
Semua kain yang Belle butuhkan sudah ia dapatkan untuk 10 gaun. Tugasnya semakin ringan berkat Alech.
Dengan langkah ringan Belle masuk ke apartment nya. Belle sengaja menyewa orang yang bekerja di toko kain untuk membawa semua belanjaannya.
"Letakkan saja di sofa sir." Belle tidak lupa memberikan tip kepada para pelayan.
"Beb... kau sudah pulang? Oh wow, kamu habis belanja kain dan tidak mengajakku? Terus jam berapa kau keluar dari apartment? Kenapa aku tidak tahu?“ Billy keluar dari kamarnya dan melemparkan segudang pertanyaan.
" Enough! Aku sangat lelah, bisakah kau bertanya one by one? Aku sangat lelah." Belle menghela nafas panjang.
"Hahahaha... Ok baiklah, maafkan aku sayang, ini minum dulu." Billy menyodorkan satu gelas bir.
"Good! Ini yang aku butuhkan. Ok aku akan menjawab pertanyaanmu. Ya aku baru pulang. Ya aku habis belanja kain dan kau bisa lihat sendiri. Dan ya jelas kau tidak tahu kalau aku keluar dari apartment jam 8 pagi karena kau masih bermimpi indah bersama pacarmu." Belle menyalakan rokoknya dan mulai menghisap untuk menghilangkan stres karena sahabatnya itu.
" Oh... Pagi sekali, pantas saja aku tidak tahu. Lalu apa yang bisa aku bantu?"
" Sepertinya kau punya banyak waktu, sampai menawarkan bantuan." Belle berdiri menuju kardus besar didekat pintu masuk.
"Hahaha... Karena hari ini pacarku tidak ada di London, dia berangkat ke Dubai tadi malam, jadi aku tidak punya banyak kegiatan untuk 1 bulan kedepan." Dengan penuh inisiatif Billy memindahkan gulungan kain ke pojok dekat balkon.
Belle sudah menata ruangan sebelumnya. Sebelah ruang tv masih ada space lumayan luas, dan posisi didekat pintu kaca balkon. Tempat yang nyaman untuk di jadikan ruang kerja. Di sana sudah tertata mesin jahit, meja kerja dan kursi serta rak yang tersusun rapi berisikan benang serta alat kebutuhan untuk membuat pakaian.
"Bill... Tolong pasangkan manekin ini di samping meja kerja, please." Belle membopong rangkaian manekin dan di serahkan kepada Billy.
Setelah semua sudah selesai, Belle bersiap untuk membuat gaun-gaun dari hasil design milik ibunya. Ada rasa gugup dan khawatir. Tapi Belle meyakinkan dirinya sendiri berulang kali, bahwa ia mampu untuk mewujudkan gambar yang hanya di kertas menjadi gaun yang nyata untuk di pamerkan.
***
Sudah satu minggu lamanya tidak ada kabar dari Belle, bagaikan hilang tertiup angin, Alech mulai gelisah. Untuk menghilangkan kegelisahannya, Alech akhirnya mengunjungi apartment Belle.
Ting tong ting tong
"Hay Bill... Bagaimana kabarmu? Aku membawakan pizza dan beberapa bir." Alech menyerahkan kantong kertas yang berisikan pizza dan kaleng bir.
"Hi Alech, lama tidak bertemu. Thanx... Kamu pasti mencari Belle kan? Ayo masuk." Billy langsung lari ke dapur untuk membuka pizza dan bir yang Alech berikan.
__ADS_1
"Yup, aku mencari Belle. Karena sudah lama tidak ada kabar jadi aku sedikit cemas." Alech mengurungkan niatnya untuk duduk di ruang tv, perhatiannya teralihkan setelah dia melihat gaun yang Belle buat, terlihat mencolok, elegan, tapi sangat sejuk dipandang.
" Belle masih tidur, mungkin dia kelelahan. Mungkin sebentar lagi dia akan bangun." Billy meletakan pizza dan bir di meja depan tv.
"Indah ya? Belle sangat teliti setiap detailnya tidak ada yang terlewat. Belle sampai lupa untuk istirahat dan makan. Aku sampai memarahi dia karena lupa waktu."
"Biarkan dia tidur, aku ingin menikmati hasil karya Belle, aku akan menunggu sampai dia bangun."
Satu minggu ini Belle hampir menyelesaikan satu gaun. Dia memang sangat teliti dan berhati-hati setiap langkah proses pembuatannya. Dari pencocokan warna kain, jahitan, memyatukan rangkaian pola.
Waktu sudah menunjukan jam 2 siang. Belle keluar dari kamarnya dengan kondisi sudah rapi dan siap bekerja lagi. Belle tidak mengetahui bahwa Alech datang ke apartment nya. Bahkan Belle tidak teringat akan Alech karena dia terlalu fokus untuk menyelesaikan gaun-gaun itu.
"Alech!" Belle terkejut melihat Alech. Ia langsung berlari dan memeluk Alech.
"Sorry... Aku tidak menghubungimu, aku terlalu fokus bekerja."
"Tidak masalah, asalkan kau tidak sampai lupa waktu untuk dirimu sendiri."
"Hehehe... Aku akan berusaha tapi aku tidak janji. Apa kau mengirim pesan ke handphone ku?" Belle mencari handphone miliknya yang entah pergi kemana.
"Never mind, aku memang mengirim mu pesan, hanya pesan menanyakan kabar dan progres pekerjaanmu saja, bukan suatu hal yang penting."
"Belle... It's ok, jangan merasa bersalah. Aku bisa mengunjungimu seperti sekarang ini." Dengan lembut Alech mengusap puncak kepala Belle.
Belle menyalakan rokok dan duduk di kursi kerjanya, dia mulai mengecek design gaun yang harus diselesaikan.
Billy sedikit gemas melihat tingkah Belle, dia meletakkan beberapa makanan di meja lalu menghampiri Belle.
Plak.. Billy memukul pundak Belle.
"Dasar wanita gila, pacarmu datang. Tidak bisakah kau bersantai sebentar, menikmati waktu bersama dengan pacarmu?"
Alech tertawa melihat tingkah Billy yang galak.
"It's ok Bill, aku juga ingin bersantai melihat Belle bekerja."
__ADS_1
"Please Bill, kasih aku waktu sebentar saja untuk melihat apa yang kurang dari gaunnya. Aku janji setelah ini mari kita bersantai. Hehehe..." Belle memcoba bernegosiasi dengan Billy yang galak.
Setelah Belle menyelesaikan urusannya, dia duduk bergabung dengan Billy dan Alech. Mereka bertiga, membahas tentang pekerjaan Alech dan Billy yang tiada henti bercerita tentang pacarnya.
Suasana semakin nyaman dan pembicaraan yang mengalir, memang membuat pikiran sedikit relax.
Seperti biasa, Alech yang pintar mencari topik pembicaraan dan disambung dengan Billy yang cerewet membuat mereka terlihat cocok.
Tidak lama kemudian Alech mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Bagaimana kalau kita bermain game?"
Billy menatap Belle dengan bingung. Belle hanya mengangkat bahunya, tanda bahwa Belle juga tidak paham apa yang Alech bawa.
"Pasti kalian bingung kan? Ini Board Game, mirip dengan permainan Monopoli, tapi tingkat kesulitannya lebih tinggi dari Monopoli." Alech menjelaskan garis besar game yang ia bawa.
"So? How to play?" Billy mengambil balok mini warna warni yang Alech keluarkan dari kotak board game miliknya.
Alech menjelaskan sedikit demi sedikit, dan perlahan agar Billy dan Belle paham cara bermainnya. Serta Alech juga mencontohkan bagaimana cara bermainnya.
Belle dan Billy mulai paham semua yang Alech jelaskan, dan mereka mencoba bermain satu ronde.
Tak terasa dua jam sudah mereka bermain board game. Permainan yang sangat seru. Mereka sudah sampai di akhir permainan, tidak disangka Belle memenangkan permainan tersebut.
"Yeaaay! Aku menang..." Belle bersorak gembira sampai ia berdiri dari tempat duduknya.
"Kau cerdas Bell.." Alech memuji Belle tanpa ragu.
"Cih! Menyebalkan, aku berada di peringkat akhir.." Billy tidak ada hentinya menggerutu.
"Ayo kita coba main lagi.."
Billy menantang Alech dan Belle untuk mencoba bermain lagi. Dan mereka menyetujui untuk bermain lagi.
"Sebenarnya board game ini untuk memicu imajinasi, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan menjaga kesehatan emosional, dan yang paling penting untuk menghilang stres." Alech menjelaskan tujuan dan manfaat dia mengajak bermain.
__ADS_1
"Amazing! Ayo kita mulai lagi!" Dengan semangat Billy menyusun board game.
Mereka bermain sampai lupa waktu, entah sudah berapa ronde mereka bermain.