. Semua yang Alech bicarakan terdengar seperti kebohongan. Belle membuka pintu ruangannya. "Silahkan keluar." Tanpa menatap Alech, Belle meminta Alech untuk keluar secepat mungkin.


"Tapi ..." Kata-kata Alech tercekat.


"Sudah cukup! Silahkan keluar atau aku panggilakan security." Nada suara Belle sedikit meninggi.


Alech keluar dari ruangan Belle dengan rasa bersalah. Pintu segera ditutup rapat setelah Alech keluar. Hampa. Perasaan yang sekarang ia rasakan. Semua sudah terlambat untuk dijelaskan. "Aku tidak akan menyerah sampai di sini. Kau adalah milikku sekarang, besok, dan selamanya."

__ADS_1


Belle yang sudah tidak tahan menahan air matanya hanya bisa duduk dibalik pintu sambil memeluk kedua kakinya.


__ADS_2