
Di dalam perjalanan pulang ponsel tuan Jhon berdering.
"Ada apa?" Tanya tuan Jhon.
"Tuan harus segera pulang! Nona Hera ... dia ..."
Tuan Jhon menutup telponnya. "Cepat! Kita harus pulang sekarang!" Tuan Jhon berteriak kepada supirnya.
Sesampainya ia di rumah, para pelayan dan dokter sudah berkumpul di kamar Hera.
"Ada apa ini!" Tuan Jhon dengan cepat masuk ke kamar Hera.
Namun Hera sudah tiada, dia meninggal semenit yang lalu, dengan mata membuka dan mulutnya berbusa. Tuan Jhon terpukul dengan akhir dari hidup putrinya itu.
Ponsel tuan Jhon berdering, nomor yang tidak di kenal dengan hanya deretan beberapa angka, ia mengangkat telpon itu tanpa rasa curiga.
"Kau sudah sampai di rumah, Jhon? Hadiah yang aku berikan sangat mengesankan, bukan?"
"Siapa ini!" Tuan Jhon sangat marah.
"Hahaha ... Kau sembunyikan di mana Giselle?"
Mata tuan Jhon terbelalak mendengar nama Giselle. Ini berarti suami Giselle.
"Kenapa kau tidak menjawab Jhon? Aku butuh jawaban darimu!"
"Ka kau ... Marcus?" Tuan Jhon tergagap.
"Waah waah waah kau masih mengingatku? Setelah bertahun-tahun kau menyingkirkanku dan mengambil Giselle dariku? Kau luar biasa!"
"Hentikan! Aku tidak tahu di mana Giselle!" Tuan Jhon masih berpura-pura menutupi bahwa bukan dia yang mencelakai mereka dan mengambil Giselle.
"Kau tahu aku orang yang tidak sabaran. Percumah saja aku menanyakanmu di telpon, kau urus dulu pemakaman anakmu."
Telpon terputus sebelum Jhon bisa mengatakan apapun.
Marcus adalah ayah Alech, suami dari Giselle, serta sahabat Jakob. Orang-orang bahkan Jhon tidak tahu bahwa dia juga seorang mafia. Dia mengetahui semua rencana Jhon tapi dia menyembunyikan kenyataan itu. Marcus sangat yakin bahwa Giselle berada di Amerika, di bawah pengawasan Joseph, cukup sulit untuk menembus markas Joseph. Selama ini Marcus berada di California, mencari cara agar bisa menyelamatkan Giselle, tapi semua usahanya gagal, Giselle selalu di pindahkan dari tempat satu ke tempat lainnya. Karena minimnya pengetahuan Marcus tentang Joseph, itu yang menyebabkan usahanya selalu gagal.
Marcus kembali ke London untuk bertemu Jakob, sahabatnya. Ia sudah menyerah untuk bergerak sendiri. Info yang ia dapat adalah Jakob berada di London dengan Isabella dan Alech. Selama ini sudah cukup ia bersembunyi dan berusaha sendiri.
Keesokan harinya ketika Alech sedang sibuk di perusahaan dan Belle sibuk di kantor diamond, Marcus datang menemui Jakob.
"Jakob! Aku merindukanmu!" Marcus berteriak memanggil Jakob.
__ADS_1
"Kucing liar ... Akhirnya kau muncul juga. Ah bangkit dari kematian? Hahaha." Jakob menggoda Marcus yang sudah duduk di sofa.
"Hahaha ... Sial! Tikus itu membuat semuanya kacau. Ah ngomong-ngomong bagaimana kalau kita menikahkan anak kita?"
"Cih! Aku tidak suka anakmu, dia sangat kejam."
"Aku tidak berniat untuk menjadikanmu menantuku, tapi Belle yang akan menjadi menantuku." Marcus menatap Jakob dengan sinis yang dibuat-buat.
"Sudah cukup basa basi, kenapa kau baru muncul sekarang, kucing liar?"
"Tidak terasa sudah lama ya ... Waktuku habis untuk mencari Giselle, namun tidak ada hasil."
"Oh terus? Kau kembali karena sudah menyerah? Kasihan sekali Giselle, memilik suami yang putus asa." Tuan Jakob menggoda Marcus.
"Dasar burung pipit! Aku kesini mau menanyakan, apakah tawaranmu itu masih berlaku?"
"Sudah tidak! Aku juga sibuk mencari Valerie." Jakob menjawab dengan acuh.
Marcus " .... "
"Anakmu bisa membantumu, mungkin kita juga bisa kerja sama. Mengingat Jhon memiliki dendam dengan duo wanita itu." Jakob menambahkan.
"Hmmm .... Boleh juga. Oh ya, aku lupa memberitahumu. Anak Jhon yang gila itu sudah mati, dan aku yang memberinya racun." Dengan santai Marcus memberikan kabar kematian Hera.
"Oh wow! Anakku keren sekali." Marcus memuji anaknya dengan narsis.
"Memang dia keren, dan kau pembuat onar. Tujuan Alech membuat Hera gila agar Jhon menderita dan Hera juga menderita. Alech berniat untuk menyiksa mereka sebelum akhirnya mereka mati." Jakob menjelaskan dengan singkat.
"Lalu apa lagi yang Alech lakukan kepada Jhon?" Tanya Marcus penasaran.
"Dia memberikan racun juga kepada Jhon, agar usus dan lambung Jhon hancur. Lalu dia membakar butik milik Hera, dan dia juga yang membuat Hera lumpuh." Jakob memberikan daftar kejahatan anak Marcus.
"Sial! Berarti kita harus cepat menculik Jhon, dan membuat dia bicara dimana dia menyembunyikan Giselle dan Valley."
"Aku sudah merencanakan itu dengan anak-anak, tapi kau tiba-tiba datang membuat onar!" Jakob memarahi Marcus yang gegabah.
~ Perusahaan Diamond ~
"Bell ... Kabar buruk." Billy menerobos masuk ruangan Belle.
"Apa?"
"Hera meninggal!" Mata Billy melotot ke arah Belle.
__ADS_1
"Aku sudah dengar kabar itu, dan hati-hati matamu keluar." Belle menjawab dengan santai.
"Kau sudah dengar? Wow aku tidak heran lagi." Billy merebahkan badannya di sofa.
"Bill ... Terimakasih sudah membantu pekerjaanku di sini selama aku mengurus mereka."
"With my pleasure, aku suka melakukannya, aku merasa hidupku berguna. Oh ya Bell, banyak email dari penggemarmu sekitar dua ratus lebih, mereka menginginkan fashion show lagi."
"Oke, ayo kita lakukan. Lalu bagaimana dengan orang yang memesan pakaian dari perusahaan kita?"
"Permintaan pasar bertambah besar, Mr. Carl sangat kewalahan. Coba kau mengunjunginya, dia terlihat sangat berantakan."
Belle langsung mengunjungi Mr. Carl setelah mendengar perkataan Billy.
"Belle ... Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Bagaimana ini? Permintaan pasar melonjak tinggi, aku sudah tidak sanggup lagi. Aku sudah berusaha membatasi permintaan tapi mereka protes," Mr. Carl mengeluh.
"Berapa banyak yang sudah terjual?" Belle duduk di sofa ruangan Mr. Carl.
"Rata-rata terjual 2000 pakaian setiap modelnya."
"Ayo kita tutup pesanan hari ini di tengah malam."
"Bagaimana jika mereka protes?"
"Biar aku yang tangani. Kita manfaatkan media agar mereka paham."
Mr. Carl mengangguk paham. "Lalu apa rencanamu setelah ini?"
"Aku akan mengadakan fashion show dalam waktu dekat ini, beri aku waktu satu bulan untuk memikirkan pakaian baru yang akan rilis."
"Yeah! Aku akan menantikan karyamu. Belle sebelum kau pergi coba lihat ini." Mr. Carl menyodorkan beberapa foto.
"Ini butik atas namaku?" Belle terkejut melihat foto-foto itu.
"Para penggemarmu mendirikan butik khusus menjual pakaian yang kau buat. London, Amerika, Perancis, China, Turki, Amerika, dan yang terakhir Hungaria." Mr. Carl menjelaskan detailnya.
"Aku paham." Belle mengangguk dan membawa dokumen itu ke ruangannya.
Belle membuka buku yang ia bawa saat pergi ke kota Bristol, bunga bluebell masih terselip di buku itu. Ia memiliki ide untuk membuat pakaian yang bertemakan bluebell.
Belle sangat ingin menembus pasar fashion di Jepang, tapi belum ada kesempatan untuk melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan di Jepang. Jepang memiliki style fashion yang unik dan bebas. Ia mulai mencari peusahaan fashion terbesar di Jepang.
Akhirnya Belle memutuskan untuk bekerja sama dengan designer nyentrik dengan ciri khas black fashion, Yohji Yamamoto. Yohji sudah beberapa kali memamerkan hasil rancangannya di Victoria dan Albert Museum, London. Umurnya sudah tujuh puluh tiga tahun namun ia masih merancang pakaian dengan sangat detail. Selain itu dia juga designer internasional dan designer senior di dunia fashion. Belle sangat tertarik dengan Yohji. Tanpa berfikir lama, ia mengirimkan email kerja sama kepada Yohji.
__ADS_1