Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 37


__ADS_3

PERUSAHAAN DIAMOND


Jakob dan Valerie mengunjungi kantor untuk melihat suasana kantor yang dipimpin oleh Belle, anaknya.


"Bu ... Berhubung ibu sudah kembali, aku ingin mengembalikan perusahaan ini kepada ibu," kata Belle kepada ibunya.


"Dasar anak nakal, kau ingin memisahkan aku dan istriku?" Jakob memukul pelan puncak kepala Belle.


"Ayah!" Belle terpekik karena serangan ayahnya yang tiba-tiba.


Valerie tersenyum melihat tingkah suami dan juga anaknya. "Ibu membangun perusahaan ini untukmu, kenapa ibu harus menerimanya lagi?"


"Ibu tahu, kan? Aku ingin bersekolah lagi?" Wajah Belle cemberut seperti anak kecil.


"Ibu tahu itu, dan ibu tidak melarang. Ibu akan membantu kamu mengurus perusahaan ini selama kamu sekolah. Bagaimana?" Valerie selalu memiliki solusi disetiap diskusi.


"Deal! Aku janji akan selesai sekolah ummm ... tiga tahun lagi." Belle menyengir.


"Ok. Batas akhir tiga tahun." Valerie setuju dengan negosiasi anaknya.


"Lalu bagaimana dengan kita?" Jakob memeluk pundak Valerie dengan satu tangannya.


"Masih banyak waktu," jawab Valerie dengan tegas.


"Ayah kira aku tidak tahu kalau ayah melimpahkan perusahaan ayah kepada Isaac?" Belle menyeringai, ia merasa puas membalas ayahnya.


"Pasti anak brandal itu yang memberitahumu, kan?" Wajah Jakob sedikit kesal.


Setelah perbincangan tentang perusahaan selesai dan sedikit adu mulut dengan Jakob, Belle teringat Liana.


Belle tidak perlu meminta langsung informasi lengkap dan karya-karya Liana. Ia membuka laptopnya dan mencari semua tentang Liana. Karya-karya Liana begitu mengesankan, rancangan dan juga design yang unik. Liana memiliki ciri khas disetiap rancangannya.


"Ibu ... Coba lihat ini. Menurutmu bagaimana?" Belle menyodorkan gambar hasil rancangan Liana di laptopnya.


"Bagus. Dia mengingatkanku dengan rancangan Carl waktu kuliah dulu. Siapa dia?"


Belle menceritakan tentang Liana kepada ibunya. Dan dia memiliki niat untuk membantu Liana.


Niat baik Belle disetujui oleh ibunya.


Malam ini Belle memutuskan akan bertemu dengan Liana, untuk mambicarakan tentang pekerjaan.


.


.


.


LE QUECUM BAR


Belle memilih tempat ini karena dekat dengan tempat Liana bekerja. Liana bekerja di sebuah cafe sebagai waiter. Karena hanya pekerjaan itu yang tersisa untuk part time.


Mata Amelia berbinar ketika melihat Belle yang baru saja masuk. Ia melambaikan tangan ke arah Belle, yang dibalas oleh senyuman Belle.

__ADS_1


"Seperti biasa, ya." Belle mengacungkan telunjuknya kepada Amelia.


Dengan lincah Amelia membuat cocktail kesukaan Belle.


Belle tidak melihat Pill, biasanya dia sudah bersiap di stage dan sedang steam gitarnya.


"Dimana Pill?" tanya Belle kepada Amelia.


"Ah dia sedikit terlambat, karena harus mengantar anaknya ke rumah kerabatnya di Bristol." Amelia meletakkan cocktail di atas meja.


Lonceng pintu berbunyi, gadis manis datang dan menghampiri meja Belle. "Maaf Miss aku terlambat," kata Liana.


Belle tersenyum melihat Liana. "Aku baru saja datang. Mau pesan apa?"


"Sepertinya yang kau pesan sangat segar, Miss." Liana berbicara sedikit malu.


"Am ... Bawakan cocktail yang sama satu gelas lagi." Belle menoleh ke meja Bar.


Amelia menyatukan telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O yang berarti ok.


Belle menjelaskan kepada Liana tujuannya untuk bertemu.


Liana terlihat sangat terkejut dan terharu.


" Mulai besok datanglah ke diamond. Aku menunggumu disana," ucap Belle kepada Liana.


"Terimakasih Miss, aku akan di sana tepat waktu." Liana terlihat sangat senang.


Pill segera mengeluarkan gitar dan naik ke atas stage, ia mulai memainkan lagu yang diiringi oleh gitarnya sendiri.


Belle menoleh ke arah stage dan berbalas senyum dengan Pill.


.


.


.


"Mau aku antar pulang?" Pill menawarkan kepada Belle.


"Tidak perlu, aku membawa mobilku sendiri."


"Kau terlihat sedikit mabuk, aku akan mengikutimu sampai di rumahmu." Pill sedikit khawatir dengan kesadaran Belle.


Belle hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya. Sesaat kemudian ia melesat pergi dari parkir area bar menuju rumahnya.


"Pill! Terimakasih, tapi sampai di sini saja, kau tidak bisa masuk ke dalam."Belle membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.


Tanpa sadar Pill juga melakukan hal yang sama. "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Selamat malam." Ia pergi dari depan pos perumahan dengan kecepatan tinggi.


***


***

__ADS_1


***


Central Saint Martin


"Selamat pagi Miss." Para mahasiswa menyambut kedatangan Belle.


Ia menuju ke ruang pendaftaran dan administrasi untuk mahasiswa baru.


"Miss Isabella, ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas pendaftaran.


"Aku mau mendaftar kuliah untuk gelar Magister di sini."


"Silahkan duduk, Miss. Nama saya Rebecca." Petugas pendaftaran itu memperkenalkan dirinya.


"Nice to meet you, Rebecca."


"Siapa yang akan mendaftar untuk gelar Magister?" Rebecca menatap Belle penuh dengan selidik.


"Aku yang akan mendaftar. Mohon bantuannya." Belle tersenyum ringan kepada Rebecca.


Rebecca membulatkan mata tidak percaya. Seorang genius fashion akan bersekolah di Central Saint Martins untuk gelar Magister?


"Rebecca?" Belle melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rebecca.


Rebecca terkesiap. "Ah maaf Miss, saya melamun. Apa kamu serius?"


Belle mengangguk. "Ya, aku serius. Bolehkah aku meminta formulir pendaftaran?"


"Tentu saja, tentu boleh. Sebentar akan aku ambilkan." Rebecca mengambil secarik kertas di meja kerjanya dan memberikan kepada Belle.


"Terimakasih. Aku akan langsung mengisinya." Belle mengeluarkan pena dari tasnya dan mengisi formulir.


Semua dokumen yang dibutuhkan sudah ia siapkan dari rumah, tidak ada yang kurang. Belle adalah orang yang teliti, ia bisa menyelesaikan urusan pendaftaran dalam sehari tanpa mondar mandir untuk melengkapi kekurangan dokumen.


"Miss ... Ah maksudku Isabella, kami akan mengirimkan email untuk jadwal tes," kata Rebecca yang sedang memeriksa dokumen milik Belle, semua lengkap tidak ada kekurangan.


"Aku mengerti. Jika tidak ada kekurangan untuk dokumennya, aku akan pamit dulu." Belle berdiri dari kursi dan keluar dari ruang pendaftaran.


Rebecca terkejut melihat data milik Belle. "Ternyata dia lulusan Central Saint Martin? Dan nilainya sempurna? Woah dia sangat genius." Ia bergumam pada dirinya sendiri.


Dokumen milik Belle segera diserahkan kepada bagian program study, dan ditinjau lebih lanjut oleh rektor Central Saint Martin.


Pihak Universitas langsung mengirimkan email kepada Belle. Bahwa Belle diterima untuk program gelar magister tanpa melalui tes.


Belle tersenyum. "Sudah aku duga pasti akan seperti ini." Ia bergumam setelah memerima email dari Central Saint Martin. Ia yang masih berada di area kampus, berjalan menuju ruangan kemahasiswaan untuk mengatur jadwal kuliahnya.


Tidak memerlukan waktu lama untuk Belle menyelesaikan urusannya di Central Saint Martin. Ia segera pergi menuju diamond untuk bertemu Liana. Ia mengambil ponselnya dan menelpon ibunya.


"Ibu, bagaimana dengan Liana?" tanya Belle.


"Aku tempatkan dia dibagian produksi. Dia lebih cocok di sana."


"Baik bu, aku akan sampai di kantor setengah jam lagi. Urusanku sudah selesai."

__ADS_1


__ADS_2